INICIAR SESIÓNSuatu hari, bakul jamu langganan Bagas dan Fauzan tiba-tiba menghilang dan tak pernah terlihat lagi berjualan. Perempuan itu biasa mereka panggil Mbak Minah. Rasa penasaran justru menyeret Bagas dan Fauzan ke dalam teror aneh. Bau jamu muncul di malam hari. Botol jamu berdiri sendiri. Dan sosok Mbak Minah kembali—tenang, hamil, dan tak pernah marah. Lalu, apa yang sebenarnya terjadi pada Mbak Minah? Dan mengapa hanya Bagas dan Fauzan yang mengalaminya? Baca kisah lengkapnya hanya di story “JAMU, MAS?”
Ver másPagi itu langit masih mendung sisa hujan semalam.Mess C-12 mulai ramai. Suara orang menyapu halaman, bunyi ember diseret, dan aroma kopi hitam memenuhi udara.Namun Fauzan dan Bagas sama-sama tidak banyak bicara.Semalaman mereka nyaris tidak tidur.Terutama setelah kejadian perempuan berkebaya yang melambai di pertigaan menuju Blok C.Bagas mengaduk kopinya pelan."Zan.""Hm?""Aku mikir.""Mikir opo?"(Mikir apa?)Bagas menghela napas."Mbak Minah kuwi tenan isih urip, ta?"(Mbak Minah itu sebenarnya masih hidup, ya?)Fauzan terdiam.Ia juga memikirkan hal yang sama.Kalau benar Mbak Minah masih hidup...Siapa perempuan yang mereka lihat hampir setiap malam?Dan kalau benar sudah meninggal...Kenapa belum ada seorang pun yang mencarinya?Fauzan menaruh gelas kopinya."Ayo.""Neng endi?"(Mau ke mana?)"Nyari omahe Mbak Minah."(Mencari rumah Mbak Minah.)Bagas mengangkat alis."Sakdurunge kerja?"(Sebelum kerja?)Fauzan mengangguk."Jam masuk isih suwe."(Masih lama sebelum mulai k
Bagas masih terengah-engah saat berhenti di depan Fauzan.Mukanya pucat.Keringat membasahi pelipis.Fauzan langsung memegang bahunya."Gas, ono opo?"(Ada apa?)Bagas menggeleng cepat."Aku... aku barusan..."Ia menoleh ke arah toilet proyek."Ra usah neng kono."(Jangan ke sana.)Fauzan mengernyit."Kenapa?"Bagas menarik napas panjang."Aku krungu suara."(Aku dengar suara.)"Terus ono gelas jamu."Fauzan langsung diam."Kowe ndelok?"Bagas mengangguk."Jelas.""Terus?""Aku noleh...""Ra ono sopo-sopo."(Tidak ada siapa-siapa.)Ia tertawa kecil.Tapi tawanya hambar."Saiki aku ngerti.""Kowe ora edan."(Kamu nggak gila.)Fauzan menghela napas.Belum sempat menjawab, peluit Mandor Suryono berbunyi."Priiit!""Ngaso cukup!""Ayo kerja maneh!"Para pekerja kembali ke posisi masing-masing.---Menjelang sore.Fauzan dan Bagas mengangkut sak semen menuju Blok C."Gas.""Hm?""Nek bengi iki ono sing ngomong 'Jamu, Mas?'"Bagas langsung menjawab."Tak jawab.""Opo?""'Ora duwe duit, Mbak
Malam di mess C-12 kembali lengang.Setelah melihat jejak cairan jamu yang mengarah ke Blok C, Fauzan memilih menutup pintu rapat-rapat. Ia tidak sanggup mengikuti jejak itu.Belum.Bagas masih mendengkur."Hrrrr...""Hrrrr..."Fauzan melirik sekilas."Enak tenan turumu."(Enak banget tidurmu.)Ia menarik selimut hingga menutupi dada. Matanya tetap terbuka sampai entah pukul berapa akhirnya rasa kantuk mengalahkan semuanya.---"Kukuruyuuuk!"Suara ayam membangunkan satu mess.Belum pukul enam.Beberapa pekerja mulai antre kamar mandi.Ada yang menggosok gigi di teras, ada yang mencuci muka sambil menguap.Bagas keluar kamar dengan rambut berdiri ke mana-mana.Ia masih setengah sadar."Zan...""Hm?""Kok aku ngimpi aneh, yo?"(Kok aku mimpi aneh ya?)Fauzan yang sedang mengikat tali sepatu menoleh."Ngimpi opo?"(Mimpi apa?)Bagas langsung mengambil gelas aluminium."Nanti wae.""Dahakku akeh."Ia berkumur dulu."Gleeh..."Air dimuntahkan ke selokan."Lega."Fauzan menggeleng."Ngomon
Fauzan masih terduduk di lantai kamar mandi.Punggungnya menempel di dinding yang dingin. Napasnya belum teratur. Matanya tidak lepas dari selendang merah yang kini menggantung di gagang pintu.Basah.Airnya masih menetes.Tik...Tik...Tik...Suara tetesan itu terdengar jauh lebih keras daripada seharusnya.Fauzan mengusap wajahnya kasar."Ngimpi..."gumamnya."Pasti ngimpi."Ia memaksa berdiri. Lututnya masih gemetar. Dengan langkah pelan ia mendekati pintu.Selendang itu masih ada.Tangannya terulur, ragu-ragu.Belum sempat menyentuh—"Zan!"Suara Bagas dari luar membuat Fauzan tersentak."Rampung durung aduse?"(Sudah selesai mandinya?)Fauzan berkedip.Saat ia kembali melihat gagang pintu...Selendang itu hilang.Kosong.Hanya ada gagang pintu besi yang mulai berkarat.Fauzan membuka pintu perlahan.Bagas berdiri sambil membawa kaus bersih."Kok suwe tenan?"(Lama banget?)Fauzan menoleh ke lantai.Genangan air masih ada.Namun tidak ada bekas kain.Tidak ada warna merah.Tidak a
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.