เข้าสู่ระบบDemi anaknya, Linggar menyetujui pernikahan dengan Ilalang. Namun, setiap kali suaminya hendak menyentuhnya, tubuh Linggar selalu gemetar tanpa mampu ia kendalikan. Ia tahu Ilalang pasti menganggapnya aneh. Bukankah dia seorang janda beranak satu? Bukankah seharusnya ia sudah terbiasa disentuh lelaki? Namun, Linggar menyimpan satu rahasia yang membuat sentuhan seorang lelaki justru terasa seperti ancaman.
ดูเพิ่มเติม"Jadi, Nenek memanggil kami untuk menikahkan aku dengannya?"
Suara Ilalang memecah keheningan ruang tamu rumah utama.
Linggar tersentak. Jemarinya spontan mencengkeram ujung kerudung hingga kusut. Sejak Bu Nini, pembantu rumah itu, datang ke mesnya pagi tadi dan meminta ia menghadap Bu Ratih, majikannya, perasaannya memang tak pernah tenang. Berkali-kali ia menebak alasan pemanggilan itu. Mungkin karena beberapa hari terakhir ia tak masuk memetik teh demi menjaga Lintang yang sedang demam.
Namun, sama sekali tidak pernah terlintas dalam benaknya bahwa ia dipanggil untuk urusan pernikahan.
Dadanya mendadak sesak. Pelan-pelan ia mengangkat kepala. Tatapannya bertemu sesaat dengan Ilalang yang sudah berdiri tegak. Rahang lelaki tampan itu mengeras. Sorot matanya begitu tajam hingga membuat Linggar buru-buru menunduk kembali.
"Bu, kenapa tidak bilang soal ini kepada saya dulu?" tanya Linggar. Walau setelah itu dia menunduk kembali saat tatapan benci lelaki yang hendak beranjak itu menghujamnya kembali. Linggar hanya mampu menatap lantai granit yang memantulkan bayangan kakinya.
"Lang!" Suara Bu Ratih menghentikan langkah Ilalang.
Ilalang berbalik.
"Nenek serius?"
Perempuan sepuh itu mengangguk mantap.
"Serius. Kamu sudah tiga puluh tahun. Sejak Sindy meninggalkan kamu, kamu tidak pernah membuka hati lagi. Nenek juga sudah sering sakit. Sebelum menutup mata, Nenek ingin melihat cicit lahir."
Linggar menggigit bibir bawahnya. Setiap kalimat yang keluar dari mulut Bu Ratih justru membuatnya semakin gelisah. Ia menghormati perempuan tua itu seperti ibunya sendiri. Selama bekerja di perkebunan teh, Bu Ratih selalu memperlakukannya dengan baik. Namun, kebaikan itu tak berarti ia pantas menjadi istri cucunya. Ia hanyalah seorang pemetik teh. Seorang janda dengan seorang anak perempuan berusia empat tahun.
Sementara Ilalang... Lelaki itu adalah pemilik perkebunan. Lulusan luar negeri. Disegani para relasi bisnisnya. Dunia mereka bahkan tak pernah berada pada garis yang sama.
Terdengar hembusan napas panjang. Lalu tawa pendek Ilalang. Membuat Linggar menutup mata sesaat.
"Aku anak tunggal pemilik perkebunan. Apa kata teman dan kolegaku kalau aku menikahi seorang pemetik teh? Janda beranak satu lagi."
Kalimat itu menghantam tepat ke dada Linggar walau ia tidak pernah berharap menjadi istri Ilalang, bahkan istri siapapun setelah kematian suaminya. Tetapi mendengar dirinya dinilai serendah itu, tetap saja menyakitkan.
Tangan Linggar semakin erat menggenggam kerudung. Ia menahan air mata agar tidak tumpah.
"Aku tidak akan menikahinya!" Ilalang kembali bicara.
Penolakan itu terdengar tegas di telinga Linggar. Anehnya, di balik rasa sakit yang mengiris, Linggar justru merasakan sedikit kelegaan.
"Bu...." Suara Linggar terdengar lirih. "Kalau memang tidak ada lagi yang perlu dibicarakan, saya izin pulang. Lintang saya titipkan ke tetangga karena Bu Nini bilang jangan dibawa."
Ia kini bersyukur menuruti permintaan Bu Nini tadi. Padahal Lintang bersikeras ikut. Bagaimana jadinya jika putrinya ikut menyaksikan semua ini?
Lintang sangat menyukai Ilalang. Setiap dia menunggu di gubuk saat Linggar memetik teh, Ilalang menghampirinya, menggendongnya, membelikannya roti, atau mengajaknya keliling, melihat kebun teh dari atas mobilnya yang terbuka.
Linggar tak sanggup membayangkan wajah putrinya jika mengetahui lelaki yang dikaguminya itu menghina ibunya.
Linggar bergegas melangkah. Namun baru satu langkah....
"Berhenti!" Suara Bu Ratih menghentikannya. "Kamu tetap tinggal."
Linggar menarik napas pelan sebelum berbalik. Tatapannya tetap tertuju ke lantai. Ia tak sanggup melihat wajah Ilalang lagi.
"Apa lagi yang harus dibahas, Nek?" tanya Ilalang. "Biarkan dia pergi."
"Nenek belum selesai."
"Apa Nenek mau memaksaku?"
"Dengarkan Nenek,"
Ilalang menggeleng.
"Tak ada yang perlu didengar. Aku tidak mungkin menikahi perempuan yang bahkan tidak berasal dari pergaulan yang sama denganku. Aku butuh istri yang bisa mengerti pekerjaanku, bukan seseorang yang hanya mengerti cara memeting teh."
Linggar memejamkan mata. Kalimat itu terdengar pedas. Ia dianggap tidak pantas. Bukan karena perangainya, melainkan karena kehidupannya.
"Bu..... saya mengerti maksud Mas Ilalang."
Bu Ratih menoleh kepadanya. Tatapan perempuan sepuh itu dipenuhi rasa iba.
"Saya juga tidak ingin menikah dengan orang yang merasa malu memiliki istri seperti saya."
Linggar mengangkat wajah untuk pertama kalinya sejak pembicaraan itu dimulai. Sorot matanya bertemu sesaat dengan Ilalang. Tak ada kebencian di sana. Apalagi keinginan untuk membalas ucapan lelaki itu. Hanya ada sisa-sisa harga diri yang sedang ia pertahankan.
"Terlebih..." lanjutnya lirih, "saya merasa tidak ada orang sebaik almarhum suami saya."
Kalimat itu meluncur begitu saja. Bukan untuk menyudutkan Ilalang. Ia hanya ingin menegaskan bahwa dirinya tidak sedang memohon diterima.
Ruangan hening.
Linggar dapat merasakan tatapan Bu Ratih yang penuh kesedihan, dan tangan Ilalang yang mengepal entah kenapa.
"Saya memang hanya janda pemetik teh. Saya sudah terbiasa hidup seperti ini," ucap Linggar akhirnya. Walau bukan karena ia bangga hidup susah. Ia lebih ingin kembali memetik teh di kebun daripada berdiri di ruangan semewah ini sambil mendengar harga dirinya dipertanyakan.
"Linggar...." Suara Bu Ratih terdengar lembut. "Kamu pantas mendapatkan lebih dari itu."
Linggar menggeleng pelan.
"Saya tahu tempat saya. Saya tak ingin berharap lebih."
Kalimat itu keluar tanpa beban. Tanpa harapan hidupnya akan berubah hanya karena Bu Ratih memperlakukannya dengan baik.
Mata Bu Ratih tampak berkaca-kaca. Perempuan tua itu perlahan mendekati Linggar, lalu menggenggam kedua tangannya yang terasa dingin.
"Ibu justru tahu itu tak seharusnya tempatmu."
Linggar menggigit bibir. Tak tahu maksud Bu Ratih. Sentuhan hangat itu hampir membuat air matanya jatuh. Namun ia kembali menahannya.
Menangis tidak akan mengubah apa pun. Yang sudah terluka tetap akan terluka. Yang sudah memandang rendah dirinya pun belum tentu berubah hanya karena melihat air matanya.
Di sisi lain, Ilalang masih berdiri tanpa bergeming. Sampai suara Bu Ratih kembali memanggilnya.
"Ilalang."
Ilalang menatap neneknya.
"Sekali lagi Nenek tanya...apa jawabanmu tidak berubah?"
"Tidak."
"Yakin?"
"Sangat yakin."
Bu Ratih mengangguk perlahan. Wajahnya tetap tenang, seolah sudah menduga jawaban itu sejak awal.
"Baik." Beliau melepaskan genggaman tangan Linggar, lalu berbalik menghadap cucunya. "Tapi dengar....Kalau bukan dia..." Bu Ratih berkata mantap. "Nenek tidak akan pernah merestui perempuan lain menjadi istrimu. Termasuk Sindy."
Nama itu membuat sorot mata Ilalang berubah. "Apa maksud Nenek?"
Linggar ikut mengangkat kepala. Dadanya kembali dipenuhi rasa gelisah. Mengapa Bu Ratih mengatakan kalimat itu?
Bu Ratih memandang Linggar beberapa saat. Tatapan itu begitu dalam hingga membuat Linggar semakin bingung. Perlahan perempuan sepuh itu kembali mengalihkan pandangannya kepada Ilalang. Lalu, dengan suara tenang beliau berkata,
"Kamu belum tahu siapa dia. Kamu akan menyesal jika menolaknya."
"Ini...." Linggar menutup mulutnya. "Jadi ini maharku...emas 50 gr itu?" Suaranya nyaris tidak terdengar.Linggar mundur selangkah. Matanya masih terpaku pada benda yang selama ini tidak pernah ia sangka akan kembali ia lihat."Perhiasan ini ... kenapa bisa ada di sini? Bagaimana bisa Mas Ilalang mendapatkannya?"Linggar nyaris tidak mengenali suaranya sendiri.Tangannya gemetar ketika membuka tutup kotak sedikit lebih lebar. Kilauan emas menyambut mata.Ada kalung emas dengan liontin giok hijau tua sebesar kuku ibu jari, dikelilingi ukiran emas kecil. Ada sepasang anting, cincin dan gelang dengan batu giok yang sama. Di bagian belakang liontin terdapat ukiran lambang keluarga yang hanya Linggar yang kenal. Benda itu bukan sekadar perhiasan biasa. Linggar pernah melihatnya bertahun-tahun lalu. Bahkan pernah menangis karena ingin mengenakannya.Ingatan itu datang begitu saja."Mami, Dio boleh pakai sebentar?"Gadis belasan tahun itu berdiri sambil menunjuk sebuah kotak beludru. Diala
Ilalang menatap Linggar tanpa berkedip. Tangannya terangkat."Mau menamparmu!" Suara Ilalang menggelegar.Sesaat, Linggar hanya mampu menatap tangan itu dengan tubuh menegang. Jari-jarinya spontan mencengkeram ujung pakaian dengan napas tertahan.Ia memejamkan mata rapat-rapat. Ia ingin berlari, tapi kakinya seolah diam di tempat.Beberapa detik....Brak! Suara pintu terbanting keras.Linggar membuka mata. Ruangan itu sudah kosong.Ia masih berdiri menempel di dinding dengan dada naik turun. Kedua tangannya perlahan terangkat, memeluk tubuh sendiri.Beberapa saat kemudian, Linggar mengembuskan napas panjang.Ternyata lelaki itu pergi. Tak ada pukulan atau tamparan yang ia takutkan.Linggar menatap pintu yang baru saja tertutup."Kenapa aku harus takut hanya karena dia mengangkat tangan?" Suara itu keluar lirih. Walau tubuhnya masih gemetar.Ia mengusap kedua lengannya, lalu berjalan menuju wastafel yang terletak di dekat dapur. Wajahnya terlihat pucat ketika menatap cermin.Linggar me
Bu Ratih mengangguk."Bu, saya bisa tidur di kamar tamu tadi.""Tidak." Bu Ratih menggeleng. "Kalian sudah menikah."Linggar melirik Ilalang. Wajah lelaki itu terlihat sulit dibaca."Nenek.... kami masih perlu....""Jangan membantah. Ingat, perjanjian kamu sama Nenek."Linggar sontak menatap wanita Sepuh yang kini menutup mulutnya itu. Lalu pandangannya beralih ke Ilalang.Ternyata dia mau menerima pernikahan ini karena itu, bathin Linggar. Ia penasaran, perjanjian apa yang mereka lakukan sampai bisa membuat Ilalang menyetujuinya."Bukankah kata Nenek, sudah ada Lintang yang bisa... ""Jangan bicara lagi." Bu Ratih menatap Linggar tak enak hati.Ilalang akhirnya berdiri. Dengan kasar ia menarik tangan Linggar."Ayo."Linggar yang kaget ikut berdiri, reflek mengibaskan tangan Ilalang. Ia lalu mendekati Lintang dan menggenggam tangannya. Entah apa isi perjanjian itu yang membuat Ilalang menyebut nama Lintang."Lintang akan tidur bersama aku selamanya." Bu Ratih segera mendekat. Lalu men
Ucapan polos itu membuat tangan Bu Ratih yang sedang menyisir rambut Linggar mendadak berhenti. Beliau perlahan mengangkat wajah. Tatapannya bertemu dengan mata Linggar yang ikut membeku."Linggar... "Suara Bu Ratih menggantung bersama gerakan tangannya yang terhenti.Linggar masih duduk menghadap cermin. Wajah yang telah tersapu riasan tipis terlihat berbeda, tetapi tatapan matanya justru semakin gugup."Ada apa, Bu?"Bu Ratih tidak langsung menjawab. Tatapan perempuan tua itu turun ke wajah Linggar, lalu beralih kepada Lintang yang masih berdiri sambil memainkan ujung rambut ibunya.Bu Ratih hendak mengatakan sesuatu. Namun sebelum satu kata pun keluar, terdengar ketukan dari luar.Tok... tok... tok..."Nek...." Suara Ilalang terdengar dari balik pintu.Bu Ratih segera mengalihkan perhatian."Masuk saja."Pintu terbuka.Ilalang melangkah masuk dengan stelan jas ivory. Tubuh tegapnya terlihat semakin berwibawa.Langkah lelaki itu mendadak terhenti. Tatapannya sempat berhenti seperse












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
ความคิดเห็น