Share

PENJAGAAN ALAN

Author: Ummu Amay
last update Last Updated: 2024-03-06 13:00:01

Pagi ketika Felisha bangun, masih ada Alan di sampingnya. Itu terasa ketika ada tangan yang memeluk perutnya dari belakang. Perlahan Felisha bergerak dan membalik. Lelaki itu terlihat masih memejamkan mata. Tampak tenang dan damai.

'Andai Kaka tidak melakukan kekerasan kepadaku, mungkin saja aku akan jatuh hati dengan melihat ketampanan wajah Kaka sekarang,' batin Felisha yang tanpa sadar mengulurkan tangannya untuk menyentuh wajah lelaki di depannya itu.

Entah keberanian dari mana akhirnya Felisha benar-benar menyentuh pipi Alan. Lalu, perlahan ia menyentuh alis lelaki itu. Bak ulat berbaris, hitam dan tebal.

"Sudah puas? Apa masih ada bagian wajahku yang mau kamu sentuh?"

Tiba-tiba Alan bersuara. Sontak hal itu membuat Felisha menarik tangannya. Namun, wanita itu kalah cepat. Alan menahannya dan kini malah kembali membawanya ke wajah. Alan mengecup tangan halus Felisha. Membuat sang istri mengernyit, serasa ada sensasi yang menggelitik, geli.

"Ka-Kak, lepasin ...." Felisha berka
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Jadi Budak Kakak Ipar   MERANCANG SATU RENCANA

    Felisha menyandarkan punggungnya ke pintu yang baru saja tertutup. Sunyi menyambutnya—bukan sunyi yang menakutkan, tapi sunyi yang terasa kosong.Ia menoleh ke meja kecil dekat jendela. Biasanya, di sana akan ada kotak makan dengan catatan singkat, kadang hanya satu kalimat formal, kadang tanpa nama. Hal kecil yang selama ini ia abaikan, namun ternyata telah menjadi penanda, bahwa lelaki itu masih begitu perhatian padanya. Kini, meja itu bersih.Felisha menghembuskan napas pelan. “Ternyata begini rasanya,” gumamnya lirih.Ia menanggalkan sepatu, duduk di tepi ranjang, lalu memeluk lututnya sendiri. Perasaan yang datang bukan sedih. Juga bukan kehilangan yang menyakitkan. Lebih seperti kesadaran bahwa sebuah fase benar-benar ditutup —tanpa kata, apalagi tanpa perpisahan.Alan telah menepati ucapannya. Ia mencoba untuk melepaskan. Tidak seutuhnya, tapi memberikan jeda dan jarak. Tak ingin menganggu, yang hanya akan membuat sang istri semakin membenci. Malam itu, Felisha memasak sendir

  • Jadi Budak Kakak Ipar   SATU YANG HILANG

    Pagi datang tanpa ada drama. Cahaya matahari menembus sela tirai tipis kamar kos, jatuh lembut di wajah Felisha. Ia terbangun dengan perasaan asing —ringan, tapi penuh. Seolah ada sesuatu yang akhirnya kembali ke tempatnya, meski belum sepenuhnya ia sentuh.Tangannya refleks menyentuh tas di sisi ranjang. Amplop cokelat itu masih ada. Nyata.Felisha duduk perlahan, membukanya sekali lagi. Ia membaca nama di sertifikat itu, memastikan huruf demi huruf tidak berubah semalaman.FELISHA PUTRIBukan sekadar kepemilikan. Tapi pengakuan. Tentang asal-usulnya. Tentang hak yang selama ini dirampas tanpa suara.Ia menghembuskan napas panjang.“Ayah… Ibu…” gumamnya pelan. “Aku sudah menemukannya kembali.”Tidak ada tangis kali ini. Hanya dada yang menghangat, seolah seseorang tengah menepuk bahunya dari kejauhan.Felisha bersiap berangkat kerja seperti biasa. Ia memilih pakaian sederhana, menyisir rambut rapi, lalu berhenti sejenak di depan cermin kecil. Pantulan di sana bukan perempuan yang sam

  • Jadi Budak Kakak Ipar   HAK YANG KEMBALI

    Felisha menutup pintu kamar kos perlahan, lalu meletakkan tas kerjanya di kursi. Tubuhnya lelah, kepalanya terasa penuh, tapi rasa aman kecil yang selama ini ia bangun membuatnya masih mampu berdiri tegak.Kedua matanya menatap Amplop cokelat yang tergeletak rapi di atas kasur.Namanya tertulis jelas di bagian depan. Tulisan tangan yang tegas, familiar, tanpa hiasan apa pun.Felisha menelan ludah. Ia kenal tulisan itu. “Apa lagi ini?” gumamnya pelan.Ia duduk di tepi ranjang, membuka amplop itu dengan gerakan hati-hati —seolah takut isinya bukan sekadar kertas. Begitu amplop terbuka, beberapa lembar dokumen terlipat rapi meluncur ke pangkuannya.Matanya menyapu baris pertama. SERTIFIKAT HAK MILIKNapas Felisha tertahan. Tangannya gemetar saat ia membuka lipatan berikutnya, membaca alamat yang tertera di sana. Alamat yang terlalu ia kenal. Rumah dengan halaman luas dan pepohonan di sudut pagar. Rumah tempat ia tumbuh, tempat kedua orang tuanya menghabiskan sisa hidup mereka sebelum a

  • Jadi Budak Kakak Ipar   SATU KIRIMAN

    Mobil Alan melaju lebih cepat dari biasanya, memotong arus lalu lintas sore dengan suasana dingin. Tangannya menggenggam setir terlalu erat —bukan karena takut kehilangan kendali, justru karena ia menahannya.Ia tahu satu hal sejak awal, Felisha berhak bekerja di mana pun ia mau. Ia tahu itu secara logika. Tapi perasaan —yang selama ini ia jinakkan dengan disiplin, kini memberontak.Perusahaan Wijaya. Nama itu bukan sekadar nama. Itu adalah simbol dari kerja sama yang pernah gagal, ego yang pernah beradu, dan sekarang kemungkinan lain yang terlalu dekat dengan Felisha.Alan memarkir mobilnya di seberang gedung kantor itu. Ia tidak turun. Hanya menunggu, menatap pintu keluar dengan rahang mengeras.Jam di dashboard menunjukkan pukul 16.47.“Jam lima,” gumamnya, mengulang laporan Luna.Ia menghela napas panjang, berusaha merapikan niat. Ia tidak datang untuk menjemput. Tidak datang untuk membawa pulang. Ia bahkan tidak tahu pasti mengapa ia datang, selain satu dorongan yang tak bisa ia

  • Jadi Budak Kakak Ipar   PENAWARAN

    Tak lama setelah panggilan itu terputus, Felisha meletakkan ponselnya di samping bantal. Ia menatap langit-langit kamar kos yang kini terasa lebih lapang—dan lebih sunyi. Ada bagian dari dirinya yang sadar, menerima kehadiran Erik bukan sebagai pengganti apa pun, melainkan sebagai kemungkinan yang belum ia beri nama.Ia bangkit perlahan, merapikan rambut, lalu mengganti kaus rumah dengan sweater tipis. Bukan untuk menyambut secara istimewa, hanya bentuk kecil dari menghargai diri sendiri.Ketukan terdengar dua puluh menit kemudian.Felisha membuka pintu dan mendapati Erik berdiri dengan dua kantong di tangannya—satu berisi buah-buahan segar, satu lagi berisi makanan hangat. Senyumnya sederhana, tidak berlebihan, seolah ia paham betul jarak yang masih Felisha jaga.“Kamu kelihatan capek,” katanya lembut.Felisha mengangguk. “Hari ini memang panjang.”Erik melangkah masuk setelah Felisha mempersilakan. Ia meletakkan bawaannya di meja kecil, lalu mulai mengeluarkan satu per satu: apel, p

  • Jadi Budak Kakak Ipar   SEDIKIT RASA GELISAH

    Gina mengangguk pelan, lalu kembali menggeleng ragu. Tangannya bergetar saat menggenggam ponsel, seolah benda itu terlalu berat untuk ditahan.“Aku harus pulang bukan?” katanya lirih. “Tapi aku … aku belum siap, Fel.”Felisha mendekat tanpa banyak kata. Ia menarik Gina ke dalam pelukan yang hangat, membiarkan isak itu tumpah tanpa ditahan. Tidak ada nasihat. Tidak ada kalimat penghiburan yang dipaksakan. Hanya kehadiran.“Kamu tidak harus siap,” ucap Felisha akhirnya, suaranya pelan tapi mantap. “Kamu hanya harus pulang.”Gina terisak semakin keras, lalu mengangguk di bahu Felisha.“Aku takut,” bisiknya. “Takut pulang dan sadar kalau beliau benar-benar nggak ada.”Felisha menutup mata sejenak, merasakan sesak yang ikut menyelinap ke dadanya. Kehilangan —ia terlalu mengenalnya. Bentuknya berbeda, tapi lukanya selalu sama.“Aku temani kamu ke terminal,” kata Felisha tanpa ragu. “Kita berangkat hari ini.”Gina mendongak. “Tapi lamaran kerja kamu—”“Aku bisa menunggu,” potong Felisha lemb

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status