LOGINBagi Rea Niskala, langit adalah satu-satunya tempat ia merasa bebas. Namun, dunianya runtuh saat ia menemukan pemandangan paling menjijikkan di rumahnya sendiri. Bianca, ibu tirinya yang manipulatif, sedang memuja dan bergelayut mesra pada Kapten Arlo Ganendra pilot legendaris yang bekerja di maskapai milik ayahnya. Rea melihat segalanya, Bianca yang begitu liar menggoda Arlo dan bagaimana Arlo yang diam saja dan menerima semua perlakuan Bianca. Bagi Rea, Arlo bukan lagi pahlawan di kokpit, melainkan pengkhianat yang menodai kesetiaan sang Ayah. Benih-benih kebencian mulai tumbuh di hati Rea. Rea bertekad ingin menghancurkan Arlo dan Bianca dengan membongkar permainan jahat yang mereka berdua lakukan. Tanpa Rea tahu jika apa yang ia lihat tidaklah seperti yang ia pikirkan. Namun, takdir berkehendak lain saat ayah Rea, Hendra Niskala, mengalami sebuah kecelakaan besar. Di ambang kematian, Hendra hanya memercayai satu orang untuk menjaga putri tunggalnya yaitu Arlo Ganendra. Melalui wasiat rahasia di balik pintu ICU, sebuah perintah mutlak dijatuhkan. “Nikahi putriku hari ini juga. Lindungi dia dari semua orang di rumah itu. Aku menyerahkan seluruh hidupnya ke dalam tanganmu sekarang.” Wasiat itu menjadi bumerang bagi Rea. Rea terjebak dalam sangkar yang dibuat oleh pria yang paling ia benci. Terikat dalam pernikahan yang dipaksakan, Rea harus terbang di bawah otoritas Arlo baik di angkasa maupun di dalam kehidupan pribadinya. Di antara dendam yang membara dan rahasia yang belum terungkap, Rea harus memilih, terus melawan arus otoritas Arlo, atau menyadari bahwa pria yang ia anggap sebagai penghancur hidupnya adalah satu-satunya pelindung yang rela dicaci demi keselamatannya.
View More“Buka seragammu, Arlo. Udah, enggak usah ditahan lagi. Aku tahu kamu juga mau kan?” Suara Bianca terdengar sangat jelas dan menggema di telinga Rea.
Langkah kaki Rea seketika tertahan saat telinganya mendengar suara sang ibu tiri. Dari balik pilar beton besar, manik Rea sangat jelas melihat Bianca tengah bersama dengan seorang pria berseragam pilot maskapai penerbangan ayahnya. Rea membekap mulutnya dan terus menatap ke arah sofa panjang berbahan kulit mahal tersebut. Ibu tirinya sedang menindih tubuh pria itu di atas sofa ruang tengah. "T-tante Bianca..." -- Kejadian mengejutkan ini bermula ketika Rea tidak sengaja meninggalkan koper penerbangannya di rumah Sang Papa. Gadis berusia 20 tahun yang baru akan melakukan penerbangan resminya untuk pertama kali harus menelan pil pahit saat tahu jika ibu tirinya tengah menggoda pria lain di rumah keluarga Niskala. Saat sampai di rumah, Rea terkejut, ada mobil orang lain. Padahal, Papanya masih berada di luar kota untuk berobat. Pun saat buka pintu, Rea kaget karena pintu tidak terkunci. Langkah kaki Rea mendadak terhenti secara otomatis saat dirinya melewati batas ruang keluarga. Telinganya jelas menangkap suara milik Bianca yang terdengar dari arah sana. “Buka seragammu, Arlo. Udah, enggak usah ditahan lagi. Aku tahu kamu juga mau kan?” Suara Bianca terdengar sangat jelas dan menggema di telinga Rea. “Mumpung enggak ada Hendra, kita bebas melakukan apapun sekarang. Kamu enggak mau coba hal yang lebih menantang?” Tubuh Rea mendadak kaku. Kakinya terpaku di tempat ketika matanya menangkap sebuah pemandangan sangat mengejutkan di atas sofa panjang ruangan itu. Bianca - ibu tirinya berusaha melepaskan kancing kemeja pria di depannya. Oksigen di paru-paru Rea seolah menguap. Dadanya mendadak sesak melihat bagaimana liarnya Bianca mencoba menggoda pria berseragam pilot tersebut. Bianca menyapukan jemarinya di kerah kemeja Arlo, matanya sarat dengan pemujaan yang haus.Tubuhnya kini sudah berada di pangkuan pria itu. “Hendra itu sudah tua, dia nggak bakal sanggup muasin aku kayak kamu. Nggak usah sok kaku deh, aku tahu kamu juga mau.” Pria bernama Arlo itu tidak menjauh, namun tatapannya membuat Bianca merasa seperti kuman yang sedang diteliti. “Sampai kapan mau begini terus? Sadar diri, Bianca. Pak Hendra itu atasanku. Aku nggak bakal sudi nyentuh milik orang lain, apalagi perempuan yang udah nggak punya harga diri kayak kamu ,” jawab pria berusia 33 tahun itu. Bianca menyeringai dan membuka dua kancing teratas seragam Arlo. “Nggak usah sok jual mahal, Arlo. Mata kamu enggak bisa bohong. Kamu juga mau kan sama aku?” Arlo menahan kedua tangan Bianca dengan satu cengkeraman kuat. Pria tinggi itu menatap Bianca dengan sorot mata sangat tajam dan mendominasi. Wajah tampannya benar-benar datar tanpa menunjukkan ekspresi ketakutan sedikit pun. Arlo membalikkan posisi mereka dalam satu gerakan sangat cepat. Tubuh Bianca kini terhimpit di bawah kukungan tubuh dan lengan kekar pria tersebut. “Kau pikir kau bisa memberikan perintah kepadaku di sini?” Suara Arlo terdengar sangat rendah dan dingin. Intonasinya berhasil mengintimidasi seluruh penjuru ruangan. Pria itu mencengkeram rahang Bianca menggunakan tangan kanannya dengan tenaga lumayan keras. “Memangnya aku terlihat tertarik sama perempuan murahan kayak kamu? Kalau suamimu tahu kelakuan istrinya begini, aku yakin kau bakal dibuang detik ini juga.” Bianca meringis menahan sakit akibat tekanan tangan pria tersebut. Tatapan mata wanita itu justru memancarkan gairah yang semakin memuncak liar. “Galak banget sih.” Bianca menyentak cengkraman tangan Arlo. “Tapi itulah yang membuatku sangat menyukaimu, Arlo. Asal kamu tahu, aku sering bayangin gimana rasanya kalau aku benar-benar takluk di bawah kendalimu. Kamu nggak mau wujudkan mimpiku malam ini? Arlo sedikit mendorong tubuh Bianca. Seringainya yang muncul membuat tubuh Bianca meremang. “Kalau gitu, buktikan! Aku mau lihat sejauh mana kamu berani menggodaku malam ini.” Bianca langsung mengangguk patuh menuruti perintah pria dominan tersebut. Arlo membiarkan tangan Bianca merayap ke kancing seragamnya. Ia ingin melihat sampai di titik mana wanita ini akan benar-benar menghancurkan dirinya sendiri. Lampu hijau yang didapatnya dari Arlo membuat Bianca bersemangat. Bianca seolah kehilangan akalnya dan perlahan Bianca dengan berani menurunkan tali gaun tidurnya. “Aku yakin kamu bakal ketagihan, Arlo. Aku bakal bikin kamu puas malam ini, lihat saja.” Tepat saat Bianca hendak menjatuhkan gaunnya ke lantai, pandangan Arlo bergeser. Mata tajam Arlo tidak sengaja menangkap pergerakan kecil di ujung lorong remang. Tatapannya langsung mengunci posisi Rea yang sedang bersembunyi di balik pilar. Mata Arlo dan Rea saling bertatapan secara langsung dari kejauhan. Tidak ada kepanikan di wajah Arlo. Ia bahkan tidak segera mendorong Bianca menjauh, ia hanya berdiri diam, menatap Rea dengan ekspresi datar yang sulit dibaca. Rea merasakan seluruh tubuhnya merinding dan bergetar hebat tanpa kendali. Tatapan tajam pria misterius itu membuat lehernya terasa sangat kaku. Karena tidak kuat menahan aura intimidasi dari tatapan Arlo yang sangat menguasai keadaan, Rea pelan-pelan memundurkan langkah kakinya untuk menjauhi area ruang keluarga. Tubuh Rea mendadak menabrak meja kayu kecil di dekat tembok. Sebuah vas keramik berukuran besar tersenggol oleh siku tangannya secara keras. Benda pajangan berharga puluhan juta itu meluncur jatuh ke arah lantai. Benda itu langsung pecah berkeping menjadi serpihan berukuran kecil. Suara pecahan itu terdengar sangat nyaring memecah kesunyian malam di rumah besar tersebut. PRANG Bianca terlonjak kaget mendengar suara pecahan dari arah lorong depan. Wanita itu langsung mendorong tubuh Arlo dan merapikan gaun tidurnya dengan wajah sangat pucat. Dia menoleh ke arah sumber suara dengan perasaan panik yang luar biasa. "Siapa di situ? Keluar sekarang juga!" teriak Bianca dengan suara melengking tinggi. Rea tidak menjawab panggilan ibu tirinya sama sekali. Gadis itu langsung membalikkan badannya dan berlari sekencang mungkin menuju pintu depan. Dia benar-benar merasa ketakutan setengah mati melihat tatapan mematikan Arlo barusan. Air mata mengalir deras membasahi kedua pipi Rea. Disisi lain, jantung Bianca berpacu cepat, namun sangat kontras dengan ketenangan Arlo. Pria itu justru kembali merapikan kancing seragamnya dengan sangat tenang, seolah kehadiran Rea hanyalah gangguan kecil. Arlo kemudian bangkit dan merapikan gaun tidur milik Bianca yang berantakan. “Hebat sekali, Bianca. Sangat menarik melihat putrimu terlibat permainan kotor mu ini. Sekarang kita lihat, gimana reaksi gadis kecil itu setelah melihat kelakuan bejat ibu tirinya?”Jantung Arlo seolah berhenti berdetak saat itu juga. Dunianya yang baru saja terasa terang benderang kembali runtuh ke dasar jurang yang paling dalam. Genggaman tangan Arlo melemas, dan ia terpaku di tempatnya dengan wajah yang seketika pucat pasi."Rea? Apa maksudmu?" bisik Arlo dengan suara yang bergetar hebat. "Ini aku, Arlo. Suamimu."Rea menggeleng lemah, ia menatap ke arah Kyle dan Jane dengan tatapan asing yang sama. "Aku... aku di mana? Aku tidak kenal kalian. Siapa... siapa Arlo?"Suara monitor jantung di ruangan itu kembali meningkat temponya, seiring dengan kepanikan yang mulai menyerang Rea. Dokter yang masih berada di sana segera merangsek maju untuk menenangkan pasien."Pak Arlo, tolong mundur dulu! Nyonya Rea sedang mengalami disorientasi!" perintah dokter dengan tegas.Arlo masih bergeming di sisi ranjang, menatap Rea dengan tatapan kosong yang menghancurkan hati. Di saat ia sudah memberikan segalanya, dendamnya, kekuasaannya, dan seluruh cintanya, takdir seolah sedang
Arlo sudah berada di depan mobilnya, namun tangannya yang hendak membuka pintu mendadak berhenti. Amarah yang ia tekan selama rapat tadi seolah mendidih kembali saat teringat wajah pucat Rea di bawah sinar lampu ICU. Niatnya untuk segera kembali ke rumah sakit ia tunda sejenak. Ada satu urusan yang harus ia selesaikan secara pribadi agar hatinya benar-benar tenang. "Ke kantor polisi. Sekarang," perintah Arlo dingin kepada sopirnya. Mobil mewah itu melaju membelah kemacetan kota menuju kantor polisi pusat. Sesampainya di sana, kehadiran Arlo langsung membuat suasana markas polisi menjadi tegang. Dengan kekuasaan dan pengaruh keluarga Ganendra, Arlo mendapatkan akses khusus untuk masuk ke area sel tahanan sementara sebelum mereka dipindahkan ke lapas. Arlo berjalan menyusuri sel yang pengap, langkah kakinya yang berat bergema di lorong besi tersebut. Ia berhenti tepat di depan sebuah sel di mana Bianca, Belinda, dan Hans meringkuk di pojok ruangan dengan kondisi yang sangat mengenask
Arlo berdiri mematung sejenak di depan pintu ICU, menatap kaca kecil yang memperlihatkan sosok Rea di dalam sana sebelum akhirnya ia berbalik menemui ayahnya. Anthony melangkah cepat menghampiri putra sulungnya dengan raut wajah yang sangat serius."Arlo," panggil Anthony dengan suara berat. "Daddy baru saja mendapat laporan. Kondisi di kantor pusat maskapai Niskala sedang kacau balau."Arlo mengerutkan kening, mencoba mengalihkan fokusnya dari rasa sedih ke urusan logika. "Seberapa buruk, Dad?""Sangat buruk. Setelah berita penangkapan Bianca dan keluarganya meledak pagi ini, kursi Direktur Utama kosong seketika. Para pemegang saham panik, karyawan bingung, dan operasional mulai terganggu karena tidak ada pemimpin yang berani mengambil keputusan," jelas Anthony.Ia menatap mata Arlo dengan tajam. "Rea adalah pewaris sah tunggal dari mendiang Hendra, tapi dia masih terbaring tak sadarkan diri di dalam sana. Perusahaan itu bisa hancur atau jatuh ke tangan orang lain jika dibiarkan tan
Marco berdiri tegak di depan pintu besi markas bawah tanah yang lembab. Ia menyalakan sebatang rokok, membiarkan asapnya membubung di udara yang pengap. Di sampingnya, dua anak buah Arlo yang dikenal paling kejam, Leon dan Vigo baru saja masuk ke dalam ruangan itu membawa tas perlengkapan yang berat.Arlo tidak datang. Kapten mereka masih berada di rumah sakit, menunggui istrinya. Namun, perintah yang dikirimkan Arlo melalui pesan singkat sangat jelas: "Buat mereka merasakan setiap inci rasa sakit Rea."BRAKK!Pintu besi itu tertutup rapat, dan suara kunci yang diputar bergema di lorong. Marco tetap di luar, menjaga perimeter."TIDAK! JANGAN! AMPUN!"Suara Bianca pecah seketika. Teriakan itu sangat melengking, penuh dengan ketakutan yang murni. Marco hanya menatap datar ke depan, mendengarkan suara gesekan benda logam yang ditarik di atas lantai semen.Tak lama kemudian, terdengar suara "PLAK!" yang sangat keras, disusul oleh suara rintihan tertahan dari Hans. Rupanya Leon dan Vigo t
Rea meronta sekuat tenaga, ikatan tali di pergelangan tangannya mulai menggores kulitnya hingga memerah, namun ia tidak peduli. Amarah dan rasa sesak di dadanya jauh lebih menyakitkan daripada luka fisik itu. "Apa semua yang diberikan Papa belum cukup bagimu?!" teriak Rea dengan suara yang pecah.
Setelah pembicaraan yang menegangkan di meja makan, Arlo segera berpamit pada Anthony dan Kyle untuk membawa Rea menemui Marco. Mereka butuh informasi yang lebih mendetail mengenai dua sosok kunci lainnya selain sang notaris yaitu dokter yang menangani Papa Rea dan saksi tambahan yang ada di lokasi
Rea melangkah menuruni tangga marmer dengan sangat hati-hati, tangannya meremas ujung blazernya dengan gugup. Begitu memasuki ruang makan yang megah itu, ia disambut oleh keheningan yang mencurigakan. Anthony tampak sibuk dengan tabletnya, tapi sudut bibirnya sedikit terangkat. Kyle menatap Rea den
"Alasan sebenarnya aku dipecat bukan karena kinerja buruk, Daddy," suara Arlo terdengar rendah namun tajam. "Tapi karena Bianca yang merupakan ibu tiri Rea. Bianca menggunakan relasi kekuasaannya untuk menekan maskapai. Dia ingin aku menjauh dari Rea. Dia mau Rea sendirian, tanpa perlindungan, supa






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.