Home / Romansa / Jadi Budak Kakak Ipar / ANCAMAN SEORANG GANI

Share

ANCAMAN SEORANG GANI

Author: Ummu Amay
last update Last Updated: 2024-06-11 23:27:42

Baru selesai Alvaro melontarkan pertanyaan untuk Alan, tiba-tiba terdengar suara ketukan dari arah pintu.

Alvaro memilih untuk segera memeriksa ketimbang menunggu jawaban apa yang seharusnya Alan berikan.

"Ada apa?" Terdengar suara Alvaro dari arah tempat duduk Alan.

Lelaki itu tengah berhadapan dengan seorang wanita muda yang tak lain adalah sekretarisnya Alan.

"Ada seseorang yang mau bertemu dengan Tuan Alan."

"Siapa?" tanya Alvaro seraya mengedarkan pandangannya ke arah belakang sang sekretaris.

"Lelaki bernama Gani."

"Hah! Siapa kamu bilang?" Untuk kali ini Alvaro seperti tuli. Ia sampai harus bertanya kembali mengenai sosok yang ingin menemui Alan.

"Gani. Aku yakin kamu mendengarku, Alvaro," sahut perempuan itu sedikit kesal.

"Ya, aku dengar. Tapi, aku hanya memastikan nama orang itu." Alvaro menyahut pelan. Tiba-tiba ia merasa tak enak. "Lantas, di mana orang itu?"

"Masih di bawah. Aku menahannya untuk tidak ke sini. Tapi, lelaki itu memaksa supaya bisa bertemu dan bicara
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Jadi Budak Kakak Ipar   PENAWARAN

    Tak lama setelah panggilan itu terputus, Felisha meletakkan ponselnya di samping bantal. Ia menatap langit-langit kamar kos yang kini terasa lebih lapang—dan lebih sunyi. Ada bagian dari dirinya yang sadar, menerima kehadiran Erik bukan sebagai pengganti apa pun, melainkan sebagai kemungkinan yang belum ia beri nama.Ia bangkit perlahan, merapikan rambut, lalu mengganti kaus rumah dengan sweater tipis. Bukan untuk menyambut secara istimewa, hanya bentuk kecil dari menghargai diri sendiri.Ketukan terdengar dua puluh menit kemudian.Felisha membuka pintu dan mendapati Erik berdiri dengan dua kantong di tangannya—satu berisi buah-buahan segar, satu lagi berisi makanan hangat. Senyumnya sederhana, tidak berlebihan, seolah ia paham betul jarak yang masih Felisha jaga.“Kamu kelihatan capek,” katanya lembut.Felisha mengangguk. “Hari ini memang panjang.”Erik melangkah masuk setelah Felisha mempersilakan. Ia meletakkan bawaannya di meja kecil, lalu mulai mengeluarkan satu per satu: apel, p

  • Jadi Budak Kakak Ipar   SEDIKIT RASA GELISAH

    Gina mengangguk pelan, lalu kembali menggeleng ragu. Tangannya bergetar saat menggenggam ponsel, seolah benda itu terlalu berat untuk ditahan.“Aku harus pulang bukan?” katanya lirih. “Tapi aku … aku belum siap, Fel.”Felisha mendekat tanpa banyak kata. Ia menarik Gina ke dalam pelukan yang hangat, membiarkan isak itu tumpah tanpa ditahan. Tidak ada nasihat. Tidak ada kalimat penghiburan yang dipaksakan. Hanya kehadiran.“Kamu tidak harus siap,” ucap Felisha akhirnya, suaranya pelan tapi mantap. “Kamu hanya harus pulang.”Gina terisak semakin keras, lalu mengangguk di bahu Felisha.“Aku takut,” bisiknya. “Takut pulang dan sadar kalau beliau benar-benar nggak ada.”Felisha menutup mata sejenak, merasakan sesak yang ikut menyelinap ke dadanya. Kehilangan —ia terlalu mengenalnya. Bentuknya berbeda, tapi lukanya selalu sama.“Aku temani kamu ke terminal,” kata Felisha tanpa ragu. “Kita berangkat hari ini.”Gina mendongak. “Tapi lamaran kerja kamu—”“Aku bisa menunggu,” potong Felisha lemb

  • Jadi Budak Kakak Ipar   SYARAT

    Di luar, kota berdenyut dalam ritmenya sendiri. Dan di antara banyak langkah yang masih harus diambil, Felisha akhirnya tahu satu hal, ia tidak lagi berjalan untuk menyenangkan siapa pun.Ia berjalan untuk dirinya —dan untuk kehidupan kecil yang sedang tumbuh bersamanya.Sedetik kemudian saat kantuk mulai menyerang, bayangan Alan mendadak hadir dengan wajahnya yang sendu. Felisha —anehnya, tak terpengaruh sedikit pun.Namun, ketika sosok lelaki itu tiba-tiba menangis, ada rasa tak nyaman yang menggelayut hatinya. 'Bagaimana bisa ia serapuh itu?'Bayangan itu datang begitu saja, tanpa undangan. Wajah Alan yang sendu, matanya yang selama ini selalu tampak dingin dan penuh kendali, kini basah oleh sesuatu yang tidak pernah Felisha bayangkan sebelumnya. Tangis. Bukan isak yang keras. Bukan pula tangisan yang memohon. Hanya bahu yang turun perlahan, kepala yang tertunduk, dan sepasang mata yang kehilangan pijakan. Felisha membuka matanya. Langit-langit kamar kos kembali menyambutnya

  • Jadi Budak Kakak Ipar   RENCANA DALAM DIAM

    Mobil melaju meninggalkan kawasan itu perlahan, seperti memberi waktu bagi Felisha untuk benar-benar melepaskan dan melupakan.Matahari mulai menuju barat ketika Felisha menatap keluar kaca jendela. Tampak bayangan membingkai wajahnya dengan cahaya yang mulai menurun. Kota berubah rupa menjelang sore —mulai bising oleh keadaan lalu lintas yang sibuk. Jujur, itu membuat ketenangan jiwa Felisha terganggu. Tapi, ia berusaha mengabaikan. Felisha menutup mata sejenak. Di benaknya, wajah Rafael kembali muncul. Senyum polos bocah itu, caranya menatap dan tersenyum membuat rasa rindu itu hadir. Ada rasa bersalah yang menggelayut, tapi kali ini bukan rasa bersalah yang melumpuhkan —melainkan rasa tanggung jawab sebagai seorang tante sebab sosok sang ibu yang seolah tak peduli.“Aku tidak berniat meninggalkanmu, tapi papa dan mamamu adalah orang yang berkuasa atasmu,” gumamnya lirih.“Hanya saja, aku juga tidak tega kamu menderita dengan tinggal dan besar di keluarga itu.”Felisha membuka pons

  • Jadi Budak Kakak Ipar   MENYUDAHI YANG MENGGANJAL

    Langkah Felisha tidak melambat ketika ia melewati pagar besi itu. Begitu pintu tertutup kembali di belakangnya, suara dunia luar seolah kembali —deru kendaraan, suara burung yang hinggap di kabel listrik, dan angin sore yang menyapu rambutnya pelan.Ia berhenti sejenak di tepi trotoar. Bukan karena ragu. Bukan pula karena menyesal. Melainkan karena tubuhnya akhirnya menyadari satu hal penting, ia telah selesai berhadapan dengan masa lalu yang selama ini mencengkeramnya terlalu erat.Menjadi bagian dari keluarga Sumitra. Menjadi anak dari pasangan suami istri yang bahkan tidak pernah menganggapnya anak. Mereka hanya ingin merampas miliknya. Bahkan, ketika putri mereka ingin kembali ke pangkuan sang suami —padahal dulu ditinggalkan, ia juga yang harus berkorban. Diculik dan hampir dilecehkan oleh laki-laki yang telah membuatnya tega meninggalkan putra mereka satu-satunya."Rafael," sebut Felisha memanggil nama keponanakannya. "Bagaimana kabar anak itu sekarang? Ia tinggal di mana? Apak

  • Jadi Budak Kakak Ipar   BERAKHIR LEGA

    Mobil taksi online berhenti tepat di depan pagar besi tinggi itu. Felisha menatapnya beberapa detik lebih lama dari yang ia rencanakan. Cat hitamnya masih mengilap, kamera kecil di sudut atas bergerak pelan mengikuti setiap kendaraan yang melintas. Tidak ada yang berubah. Dan justru karena itu, dadanya terasa semakin sesak.Ia membayar ongkos, lalu turun.Langkahnya mantap ketika menekan bel. Tidak ada gemetar di tangan. Tidak ada ragu yang tersisa. Yang ada hanya satu kesadaran utuh —jika ia menunda hari ini, luka ini akan terus hidup.Masalah yang bertubi-tubi datang belakangan ini, telah membuat Felisha menjadi sosok yang kuat. Pintu terbuka setelah beberapa saat. Seorang asisten rumah tangga menatapnya kaget.“Non Felisha?”Felisha mengangguk. “Saya ingin bertemu ibu.”Perempuan itu ragu sejenak, lalu mempersilakan masuk. Felisha melangkah melewati ruang tamu luas yang terasa asing sekaligus terlalu dikenalnya. Setiap sudut rumah ini menyimpan kenangan —sebagian hangat, sebagian

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status