ホーム / Horor / JAMU, MAS? / BAB 4 — YANG BUKAN GELAS

共有

BAB 4 — YANG BUKAN GELAS

作者: UMMA LAILA
last update 公開日: 2025-01-17 23:36:57

Fauzan berdiri kaku di depan mess.

Matanya kosong, tapi tangannya terangkat setengah, seolah sedang menawari sesuatu yang tak terlihat oleh siapapun. Posisi tubuhnya aneh—seperti orang yang lupa cara menurunkan tangan sendiri.

“Zan.”

Suara itu datang dari belakang.

Fauzan tersentak keras, bahunya naik. Tangannya hampir saja menjatuhkan apa yang ia pegang.

Bagas berdiri di ambang pintu mess, rambutnya masih basah, handuk kecil melingkar di leher. Kaosnya menempel di badan. Wajahnya mengernyit, bingung bercampur curiga.

“Ngapain bengong kaya patung ronda?”

(Ngapain bengong kayak patung jaga malam?)

Ia menatap Fauzan dari ujung kepala sampai kaki.

“Kok mukamu pucet banget?”

Fauzan menelan ludah. Tenggorokannya kering. Napasnya terasa pendek-pendek, seolah barusan lari jauh padahal ia cuma berdiri diam.

“Gas…” katanya pelan.

“Iki… iki loh…”

(Ini… ini loh…)

Ia mengulurkan tangannya, masih setengah gemetar.

Di genggamannya ada gelas plastik jamu.

Bening tapi kusam, pinggirannya sedikit penyok. Ada sisa cairan cokelat kehijauan menempel di dinding gelas, mengering tidak rata. Bau pahit-manisnya samar tapi jelas—bau yang terlalu akrab untuk disalahartikan.

Gelas itu.

Gelas yang setiap sore muncul di proyek, diiringi suara langkah ringan dan sapaan ramah.

Gelas yang selalu dibawa Mbak Minah—perempuan muda penjual jamu, usianya paling dua puluhan, wajahnya cantik, rambutnya selalu diikat rapi, tangannya ramping dan cekatan saat menuang jamu.

Fauzan hafal mati.

Ia bahkan hafal bunyi plastik gelas itu saat diletakkan di meja semen.

Bagas mendekat. Ia mencondongkan badan, menatap tangan Fauzan lama. Terlalu lama. Alisnya terangkat pelan.

Ia menyipitkan mata, lalu mendecak kecil.

“Ini mataku sing siwer,” katanya sambil terkekeh pendek,

(Ini mataku yang rabun,)

“apa kowe sing halu, Zan?”

(atau kamu yang halu, Zan?)

Bagas mengulurkan jari telunjuk, menunjuk langsung ke tangan Fauzan.

“Jelas-jelas iki rokok loh. Gelas jamu opo?”

(Jelas-jelas ini rokok. Gelas jamu apaan?)

Fauzan menggeleng cepat, hampir panik.

“Ora. Iki gelas jamu.”

(Bukan. Ini gelas jamu.)

“Sumpah, Gas. Iki gelase Mbak Minah.”

(Sumpah, Gas. Ini gelasnya Mbak Minah.)

Bagas tertawa pendek, tapi tawa itu terdengar dipaksakan.

“Wes, Zan. Aku ngerti kowe sayah.”

(Udah, Zan. Aku ngerti kamu capek.)

Ia menepuk dada Fauzan pelan.

“Deloken maneh sing bener.”

(Lihat lagi yang benar.)

Fauzan menunduk.

Dadanya seperti diremas dari dalam.

Gelas itu tidak ada.

Yang ada di tangannya hanyalah rokok kretek miliknya sendiri. Separuh batang. Ujungnya masih utuh, belum dibakar. Kertasnya sedikit kusut—persis seperti rokok yang tadi ia masukkan ke saku.

Fauzan membuka telapak tangannya, menutupnya lagi. Memutar pergelangan. Berkali-kali.

“Kok… kok iso…” gumamnya lirih.

(Kok… kok bisa…)

Bagas menghela napas, lalu menepuk pundak Fauzan sedikit lebih keras.

“Wis. Kowe butuh adus ben seger.”

(Udah. Kamu butuh mandi biar segar.)

“Pikiranmu lagi ngelantur.”

(Pikiranmu lagi kacau.)

Ia menoleh ke arah dapur mess.

“Nanti kita makan. Warung Dek Laras buka.”

“Katanya hari ini ada oseng kikil.”

(Katanya hari ini ada oseng kikil.)

“Lumayan nggo ngisi perut wong stres.”

(Lumayan buat ngisi perut orang stres.)

Biasanya Fauzan pasti nyeletuk soal Dek Laras yang cantik, murah, atau dua-duanya sekaligus.

Sekarang tidak.

Ia cuma mengangguk pelan.

“Iya.”

Langkahnya menuju kamar mandi terasa berat, seperti kakinya dipasangi beban. Lorong mess sempit, lampunya cuma satu. Cahayanya kuning kusam, membuat bayangan di dinding terlihat lebih panjang dari seharusnya.

Pintu kamar mandi berderit saat dibuka.

Bau lembap langsung menyergap. Air sumur. Sabun murah. Sedikit bau tanah basah yang entah kenapa mengingatkannya pada pondasi Blok C.

Fauzan mengunci pintu dari dalam.

Klek.

Sunyi.

Ia melepas kaus, menggantungnya di paku dinding yang sudah berkarat. Lalu celana. Rokok tadi ia letakkan di pinggir bak semen.

Air di bak terlihat keruh kehijauan. Bukan kotor, tapi tidak jernih juga.

Fauzan meraih gayung, mencelupkannya.

Air dingin.

Ia mengangkat gayung—

Sret.

Seperti kain basah diseret pelan di lantai.

Fauzan membeku.

Alisnya mengerut.

“Gas?” panggilnya ragu.

Tak ada jawaban.

Ia menoleh ke pintu kamar mandi.

Di celah bawah pintu, terselip kain merah.

Selendang.

Basah.

Ujungnya menyentuh lantai. Air menetes perlahan dari kain itu, membentuk genangan kecil yang makin melebar.

Fauzan mundur satu langkah.

Jantungnya berdegup keras sampai terasa di telinga.

“Itu…” napasnya tercekat.

Selendang itu bergerak pelan, seolah didorong dari luar. Tidak ditarik—diselipkan.

Fauzan meraih dinding. Lututnya lemas.

“Gas! Oi, Gas!” teriaknya.

Tak ada suara.

Lampu kamar mandi mati.

Gelap total.

Dalam kegelapan, bau jamu menyeruak.

Pahit. Kental. Menyesakkan.

Bau yang tak mungkin salah.

Ada suara napas.

Bukan napasnya.

Dekat.

Sangat dekat.

Fauzan menutup mata. Tubuhnya gemetar. Gayung terlepas dari tangannya, menghantam bak dengan suara keras.

Lalu—

Lampu menyala lagi.

Fauzan membuka mata.

Pintu kamar mandi kosong.

Tidak ada selendang di lantai.

Tidak ada siapa pun.

Hanya genangan air yang belum sempat mengering.

Dan di gagang pintu kamar mandi, tergantung sesuatu.

Selendang merah itu.

Diam.

Basah.

Fauzan terduduk di lantai. Punggungnya bersandar ke dinding. Napasnya tersengal, dadanya naik turun tak beraturan.

Ia tertawa kecil—tawa yang lebih mirip orang kehabisan pegangan.

“Sore-sore ada demit,” gumamnya.

“Maunya apa sih?”

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • JAMU, MAS?   BAB 9 — ORANG TERAKHIR MEMBELI JAMU

    Pulang dari rumah Mbak Minah, Fauzan dan Bagas tidak banyak bicara. Motor tua milik Pak Rawi melaju pelan membelah jalan desa. Tidak ada lagi candaan. Tidak ada saling mengejek. Yang terngiang di kepala mereka hanya satu kalimat. "Kalau kalian bertemu Minah... bilang ibunya menunggu di rumah." Bagas menghela napas panjang. "Zan." "Hm?" "Ra penak atiku." (Aku nggak enak hati.) Fauzan mengangguk pelan. "Aku yo." (Aku juga.) Bagas menatap jalan di depan. "Berarti... wong sing tak delok kuwi..." (Berarti... orang yang kulihat itu...) Fauzan memotong pelan. "Ra usah diteruske." (Jangan diteruskan.) Bagas memilih diam. --- Mereka tiba di proyek tepa

  • JAMU, MAS?   BAB 8 — RUMAH MBAK MINAH

    Pagi itu langit masih mendung sisa hujan semalam.Mess C-12 mulai ramai. Suara orang menyapu halaman, bunyi ember diseret, dan aroma kopi hitam memenuhi udara.Namun Fauzan dan Bagas sama-sama tidak banyak bicara.Semalaman mereka nyaris tidak tidur.Terutama setelah kejadian perempuan berkebaya yang melambai di pertigaan menuju Blok C.Bagas mengaduk kopinya pelan."Zan.""Hm?""Aku mikir.""Mikir opo?"(Mikir apa?)Bagas menghela napas."Mbak Minah kuwi tenan isih urip, ta?"(Mbak Minah itu sebenarnya masih hidup, ya?)Fauzan terdiam.Ia juga memikirkan hal yang sama.Kalau benar Mbak Minah masih hidup...Siapa perempuan yang mereka lihat hampir setiap malam?Dan kalau benar sudah meninggal...Kenapa belum ada seorang pun yang mencarinya?Fauzan menaruh gelas kopinya."Ayo.""Neng endi?"(Mau ke mana?)"Nyari omahe Mbak Minah."(Mencari rumah Mbak Minah.)Bagas mengangkat alis."Sakdurunge kerja?"(Sebelum kerja?)Fauzan mengangguk."Jam masuk isih suwe."(Masih lama sebelum mulai k

  • JAMU, MAS?   BAB 7 — PERINGATAN BANG BONENG

    Bagas masih terengah-engah saat berhenti di depan Fauzan.Mukanya pucat.Keringat membasahi pelipis.Fauzan langsung memegang bahunya."Gas, ono opo?"(Ada apa?)Bagas menggeleng cepat."Aku... aku barusan..."Ia menoleh ke arah toilet proyek."Ra usah neng kono."(Jangan ke sana.)Fauzan mengernyit."Kenapa?"Bagas menarik napas panjang."Aku krungu suara."(Aku dengar suara.)"Terus ono gelas jamu."Fauzan langsung diam."Kowe ndelok?"Bagas mengangguk."Jelas.""Terus?""Aku noleh...""Ra ono sopo-sopo."(Tidak ada siapa-siapa.)Ia tertawa kecil.Tapi tawanya hambar."Saiki aku ngerti.""Kowe ora edan."(Kamu nggak gila.)Fauzan menghela napas.Belum sempat menjawab, peluit Mandor Suryono berbunyi."Priiit!""Ngaso cukup!""Ayo kerja maneh!"Para pekerja kembali ke posisi masing-masing.---Menjelang sore.Fauzan dan Bagas mengangkut sak semen menuju Blok C."Gas.""Hm?""Nek bengi iki ono sing ngomong 'Jamu, Mas?'"Bagas langsung menjawab."Tak jawab.""Opo?""'Ora duwe duit, Mbak

  • JAMU, MAS?   BAB 6 — BAGAS IKUT MENGALAMI TEROR

    Malam di mess C-12 kembali lengang.Setelah melihat jejak cairan jamu yang mengarah ke Blok C, Fauzan memilih menutup pintu rapat-rapat. Ia tidak sanggup mengikuti jejak itu.Belum.Bagas masih mendengkur."Hrrrr...""Hrrrr..."Fauzan melirik sekilas."Enak tenan turumu."(Enak banget tidurmu.)Ia menarik selimut hingga menutupi dada. Matanya tetap terbuka sampai entah pukul berapa akhirnya rasa kantuk mengalahkan semuanya.---"Kukuruyuuuk!"Suara ayam membangunkan satu mess.Belum pukul enam.Beberapa pekerja mulai antre kamar mandi.Ada yang menggosok gigi di teras, ada yang mencuci muka sambil menguap.Bagas keluar kamar dengan rambut berdiri ke mana-mana.Ia masih setengah sadar."Zan...""Hm?""Kok aku ngimpi aneh, yo?"(Kok aku mimpi aneh ya?)Fauzan yang sedang mengikat tali sepatu menoleh."Ngimpi opo?"(Mimpi apa?)Bagas langsung mengambil gelas aluminium."Nanti wae.""Dahakku akeh."Ia berkumur dulu."Gleeh..."Air dimuntahkan ke selokan."Lega."Fauzan menggeleng."Ngomon

  • JAMU, MAS?   BAB 5 — BAU YANG TIDAK MAU PERGI

    Fauzan masih terduduk di lantai kamar mandi.Punggungnya menempel di dinding yang dingin. Napasnya belum teratur. Matanya tidak lepas dari selendang merah yang kini menggantung di gagang pintu.Basah.Airnya masih menetes.Tik...Tik...Tik...Suara tetesan itu terdengar jauh lebih keras daripada seharusnya.Fauzan mengusap wajahnya kasar."Ngimpi..."gumamnya."Pasti ngimpi."Ia memaksa berdiri. Lututnya masih gemetar. Dengan langkah pelan ia mendekati pintu.Selendang itu masih ada.Tangannya terulur, ragu-ragu.Belum sempat menyentuh—"Zan!"Suara Bagas dari luar membuat Fauzan tersentak."Rampung durung aduse?"(Sudah selesai mandinya?)Fauzan berkedip.Saat ia kembali melihat gagang pintu...Selendang itu hilang.Kosong.Hanya ada gagang pintu besi yang mulai berkarat.Fauzan membuka pintu perlahan.Bagas berdiri sambil membawa kaus bersih."Kok suwe tenan?"(Lama banget?)Fauzan menoleh ke lantai.Genangan air masih ada.Namun tidak ada bekas kain.Tidak ada warna merah.Tidak a

  • JAMU, MAS?   BAB 4 — YANG BUKAN GELAS

    Fauzan berdiri kaku di depan mess.Matanya kosong, tapi tangannya terangkat setengah, seolah sedang menawari sesuatu yang tak terlihat oleh siapapun. Posisi tubuhnya aneh—seperti orang yang lupa cara menurunkan tangan sendiri.“Zan.”Suara itu datang dari belakang.Fauzan tersentak keras, bahunya naik. Tangannya hampir saja menjatuhkan apa yang ia pegang.Bagas berdiri di ambang pintu mess, rambutnya masih basah, handuk kecil melingkar di leher. Kaosnya menempel di badan. Wajahnya mengernyit, bingung bercampur curiga.“Ngapain bengong kaya patung ronda?”(Ngapain bengong kayak patung jaga malam?)Ia menatap Fauzan dari ujung kepala sampai kaki.“Kok mukamu pucet banget?”Fauzan menelan ludah. Tenggorokannya kering. Napasnya terasa pendek-pendek, seolah barusan lari jauh padahal ia cuma berdiri diam.“Gas…” katanya pelan.“Iki… iki loh…”(Ini… ini loh…)Ia mengulurkan tangannya, masih setengah gemetar.Di genggamannya ada gelas plastik jamu.Bening tapi kusam, pinggirannya sedikit peny

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status