Gadis Kesayangan Kapten Posesif

Gadis Kesayangan Kapten Posesif

last updateLast Updated : 2026-03-04
By:  Rabbit Cuttie Updated just now
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
Not enough ratings
5Chapters
5views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Bagi Rea Niskala, langit adalah satu-satunya tempat ia merasa bebas. Namun, dunianya runtuh saat ia menemukan pemandangan paling menjijikkan di rumahnya sendiri. Bianca, ibu tirinya yang manipulatif, sedang memuja dan bergelayut mesra pada Kapten Arlo Ganendra pilot legendaris yang bekerja di maskapai milik ayahnya. Rea melihat segalanya, Bianca yang begitu liar menggoda Arlo dan bagaimana Arlo yang diam saja dan menerima semua perlakuan Bianca. Bagi Rea, Arlo bukan lagi pahlawan di kokpit, melainkan pengkhianat yang menodai kesetiaan sang Ayah. Benih-benih kebencian mulai tumbuh di hati Rea. Rea bertekad ingin menghancurkan Arlo dan Bianca dengan membongkar permainan jahat yang mereka berdua lakukan. Tanpa Rea tahu jika apa yang ia lihat tidaklah seperti yang ia pikirkan. Namun, takdir berkehendak lain saat ayah Rea, Hendra Niskala, mengalami sebuah kecelakaan besar. Di ambang kematian, Hendra hanya memercayai satu orang untuk menjaga putri tunggalnya yaitu Arlo Ganendra. Melalui wasiat rahasia di balik pintu ICU, sebuah perintah mutlak dijatuhkan. “Nikahi putriku hari ini juga. Lindungi dia dari semua orang di rumah itu. Aku menyerahkan seluruh hidupnya ke dalam tanganmu sekarang.” Wasiat itu menjadi bumerang bagi Rea. Rea terjebak dalam sangkar yang dibuat oleh pria yang paling ia benci. Terikat dalam pernikahan yang dipaksakan, Rea harus terbang di bawah otoritas Arlo baik di angkasa maupun di dalam kehidupan pribadinya. Di antara dendam yang membara dan rahasia yang belum terungkap, Rea harus memilih, terus melawan arus otoritas Arlo, atau menyadari bahwa pria yang ia anggap sebagai penghancur hidupnya adalah satu-satunya pelindung yang rela dicaci demi keselamatannya.

View More

Chapter 1

BAB 1 Pengkhianatan Sang Ibu Tiri

“Buka seragammu, Arlo. Udah, enggak usah ditahan lagi. Aku tahu kamu juga mau kan?” Suara Bianca terdengar sangat jelas dan menggema di telinga Rea.

Langkah kaki Rea seketika tertahan saat telinganya mendengar suara sang ibu tiri. Dari balik pilar beton besar, manik Rea sangat jelas melihat Bianca tengah bersama dengan seorang pria berseragam pilot maskapai penerbangan ayahnya. Rea membekap mulutnya dan terus menatap ke arah sofa panjang berbahan kulit mahal tersebut. Ibu tirinya sedang menindih tubuh pria itu di atas sofa ruang tengah.

Kejadian mengejutkan ini bermula ketika Rea tidak sengaja meninggalkan koper penerbangannya di rumah Sang Papa karena kuncinya ketinggalan.

Saat sampai di rumah, Rea terkejut, ada mobil orang lain. Padahal, Papanya masih berada di luar kota untuk berobat. Pun saat buka pintu, Rea kaget karena pintu tidak terkunci.

Langkah kaki Rea mendadak terhenti secara otomatis saat dirinya melewati batas ruang keluarga. Telinganya jelas menangkap suara milik Bianca yang terdengar dari arah sana.

“Buka seragammu, Arlo. Udah, enggak usah ditahan lagi. Aku tahu kamu juga mau kan?” Suara Bianca terdengar sangat jelas dan menggema di telinga Rea. “Mumpung enggak ada Hendra, kita bebas melakukan apapun sekarang. Kamu enggak mau coba hal yang lebih menantang?”

Tubuh Rea mendadak kaku. Kakinya terpaku di tempat ketika matanya menangkap sebuah pemandangan sangat mengejutkan di atas sofa panjang ruangan itu. Bianca - ibu tirinya berusaha melepaskan kancing kemeja pria di depannya. Oksigen di paru-paru Rea seolah menguap. Dadanya mendadak sesak melihat bagaimana liarnya Bianca mencoba menggoda pria berseragam pilot tersebut.

Bianca menyapukan jemarinya di kerah kemeja Arlo, matanya sarat dengan pemujaan yang haus.Tubuhnya kini sudah berada di pangkuan pria itu. “Hendra itu sudah tua, dia nggak bakal sanggup muasin aku kayak kamu. Nggak usah sok kaku deh, aku tahu kamu juga mau.”

Pria bernama Arlo itu tidak menjauh, namun tatapannya membuat Bianca merasa seperti kuman yang sedang diteliti. “Sampai kapan mau begini terus? Sadar diri, Bianca. Pak Hendra itu atasanku. Aku nggak bakal sudi nyentuh milik orang lain, apalagi perempuan yang udah nggak punya harga diri kayak kamu ,” jawab pria berusia 33 tahun itu.

Bianca menyeringai dan membuka dua kancing teratas seragam Arlo. “Nggak usah sok jual mahal, Arlo. Mata kamu enggak bisa bohong. Kamu juga mau kan sama aku?”

Arlo menahan kedua tangan Bianca dengan satu cengkeraman kuat. Pria tinggi itu menatap Bianca dengan sorot mata sangat tajam dan mendominasi. Wajah tampannya benar-benar datar tanpa menunjukkan ekspresi ketakutan sedikit pun. Arlo membalikkan posisi mereka dalam satu gerakan sangat cepat. Tubuh Bianca kini terhimpit di bawah kukungan tubuh dan lengan kekar pria tersebut.

“Kau pikir kau bisa memberikan perintah kepadaku di sini?” Suara Arlo terdengar sangat rendah dan dingin. Intonasinya berhasil mengintimidasi seluruh penjuru ruangan. Pria itu mencengkeram rahang Bianca menggunakan tangan kanannya dengan tenaga lumayan keras.

“Memangnya aku terlihat tertarik sama perempuan murahan kayak kamu? Kalau suamimu tahu kelakuan istrinya begini, aku yakin kau bakal dibuang detik ini juga.”

Bianca meringis menahan sakit akibat tekanan tangan pria tersebut. Tatapan mata wanita itu justru memancarkan gairah yang semakin memuncak liar.

“Galak banget sih.” Bianca menyentak cengkraman tangan Arlo. “Tapi itulah yang membuatku sangat menyukaimu, Arlo. Asal kamu tahu, aku sering bayangin gimana rasanya kalau aku benar-benar takluk di bawah kendalimu. Kamu nggak mau wujudkan mimpiku malam ini?

Arlo sedikit mendorong tubuh Bianca. Seringainya yang muncul membuat tubuh Bianca meremang. “Kalau gitu, buktikan! Aku mau lihat sejauh mana kamu berani menggodaku malam ini.”

Bianca langsung mengangguk patuh menuruti perintah pria dominan tersebut. Arlo membiarkan tangan Bianca merayap ke kancing seragamnya. Ia ingin melihat sampai di titik mana wanita ini akan benar-benar menghancurkan dirinya sendiri.

Lampu hijau yang didapatnya dari Arlo membuat Bianca bersemangat. Bianca seolah kehilangan akalnya dan perlahan Bianca dengan berani menurunkan tali gaun tidurnya.

“Aku yakin kamu bakal ketagihan, Arlo. Aku bakal bikin kamu puas malam ini, lihat saja.”

Tepat saat Bianca hendak menjatuhkan gaunnya ke lantai, pandangan Arlo bergeser. Mata tajam Arlo tidak sengaja menangkap pergerakan kecil di ujung lorong remang. Tatapannya langsung mengunci posisi Rea yang sedang bersembunyi di balik pilar.

Mata Arlo dan Rea saling bertatapan secara langsung dari kejauhan. Tidak ada kepanikan di wajah Arlo. Ia bahkan tidak segera mendorong Bianca menjauh, ia hanya berdiri diam, menatap Rea dengan ekspresi datar yang sulit dibaca.

Rea merasakan seluruh tubuhnya merinding dan bergetar hebat tanpa kendali. Tatapan tajam pria misterius itu membuat lehernya terasa sangat kaku.

Karena tidak kuat menahan aura intimidasi dari tatapan Arlo yang sangat menguasai keadaan, Rea pelan-pelan memundurkan langkah kakinya untuk menjauhi area ruang keluarga.

Tubuh Rea mendadak menabrak meja kayu kecil di dekat tembok. Sebuah vas keramik berukuran besar tersenggol oleh siku tangannya secara keras. Benda pajangan berharga puluhan juta itu meluncur jatuh ke arah lantai. Benda itu langsung pecah berkeping menjadi serpihan berukuran kecil. Suara pecahan itu terdengar sangat nyaring memecah kesunyian malam di rumah besar tersebut.

PRANG

Bianca terlonjak kaget mendengar suara pecahan dari arah lorong depan. Wanita itu langsung mendorong tubuh Arlo dan merapikan gaun tidurnya dengan wajah sangat pucat. Dia menoleh ke arah sumber suara dengan perasaan panik yang luar biasa.

"Siapa di situ? Keluar sekarang juga!" teriak Bianca dengan suara melengking tinggi.

Rea tidak menjawab panggilan ibu tirinya sama sekali. Gadis itu langsung membalikkan badannya dan berlari sekencang mungkin menuju pintu depan. Dia benar-benar merasa ketakutan setengah mati melihat tatapan mematikan Arlo barusan. Air mata mengalir deras membasahi kedua pipi Rea.

Disisi lain, jantung Bianca berpacu cepat, namun sangat kontras dengan ketenangan Arlo. Pria itu justru kembali merapikan kancing seragamnya dengan sangat tenang, seolah kehadiran Rea hanyalah gangguan kecil.

Arlo kemudian bangkit dan merapikan gaun tidur milik Bianca yang berantakan. “Hebat sekali, Bianca. Sangat menarik melihat putrimu terlibat permainan kotor mu ini. Sekarang kita lihat, gimana reaksi gadis kecil itu setelah melihat kelakuan bejat ibu tirinya?”

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
5 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status