Mag-log inReina Wynn hanya ingin membalas dendam pada mantan kekasihnya yang berkhianat dengan menggoda paman sang mantan dan menjadi bagian dari keluarga mereka. Namun, alkohol membuatnya salah mengenali orang dan membuatnya berakhir di ranjang Hugo Veldric, seorang mantan jenderal bertangan besi yang kini memimpin kekaisaran bisnis sekaligus penguasa dunia bawah yang paling ditakuti! Dan pria itu tidak berniat melepaskannya. "Jadi istriku, lahirkan penerusku, dan aku akan meratakan dunia untukmu.”
view more“Tuan, jangan bilang Anda … terangsang?”
Napas pria itu terdengar lebih berat, membuat Reina merasa puas. Dilingkarkannya lengan ke leher si pria sebelum bibirnya menangkup milik pria itu dan berciuman panas. Sosok dingin yang mati-matian digodanya sejak tadi akhirnya luluh juga.
Puas karena sudah sukses, Reina menarik diri.
Namun—
Belum sempat mengambil satu langkah pun, pergelangan tangan Reina tiba-tiba ditangkap dengan kuat. Tubuhnya ditarik keras hingga punggungnya menghantam dinding di belakangnya.
“Akh!” Reina meringis. Matanya terpejam sejenak, menahan sakit.
Saat membuka mata, ia menyadari tubuhnya kembali terkurung di bawah naungan pria itu. Hawa panas dari tubuhnya membungkusnya rapat, menutup semua celah untuk kabur.
“Kamu mau ke mana, Gadis Nakal?” Suara desisan rendah yang disertai desahan panas dari pria itu tiba-tiba menggema di telinganya. “Apa kamu tidak pernah diajarkan untuk memadamkan api setelah menyalakannya?”
***
Beberapa jam sebelumnya ….
Hari Valentine seharusnya menjadi hari penuh cinta untuk pasangan di seluruh belahan dunia.
Namun, tidak bagi Reina Wynn. Pagi itu justru menjadi titik paling pahit sekaligus titik balik dalam hidupnya.
Alih-alih mendapatkan kejutan manis dari sang kekasih, Kelvin Rowen justru mengirimkan pesan undangan ke grup angkatan sekolahnya.
Undangan pertunangan dengan Freya, musuh bebuyutan Reina semasa sekolah.
“Kenapa … Freya?” gumam Reina, tak habis pikir. Dibacanya undangan itu sekali lagi dengan dada yang makin sesak.
[Malam ini jam 7 di The Grand Veldric Hotel, kalian semua harus hadir di acara pertunanganku ya!]
Jari-jari Reina bergetar. Ia menggigit bibirnya dengan kuat, memaksa otaknya mencari alasan, apa pun yang bisa menyelamatkan hatinya.
“Lelucon,” pikir Reina. “Semua ini pasti hanya lelucon.”
Mungkin Kelvin sedang mengerjainya. Siapa tahu pria itu sedang merencanakan kejutan besar.
Bukankah mereka masih sepasang kekasih? Beberapa hari lalu, pria itu masih memanggilnya sayang.
Namun, semua harapan dan berbagai kemungkinan yang muncul segera lenyap ketika ia membaca pesan ucapan terima kasih yang dikirimkan Freya atas doa restu yang ditujukan kepadanya dan Kelvin.
Pesan demi pesan terus berdatangan, seolah tidak ada satu pun dari mereka yang mengingat kehadirannya di grup itu atau mungkin … mereka memang tidak peduli..
Reina tersenyum getir. Diremasnya ponsel di tangan dengan erat, sementara tangannya yang lain menyeka air mata yang telah mengaburkan pandangannya, lalu mencoba menghubungi Kelvin untuk menuntut penjelasan darinya.
Namun, nomor pria itu sama sekali tidak dapat dihubungi dan pesan yang ia kirimkan gagal terkirim berulang kali.
Tenggorokan Reina seketika terasa perih saat ia menelan salivanya. ‘Dia … memblokirku?’
Padahal dua hari lalu, Kelvin masih mengirim pesan manis, mengabarkan bahwa ia akan pulang dan mengajak Reina merayakan Valentine bersama. Bahkan pria itu juga sempat menyelipkan kalimat kerinduannya yang masih terpampang di layar ponselnya saat ini.
Bagaimana bisa pria itu tiba-tiba bertunangan dengan wanita lain!?
Akan tetapi, berapa kali pun disangkal, pesta pertunangan itu benar-benar ada.
Reina memandang deretan papan ucapan selamat di samping pintu aula. Semuanya mengucapkan selamat pada Kelvin Rowen dan Freya Nolan–pasangan yang berbahagia.
“Eh, bukankah itu Reina? Mantan Kelvin? Untuk apa dia di sini?”
“Memang dia diundang?”
“Diundang atau tidak, kalau aku sih tidak akan datang. Setidaknya aku masih punya malu.”
Mengabaikan tatapan dan ucapan penuh cemooh itu, Reina melangkah masuk. Lurus ke arah Kelvin di pelaminan depan.
Pria itu berdiri bersama Freya yang menggelayut manja lengan pria itu, seolah sengaja memamerkan kemesraannya. Keduanya tampak serasi dalam balutan busana pasangan yang senada.
Mata Reina terasa sangat panas, tetapi ia berusaha untuk menahan air matanya agar tidak merembes di hadapan mereka.
“Reina, ternyata kamu datang. Terima kasih sudah meluangkan waktumu,” ucap Freya dengan senyum manis yang terasa menusuk mata Reina.
Namun, Reina tidak menanggapi. Mata hazelnya hanya tertuju pada Kelvin.
“Kenapa?” Satu kata itu meluncur dari bibir Reina.
Kelvin mengangkat alis, lalu mendengus pendek. “Apanya yang kenapa?” balasnya dengan suara yang terdengar dingin. “Anggap saja aku bosan.”
Reina terperangah. Tepat di saat ia ingin membalasnya, Rebecca Curtiz, ibu Kelvin muncul di hadapannya.
“Reina?” Rebecca menatapnya dengan sinis. “Kamu masih punya muka datang ke sini?”
Reina tidak menjawab. Ia sudah terbiasa menerima perlakuan seperti ini dari wanita itu, tetapi biasanya Kelvin akan membelanya. Akan tetapi, kali ini … pria itu hanya berdiam diri.
Seolah tidak melihat ataupun mendengar apa pun, Kelvin mengajak Freya untuk menyapa para tamu mereka.
Melihat Reina yang terpaku menatap kepergian keduanya, Rebecca mendengus sinis. “Simpan niat busukmu untuk mendekati putraku, Reina. Sampai kapan pun kamu tidak akan bisa menyamai Freya. Anak dari keluarga miskin sepertimu sama sekali tidak pantas menjadi menantu keluarga Rowen,” desisnya dengan sinis, lalu pergi dari hadapannya.
Reina masih mematung seperti seseorang yang kehilangan jiwa hingga akhirnya tangannya menyambar segelas whiskey dari baki pelayan yang lewat. Ia langsung meneguknya hingga tandas.
Ternyata satu gelas tetap tidak cukup menghapus rasa perih yang berdenyut di dadanya. Reina kembali meneguk beberapa gelas lain yang tersaji di atas stan minuman.
“Cukup minumnya, Na. Kamu sudah mabuk.” Sahabatnya, Cinthia Willow menegurnya.
Namun, Reina tidak peduli.
Cinthia pun berdecak. “Percuma juga kamu menangisinya, Na. Lebih baik kamu cari pria lajang di sini. Masih banyak yang kaya dan lebih baik dari si Kelvin sialan itu.”
Reina tersenyum mencibir. "Kamu punya calon?"
Cinthia menggeleng. "Tapi, adiknya Tante Rebecca itu mungkin punya."
Cinthia menunjuk ke arah sekumpulan pria. "Aku dengar dia masih lajang dan lebih kaya daripada keluarga Rowen. Kenapa kamu tidak coba mendekatinya saja? Mana tahu dia membantumu dan kamu bisa memanfaatkannya untuk membalas Kelvin."
Pandangan Reina mengikuti arah telunjuk Cinthia. Ia menyipitkan mata, berusaha fokus di tengah pandangan yang mulai buram. “Yang pakai jas abu-abu gelap itu?” gumamnya.
Alih-alih menjawab, Cinthia malah menepuk pundaknya. “Kamu tunggu di sini ya, Na. Aku pergi sebentar,” ujarnya karena melihat salah seorang kenalannya di tengah aula tersebut.
Reina mendengus. Namun, saat melihat pria yang dimaksudnya tadi keluar dari kerumunan, bibirnya menyungging tipis.
Dengan langkah sempoyongan, ia berjalan ke arahnya dan berhenti tepat di depan pria itu. Gadis itu harus mendongakkan kepalanya karena perbedaan tinggi mereka yang sangat mencolok.
Melihat senyuman bodoh khas orang mabuk yang terukir di bibir Reina, pria pemilik mata elang itu mengernyit. Satu alisnya menukik naik. “Nona─”
Belum sempat sang pria menyelesaikan kalimat, Reina─dengan sengaja─menyiram whiskey ke jas mahalnya!
Hugo menghentikan langkahnya seketika. Ia berbalik perlahan, menatap Reina dengan tatapan tak percaya. Tawa rendahnya pun pecah dan menggema di dalam kamar itu.“Housekeeping?” ulangnya, seakan kata itu adalah lelucon paling konyol yang pernah didengarnya.Reina mengangguk dengan penuh keyakinan. “Kamu masih ingat kan kalau aku memang mengajukan lamaran itu?”Hugo mengembuskan napas pelan, lalu mengangguk malas. "Tapi, apa otakmu tidak bermasalah? Kamu lebih memilih menjadi housekeeping daripada menjadi asisten pribadiku? Apa kamu tidak tahu ada berapa banyak orang yang menginginkan posisi ini, hm?”Reina berdecih pelan di dalam hati, ‘Justru karena otakku masih waras, makanya aku memilih ini. Memangnya kamu pikir bisa membodohiku?’ batinnya.Namun, detik berikutnya, Reina memaksakan diri untuk tersenyum dan menjawab, “Aku bukan lulusan sarjana dan juga tidak punya pengalaman menjadi seorang asisten. Bagaimana kalau nanti aku malah mempermalukanmu dan mengacaukan pekerjaanmu?”Hugo te
“Kalau aku tidak mau mematuhi semua aturan ini, apa yang akan kamu lakukan?” desis Reina dengan tatapan tajam yang berkilat penuh perlawanan.Hugo tidak langsung menjawab. Ia justru sedikit merunduk, memperkikis jarak hingga Reina bisa merasakan hembusan napasnya yang dingin di permukaan kulit wajahnya. Seringai berbahaya kembali muncul di bibir pria itu.“Sederhana saja,” bisik Hugo dengan suara bariton yang rendah dan mengintimidasi. “Kembalikan setiap sen yang sudah aku keluarkan untukmu. Tunai. Sekarang juga. Dan pastinya ….”Hugo sengaja menjeda kalimatnya. Jemarinya bergerak menyusuri rahang gadis itu dengan gerakan yang sangat lembut, tetapi bagi Reina, sentuhan itu terasa duri yang menusuknya perlahan-lahan, menciptakan rasa takut yang menyiksa.“… kamu harus bersiap mencari rumah sakit yang bersedia menampung adikmu,” lanjut pria itu dengan suara tenang, tetapi penuh otoritas mutlak yang tak terbantahkan.Ucapannya jelas menyiratkan bahwa Axel tidak akan bisa mendapatkan pera
“Percuma saja kamu bersembunyi di balik tanganmu. Memangnya bisa mengubah fakta kalau kamu sangat menikmati permainan panas kita tadi, Gadis Nakal?”Sindiran pedas yang meluncur dari bibir Hugo lamgsung mengalihkan pikiran Reina. Perlahan gadis itu menurunkan kedua telapak tangan dari wajahnya. Panas di pipinya kini merambat hingga ke telinganya saat melihat senyum mengejek di wajah Hugo.Namun, Reina tidak membalas. Ia tidak ingin menambah kepuasan pria itu dalam mencemoohnya. Ia pun menyambar dokumen di atas seprai dengan gerakan kasar untuk menutupi rasa malunya yang membuncah.“Dokumen apa ini?” gumam Reina saat matanya mulai menyapu deretan tulisan yang tercetak di atas lembaran dokumen yang ada di tangannya.Hugo tidak langsung menjawab. Ia duduk di tepi ranjang, lalu perlahan mendekati Reina dan mengunci gadis itu dengan menumpukan satu tangannya pada kepala ranjang, tepat di samping bahu gadis itu.“Ini adalah rincian aturan yang harus kamu patuhi selama menjadi istriku,” tera
Satu jam kemudian, ranjang king size di dalam suite mewah itu tampak berantakan seperti habis diterpa badai hebat. Selimut sutra yang semula licin dan rapi kini teronggok tak berdaya di lantai marmer, berserakan di antara helai-helai pakaian yang dilemparkan secara serampangan.Tanpa sehelai busana yang melekat di tubuhnya, Reina menggeliat kecil di atas seprai yang kusut. Ia mencoba bangkit, tetapi seluruh sendi tubuhnya terasa kaku. Sekujur tubuhnya terasa remuk redam setelah pergumulan panas yang menguras seluruh tenaga dan emosinya.Di sudut ruangan, suara gemericik air dari kamar mandi berhenti seketika, menyisakan kesunyian yang mencekam.Manik mata hazel Reina terpaku pada siluet Hugo yang terpatri di balik kaca buram kamar mandi. “Dia benar-benar iblis,” geramnya pelan, disertai suara lenguhan kecil yang menahan perih.Sembari meregangkan punggungnya yang terasa pegal, ia menatap nanar jejak-jejak kemerahan yang menghiasi kulit putihnya.Bayangan ingatan saat Hugo menorehkan ta












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
RebyuMore