Beranda / Horor / JAMU, MAS? / BAB 5 — BAU YANG TIDAK MAU PERGI

Share

BAB 5 — BAU YANG TIDAK MAU PERGI

Penulis: UMMA LAILA
last update Tanggal publikasi: 2025-01-17 23:37:41

Fauzan masih terduduk di lantai kamar mandi.

Punggungnya menempel di dinding yang dingin. Napasnya belum teratur. Matanya tidak lepas dari selendang merah yang kini menggantung di gagang pintu.

Basah.

Airnya masih menetes.

Tik...

Tik...

Tik...

Suara tetesan itu terdengar jauh lebih keras daripada seharusnya.

Fauzan mengusap wajahnya kasar.

"Ngimpi..."

gumamnya.

"Pasti ngimpi."

Ia memaksa berdiri. Lututnya masih gemetar. Dengan langkah pelan ia mendekati pintu.

Selendang itu masih ada.

Tangannya terulur, ragu-ragu.

Belum sempat menyentuh—

"Zan!"

Suara Bagas dari luar membuat Fauzan tersentak.

"Rampung durung aduse?"

(Sudah selesai mandinya?)

Fauzan berkedip.

Saat ia kembali melihat gagang pintu...

Selendang itu hilang.

Kosong.

Hanya ada gagang pintu besi yang mulai berkarat.

Fauzan membuka pintu perlahan.

Bagas berdiri sambil membawa kaus bersih.

"Kok suwe tenan?"

(Lama banget?)

Fauzan menoleh ke lantai.

Genangan air masih ada.

Namun tidak ada bekas kain.

Tidak ada warna merah.

Tidak ada apa pun.

"...Ora opo-opo."

(Nggak apa-apa.)

Bagas memperhatikan wajahnya beberapa detik.

"Kowe tenan sehat?"

(Kamu benar-benar sehat?)

Fauzan mengangguk cepat.

"Iyo."

---

Menjelang magrib, langit berubah jingga.

Para pekerja berjalan keluar dari proyek sambil membawa helm dan perkakas masing-masing.

Sebagian langsung menuju warung Dek Laras.

Sebagian memilih mandi dulu.

Suasana kembali seperti biasa.

Seolah tidak pernah terjadi apa-apa.

Fauzan duduk di teras mess.

Segelas teh hangat ada di depannya.

Belum disentuh.

Bagas keluar sambil mengancingkan kemeja tipis.

"Ayo."

"Nek telat oseng kikile entek."

(Kalau telat oseng kikilnya habis.)

Fauzan berdiri lesu.

Mereka berjalan menyusuri jalan kompleks yang mulai ramai.

Warung Dek Laras berada di pojok gerbang perumahan.

Warung sederhana.

Meja kayu.

Etalase kaca.

Aroma bawang goreng dan sambal langsung menyeruak begitu mereka tiba.

"Loro porsi, Mbak."

(Dua porsi, Mbak.)

Bagas langsung memesan.

Dek Laras tersenyum ramah.

"Siap."

Fauzan duduk tanpa banyak bicara.

Matanya justru memperhatikan jalan di depan warung.

Entah kenapa...

Setiap kali melihat perempuan memakai kebaya...

Dadanya langsung berdebar.

"Mas."

Suara Dek Laras membuatnya tersadar.

"Tambah es teh?"

Fauzan menggeleng.

"Nggih..."

Tak lama kemudian makanan datang.

Bagas langsung makan lahap.

"Enak tenan."

Fauzan mencoba menyuap satu sendok.

Belum sempat masuk mulut...

Aroma pahit kembali datang.

Seketika.

Menusuk hidung.

Bau jamu.

Fauzan berhenti mengunyah.

Ia menoleh perlahan.

Di seberang jalan...

Seorang perempuan berkebaya berdiri membelakanginya.

Membawa bakul.

Rambutnya diikat rapi.

Tubuhnya diam.

Tidak bergerak.

"Gas..."

Bagas masih sibuk makan.

"Hm?"

"Itu..."

Bagas ikut menoleh.

Kosong.

"Hah?"

"Opo?"

(Apa?)

Fauzan kembali melihat.

Perempuan itu sudah tidak ada.

Dadanya makin sesak.

"Kowe iki tenan kudu libur sedina."

(Kamu benar-benar harus libur sehari.)

Bagas terkekeh.

"Matamu wis protes."

Fauzan memaksakan senyum.

"Iyo."

---

Malam turun.

Pukul sembilan.

Sebagian pekerja sudah tidur.

Radio dimatikan.

Lampu ruang tengah dipadamkan.

Hanya lampu teras yang masih menyala redup.

Fauzan belum bisa memejamkan mata.

Ia membolak-balik badan.

Setiap kali hampir tertidur...

Bau jamu datang.

Setelah hilang...

Datang lagi.

"Mas..."

Suara itu.

Pelan.

Seperti dari kejauhan.

Fauzan membuka mata.

Gelap.

Ia duduk perlahan.

Bagas masih mendengkur di sebelahnya.

"Mas..."

Lebih dekat.

Fauzan meraih senter ponsel.

Cahayanya menyapu ruang tengah.

Kosong.

Tidak ada siapa-siapa.

Tok...

Tok...

Tok...

Suara ketukan terdengar dari arah pintu depan.

Pelan.

Tiga kali.

Fauzan menahan napas.

Siapa yang datang jam segini?

Ia bangkit perlahan.

Melangkah mendekati pintu.

Tok...

Tok...

Tok...

Ketukan itu terdengar lagi.

Bagas masih tidur.

Tak bergerak sedikit pun.

"Gas..."

Fauzan menggoyang bahunya.

"Gas..."

Bagas tetap mendengkur.

Seolah tidak mendengar apa pun.

Ketukan kembali terdengar.

Kali ini lebih keras.

Tok!

Tok!

Tok!

Fauzan memberanikan diri mengintip lewat jendela kecil di samping pintu.

Gelap.

Tidak ada orang.

Hanya halaman mess yang diterangi lampu kuning redup.

Ia menghela napas.

"Mungkin kucing..."

gumamnya.

Perlahan ia membuka kunci pintu.

Krek...

Pintu terbuka.

Udara malam langsung menerpa wajahnya.

Sepi.

Sangat sepi.

Tak ada siapa-siapa.

Fauzan hampir menutup kembali pintu ketika matanya menangkap sesuatu.

Di lantai teras...

Ada sebuah botol kaca.

Botol jamu.

Masih penuh.

Embun dingin menempel di permukaannya.

Tidak mungkin tadi tidak ada.

Perlahan Fauzan membungkuk.

Tangannya hampir menyentuh botol itu.

"Mas..."

Suara perempuan tepat di belakang telinganya.

"Jamune nganti lali dijupuk..."

(Jamunya sampai lupa diambil...)

Bulu kuduk Fauzan berdiri.

Ia membeku.

Napasnya tercekat.

Suara itu sangat dekat.

Seolah ada seseorang berdiri tepat di belakang punggungnya.

Dengan gerakan kaku, Fauzan membalikkan badan.

Kosong.

Hanya pintu mess yang terbuka.

Lampu ruang tengah masih menyala redup.

Tidak ada siapa pun.

Saat ia kembali menoleh ke bawah...

Botol itu sudah hilang.

Yang tertinggal hanya bercak cairan cokelat kehijauan di lantai teras.

Perlahan bercak itu mengalir sendiri...

Membentuk jejak kecil...

Mengarah ke jalan menuju Blok C.

Fauzan menatap jejak itu tanpa berkedip.

Dadanya berdegup semakin keras.

Entah kenapa...

Untuk pertama kalinya...

Ia merasa Mbak Minah bukan sedang mengganggunya.

Melainkan...

Mengajaknya pergi ke suatu tempat.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • JAMU, MAS?   BAB 66 — ORANG YANG PERNAH MINUM

    BAB 66 — ORANG YANG PERNAH MINUMMalam itu tidak ada seorang pun yang langsung tidur.Setelah bayangan perempuan berkebaya menghilang dari ujung lorong, para pekerja masih berkumpul di ruang tengah.Tidak ada yang berani kembali ke kamar masing-masing.Bahkan mereka yang biasanya paling berani pun memilih duduk berdekatan.Di atas meja masih terdapat gelas berisi air.Gelas yang muncul begitu saja.Tidak ada seorang pun yang mengaku meletakkannya.Fauzan berdiri di dekat meja.Ia memperhatikan gelas tersebut.Air di dalamnya terlihat biasa.Tidak berwarna.Tidak berbau.Namun beberapa menit sebelumnya, seluruh mess dipenuhi aroma jamu.Kemudian muncul pesan.YANG PERNAH MINUM, AKAN TAHU.Kalimat itu masih terngiang di kepalanya.Bagas duduk di kursi."Zan.""Hm?""Bang Boneng bilang ada orang yang pernah minum jamu Mbak Minah.""Iya.""Dan orang itu masih ada di sini."Fauzan mengangguk."Itu yang harus kita cari tahu."Bagas melihat ke sekeliling.Para pekerja duduk berjajar.Ada Pak

  • JAMU, MAS?   BAB 65 — AIR BERUBAH PAHIT

    BAB 65 — AIR BERUBAH PAHITPagi setelah kejadian di kamar nomor tiga, suasana mess terasa lebih sunyi.Tidak banyak yang membicarakan perempuan berkebaya.Bukan karena mereka sudah tidak takut.Justru sebaliknya.Mereka takut membicarakannya terlalu keras.Takut kalau sosok itu mendengar.Takut kalau suara perempuan dari kamar nomor tiga kembali muncul.Dan terutama...takut kalau botol kecil bertuliskan angka 3 itu bukan sekadar peringatan.Fauzan masih memikirkan semuanya.Perempuan berkebaya.Kamar nomor tiga.Pak Hasan yang tiba-tiba pulang.Pak Darto yang mengigau tentang gudang.Suara Mandor Suryono dari balik gudang.Dan sekarang...angka 3.Semua seperti terhubung.Namun belum ada satu pun yang bisa menjelaskan hubungan tersebut.Pagi itu, Fauzan duduk di teras mess bersama Bagas.Di depan mereka ada dua gelas kopi.Bagas sesekali melihat ke arah kamar nomor tiga."Zan.""Hm?""Kamu lihat bayangan perempuan itu juga, kan?"Fauzan mengangguk."Iya.""Berarti aku nggak halusinas

  • JAMU, MAS?   BAB 64 — KAMAR NOMOR TIGA

    BAB 64 — KAMAR NOMOR TIGASejak suara Mandor Suryono terdengar dari balik gudang, Fauzan tidak bisa tidur dengan tenang.Bukan hanya karena suara itu.Ada sesuatu yang lebih mengganggu pikirannya.Mandor Suryono sedang berada di kantor polisi.Namun suara laki-laki itu terdengar jelas dari gudang belakang.Aku ora melu...(Aku tidak ikut...)Kalimat yang sama seperti yang diucapkan Pak Darto ketika mengigau.Dua orang.Dua tempat.Satu kalimat.Fauzan tidak tahu apakah itu kebetulan.Atau justru ada sesuatu yang menghubungkan keduanya.Pagi itu ia menceritakan kejadian tersebut kepada Bagas.Mereka duduk di teras mess sambil menikmati kopi.Bagas terlihat tidak percaya."Kamu yakin suara itu suara Mandor?""Yakin.""Jangan-jangan mirip.""Nggak."Bagas terdiam.Fauzan menatap gudang belakang dari kejauhan.Pintu gudang masih terkunci.Tidak ada seorang pun di sana."Yang bikin aneh..."Fauzan berhenti."Apa?""Mandor sudah dua hari diperiksa polisi.""Iya.""Jadi kalau itu benar suara

  • JAMU, MAS?   BAB 63 — TUKANG YANG MENGIGAU

    BAB 63 — TUKANG YANG MENGIGAUMalam itu, tidak ada yang benar-benar merasa tenang.Setelah pesan “14 — LIHAT SIAPA YANG TIDAK ADA” ditemukan, Fauzan dan Bagas mulai memperhatikan semua orang di mess.Mereka mencoba mengingat siapa yang tidak terlihat.Siapa yang pergi.Siapa yang tiba-tiba jarang muncul.Dan siapa yang mungkin mengetahui sesuatu tetapi memilih diam.Namun tidak ada jawaban.Setidaknya belum.Malam semakin larut.Satu per satu pekerja masuk kamar.Lampu ruang tengah akhirnya dimatikan.Hanya lampu teras yang masih menyala.Fauzan sudah berbaring ketika terdengar suara dari kamar sebelah.Awalnya pelan.Seperti seseorang berbicara dalam tidur."Hmm..."Fauzan membuka mata.Ia mendengarkan.Suara itu terdengar lagi."Aku..."Kemudian diam.Fauzan kembali memejamkan mata.

  • JAMU, MAS?   BAB 62 — BOTOL YANG BERTAMBAH

    BAB 62 — BOTOL YANG BERTAMBAHPagi datang tanpa membawa rasa lega.Langit masih sedikit mendung ketika para pekerja mulai keluar dari kamar.Beberapa orang langsung menuju kamar mandi.Sebagian lainnya menuju dapur untuk membuat kopi.Rutinitas pagi seharusnya berjalan seperti biasa.Namun semuanya berubah ketika seorang pekerja membuka pintu mess.Ia langsung berhenti.Wajahnya pucat."Eh..."Tidak ada yang memperhatikan.Ia memanggil lagi."Eh, sini."Seorang pekerja lain keluar."Ada apa?"Lelaki itu menunjuk ke depan."Tadi malam ada botol di sini?"Pekerja yang ditanya menggeleng."Nggak.""Yakin?""Iya."Mereka berdua menatap teras.Di sana terdapat botol-botol kaca.Bukan satu.Bukan dua.Belasan.Semuanya berjajar rapi.Seperti sengaja

  • JAMU, MAS?   BAB 61 — SEMUA MENCIUM BAU JAMU

    BAB 61 — SEMUA MENCIUM BAU JAMUMalam berikutnya, mess proyek kembali dipenuhi pekerja.Tidak seperti biasanya.Mereka makan bersama dalam satu ruangan.Tidak ada yang berani makan sendirian.Setelah kejadian malam sebelumnya, sebagian pekerja bahkan meminta agar lampu ruang makan dibiarkan menyala lebih terang.Tidak ada yang protes.Semua merasa lebih aman ketika ruangan terlihat jelas.Fauzan duduk bersama Bagas.Di depan mereka ada nasi, lauk sederhana, sambal, dan sayur.Namun tidak banyak yang benar-benar menikmati makanan.Pembicaraan mereka masih tentang kejadian di Blok C.Tentang botol-botol jamu.Tentang suara perempuan.Dan tentu saja tentang Mandor Suryono."Pak Joko belum kasih kabar?" tanya salah seorang pekerja.Bagas menggeleng."Belum.""Mandor masih diperiksa?""Katanya begitu."Pekerja

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status