MISTERI TOKO KERAMAT

MISTERI TOKO KERAMAT

last updateÚltima actualización : 2026-09-28
Por:  A. RiethaEn curso
Idioma: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
No hay suficientes calificaciones
5Capítulos
4vistas
Leer
Agregar a biblioteca

Compartir:  

Reportar
Resumen
Catálogo
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP

Hari terburuk Gatra berubah menjadi awal dari mimpi buruk yang tak pernah ia bayangkan. Setelah nyaris tewas tertabrak truk, ia berteduh di sebuah toko barang antik misterius milik lelaki tua bernama Uzair. Tujuh hari kemudian, Gatra menerima surat wasiat yang menuliskan namanya sebagai pewaris tunggal toko itu, meski tidak pernah mengenal pemiliknya. Sejak menolak warisan, berbagai kejadian mengerikan menghantuinya hingga ia terpaksa menerimanya. Bersama Yasser dan Namira, Gatra harus menjaga benda-benda terkutuk yang mampu membunuh, menghapus ingatan, memberi kutukan bahkan membuka portal ke dunia lain. Namun, semakin lama ia menjalankan tugasnya, semakin banyak kejanggalan muncul. Hingga akhirnya sebuah kebenaran mengerikan tentang Gatra pun terungkap.

Ver más

Capítulo 1

Bab 1 — Hari yang Buruk

Gatra baru saja keluar dari gang sempit menuju jalan raya ketika bemper motornya menyerempet bagian belakang mobil sedan hitam.

Bukan kecelakaan besar, hanya sedikit tersenggol. Tapi pengemudi mobil itu langsung berhenti mendadak dan turun dengan wajah merah padam.

”Kamu nggak lihat apa gimana?!”

”Maaf, Pak. Saya nggak sengaja.”

”Nggak sengaja gimana? Lihat nih catnya!” Pria itu menunjuk goresan yang sebenarnya nyaris tak terlihat. ”Kamu tahu ini mobil baru?”

Gatra melirik jam tangannya. Tujuh lewat empat puluh. Rapat pagi dimulai jam delapan.

”Pak, saya buru-buru. Kita tukeran kontak aja, nanti saya…”

”Enak aja mau kabur! Kamu kira aku bego?”

Sepuluh menit habis hanya untuk berdebat di pinggir jalan. Pria itu akhirnya melepaskannya dengan gerutuan panjang setelah Gatra merelakan KTP-nya dibawa laki-laki itu

Gatra tancap gas secepat mungkin, tapi kemacetan lalu lintas pagi itu tidak peduli kalau Gatra terlambat. Ia sampai kantor jam delapan lewat dua puluh.

Pak Hardi, atasannya, sudah menunggu di depan pintu ruangan dengan tangan terlipat.

”Terlambat lagi, Ga?”

”Ada insiden di jalan, Pak. Saya bisa jelaskan.”

”Nggak usah dijelaskan. Bulan ini sudah tiga kali kamu telat.” Pak Hardi menyerahkan selembar kertas tanpa menatapnya. ”Potong gaji bulan ini. Urus sendiri ke bagian keuangan.”

Gatra menerima kertas itu tanpa membantah. Percuma. Ia sudah hafal betul kalimat pembelaannya hanya akan membuat ocehan Pak Hardi lebih lama.

Hari itu berjalan seperti hari-hari biasa. Rutinitas yang membosankan dan membuat Gatra hidup seperti robot. Apalagi hari ini Gatra harus lembur sampai malam.

Gatra hanya ingin cepat pulang dan tidur. Otak dan tubuhnya sudah penat. Namun, begitu jam pulang tiba, kesialan belum selesai mencampuri hidupnya.

Motor Gatra tersendat-sendat di lampu merah, lalu mati total saat ia mencoba menyalakannya kembali. Ia turun, memasang standar tengah, dan memaksa mesin menyala. Tidak ada respons sama sekali, hanya bunyi klik kosong dari starter.

”Sialan,” gumamnya, sambil mendorong motor menepi ke trotoar.

Gatra mendorong motornya berharap masih ada bengkel yang buka. Bengkel terdekat berjarak sekitar lima ratus meter. Montir di sana memeriksa sebentar sebelum menggeleng.

”Kayaknya alternatornya, Mas. Butuh waktu, sparepart-nya harus dicari dulu.”

”Berapa lama?”

”Paling cepat besok.”

Gatra menghela napas panjang. Ia meninggalkan motornya di bengkel, lalu berjalan kaki menuju halte terdekat berharap masih ada bus kota yang beroperasi karena sekarang sudah lebih dari jam 10 malam.

Langit sudah mendung sejak sore. Beberapa kali guruh dan kilat menyambar. Gatra berharap hujan akan turun saat ia sampai di rumah.

Namun, harapannya tkdak sesuai dengan kenyataan. Baru berjalan beberapa ratus meter, hujan deras pun turun. Gatra berlari kecil mencari tempat berteduh, tapi tidak ada satu pun tempat berteduh ia temukan di sepanjang jalan itu. Petir menyambar sekali lagi, disusul gemuruh yang membuatnya menoleh reflek ke langit.

Gatra menggerutu kesal karena pakaiannya basah kuyup. Di tengah kekesalan itu, ponselnya bergetar. Nama ’Ibu’ muncul di layar.

”Halo, Bu?”

”Gatra, kamu sudah transfer belum uang bulan ini?”

”Belum sempat, Bu. Baru gajian tadi, tapi dipotong lagi.”

”Dipotong lagi? Terus Ibu bayar utang sama Bu RT pakai apa? Sudah janji minggu ini.”

”Iya, Bu, nanti aku transfer.”

”Kamu tuh selalu bilang nanti nanti. Ibu di sini pusing mikirin kebutuhan rumah. Kamu kerja yang rajin, nurut sama atasan, biar nggak sering-sering potong gaji.”

Gatra menutup mata sebentar, menahan napas biar tidak membalas dengan nada tinggi. Tapi rasa lelah seharian membuat kesabarannya menipis.

”Bu, aku juga capek. Bukan cuma Ibu yang pusing.”

”Kamu jangan ngomong gitu sama Ibu! Ibu susah payah besarin kamu, nguliahin kamu. Sudah kerja malah nggak mau bantu-bantu.”

”Iya, iya, aku tahu. Sebentar lagi aku kirim, oke?"

Suara ibunya masih terus mengomel di telepon, dan Gatra tidak menyadari bahwa ia sudah sampai ke tepi jalan raya. Ia menyeberang tanpa menoleh kanan-kiri, pikirannya penuh dengan banyak persoalan yang membuat kepalanya hampir meledak.

Lampu sorot besar tiba-tiba menerjang matanya dari sisi kanan. Klakson meraung keras, disusul decitan rem yang beradu dengan aspal yang licin.

Gatra menoleh sekejap. Cukup cepat untuk menyadari moncong truk kontainer yang melaju ke arahnya. Jaraknya sudah semakin dekat. Tubuhnya otomatis bergerak sebelum otaknya sempat memerintah. Ia melompat ke samping dengan sisa tenaga yang ada.

Gatra tidak sepenuhnya lolos. Bagian depan truk menyerempet tubuhnya. Membuat tubuhnya terpelanting dan berguling ke tepi jalan. Aspal yang keras mengoyak kulit di siku dan telapak tangannya. Ponselnya terlepas dari genggaman, membentur trotoar, layarnya pecah lalu mati total.

Gatra terbaring sesaat, napasnya memburu, telinganya masih berdenging keras. Truk itu berhenti beberapa meter di depan, tapi sopirnya justru melajukan kendaraannya lagi tanpa turun sama sekali, lalu menghilang di kegelapan hujan.

”Bangsat!” Gatra mengumpat keras sambil memaksa bangun.

Tangannya gemetar menahan berat tubuhnya. Luka di sikunya terasa perih dan mengucurkan darah yang membasahi lengan bajunya. Kakinya juga terasa nyeri saat dipaksanya berdiri.

Ia menoleh ke sekeliling. Jalanan itu sudah sepi. Tidak ada satu pun orang yang berhenti untuk membantunya.

Hujan makin deras. Gatra memungut ponselnya yang mati. Matanya menyipit sambil memandang sekelilingnya. Tidak ada satu pun tempat berteduh terlihat di sepanjang jalan itu.

Kecuali satu. Di ujung jalan, Gatra melihat cahaya kuning temaram menyala dari sebuah bangunan tua yang tampak berdiri suram. Cahaya dari sebuah toko.

Toko satu-satunya yang masih buka di antara deretan ruko yang sudah tertutup rapat. Papan namanya sudah pudar, tak terbaca jelas dari kejauhan.

Gatra memandanginya sesaat. Kemudian, ia melangkahkan kakinya mendekati toko itu. Ia menyeret tubuh yang babak belur menuju cahaya itu. Menuju satu-satunya tempat yang tersisa malam ini. Gatra hanya ingin mencari tempat berteduh.

Expandir
Siguiente capítulo
Descargar

Último capítulo

Más capítulos

A los lectores

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Sin comentarios
5 Capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status