LOGIN"Gantikan posisi Dina mulai saat ini. Termasuk melayaniku di atas ranjang," bisik Alan pada Felisha, adik iparnya. Gadis itu gemetar ketakutan demi mendengar permintaan sang pengusaha kaya tersebut. Bagaimana bisa ia berpikir untuk melayani seorang laki-laki yang selama ini sudah ia anggap sebagai kakaknya sendiri. "Kalau kamu tidak mau menuruti permintaanku, jangan harap kamu dan seluruh keluargamu bisa hidup tenang dan bahagia. Sebab bisa aku pastikan, tidak sampai lusa kalian tak bisa lagi menikmati hangatnya mentari!"
View MorePagi itu cerah, langit membentang bersih seolah memberi izin pada sesuatu yang baru untuk dimulai.Felisha berdiri di depan rumah yang beberapa lama kemarin hanya ia kunjungi dalam mimpi dan kenangan. Rumah orang tuanya. Rumah yang pernah menjadi awal, lalu berubah menjadi luka yang terlalu lama ia biarkan tertutup debu.Pintu depan kini terbuka penuh. Udara segar mengalir masuk, menggantikan bau kebusukan yang selama ini mengendap. Tirai putih bergoyang pelan, menyentuh cahaya matahari yang jatuh ke lantai.Felisha melangkah masuk —bukan sebagai perempuan yang terusir, bukan sebagai istri yang dikembalikan, tapi sebagai dirinya sendiri.Ia menyusuri ruang demi ruang. Menyentuh meja makan tempat yang mungkin ibunya dulu siapkan untuk sarapan. Dinding yang pernah dipenuhi foto keluarga. Sudut ruang tamu yang mungkin juga tempat ayahnya biasa duduk sambil membaca koran.Sayang, ia sama sekali tidak memiliki memori itu. Kenangan yang ada di dalam benaknya hanya hidup bersama keluarga Sum
Hujan turun tipis pagi itu, membasahi jendela rumah sakit dengan garis-garis halus yang bergerak pelan. Felisha berdiri di balik kaca, menatap halaman yang tampak kelabu. Bau antiseptik masih tercium, namun kini tidak lagi menusuk —mungkin sudah terbiasa.Alan dipindahkan ke ruang perawatan biasa semalam. Tubuhnya masih lemah, wajahnya pucat, tapi nyawanya tidak lagi menggantung di ujung benang. Jika dokter menyebutnya keajaiban kecil. Felisha justru menyebutnya kesempatan kedua —bukan hanya untuk Alan, tapi juga untuk dirinya sendiri.Ia menoleh ke ranjang. Alan terjaga, menatap langit-langit dengan mata yang lebih jernih dari hari-hari sebelumnya. Ada sesuatu yang berubah dalam tatapan itu —tidak lagi keras, tidak lagi mengendalikan.“Kamu tidak harus di sini,” ucap Alan pelan, memecah hening.Felisha mendekat, menarik kursi. “Aku tahu.”“Lalu kenapa kamu tetap datang?” tanyanya hati-hati, seolah takut jawaban itu akan mematahkan sesuatu yang rapuh.Felisha menghela napas. “Karena m
Ruang ICU selalu memiliki caranya sendiri untuk menekan waktu. Jam dinding berdetak pelan, tapi setiap detik terasa seperti beban yang dijatuhkan satu per satu ke dada Felisha.Alan terbaring tak bergerak. Monitor di sampingnya menampilkan garis yang naik turun —tanda kehidupan yang kini terasa rapuh, bergantung pada mesin dan keberuntungan.Felisha duduk di kursi yang sama sejak semalam. Ia tidak tidur. Tidak makan. Tangannya menggenggam tas kecil berisi dokumen —sertifikat rumah, hasil kerja keras Alan yang kini justru membuatnya hampir kehilangan nyawa.Ironi itu menyesakkan. Sungguh menyesakkan. Dan andai saja bisa memutar waktu, Felisha lebih memilih agar Alan tidak melakukan hal tersebut. Toh, ia juga sudah ikhlas, tak mengharapkan apa pun lagi. “Kenapa kamu harus sejauh ini…” bisiknya lirih.Ia teringat wajah Herman Sumitra. Senyum palsu. Nada merendahkan. Ancaman yang dulu dibungkus dengan kalimat keluarga.Kini semuanya terasa jelas.Mereka tidak pernah menganggap Felisha se
Pagi datang dengan warna abu-abu yang tidak ramah. Hujan semalam meninggalkan sisa genangan di jalan lingkar utara, memantulkan cahaya matahari yang enggan muncul sepenuhnya. Garis polisi masih terpasang, membentang seperti luka yang belum sempat ditutup.Mobil derek telah pergi, tapi jejaknya tertinggal.Darah.Tidak banyak. Tapi cukup untuk menandai bahwa sesuatu yang besar telah terjadi di tempat itu.Seorang petugas kepolisian berjongkok di dekat aspal, memotret bekas rem yang putus di tengah jalan. Garis hitam itu tidak memanjang sebagaimana mestinya. Terlalu pendek. Terlalu tiba-tiba.“Rem tidak sempat bekerja,” gumamnya.Di sisi lain, seorang teknisi forensik membuka kap mobil Alan yang telah dipindahkan ke area pemeriksaan. Tangannya bersarung, gerakannya teliti.“Kabel rem dipotong,” katanya akhirnya.“Bukan aus. Bukan kegagalan mekanis alami.”Kalimat itu menggantung di udara, berat dan tak terbantahkan.Di rumah sakit, Alan masih belum sepenuhnya sadar. Tubuhnya terhubung de












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore