JANDA ISTIMEWA TERJEBAK PERNIKAHAN KEDUA

JANDA ISTIMEWA TERJEBAK PERNIKAHAN KEDUA

last updateปรับปรุงล่าสุด : 2026-08-11
โดย:  HaniHadi_LTFอัปเดตเมื่อครู่นี้
ภาษา: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
10
4 การให้คะแนน. 4 ความคิดเห็น
9บท
19views
อ่าน
เพิ่มลงในห้องสมุด

แชร์:  

รายงาน
ภาพรวม
แค็ตตาล็อก
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป

Demi anaknya, Linggar menyetujui pernikahan dengan Ilalang. Namun, setiap kali suaminya hendak menyentuhnya, tubuh Linggar selalu gemetar tanpa mampu ia kendalikan. Ia tahu Ilalang pasti menganggapnya aneh. Bukankah dia seorang janda beranak satu? Bukankah seharusnya ia sudah terbiasa disentuh lelaki? Namun, Linggar menyimpan satu rahasia yang membuat sentuhan seorang lelaki justru terasa seperti ancaman.

ดูเพิ่มเติม

บทที่ 1

01. Menikah?

"Jadi, Nenek memanggil kami untuk menikahkan aku dengannya?"

Suara Ilalang memecah keheningan ruang tamu rumah utama.

Linggar tersentak. Jemarinya spontan mencengkeram ujung kerudung hingga kusut. Sejak Bu Nini, pembantu rumah itu, datang ke mesnya pagi tadi dan meminta ia menghadap Bu Ratih, majikannya, perasaannya memang tak pernah tenang. Berkali-kali ia menebak alasan pemanggilan itu. Mungkin karena beberapa hari terakhir ia tak masuk memetik teh demi menjaga Lintang yang sedang demam. 

Namun, sama sekali tidak pernah terlintas dalam benaknya bahwa ia dipanggil untuk urusan pernikahan.

Dadanya mendadak sesak. Pelan-pelan ia mengangkat kepala. Tatapannya bertemu sesaat dengan Ilalang yang sudah berdiri tegak. Rahang lelaki tampan itu mengeras. Sorot matanya begitu tajam hingga membuat Linggar buru-buru menunduk kembali.

"Bu, kenapa tidak bilang soal ini kepada saya dulu?" tanya Linggar. Walau setelah itu dia menunduk kembali saat tatapan benci lelaki yang hendak beranjak itu menghujamnya kembali.  Linggar hanya mampu menatap lantai granit yang memantulkan bayangan kakinya.

"Lang!" Suara Bu Ratih menghentikan langkah Ilalang.

Ilalang berbalik.

"Nenek serius?"

Perempuan sepuh itu mengangguk mantap.

"Serius. Kamu sudah tiga puluh tahun. Sejak Sindy meninggalkan kamu, kamu tidak pernah membuka hati lagi. Nenek juga sudah sering sakit. Sebelum menutup mata, Nenek ingin melihat cicit lahir."

Linggar menggigit bibir bawahnya. Setiap kalimat yang keluar dari mulut Bu Ratih justru membuatnya semakin gelisah. Ia menghormati perempuan tua itu seperti ibunya sendiri. Selama bekerja di perkebunan teh, Bu Ratih selalu memperlakukannya dengan baik. Namun, kebaikan itu tak berarti ia pantas menjadi istri cucunya. Ia hanyalah seorang pemetik teh. Seorang janda dengan seorang anak perempuan berusia empat tahun.

Sementara Ilalang... Lelaki itu adalah pemilik perkebunan. Lulusan luar negeri. Disegani para relasi bisnisnya. Dunia mereka bahkan tak pernah berada pada garis yang sama.

Terdengar hembusan napas panjang. Lalu tawa pendek Ilalang. Membuat Linggar menutup mata sesaat.

"Aku anak tunggal pemilik perkebunan. Apa kata teman dan kolegaku kalau aku menikahi seorang pemetik teh? Janda beranak satu lagi."

Kalimat itu menghantam tepat ke dada Linggar walau ia tidak pernah berharap menjadi istri Ilalang, bahkan istri siapapun setelah kematian suaminya. Tetapi mendengar dirinya dinilai serendah itu, tetap saja menyakitkan.

Tangan Linggar semakin erat menggenggam kerudung. Ia menahan air mata agar tidak tumpah.

"Aku tidak akan menikahinya!" Ilalang kembali bicara.

Penolakan itu terdengar tegas di telinga Linggar. Anehnya, di balik rasa sakit yang mengiris, Linggar justru merasakan sedikit kelegaan. 

"Bu...." Suara Linggar terdengar lirih. "Kalau memang tidak ada lagi yang perlu dibicarakan, saya izin pulang. Lintang saya titipkan ke tetangga karena Bu Nini bilang jangan dibawa."

Ia kini bersyukur menuruti permintaan Bu Nini tadi. Padahal Lintang bersikeras ikut. Bagaimana jadinya jika putrinya ikut menyaksikan semua ini?

Lintang sangat menyukai Ilalang. Setiap dia menunggu di gubuk saat Linggar memetik teh, Ilalang menghampirinya, menggendongnya, membelikannya roti, atau mengajaknya keliling, melihat kebun teh dari atas mobilnya yang terbuka.

Linggar tak sanggup membayangkan wajah putrinya jika mengetahui lelaki yang dikaguminya itu menghina ibunya.

Linggar bergegas melangkah. Namun baru satu langkah....

"Berhenti!" Suara Bu Ratih menghentikannya. "Kamu tetap tinggal."

Linggar menarik napas pelan sebelum berbalik. Tatapannya tetap tertuju ke lantai. Ia tak sanggup melihat wajah Ilalang lagi.

"Apa lagi yang harus dibahas, Nek?" tanya Ilalang. "Biarkan dia pergi."

"Nenek belum selesai."

"Apa Nenek mau memaksaku?"

"Dengarkan Nenek,"

Ilalang menggeleng.

"Tak ada yang perlu didengar. Aku tidak mungkin menikahi perempuan yang bahkan tidak berasal dari pergaulan yang sama denganku. Aku butuh istri yang bisa mengerti pekerjaanku, bukan seseorang yang hanya mengerti cara memeting teh."

Linggar memejamkan mata. Kalimat itu terdengar pedas. Ia dianggap tidak pantas. Bukan karena perangainya, melainkan karena kehidupannya.

"Bu..... saya mengerti maksud Mas Ilalang."

Bu Ratih menoleh kepadanya. Tatapan perempuan sepuh itu dipenuhi rasa iba.

"Saya juga tidak ingin menikah dengan orang yang merasa malu memiliki istri seperti saya."

Linggar mengangkat wajah untuk pertama kalinya sejak pembicaraan itu dimulai. Sorot matanya bertemu sesaat dengan Ilalang. Tak ada kebencian di sana. Apalagi keinginan untuk membalas ucapan lelaki itu. Hanya ada sisa-sisa harga diri yang sedang ia pertahankan.

"Terlebih..." lanjutnya lirih, "saya merasa tidak ada orang sebaik almarhum suami saya."

Kalimat itu meluncur begitu saja. Bukan untuk menyudutkan Ilalang. Ia hanya ingin menegaskan bahwa dirinya tidak sedang memohon diterima.

Ruangan hening.

Linggar dapat merasakan tatapan Bu Ratih yang penuh kesedihan, dan tangan Ilalang yang mengepal entah kenapa.

"Saya memang hanya janda pemetik teh. Saya sudah terbiasa hidup seperti ini," ucap Linggar akhirnya. Walau bukan karena ia bangga hidup susah. Ia lebih ingin kembali memetik teh di kebun daripada berdiri di ruangan semewah ini sambil mendengar harga dirinya dipertanyakan.

"Linggar...." Suara Bu Ratih terdengar lembut. "Kamu pantas mendapatkan lebih dari itu."

Linggar menggeleng pelan.

"Saya tahu tempat saya. Saya tak ingin berharap lebih."

Kalimat itu keluar tanpa beban. Tanpa harapan hidupnya akan berubah hanya karena Bu Ratih memperlakukannya dengan baik.

Mata Bu Ratih tampak berkaca-kaca. Perempuan tua itu perlahan mendekati Linggar, lalu menggenggam kedua tangannya yang terasa dingin.

"Ibu justru tahu itu tak seharusnya tempatmu."

Linggar menggigit bibir. Tak tahu maksud Bu Ratih.  Sentuhan hangat itu hampir membuat air matanya jatuh. Namun ia kembali menahannya.

Menangis tidak akan mengubah apa pun. Yang sudah terluka tetap akan terluka. Yang sudah memandang rendah dirinya pun belum tentu berubah hanya karena melihat air matanya.

Di sisi lain, Ilalang masih berdiri tanpa bergeming. Sampai suara Bu Ratih kembali memanggilnya.

"Ilalang."

Ilalang menatap neneknya.

"Sekali lagi Nenek tanya...apa jawabanmu tidak berubah?"

"Tidak."

"Yakin?"

"Sangat yakin."

Bu Ratih mengangguk perlahan. Wajahnya tetap tenang, seolah sudah menduga jawaban itu sejak awal.

"Baik." Beliau melepaskan genggaman tangan Linggar, lalu berbalik menghadap cucunya. "Tapi dengar....Kalau bukan dia..." Bu Ratih berkata mantap. "Nenek tidak akan pernah merestui perempuan lain menjadi istrimu. Termasuk Sindy."

Nama itu membuat sorot mata Ilalang berubah. "Apa maksud Nenek?"

Linggar ikut mengangkat kepala. Dadanya kembali dipenuhi rasa gelisah. Mengapa Bu Ratih mengatakan kalimat itu?

Bu Ratih memandang Linggar beberapa saat. Tatapan itu begitu dalam hingga membuat Linggar semakin bingung. Perlahan perempuan sepuh itu kembali mengalihkan pandangannya kepada Ilalang. Lalu, dengan suara tenang  beliau berkata,

"Kamu belum tahu siapa dia. Kamu akan menyesal jika menolaknya."

แสดง
บทถัดไป
ดาวน์โหลด

บทล่าสุด

บทอื่นๆ

ถึงผู้อ่าน

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

ความคิดเห็น

aleevani
aleevani
Bagus! penasaran banget, ga sabar nunggu kelanjutannya
2026-08-11 23:01:21
0
0
Seruling Emas
Seruling Emas
kayaknya seru nih. Akan spt apa jalannya pernikahan itu ya?
2026-08-11 21:46:59
0
0
Layli Dinata
Layli Dinata
semangat lanjut ya Kak. kereeen.
2026-08-11 20:05:28
0
0
Fatmah Azzahra
Fatmah Azzahra
waduh! bikin penasaran aja! jgn pke lama kak update nya ya
2026-08-11 20:05:05
0
0
9
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status