Share

SATU KABAR

Author: Ummu Amay
last update Huling Na-update: 2024-04-08 22:33:52

Alan tampak syok setelah menyadari bahwa ia baru saja akan menabrak istrinya, Felisha. Sosok perempuan itu tadi tiba-tiba menyeberang setelah lampu merah belum memperbolehkannya melangkah.

Alan melepas safety belt-nya cepat. Alvaro yang duduk di sebelahnya juga melakukan hal yang sama setelah tuannya itu keluar dan turun.

"Felisha!" teriak Alan setelah ia melihat sosok sang istri tengah terduduk dengan tangan menutup wajah. Terlihat tubuhnya gemetar ketakutan, membuat Alan sontak merangkul tubuh itu meski tak ada respon yang diberikan.

Isak tangis terdengar memilukan saat Alan mendekap tubuh Felisha yang sudah basah kuyup.

"Kak Alan," ucap Felisha yang langsung tahu meskipun ia belum mengangkat wajahnya dan melihat sosok lelaki yang tiba-tiba memeluknya.

"Apa kau sudah gila! Kau mau mati?" seru Alan kesal meski kenyataannya ia khawatir atas kondisi Felisha yang menurutnya menyedihkan.

"Maaf," sahut Felisha masih menangis.

Alan tak kuasa untuk tidak mendekap lebih erat tubuh ist
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter
Mga Comments (2)
goodnovel comment avatar
Tyas Kelapa Gading
terlalu lama gak dilanjut2in ceritanya
goodnovel comment avatar
Dwi Aprilinda Pratiwi
Thor update lagi dong ceritanya bgs bgt penasaran
Tignan lahat ng Komento

Pinakabagong kabanata

  • Jadi Budak Kakak Ipar   SEDIKIT RASA GELISAH

    Gina mengangguk pelan, lalu kembali menggeleng ragu. Tangannya bergetar saat menggenggam ponsel, seolah benda itu terlalu berat untuk ditahan.“Aku harus pulang bukan?” katanya lirih. “Tapi aku … aku belum siap, Fel.”Felisha mendekat tanpa banyak kata. Ia menarik Gina ke dalam pelukan yang hangat, membiarkan isak itu tumpah tanpa ditahan. Tidak ada nasihat. Tidak ada kalimat penghiburan yang dipaksakan. Hanya kehadiran.“Kamu tidak harus siap,” ucap Felisha akhirnya, suaranya pelan tapi mantap. “Kamu hanya harus pulang.”Gina terisak semakin keras, lalu mengangguk di bahu Felisha.“Aku takut,” bisiknya. “Takut pulang dan sadar kalau beliau benar-benar nggak ada.”Felisha menutup mata sejenak, merasakan sesak yang ikut menyelinap ke dadanya. Kehilangan —ia terlalu mengenalnya. Bentuknya berbeda, tapi lukanya selalu sama.“Aku temani kamu ke terminal,” kata Felisha tanpa ragu. “Kita berangkat hari ini.”Gina mendongak. “Tapi lamaran kerja kamu—”“Aku bisa menunggu,” potong Felisha lemb

  • Jadi Budak Kakak Ipar   SYARAT

    Di luar, kota berdenyut dalam ritmenya sendiri. Dan di antara banyak langkah yang masih harus diambil, Felisha akhirnya tahu satu hal, ia tidak lagi berjalan untuk menyenangkan siapa pun.Ia berjalan untuk dirinya —dan untuk kehidupan kecil yang sedang tumbuh bersamanya.Sedetik kemudian saat kantuk mulai menyerang, bayangan Alan mendadak hadir dengan wajahnya yang sendu. Felisha —anehnya, tak terpengaruh sedikit pun.Namun, ketika sosok lelaki itu tiba-tiba menangis, ada rasa tak nyaman yang menggelayut hatinya. 'Bagaimana bisa ia serapuh itu?'Bayangan itu datang begitu saja, tanpa undangan. Wajah Alan yang sendu, matanya yang selama ini selalu tampak dingin dan penuh kendali, kini basah oleh sesuatu yang tidak pernah Felisha bayangkan sebelumnya. Tangis. Bukan isak yang keras. Bukan pula tangisan yang memohon. Hanya bahu yang turun perlahan, kepala yang tertunduk, dan sepasang mata yang kehilangan pijakan. Felisha membuka matanya. Langit-langit kamar kos kembali menyambutnya

  • Jadi Budak Kakak Ipar   RENCANA DALAM DIAM

    Mobil melaju meninggalkan kawasan itu perlahan, seperti memberi waktu bagi Felisha untuk benar-benar melepaskan dan melupakan.Matahari mulai menuju barat ketika Felisha menatap keluar kaca jendela. Tampak bayangan membingkai wajahnya dengan cahaya yang mulai menurun. Kota berubah rupa menjelang sore —mulai bising oleh keadaan lalu lintas yang sibuk. Jujur, itu membuat ketenangan jiwa Felisha terganggu. Tapi, ia berusaha mengabaikan. Felisha menutup mata sejenak. Di benaknya, wajah Rafael kembali muncul. Senyum polos bocah itu, caranya menatap dan tersenyum membuat rasa rindu itu hadir. Ada rasa bersalah yang menggelayut, tapi kali ini bukan rasa bersalah yang melumpuhkan —melainkan rasa tanggung jawab sebagai seorang tante sebab sosok sang ibu yang seolah tak peduli.“Aku tidak berniat meninggalkanmu, tapi papa dan mamamu adalah orang yang berkuasa atasmu,” gumamnya lirih.“Hanya saja, aku juga tidak tega kamu menderita dengan tinggal dan besar di keluarga itu.”Felisha membuka pons

  • Jadi Budak Kakak Ipar   MENYUDAHI YANG MENGGANJAL

    Langkah Felisha tidak melambat ketika ia melewati pagar besi itu. Begitu pintu tertutup kembali di belakangnya, suara dunia luar seolah kembali —deru kendaraan, suara burung yang hinggap di kabel listrik, dan angin sore yang menyapu rambutnya pelan.Ia berhenti sejenak di tepi trotoar. Bukan karena ragu. Bukan pula karena menyesal. Melainkan karena tubuhnya akhirnya menyadari satu hal penting, ia telah selesai berhadapan dengan masa lalu yang selama ini mencengkeramnya terlalu erat.Menjadi bagian dari keluarga Sumitra. Menjadi anak dari pasangan suami istri yang bahkan tidak pernah menganggapnya anak. Mereka hanya ingin merampas miliknya. Bahkan, ketika putri mereka ingin kembali ke pangkuan sang suami —padahal dulu ditinggalkan, ia juga yang harus berkorban. Diculik dan hampir dilecehkan oleh laki-laki yang telah membuatnya tega meninggalkan putra mereka satu-satunya."Rafael," sebut Felisha memanggil nama keponanakannya. "Bagaimana kabar anak itu sekarang? Ia tinggal di mana? Apak

  • Jadi Budak Kakak Ipar   BERAKHIR LEGA

    Mobil taksi online berhenti tepat di depan pagar besi tinggi itu. Felisha menatapnya beberapa detik lebih lama dari yang ia rencanakan. Cat hitamnya masih mengilap, kamera kecil di sudut atas bergerak pelan mengikuti setiap kendaraan yang melintas. Tidak ada yang berubah. Dan justru karena itu, dadanya terasa semakin sesak.Ia membayar ongkos, lalu turun.Langkahnya mantap ketika menekan bel. Tidak ada gemetar di tangan. Tidak ada ragu yang tersisa. Yang ada hanya satu kesadaran utuh —jika ia menunda hari ini, luka ini akan terus hidup.Masalah yang bertubi-tubi datang belakangan ini, telah membuat Felisha menjadi sosok yang kuat. Pintu terbuka setelah beberapa saat. Seorang asisten rumah tangga menatapnya kaget.“Non Felisha?”Felisha mengangguk. “Saya ingin bertemu ibu.”Perempuan itu ragu sejenak, lalu mempersilakan masuk. Felisha melangkah melewati ruang tamu luas yang terasa asing sekaligus terlalu dikenalnya. Setiap sudut rumah ini menyimpan kenangan —sebagian hangat, sebagian

  • Jadi Budak Kakak Ipar   GELISAH

    Alan menatap Alvaro tanpa berkedip. “Apa maksudmu?” suaranya tetap tenang, tapi rahangnya mengeras —tanda yang sangat dikenal Alvaro.“Salah satu orang kita tidak sengaja melihat Nona Felisha masuk ke kediaman Sumitra sekitar beberapa waktu yang lalu,” jelas Alvaro hati-hati. “Belum ada laporan lanjutan apakah beliau masih di sana atau sudah pergi.”Alan memejamkan mata sesaat. Nama itu —Sumitra, bukan keluarga yang pantas lagi ia hormati. Ia adalah pusat dari banyak luka yang Felisha simpan rapi selama ini. Keluarga yang tak pernah benar-benar menerima Felisha, bahkan sejak perempuan itu tinggal di kediaman mereka. “Siapa yang menyuruhmu melapor?” tanya Alan akhirnya.“Tidak ada, Tuan. Ini refleks. Saya pikir—”“Lain kali,” potong Alan pelan, “laporkan hanya jika Felisha dalam bahaya.”Alvaro terdiam, lalu mengangguk. “Baik, Tuan. Hanya saja, bukankah putri mereka, Ny. Dina sedang kita amankan sebab insiden penculikan yang beliau dalangi. Apakah bukan sesuatu yang membahayakan jika

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status