공유

SEBUAH FAKTA

작가: Ummu Amay
last update 최신 업데이트: 2024-04-01 18:53:01

Felisha diam. Ia seperti menunggu kalimat apalagi yang akan terlontar dari mulut Luna. Namun, hingga keduanya sampai di pelataran sebuah rumah sakit, Luna tak kunjung bercerita.

"Apa kamu tidak mau mengubah tuduhanmu tadi, Luna?" kata Felisha setelah mobil berhenti tepat di depan rumah sakit.

Luna menengok dengan wajahnya yang datar. "Tuduhan yang mana, Nona?"

"Tuduhan mengenai kakakku yang kamu bilang bersandiwara. Dan asal kamu tahu, aku tidak percaya hal itu."

Ada segaris senyum yang tampak di wajah Luna saat mendengar ucapan Felisha barusan. Ekspresi yang datar tiba-tiba berubah ketika muncul pernyataan mengenai ketidakpercayaan istri tuannya tersebut.

"Apa yang sudah keluar dari mulut saya, tidak mungkin saya tarik kembali, Nona. Terlebih jika itu adalah sebuah fakta."

Felisha diam dengan tatapan sebal. Bagaimana bisa orang-orang menuduh kakak kandungnya itu seseorang yang buruk hanya karena dengan melihat satu kesalahan saja.

"Kak Dina mau mengubah semuanya demi bisa kembali
이 책을.
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
잠긴 챕터

최신 챕터

  • Jadi Budak Kakak Ipar   INSIDEN

    Di sebuah rumah besar yang kini terasa lebih seperti bangunan kosong, Herman Sumitra duduk di ruang tamu dengan rahang mengeras. Lampu kristal di langit-langit menyala terang, tapi tak mampu mengusir hawa dingin yang menggantung di udara.Rumah yang sudah ia tempati selama bertahun-tahun, kini telah berpindah kepemilikan. Rumah itu telah kembali ke pemiliknya, tapi Herman Sumitra tampaknya tak terima. Ia telah berusaha keras membuat bangunan itu menjadi miliknya, tapi kemunculan Alan Tanujaya telah menghancurkan usahanya. "Kuranh ajar!" serunya, entah pada siapa. Ia sendirian di ruangan itu. Tak tahu di mana keberadaan istrinya. Sudah sejak kedatangan Felisha terakhir kali, ia selalu menangis. Terlebih masih tak ada juga kabar dari putri semata wayangnya. Berminggu-minggu sudah Dina menghilang.Tidak ada kabar. Tidak ada jejak. Nomor ponselnya mati. Apartemen yang biasa ia tempati kosong, seolah perempuan itu lenyap begitu saja ditelan kota.Herman mengepalkan tangan. “Ini semua gar

  • Jadi Budak Kakak Ipar   MERANCANG SATU RENCANA

    Felisha menyandarkan punggungnya ke pintu yang baru saja tertutup. Sunyi menyambutnya—bukan sunyi yang menakutkan, tapi sunyi yang terasa kosong.Ia menoleh ke meja kecil dekat jendela. Biasanya, di sana akan ada kotak makan dengan catatan singkat, kadang hanya satu kalimat formal, kadang tanpa nama. Hal kecil yang selama ini ia abaikan, namun ternyata telah menjadi penanda, bahwa lelaki itu masih begitu perhatian padanya. Kini, meja itu bersih.Felisha menghembuskan napas pelan. “Ternyata begini rasanya,” gumamnya lirih.Ia menanggalkan sepatu, duduk di tepi ranjang, lalu memeluk lututnya sendiri. Perasaan yang datang bukan sedih. Juga bukan kehilangan yang menyakitkan. Lebih seperti kesadaran bahwa sebuah fase benar-benar ditutup —tanpa kata, apalagi tanpa perpisahan.Alan telah menepati ucapannya. Ia mencoba untuk melepaskan. Tidak seutuhnya, tapi memberikan jeda dan jarak. Tak ingin menganggu, yang hanya akan membuat sang istri semakin membenci. Malam itu, Felisha memasak sendir

  • Jadi Budak Kakak Ipar   SATU YANG HILANG

    Pagi datang tanpa ada drama. Cahaya matahari menembus sela tirai tipis kamar kos, jatuh lembut di wajah Felisha. Ia terbangun dengan perasaan asing —ringan, tapi penuh. Seolah ada sesuatu yang akhirnya kembali ke tempatnya, meski belum sepenuhnya ia sentuh.Tangannya refleks menyentuh tas di sisi ranjang. Amplop cokelat itu masih ada. Nyata.Felisha duduk perlahan, membukanya sekali lagi. Ia membaca nama di sertifikat itu, memastikan huruf demi huruf tidak berubah semalaman.FELISHA PUTRIBukan sekadar kepemilikan. Tapi pengakuan. Tentang asal-usulnya. Tentang hak yang selama ini dirampas tanpa suara.Ia menghembuskan napas panjang.“Ayah… Ibu…” gumamnya pelan. “Aku sudah menemukannya kembali.”Tidak ada tangis kali ini. Hanya dada yang menghangat, seolah seseorang tengah menepuk bahunya dari kejauhan.Felisha bersiap berangkat kerja seperti biasa. Ia memilih pakaian sederhana, menyisir rambut rapi, lalu berhenti sejenak di depan cermin kecil. Pantulan di sana bukan perempuan yang sam

  • Jadi Budak Kakak Ipar   HAK YANG KEMBALI

    Felisha menutup pintu kamar kos perlahan, lalu meletakkan tas kerjanya di kursi. Tubuhnya lelah, kepalanya terasa penuh, tapi rasa aman kecil yang selama ini ia bangun membuatnya masih mampu berdiri tegak.Kedua matanya menatap Amplop cokelat yang tergeletak rapi di atas kasur.Namanya tertulis jelas di bagian depan. Tulisan tangan yang tegas, familiar, tanpa hiasan apa pun.Felisha menelan ludah. Ia kenal tulisan itu. “Apa lagi ini?” gumamnya pelan.Ia duduk di tepi ranjang, membuka amplop itu dengan gerakan hati-hati —seolah takut isinya bukan sekadar kertas. Begitu amplop terbuka, beberapa lembar dokumen terlipat rapi meluncur ke pangkuannya.Matanya menyapu baris pertama. SERTIFIKAT HAK MILIKNapas Felisha tertahan. Tangannya gemetar saat ia membuka lipatan berikutnya, membaca alamat yang tertera di sana. Alamat yang terlalu ia kenal. Rumah dengan halaman luas dan pepohonan di sudut pagar. Rumah tempat ia tumbuh, tempat kedua orang tuanya menghabiskan sisa hidup mereka sebelum a

  • Jadi Budak Kakak Ipar   SATU KIRIMAN

    Mobil Alan melaju lebih cepat dari biasanya, memotong arus lalu lintas sore dengan suasana dingin. Tangannya menggenggam setir terlalu erat —bukan karena takut kehilangan kendali, justru karena ia menahannya.Ia tahu satu hal sejak awal, Felisha berhak bekerja di mana pun ia mau. Ia tahu itu secara logika. Tapi perasaan —yang selama ini ia jinakkan dengan disiplin, kini memberontak.Perusahaan Wijaya. Nama itu bukan sekadar nama. Itu adalah simbol dari kerja sama yang pernah gagal, ego yang pernah beradu, dan sekarang kemungkinan lain yang terlalu dekat dengan Felisha.Alan memarkir mobilnya di seberang gedung kantor itu. Ia tidak turun. Hanya menunggu, menatap pintu keluar dengan rahang mengeras.Jam di dashboard menunjukkan pukul 16.47.“Jam lima,” gumamnya, mengulang laporan Luna.Ia menghela napas panjang, berusaha merapikan niat. Ia tidak datang untuk menjemput. Tidak datang untuk membawa pulang. Ia bahkan tidak tahu pasti mengapa ia datang, selain satu dorongan yang tak bisa ia

  • Jadi Budak Kakak Ipar   PENAWARAN

    Tak lama setelah panggilan itu terputus, Felisha meletakkan ponselnya di samping bantal. Ia menatap langit-langit kamar kos yang kini terasa lebih lapang—dan lebih sunyi. Ada bagian dari dirinya yang sadar, menerima kehadiran Erik bukan sebagai pengganti apa pun, melainkan sebagai kemungkinan yang belum ia beri nama.Ia bangkit perlahan, merapikan rambut, lalu mengganti kaus rumah dengan sweater tipis. Bukan untuk menyambut secara istimewa, hanya bentuk kecil dari menghargai diri sendiri.Ketukan terdengar dua puluh menit kemudian.Felisha membuka pintu dan mendapati Erik berdiri dengan dua kantong di tangannya—satu berisi buah-buahan segar, satu lagi berisi makanan hangat. Senyumnya sederhana, tidak berlebihan, seolah ia paham betul jarak yang masih Felisha jaga.“Kamu kelihatan capek,” katanya lembut.Felisha mengangguk. “Hari ini memang panjang.”Erik melangkah masuk setelah Felisha mempersilakan. Ia meletakkan bawaannya di meja kecil, lalu mulai mengeluarkan satu per satu: apel, p

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 책을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 책을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status