LOGINBagi Rea Niskala, langit adalah satu-satunya tempat ia merasa bebas. Namun, dunianya runtuh saat ia menemukan pemandangan paling menjijikkan di rumahnya sendiri. Bianca, ibu tirinya yang manipulatif, sedang memuja dan bergelayut mesra pada Kapten Arlo Ganendra pilot legendaris yang bekerja di maskapai milik ayahnya. Rea melihat segalanya, Bianca yang begitu liar menggoda Arlo dan bagaimana Arlo yang diam saja dan menerima semua perlakuan Bianca. Bagi Rea, Arlo bukan lagi pahlawan di kokpit, melainkan pengkhianat yang menodai kesetiaan sang Ayah. Benih-benih kebencian mulai tumbuh di hati Rea. Rea bertekad ingin menghancurkan Arlo dan Bianca dengan membongkar permainan jahat yang mereka berdua lakukan. Tanpa Rea tahu jika apa yang ia lihat tidaklah seperti yang ia pikirkan. Namun, takdir berkehendak lain saat ayah Rea, Hendra Niskala, mengalami sebuah kecelakaan besar. Di ambang kematian, Hendra hanya memercayai satu orang untuk menjaga putri tunggalnya yaitu Arlo Ganendra. Melalui wasiat rahasia di balik pintu ICU, sebuah perintah mutlak dijatuhkan. “Nikahi putriku hari ini juga. Lindungi dia dari semua orang di rumah itu. Aku menyerahkan seluruh hidupnya ke dalam tanganmu sekarang.” Wasiat itu menjadi bumerang bagi Rea. Rea terjebak dalam sangkar yang dibuat oleh pria yang paling ia benci. Terikat dalam pernikahan yang dipaksakan, Rea harus terbang di bawah otoritas Arlo baik di angkasa maupun di dalam kehidupan pribadinya. Di antara dendam yang membara dan rahasia yang belum terungkap, Rea harus memilih, terus melawan arus otoritas Arlo, atau menyadari bahwa pria yang ia anggap sebagai penghancur hidupnya adalah satu-satunya pelindung yang rela dicaci demi keselamatannya.
View MoreArlo sudah berada di depan mobilnya, namun tangannya yang hendak membuka pintu mendadak berhenti. Amarah yang ia tekan selama rapat tadi seolah mendidih kembali saat teringat wajah pucat Rea di bawah sinar lampu ICU. Niatnya untuk segera kembali ke rumah sakit ia tunda sejenak. Ada satu urusan yang harus ia selesaikan secara pribadi agar hatinya benar-benar tenang. "Ke kantor polisi. Sekarang," perintah Arlo dingin kepada sopirnya. Mobil mewah itu melaju membelah kemacetan kota menuju kantor polisi pusat. Sesampainya di sana, kehadiran Arlo langsung membuat suasana markas polisi menjadi tegang. Dengan kekuasaan dan pengaruh keluarga Ganendra, Arlo mendapatkan akses khusus untuk masuk ke area sel tahanan sementara sebelum mereka dipindahkan ke lapas. Arlo berjalan menyusuri sel yang pengap, langkah kakinya yang berat bergema di lorong besi tersebut. Ia berhenti tepat di depan sebuah sel di mana Bianca, Belinda, dan Hans meringkuk di pojok ruangan dengan kondisi yang sangat mengenask
Arlo berdiri mematung sejenak di depan pintu ICU, menatap kaca kecil yang memperlihatkan sosok Rea di dalam sana sebelum akhirnya ia berbalik menemui ayahnya. Anthony melangkah cepat menghampiri putra sulungnya dengan raut wajah yang sangat serius."Arlo," panggil Anthony dengan suara berat. "Daddy baru saja mendapat laporan. Kondisi di kantor pusat maskapai Niskala sedang kacau balau."Arlo mengerutkan kening, mencoba mengalihkan fokusnya dari rasa sedih ke urusan logika. "Seberapa buruk, Dad?""Sangat buruk. Setelah berita penangkapan Bianca dan keluarganya meledak pagi ini, kursi Direktur Utama kosong seketika. Para pemegang saham panik, karyawan bingung, dan operasional mulai terganggu karena tidak ada pemimpin yang berani mengambil keputusan," jelas Anthony.Ia menatap mata Arlo dengan tajam. "Rea adalah pewaris sah tunggal dari mendiang Hendra, tapi dia masih terbaring tak sadarkan diri di dalam sana. Perusahaan itu bisa hancur atau jatuh ke tangan orang lain jika dibiarkan tan
Marco berdiri tegak di depan pintu besi markas bawah tanah yang lembab. Ia menyalakan sebatang rokok, membiarkan asapnya membubung di udara yang pengap. Di sampingnya, dua anak buah Arlo yang dikenal paling kejam, Leon dan Vigo baru saja masuk ke dalam ruangan itu membawa tas perlengkapan yang berat.Arlo tidak datang. Kapten mereka masih berada di rumah sakit, menunggui istrinya. Namun, perintah yang dikirimkan Arlo melalui pesan singkat sangat jelas: "Buat mereka merasakan setiap inci rasa sakit Rea."BRAKK!Pintu besi itu tertutup rapat, dan suara kunci yang diputar bergema di lorong. Marco tetap di luar, menjaga perimeter."TIDAK! JANGAN! AMPUN!"Suara Bianca pecah seketika. Teriakan itu sangat melengking, penuh dengan ketakutan yang murni. Marco hanya menatap datar ke depan, mendengarkan suara gesekan benda logam yang ditarik di atas lantai semen.Tak lama kemudian, terdengar suara "PLAK!" yang sangat keras, disusul oleh suara rintihan tertahan dari Hans. Rupanya Leon dan Vigo t
Pintu ICU akhirnya terbuka perlahan. Arlo yang sejak tadi bersimpuh di lantai langsung melompat berdiri. Ia tidak lagi peduli pada wibawanya, dengan wajah yang kacau dan mata yang merah, ia langsung mencengkeram lengan dokter tersebut, menodongnya dengan rentetan pertanyaan tanpa memberikan kesempatan bagi sang dokter untuk bernapas. "Bagaimana istri saya, Dok?! Kenapa alarmnya berbunyi?! Apa yang terjadi di dalam? Dia baik-baik saja, kan? Jawab saya, Dok!" cecar Arlo dengan nada suara yang meninggi dan penuh kepanikan. Dokter itu menghela napas panjang, mencoba menenangkan Arlo dengan meletakkan tangan di bahunya. "Pak Arlo, tolong tenang dulu. Mari tarik napas dalam-dalam." "Bagaimana saya bisa tenang kalau kondisi istri saya seperti itu?!" bentak Arlo lagi. "Arlo, biarkan Dokter bicara," sela Anthony dengan suara berat, mencoba menahan putranya agar tidak semakin lepas kendali. Dokter itu akhirnya menjelaskan, "Memang benar kondisi Nyonya Rea sempat drop drastis tadi, irama ja
Rea meronta sekuat tenaga, ikatan tali di pergelangan tangannya mulai menggores kulitnya hingga memerah, namun ia tidak peduli. Amarah dan rasa sesak di dadanya jauh lebih menyakitkan daripada luka fisik itu. "Apa semua yang diberikan Papa belum cukup bagimu?!" teriak Rea dengan suara yang pecah.
Di kamar yang terasa mendadak sunyi setelah kepergian Arlo, Rea duduk di tepi ranjang dengan perasaan yang tak menentu. Kecemasan akan keselamatan suaminya terus berputar-putar di kepalanya. Tiba-tiba, ponsel di genggamannya bergetar pendek. Sebuah pesan masuk dari nomor yang sangat ia kenal: Bianc
Setelah pembicaraan yang menegangkan di meja makan, Arlo segera berpamit pada Anthony dan Kyle untuk membawa Rea menemui Marco. Mereka butuh informasi yang lebih mendetail mengenai dua sosok kunci lainnya selain sang notaris yaitu dokter yang menangani Papa Rea dan saksi tambahan yang ada di lokasi
Rea melangkah menuruni tangga marmer dengan sangat hati-hati, tangannya meremas ujung blazernya dengan gugup. Begitu memasuki ruang makan yang megah itu, ia disambut oleh keheningan yang mencurigakan. Anthony tampak sibuk dengan tabletnya, tapi sudut bibirnya sedikit terangkat. Kyle menatap Rea den
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.