/ Horor / JAMU, MAS? / BAB 3 — YANG TIDAK MINUM JAMU

공유

BAB 3 — YANG TIDAK MINUM JAMU

작가: UMMA LAILA
last update 게시일: 2025-01-17 23:36:21

Pagi datang pelan di mess C-12.

Bukan dengan sunyi, tapi suara sendok beradu gelas, ketel air mendesis, dan radio kecil yang nyaring tapi fals. Beberapa pekerja sudah bangun, ada yang ngopi, ada yang cuma duduk pakai kaos singlet, perut buncit terbuka.

“Zan, kowe kok kaya wong digebugi semalaman?”

(Zan, kamu kok kayak orang digebukin semalaman?)

Fauzan duduk di tepi kasur lipat. Matanya cekung. Rambutnya masih basah, entah keringat atau air.

“Wes dadi vampir kowe saiki?”

(Sudah jadi vampir kamu sekarang?)

Tawa pecah.

“Ra usah lembur meneh, Zan,” sambung yang lain.

(Jangan lembur lagi, Zan.)

Fauzan nyengir tipis. Tangannya meremas gelas kopi, tapi tidak diminum.

Di luar, matahari naik. Terang. Normal.

Semua terlihat normal.

Kecuali Fauzan.

Bagas muncul dari kamar mandi sambil mengucek wajah. Rambutnya acak-acakan, kaosnya kebesaran.

Ia duduk di sebelah Fauzan, menurunkan suara.

“Bengi kowe krungu opo maneh?”

(Malam tadi kamu dengar apa lagi?)

Fauzan menggeleng cepat. “Ra ono.”

(Nggak ada.)

“Ngimpi wae,” tambahnya.

(Cuma mimpi.)

Bagas mengangguk. Tapi wajahnya tidak tenang.

Ia menjilat bibirnya sekali. Lalu lagi. Lalu melet-melet lidahnya seperti orang kepedasan.

“Zan…”

“Iyo?”

“Cangkemku kok pait, yo?”

(Mulutku kok pahit ya?)

Fauzan melirik sekilas.

“Pait piye?”

(Pahit gimana?)

“Kaya jamu.”

Bagas nyengir, berusaha bercanda.

“Padahal aku bengi kuwi ngopi, loh. Ra ngombe jamu blas.”

Ia melet-melet lagi, makin lebay.

“Deloken iki.”

Fauzan refleks menoleh.

Lidah Bagas.

Hijau.

Bukan hijau cerah. Hijau kusam, seperti sisa cairan yang mengering.

Fauzan tercekat sepersekian detik.

“Dasar goblok,” katanya cepat sambil menepis kepala Bagas.

“Ra usah nggawe aku mumet.”

(Jangan bikin aku pusing.)

Bagas tertawa. “Lha tenan, Zan. Iki rasane pait.”

“Mbok menawa aku ngimpi ngombe jamu.”

Fauzan menunduk. Tangannya mengepal.

Ia memilih diam.

Takut Bagas bertanya lebih jauh.

Takut kalau jawabannya benar.

“Wis, mangan wae,” Fauzan berdiri.

“Ayo kerja.”

Siang datang cepat.

Panas menyengat. Bau semen, tanah basah, dan besi karat bercampur jadi satu. Fauzan mengaduk adonan di dekat pondasi Blok C, sendirian.

Yang lain bekerja di sisi berbeda. Tukang-tukang ahli di bagian atas. Fauzan di bawah. Seperti biasa.

“Zan.”

Suara itu datang dari samping.

Bang Boneng berdiri di sana.

Topinya ditarik rendah. Wajahnya kusam. Matanya merah, entah kurang tidur atau sebab lain.

“Bang,” Fauzan mengangguk singkat.

Bang Boneng tidak langsung bicara. Ia mendekat satu langkah.

“Ko-kowe-we… nemu opo neng pondasi?”

(Ka-kamu… nemu apa di pondasi?)

Gagapnya terasa dipaksa.

Fauzan kaget. “Ora nemu opo-opo, Bang.”

(Nggak nemu apa-apa.)

Bang Boneng mendengus.

“Meneng wae.”

“Rausah kakean ba-bacot.”

(Diam saja. Nggak usah kebanyakan bicara.)

Nada suaranya tajam. Kasar. Tidak seperti biasanya.

Fauzan menelan ludah.

“Iyo, Bang.”

Bang Boneng menatapnya lama. Lalu melirik ke arah tempat Fauzan berdiri.

“Ra kabeh wong oleh mlebu kene,” katanya pelan.

(Nggak semua orang boleh masuk sini.)

Fauzan mengerutkan kening.

“Maksud e, Bang?”

“Ko-kowe karo Bagas kuwi kenek.”

“Kerep ngaduk. Kerep nyemplung tangan neng lemah.”

(Kamu sama Bagas itu kenek. Sering ngaduk. Sering masukin tangan ke tanah.)

Ia berhenti sejenak.

“Sing kerep ditambani,” katanya, suaranya nyaris berbisik,

(Yang sering diobati)

“biasane sing ditekani.”

(Biasanya yang didatangi)

Fauzan merinding.

Bang Boneng melangkah pergi tanpa menunggu jawaban.

Siang makin panas.

Fauzan mengangkat ember, lalu berhenti.

Bau pahit menyusup.

Bukan bau semen.

Bukan kopi.

Jamu.

Ia menoleh ke belakang.

Kosong.

“Mas…”

Suara itu lirih. Dekat.

“Mas… durung rampung jamune.”

Fauzan memutar badan cepat.

Tidak ada siapa-siapa.

Tapi tanah di dekat kakinya basah. Cokelat gelap. Mengkilap seperti baru tumpah cairan.

Ia mundur selangkah.

Ember di tangannya bergetar.

Sore.

Kerja selesai. Pekerja lain pulang dengan keluhan biasa: capek, panas, lapar. Fauzan berjalan pelan ke mess.

Tangannya masuk ke saku celana, mencari rokok.

Yang ia sentuh bukan bungkus.

Plastik tipis.

Ia berhenti.

Mengeluarkannya.

Gelas plastik.

Retak di pinggirnya. Kering. Ada sisa warna hijau di dasar.

Gelas jamu.

Fauzan menatapnya lama.

Kalau dia tidak minum jamu…

lalu siapa yang meminumnya?

Dan kenapa…

bau pahit itu masih menempel di tangannya?

“Opo iki?”

(Apa ini?)

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • JAMU, MAS?   BAB 9 — ORANG TERAKHIR MEMBELI JAMU

    Pulang dari rumah Mbak Minah, Fauzan dan Bagas tidak banyak bicara. Motor tua milik Pak Rawi melaju pelan membelah jalan desa. Tidak ada lagi candaan. Tidak ada saling mengejek. Yang terngiang di kepala mereka hanya satu kalimat. "Kalau kalian bertemu Minah... bilang ibunya menunggu di rumah." Bagas menghela napas panjang. "Zan." "Hm?" "Ra penak atiku." (Aku nggak enak hati.) Fauzan mengangguk pelan. "Aku yo." (Aku juga.) Bagas menatap jalan di depan. "Berarti... wong sing tak delok kuwi..." (Berarti... orang yang kulihat itu...) Fauzan memotong pelan. "Ra usah diteruske." (Jangan diteruskan.) Bagas memilih diam. --- Mereka tiba di proyek tepa

  • JAMU, MAS?   BAB 8 — RUMAH MBAK MINAH

    Pagi itu langit masih mendung sisa hujan semalam.Mess C-12 mulai ramai. Suara orang menyapu halaman, bunyi ember diseret, dan aroma kopi hitam memenuhi udara.Namun Fauzan dan Bagas sama-sama tidak banyak bicara.Semalaman mereka nyaris tidak tidur.Terutama setelah kejadian perempuan berkebaya yang melambai di pertigaan menuju Blok C.Bagas mengaduk kopinya pelan."Zan.""Hm?""Aku mikir.""Mikir opo?"(Mikir apa?)Bagas menghela napas."Mbak Minah kuwi tenan isih urip, ta?"(Mbak Minah itu sebenarnya masih hidup, ya?)Fauzan terdiam.Ia juga memikirkan hal yang sama.Kalau benar Mbak Minah masih hidup...Siapa perempuan yang mereka lihat hampir setiap malam?Dan kalau benar sudah meninggal...Kenapa belum ada seorang pun yang mencarinya?Fauzan menaruh gelas kopinya."Ayo.""Neng endi?"(Mau ke mana?)"Nyari omahe Mbak Minah."(Mencari rumah Mbak Minah.)Bagas mengangkat alis."Sakdurunge kerja?"(Sebelum kerja?)Fauzan mengangguk."Jam masuk isih suwe."(Masih lama sebelum mulai k

  • JAMU, MAS?   BAB 7 — PERINGATAN BANG BONENG

    Bagas masih terengah-engah saat berhenti di depan Fauzan.Mukanya pucat.Keringat membasahi pelipis.Fauzan langsung memegang bahunya."Gas, ono opo?"(Ada apa?)Bagas menggeleng cepat."Aku... aku barusan..."Ia menoleh ke arah toilet proyek."Ra usah neng kono."(Jangan ke sana.)Fauzan mengernyit."Kenapa?"Bagas menarik napas panjang."Aku krungu suara."(Aku dengar suara.)"Terus ono gelas jamu."Fauzan langsung diam."Kowe ndelok?"Bagas mengangguk."Jelas.""Terus?""Aku noleh...""Ra ono sopo-sopo."(Tidak ada siapa-siapa.)Ia tertawa kecil.Tapi tawanya hambar."Saiki aku ngerti.""Kowe ora edan."(Kamu nggak gila.)Fauzan menghela napas.Belum sempat menjawab, peluit Mandor Suryono berbunyi."Priiit!""Ngaso cukup!""Ayo kerja maneh!"Para pekerja kembali ke posisi masing-masing.---Menjelang sore.Fauzan dan Bagas mengangkut sak semen menuju Blok C."Gas.""Hm?""Nek bengi iki ono sing ngomong 'Jamu, Mas?'"Bagas langsung menjawab."Tak jawab.""Opo?""'Ora duwe duit, Mbak

  • JAMU, MAS?   BAB 6 — BAGAS IKUT MENGALAMI TEROR

    Malam di mess C-12 kembali lengang.Setelah melihat jejak cairan jamu yang mengarah ke Blok C, Fauzan memilih menutup pintu rapat-rapat. Ia tidak sanggup mengikuti jejak itu.Belum.Bagas masih mendengkur."Hrrrr...""Hrrrr..."Fauzan melirik sekilas."Enak tenan turumu."(Enak banget tidurmu.)Ia menarik selimut hingga menutupi dada. Matanya tetap terbuka sampai entah pukul berapa akhirnya rasa kantuk mengalahkan semuanya.---"Kukuruyuuuk!"Suara ayam membangunkan satu mess.Belum pukul enam.Beberapa pekerja mulai antre kamar mandi.Ada yang menggosok gigi di teras, ada yang mencuci muka sambil menguap.Bagas keluar kamar dengan rambut berdiri ke mana-mana.Ia masih setengah sadar."Zan...""Hm?""Kok aku ngimpi aneh, yo?"(Kok aku mimpi aneh ya?)Fauzan yang sedang mengikat tali sepatu menoleh."Ngimpi opo?"(Mimpi apa?)Bagas langsung mengambil gelas aluminium."Nanti wae.""Dahakku akeh."Ia berkumur dulu."Gleeh..."Air dimuntahkan ke selokan."Lega."Fauzan menggeleng."Ngomon

  • JAMU, MAS?   BAB 5 — BAU YANG TIDAK MAU PERGI

    Fauzan masih terduduk di lantai kamar mandi.Punggungnya menempel di dinding yang dingin. Napasnya belum teratur. Matanya tidak lepas dari selendang merah yang kini menggantung di gagang pintu.Basah.Airnya masih menetes.Tik...Tik...Tik...Suara tetesan itu terdengar jauh lebih keras daripada seharusnya.Fauzan mengusap wajahnya kasar."Ngimpi..."gumamnya."Pasti ngimpi."Ia memaksa berdiri. Lututnya masih gemetar. Dengan langkah pelan ia mendekati pintu.Selendang itu masih ada.Tangannya terulur, ragu-ragu.Belum sempat menyentuh—"Zan!"Suara Bagas dari luar membuat Fauzan tersentak."Rampung durung aduse?"(Sudah selesai mandinya?)Fauzan berkedip.Saat ia kembali melihat gagang pintu...Selendang itu hilang.Kosong.Hanya ada gagang pintu besi yang mulai berkarat.Fauzan membuka pintu perlahan.Bagas berdiri sambil membawa kaus bersih."Kok suwe tenan?"(Lama banget?)Fauzan menoleh ke lantai.Genangan air masih ada.Namun tidak ada bekas kain.Tidak ada warna merah.Tidak a

  • JAMU, MAS?   BAB 4 — YANG BUKAN GELAS

    Fauzan berdiri kaku di depan mess.Matanya kosong, tapi tangannya terangkat setengah, seolah sedang menawari sesuatu yang tak terlihat oleh siapapun. Posisi tubuhnya aneh—seperti orang yang lupa cara menurunkan tangan sendiri.“Zan.”Suara itu datang dari belakang.Fauzan tersentak keras, bahunya naik. Tangannya hampir saja menjatuhkan apa yang ia pegang.Bagas berdiri di ambang pintu mess, rambutnya masih basah, handuk kecil melingkar di leher. Kaosnya menempel di badan. Wajahnya mengernyit, bingung bercampur curiga.“Ngapain bengong kaya patung ronda?”(Ngapain bengong kayak patung jaga malam?)Ia menatap Fauzan dari ujung kepala sampai kaki.“Kok mukamu pucet banget?”Fauzan menelan ludah. Tenggorokannya kering. Napasnya terasa pendek-pendek, seolah barusan lari jauh padahal ia cuma berdiri diam.“Gas…” katanya pelan.“Iki… iki loh…”(Ini… ini loh…)Ia mengulurkan tangannya, masih setengah gemetar.Di genggamannya ada gelas plastik jamu.Bening tapi kusam, pinggirannya sedikit peny

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status