LOGINLinggar terdiam mendengar pertanyaan Lintang. Tas di tangannya terasa semakin berat, meskipun isinya hanya beberapa potong pakaian.Wanita itu menunduk, berjongkok. Ia menatap Lintang dengan mata yang sudah mengaca. Dia ingin memeluk anak itu. Dia ingin membawanya pergi. Namun jika ingat bagaimana anak itu begitu senang dengan apa yang diberikan Cindy, hatinya merasa luka. Dia merasa tak punya hak untuk ada diantara mereka. “Bunda mau pergi sebentar, Sayang.”Lintang menggeleng. Kedua tangannya meraih ujung baju Linggar.“Jangan pergi. Lintang merasa Bunda aneh."“Lintang ....”“Bunda mau pergi sama siapa? Kenapa Bunda nggak ngajak Lintang?”Suara anak itu mulai bergetar. Boneka pemberian Cindy yang tadi dipeluknya kini terjatuh ke lantai.Linggar berusaha tersenyum, tetapi air matanya justru mengalir.“Bunda hanya ingin menenangkan diri sebentar.”“Lintang ikut!”Anak itu segera memeluk pinggang Linggar.“Lintang nggak mau ditinggal Bunda! Bukankah Bunda telah janji sama Ayah kalau
“Aku ingin menenangkan diri sebentar. Bagaimana mungkin aku bersamamu?"Ilalang menatap Linggar cukup lama. Ada banyak pertanyaan yang ingin ia ajukan, tetapi melihat wajah istrinya yang tampak enggan melanjutkan pembicaraan, ia akhirnya menghembuskan napas.“Baiklah. Kalau itu memang yang kamu inginkan, aku tidak akan melarangmu. Aku akan menuruti keinginan kamu."Linggar menoleh, seolah tak menyangka suaminya akan menyetujui permintaannya. Namun entah kenapa, hal itu justru membuat hatinya sakit. Mata Linggar memanas. Air mata berusaha ia tahan agar tidak jatuh. “Tapi tunggu sampai acara perkebunan selesai.”Wajah Linggar kembali berubah.“Kenapa harus menunggu, Mas?”“Karena acara itu tinggal dua hari lagi. Ada banyak hal yang harus kuurus, dan aku ingin kamu tetap berada di rumah sampai semuanya selesai.”“Aku tidak ingin terlibat dalam acara itu.”“Bagaimana kamu tidak terlibat. Kamu itu sekretaris aku. Apa kamu akan melepas tanggungjawab begitu saha?"Linggar terdiam.Ia ingin
Ilalang seketika terdiam saat Ia melihat Linggar berjalan dari arah depan rumah. Dia segera berlari memeluk Linggar."Linggar...kamu dari mana? Aku khawatir."Linggar berusaha melepaskan diri dari pelukan lelaki itu. Terlebih saat ia melihat Lintang memeluk boneka baru. "Limggar, kamu dari mana, Nak" Bu Ratih yang juga khawatir mendekat dan mengajak Linggar masuk. "Hanya jalan pagi, Nek." Linggar berusaha tersenyum, walau Ilalang tahu, senyum itu seolah dipaksakan."Bunda...jlkenapa nggak ngajak Lintang?"Linggar menatap bocah itu. Rasanya seperti asing. Anak yang selama ini menjadi alasan ia berjuang, itu kini terasa jauh darinya, terlebih saat ia begitu senangnya berkali-kali mencium bonekanya. Linggar hanya menoleh sebentar sebelum dia masuk ke kamarnya. Lintang hanya menatapnya sekilas. Bocah itu sudah larut dengan bonekanya. Ilalang segera membuntuti Linggar. "Kapan kamu keluar? Baru selesai subuh aku sudah bangun."“Aku tidak bisa tidur. Aku sholat Subuh di mushola mes."
Ilalang terdiam. Kaget dengan apa yang baru saja ia dengar. Jemari lelaki itu tetap menggenggam tangan istrinya. Ia ingin menjawab, tetapi kata-kata yang seharusnya mudah diucapkan justru terasa tertahan dalam tenggorokan.Mencintai Linggar bukan sesuatu yang bisa ia sangkal. Bahkan perasaan itu jauh sebelum pernikahan mereka walau ia sering menyangkalnya dengan keangkuhan. Sampai Bu Ratih yang tahu, menyuruhnya menikahinya.Namun lelaki yang tinggi gengsinya itu masih berusaha menyangkalnya. Bahkan sekarang, tiga kata itu seolah tertahan hanya di hatinya. Ilalang bukan lelaki yang terbiasa mengungkapkan perasaan. Sejak ditinggalkan ibunya, ia jadi anak yang memilih meredam perasaannya. Sejak awal pernikahan mereka, ia lebih sering menunjukkan perhatian melalui tindakan. Ia memastikan Linggar mendapatkan apa yang istimewa, termasuk mencari mas kawin dengan mengikuti lelang perhiasan antik, walau ia tak tahu kalau itu perhiasan leluhur Linggar yang dijual ibu tirinya untuk menutup
Bu Ratih mengangguk. Dengan ragu dia menatap Ilalang."Dijemput Cindy katanya nanti diajak jenguk Bunda ke sini.""Cindu yang jemput?" Ilalang justru yang bertanya. Sementara Linggar sudah dapat menduga saat Bu Ratih menyebut Rania. Ilalang menatap Linggar yang membuang pandangannya. Bu Ratih menelisik Ilalang dan Linggar bergantian. "Kalian sedang ada masalah?"Ilalang menatap Linggar tak enak hati. "Bukannya Cindy sekarang sudah jadi customer kalian? Tadi dia cerita soal kerjasama dengan perkebunan."Ilalang kebingungan harus menjawab apa. Diamnya Linggar sudah membuatnya bingung. Terlebih sekarang saat tahu Lintang tidak ke rumah sakit, malah ikut Cindy ke taman. "Nenek pulang saja. Mungkin Lintang tak jadi ke sini, dan langsung pulang, Nek. Ini sudah malam." Akhirnya Linggar bicara saat sampai malam Bu Ratih yang menunggu Cindy datang masih tak terlihat. Ilalang bahkan begitu cemas saat menelpon Cindy dan tidak tersambung. Dia berkali-kali menatap Linggar yang hanya membua
“Bayinya tidak selamat.”Tubuh Ilalang seketika kaku.Untuk beberapa detik, ia hanya memandang Sean tanpa suara. Kalimat itu terdengar begitu sederhana, tetapi maknanya terasa seperti menghantam seluruh pertahanan yang selama ini ia bangun.“Apa maksudmu?”Sean menarik napas berat.“Aku turut berduka, Lang. Tim medis sudah berusaha menangani kondisi Linggar, tetapi bayinya tidak bisa diselamatkan.”Ilalang menggeleng pelan.“Tidak mungkin.”Sean tidak langsung menjawab. Sebagai dokter, ia memahami bahwa ada kabar yang tidak bisa diterima seseorang hanya dengan satu kali penjelasan. Namun, sebagai sahabat, ia juga tahu betapa besar harapan Ilalang terhadap bayi yang selama ini mereka nantikan.“Aku tahu ini berat,” ujar Sean lirih. “Aku pun berharap hasilnya berbeda.”Ilalang mengalihkan pandangan menuju pintu ruang perawatan.Anaknya.Bayi yang selama ini ia nantikan bersama Linggar.Bayi yang membuatnya semakin berhati-hati menjaga istrinya, memastikan perempuan itu makan teratur, be







