JAMU, MAS?

JAMU, MAS?

last updateÚltima actualización : 2026-08-05
Por:  UMMA LAILAActualizado ahora
Idioma: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
No hay suficientes calificaciones
8Capítulos
11vistas
Leer
Agregar a biblioteca

Compartir:  

Reportar
Resumen
Catálogo
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP

Suatu hari, bakul jamu langganan Bagas dan Fauzan tiba-tiba menghilang dan tak pernah terlihat lagi berjualan. Perempuan itu biasa mereka panggil Mbak Minah. Rasa penasaran justru menyeret Bagas dan Fauzan ke dalam teror aneh. Bau jamu muncul di malam hari. Botol jamu berdiri sendiri. Dan sosok Mbak Minah kembali—tenang, hamil, dan tak pernah marah. Lalu, apa yang sebenarnya terjadi pada Mbak Minah? Dan mengapa hanya Bagas dan Fauzan yang mengalaminya? Baca kisah lengkapnya hanya di story “JAMU, MAS?”

Ver más

Capítulo 1

BAB-1 LEMBUR

“Yo opo toh… mbengi-mbengi kok aku sing dikon ngurusi pondasi.”

(Gimana sih… malam-malam kok aku yang disuruh ngurus pondasi.)

Fauzan menggerutu sambil mengambil cangkul yang disandarkan di dinding teras rumah C-12. Rumah itu sudah berdiri utuh—pintu terpasang, listrik menyala, air PAM jalan—tapi catnya belum rata dan beberapa lantai masih semen kasar. Rumah contoh yang dijadikan mess para pekerja.

Di rumah-rumah sebelah, lampu sudah mati semua. Sekitar belasan pekerja lain sudah tidur. Ada yang mendengkur, ada yang masih menyala TV-nya pelan.

Cuma Fauzan. Lagi.

Bagas duduk di kursi plastik, rokok menyala di tangan, kaki selonjor ke halaman.

“Wis lah, Zan,” katanya santai.

(Udahlah.)

“Sing penting ora aku.”

(Yang penting bukan aku.)

Fauzan mendecak.

“Lha kuwi kuwi.”

(Nah itu dia.)

“Wong kerjo akeh ngene iki, kok aku maneh, aku maneh.”

(Pekerja segini banyak, kenapa aku lagi, aku lagi.)

Bagas terkekeh.

“Mandor Suryono kuwi yo ngono.”

(Mandor Suryono emang gitu.)

“Sing dirasa iso, yo disuruh terus.”

Fauzan menghela napas kesal.

“Ra masuk akal.”

(Nggak masuk akal.)

Bagas tertawa kecil. Ia berdiri, lalu menepuk-nepuk pinggangnya sendiri.

“Awakku pegel-pegel, Zan.”

(Badanku pegal-pegal, Zan.)

Ia meringis berlebihan, sengaja.

“Enake ngombe jamune Mbak Minah.”

(Enaknya minum jamu Mbak Minah.)

Fauzan melirik sambil pakai sarung tangan.

“Jamune pait.”

(Jamunya pahit.)

“Tapi nggawe badan anget.”

(Tapi bikin badan anget.)

Bagas mengangguk cepat. Lalu berhenti.

Alisnya berkerut.

“Tapi kok… wis meh seminggu Mbak Minah ra ketok yo?”

(Tapi kok… sudah hampir seminggu Mbak Minah nggak kelihatan ya?)

Fauzan berhenti sebentar.

“Iyo yo…”

(Iya juga ya…)

“Biasane sore mesti liwat.”

Bagas terkekeh, mencoba santai.

“Mbok menawa pindah lapak.”

(Mungkin pindah tempat jualan.)

“Yo iso.”

(Bisa aja.)

Bagas duduk lagi.

“Yowis, nek sesuk teko, tak borongi.”

(Ya udah, kalau besok datang, aku borong.)

Fauzan tidak menjawab.

Ia sudah melangkah pergi, menuju Blok C yang gelap.

Lampu jalan di Blok C tinggal satu. Itu pun redup.

Rumah-rumah berjajar rapi, tapi kosong. Ada yang sudah berpintu, ada yang masih rangka. Malam bikin semuanya terasa sama—dingin dan asing.

Fauzan berhenti di tepi pondasi yang dimaksud mandor. Semennya masih basah. Padahal siang tadi sudah dicor.

“Mbengi-mbengi nggarap ngene iki, yo ra waras,” gumamnya.

(Malam-malam ngerjain beginian, nggak waras.)

Ia mengeruk sedikit.

Tak.

Bukan batu.

Ia mengeruk lagi.

Tak.

“Apa maneh iki…”

Tangannya menyibakkan semen basah. Ada kain terjepit di dalamnya. Ia menarik pelan.

Selendang.

Kusam. Berat.

Bau tanah lembab langsung naik—dan bau pahit yang sangat ia kenal.

Jamu.

Fauzan membeku.

“Loh…”

“Ini kan…”

Ia menelan ludah.

“Selendange Mbak Minah?”

Ia yakin. Selendang itu selalu dipakai tiap sore. Diikat longgar di leher, ujungnya menjuntai saat Mbak Minah menuang jamu ke gelas plastik.

“Ngopo selendange ono neng kene…”

(Kenapa selendangnya ada di sini…)

Angin berhenti.

Lampu jalan berkedip.

Dari dalam lubang pondasi, suara perempuan terdengar. Pelan.

“Mas…”

Fauzan berdiri cepat.

“Mas… ojo neng kene…”

(Mas… jangan di sini…)

Cangkul jatuh dari tangannya.

“Eh… sopo?”

(Eh… siapa?)

Ia berbalik.

Seorang perempuan berdiri di bawah lampu jalan.

Mbak Minah.

Kebaya lusuhnya kotor di bagian bawah. Rambutnya diikat rapi seperti biasa. Wajahnya pucat, tapi ekspresinya tenang—terlalu tenang.

“Mas Fauzan,” katanya pelan.

“Njenengan kok mlaku-mlaku dhewe mbengi-mbengi?”

(Mas kok jalan sendiri malam-malam?)

Fauzan tercekat.

“Lho, Mbak… njenengan kok—”

Tatapan Mbak Minah turun ke tangannya.

“Ketemu neng endi?”

(Ketemu di mana?)

Fauzan refleks menyembunyikan selendang ke belakang badan.

“Bukan apa-apa, Mbak.”

“Iki kain lawas.”

Mbak Minah tersenyum tipis.

“Mas ngapusi.”

(Mas bohong.)

“Itu selendangku.”

Lampu mati.

“Cok—!”

Fauzan menyalakan senter ponsel.

Kosong.

Tidak ada siapa-siapa.

Lubang pondasi di depannya rapi. Tidak ada bekas digali. Tidak ada kain. Tidak ada apa-apa.

Tapi selendang itu masih di tangannya.

“Ra bener iki…”

(Ini nggak bener…)

Ia langsung lari kembali ke mess.

Rumah C-12 gelap. Fauzan membuka pintu, menyalakan lampu ruang tamu.

Lampu menyala normal.

Air PAM di kamar mandi masih menetes.

Bau jamu langsung menyergap.

Fauzan berhenti.

Di atas meja makan berdiri satu botol jamu.

Tegak. Rapi.

Seolah baru diletakkan.

“Bagas?” panggilnya.

Tidak ada jawaban.

Ia mendekat. Jamu di botol itu keruh. Dingin.

Di leher botol, terikat potongan kain kecil.

Selendang.

“Ndak lucu iki sumpah,” Fauzan berbisik.

(Ini nggak lucu sumpah.)

Dari arah dapur, suara pelan terdengar.

“Jamune diminum, Mas.”

Fauzan menoleh cepat.

Kosong.

“Modyar!!” Fauzan lari dan menabrak Bagas yang rupanya juga terlihat ketakutan. Keduanya saling pandang dan tak butuh lama mengucapkan satu nama yang sama  “Mbak Minah!”

Expandir
Siguiente capítulo
Descargar

Último capítulo

Más capítulos

A los lectores

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Sin comentarios
8 Capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status