เข้าสู่ระบบBatari Amara Wijaya seharusnya sudah menjadi abu setelah malam jahanam di Uluwatu. Sepuluh bulan lalu, kehormatannya direnggut paksa oleh pria-pria yang ia sebut keluarga. Di puncak Bukit Terlarang, Batari menukar sisa jiwanya dengan Lenka, entitas mistis haus darah yang memberinya kecantikan mematikan dan aroma mawar yang mampu melumpuhkan logika pria mana pun. Setiap sentuhan Batari adalah racun yang nikmat; setiap desahannya adalah lonceng kematian yang sensual. Kini, Batari kembali ke Jakarta bukan sebagai korban, melainkan sebagai predator. Satu demi satu, mereka yang menghancurkan hidupnya mulai tumbang. Erick Koma, Adrian hilang, Seline hancur, dan kini giliran Victor—pria yang mengklaim tubuh Batari sebagai wilayah kekuasaannya. Victor tidak menginginkan cinta; ia menginginkan kepatuhan mutlak. Ia memburu bibir Batari yang berdarah, menyesap setiap desahan yang keluar dari bibir gadis itu, tak sadar bahwa setiap sentuhannya adalah paku untuk peti matinya sendiri. Di sisi lain, Elio hadir sebagai kontras yang berbahaya—seorang pria berkuasa yang ingin menyelamatkan Batari dari kegelapan yang ia ciptakan sendiri. Di atas ranjang yang menjadi saksi bisu perjamuan nafsu dan air mata, Batari bermain dengan api. Ia membiarkan Victor menjadi anjing penjaganya yang gila, sementara ia perlahan menarik pelatuk untuk pembalasan terakhir. Namun, ada satu aturan darah yang tak boleh dilanggar: Jangan pernah jatuh cinta. Karena saat jantungnya bergetar untuk seorang pria, iblis di dalam nadinya akan menelan jiwanya utuh. Akankah Batari menuntaskan dahaga dendamnya, atau justru terbakar kembali dalam api gairah yang terlarang?
ดูเพิ่มเติม⚜️⚜️
Gerbang besi kediaman Wijaya mengerang saat terbuka—suara logam bergesekan, panjang dan serak, seperti napas sesuatu yang baru bangun dari tidur gelapnya. Dari luar, tempat ini tampak seperti istana: megah, rapi, tak tersentuh. Namun bagi Batari Amara Wijaya, ini bukan istana. Ini rahang. Dan ia baru saja melangkah ke antara gigi-giginya. Batari berdiri sejenak di ambang, menggenggam tali tas lusuhnya sampai kulit di sekitar buku jarinya menegang. Udara malam menempel di tengkuknya, dingin dan basah. Lampu-lampu taman memantulkan kilau pada batu-batu pijakan, membuat jalur masuk terlihat seperti karpet kehormatan—yang sebenarnya adalah jalur eksekusi. Rambut cokelat gelapnya yang panjang mengalir lembut hingga pinggang, kontras dengan wajahnya yang pucat namun memiliki keindahan yang "berbahaya"—kecantikan yang bisa memicu Obsesi. Di kepalanya, suara tawa ibunya, Isabel, yang kini hilang kewarasan di rumah sakit jiwa, terus berdenging. “Sepuluh detik untuk masuk,” sebuah suara memotong, dingin dan datar, seolah hitungan mundur. “Atau kau mati kedinginan di trotoar seperti jalang Filipina itu.” Batari menoleh. Di ambang pintu kayu jati hitam berdiri Victoria Wijaya. Sutra membalut tubuhnya sempurna, wangi parfum mahal mengalir seperti peringatan. Senyumnya tipis, jelas bukan sambutan. Batari menarik napas satu kali. Dalam. Lalu melangkah masuk. Begitu melewati pintu, udara rumah itu berubah—hangat, namun justru menyesakkan. Aroma kayu tua, bunga segar, dan sesuatu yang lebih samar: kekuasaan yang terlalu lama bertahan. Lantai marmer memantulkan bayangan Batari, membuatnya terlihat seperti tamu yang salah alamat. Ia bahkan belum sempat menurunkan tas ketika suara langkah kaki dari lantai dua turun dengan ritme malas yang memaksa semua orang menoleh. “Jadi ini ‘adik’ baruku?” Adrian Wijaya muncul. Kancing atas kemejanya terbuka, kerahnya sedikit miring seolah ia sengaja membiarkan dirinya terlihat setengah rusak. Wajahnya tampan, tapi tampan yang menyimpan sesuatu di bawah kulit—amarah, kebosanan, dan kebiasaan mendapatkan apa pun yang ia inginkan. Mata merahnya menyapu Batari. Bukan sekadar menilai. Membidik. Batari merasakan itu seperti sentuhan—padahal jarak mereka masih beberapa langkah. “Robert benar-benar punya selera bagus untuk urusan simpanan,” ucap Adrian, dan sudut bibirnya naik sedikit. Ia berjalan mendekat, santai, percaya diri, seperti predator yang tidak perlu berlari. “Kau cantik, Batari.” Nama itu meluncur dari bibirnya dengan terlalu mudah. Terlalu akrab. Seolah ia sudah memilikinya. “Sayangnya,” lanjutnya, suaranya menurun, menjadi sesuatu yang lebih gelap, “kecantikanmu di rumah ini cuma akan jadi kutukan.” Batari tak bergerak mundur. Namun tubuhnya mengencang, naluri mengingatkannya untuk tidak memberi ruang. Adrian berhenti tepat di depannya— Batari mencium campuran tembakau dan alkohol, panas napas yang tidak seharusnya dibagikan pada orang asing. “Adrian.” Suara Victoria memotong, tanpa emosi. “Jangan membuat masalah.” “Masalah?” Adrian tertawa pelan. “Aku cuma menyambut keluarga.” “Jauhkan tatapanmu,” sebuah suara lain menyela, manis tapi menyakitkan. “Dia terlihat menjijikkan dengan baju murah itu.” Seline muncul di belakang Adrian, gaun desainer memeluk tubuhnya seperti sebuah deklarasi. Ia menatap Batari dari ujung kaki ke ujung rambut, lalu tersenyum kecil—senyum seseorang yang selalu menang dan selalu bosan. Di rumah ini, Batari langsung tahu: Seline bukan sekadar anak manja. Seline adalah pusat. Matahari. Dan semua orang akan terbakar jika ia meminta. “Ma,” Seline merengek pada Victoria, tapi matanya tetap menempel pada Batari. “Aku tidak mau dia ada di sini. Wajahnya merusak pemandangan. Dan rambut itu…” bibirnya mengerucut, seperti sedang memilih alat. “Aku ingin memotongnya.” Victoria menatap Batari seperti menatap benda yang baru tiba dari paket. “Dia di sini karena wasiat bodoh ayahmu,” ucap Victoria. “Dia punya saham dan properti yang kita butuhkan.” Lalu, lebih dingin lagi: “Kamar pelayan, sayap barat. Dia tidak menyentuh apa pun di rumah utama tanpa izin.” Kata-kata itu merayap di kulit Batari seperti tali yang diikatkan perlahan. Seline melangkah mendekat. Kukunya merah darah. Jemarinya meraih dagu Batari, mengangkatnya dengan kasar—memaksa Batari menatap ke atas seperti seseorang yang harus tahu tempatnya. “Dengar, Gadis Filipina,” bisik Seline. “Di sini kau bukan siapa-siapa. Kau hanya pajangan.” Jemarinya menekan sedikit, menyakitkan. “Kalau kau berani mengadu…” Seline mendekatkan bibir ke telinga Batari, suara jadi licin, kejam, intim. “Aku pastikan rumah sakit jiwa ibumu berhenti menerima pembayaran.” Untuk sesaat, Batari merasa seluruh rumah berputar. Lalu ia menahan semuanya—takut, marah, rasa sakit—menjadi sesuatu yang lebih tajam. Ia menatap balik Seline, tidak dengan air mata, tidak dengan memohon. Dengan tenang. “Aku di sini hanya untuk kesembuhan ibuku,” kata Batari pelan. Suaranya lembut, tapi ada pisau di dalamnya. “Kalian boleh membenciku. Kalian boleh mempermalukanku. Tapi jangan pernah sentuh ibuku.” Seline terkekeh, seolah itu lucu. Adrian tertawa lebih keras. Suaranya mengisi aula seperti pukulan. Lalu ia bergerak—bukan mendekat dari depan, tapi miring sedikit, memotong ruang Batari, memaksa Batari mencium kehadirannya. Ia menunduk, bibirnya hampir menyentuh telinga Batari. “Aku tidak tertarik menyentuh ibumu, Sayang,” bisiknya. Kata Sayang itu seperti rantai: hangat di permukaan, mengikat di dalam. Adrian menghela napas pelan, seolah menikmati reaksi yang tidak Batari izinkan terlihat. “Aku lebih tertarik… menyentuhmu.. pelan pelan.. sampai kau memohin padaku untuk berhenti.” Batari menahan diri agar tidak menggigil. Jijik bercampur ancaman, tapi—yang lebih menakutkan—ada sesuatu yang lain. Sebuah kesadaran yang tidak ia minta: bahwa Adrian menikmati rasa takut. Dan bahwa ia akan terus menguji batas. Batari menoleh sedikit, cukup untuk menatap mata Adrian dari jarak nyaris tak pantas. “Coba saja,” ujarnya, lembut. “Dan kau akan tahu… aku bukan gadis yang bisa kau patahkan tanpa konsekuensi.” Untuk pertama kali, senyum Adrian tidak sepenuhnya meremehkan. Itu… tertarik. Seolah baru saja menemukan permainan. Rumah ini neraka, ya. Namun neraka selalu punya aturan tak tertulis: yang paling berbahaya bukan api. Melainkan sesuatu yang menunggu dalam gelap dan menganggapmu miliknya. Saat pelayan mengantar Batari menuju kamarnya—ruangan sempit di sudut sayap barat—Batari berhenti di depan cermin besar di lorong. Pantulan dirinya tampak seperti bunga yang mekar di atas tanah kuburan: cantik, pucat, dan keras kepala. “Ibu,” bisiknya pada bayangan sendiri. “Aku akan menjemputmu kembali.” Ia mengangkat dagunya sedikit, seperti memasang mahkota yang tak terlihat. “Meskipun aku harus merangkak keluar dari neraka ini… dengan tangan berdarah.”Pagi itu, kantor hukum Theo di kawasan SCBD terasa lebih mencekam. Di depan gedung, sebuah sedan hitam dengan pelat diplomatik terparkir tenang, namun kehadirannya sudah cukup membuat staf keamanan berdiri tegak. Elio—Sang Pangeran dari Brunei yang dikenal dunia sebagai diplomat santun dan investor bertangan dingin—duduk di ruang kerja Theo dengan punggung tegak tanpa menyentuh sandaran kursi.Theo mendongak dari tumpukan berkasnya, membenarkan letak kacamata dengan gerakan tenang yang sengaja dibuat lambat. "Tuan Elio? Ini masih terlalu pagi untuk kunjungan mendadak. Apakah ada klausul yang ingin Anda ubah?"Elio tidak duduk. Ia berdiri di depan meja Theo, meletakkan kedua tangannya di atas permukaan kayu mahoni itu. "Batari. Di mana dia sekarang?"Theo menghela napas, jemarinya mengetuk pulpen perak dengan ritme yang terjaga. "Beliau sedang di rumah sakit menemani ibunya, Tuan. Saya baru saja akan berangkat ke sana untuk menyerahkan beberapa dokumen legalitas keamanan.""Aku iku
Di ruangan VVIP, Isabel terbaring lemah. Freya menghampiri dengan wajah pucat. “Tante sudah baik-baik saja, beliau hanya syok... kau butuh dokter untuk memeriksa bibirmu, Batari?” tanya Freya, matanya berkaca-kaca melihat kehancuran fisik nonanya.Batari menghampiri ranjang sang ibu. Pertahanan emosinya runtuh. “Mama... Mama... maafkan Batari,” ia terisak, memendam wajahnya di tangan sang ibu yang kurus.Isabel perlahan membuka matanya. Sebuah keajaiban kecil terjadi; matanya tak lagi kosong. Ia mengusap rambut Batari dengan tangan gemetar. “Si mama ang dapat humingi ng tawad… patawarin mo si mama, sayang, kailangan mong tanggapin ang kapalarang ito,” ucapnya dalam bahasa asalnya yang pilu.“Mama yang harus minta maaf... Mama yang memberimu takdir ini... Maafkan Mama, Sayang.”Batari mendongak takjub. Itu adalah kalimat terpanjang dan paling jernih yang diucapkan ibunya selama bertahun-tahun. Kebahagiaan dan kesedihan melebur dalam pelukan itu. Di sudut ruangan, Freya ikut terisak
Setelah merebahkan tubuh Batari di jok penumpang, Victor mengunci pintu mobil secara sentral hingga Batari hanya bisa menatap melalui kaca yang berembun. Tanpa sepatah kata pun, Victor keluar, langkah kakinya yang berat dan sorot matanya yang gelap.Dari dalam , Victor menyeret Adrian keluar. Adrian yang sudah pingsan, wajahnya babak belur bekas pukulan Victor dan tubuhnya terkulai layaknya tumpukan daging tak bernyawa. Kepala Adrian membentur ambang pintu kayu dengan bunyi thud yang menyakitkan, namun Victor tidak berhenti. Di belakangnya, Seline menjerit histeris, suaranya pecah membelah kesunyian rumah tua itu, namun Victor bahkan tidak menoleh. Baginya, teriakan itu hanyalah gangguan yang tidak berarti.Victor tidak mengarahkan mobilnya ke kantor polisi. Dengan ketenangan yang mengerikan, ia menelepon seseorang. Tak lama mereka sampai ke sebuah gudang Tua berbau karat.Victor melempar tubuh Adrian ke aspal, tepat di bawah sorot lampu mobil hitam lain yang sudah menunggu di sana.
Satu minggu bersembunyi di bawah bayang-bayang Victor terasa seperti peti mati bagi harga diri Adrian yang sudah hancur lebur. Reputasinya hangus dan setiap tarikan napasnya kini terasa seperti sedang dicekik oleh tangan tak terlihat.Pintu ruangan terbuka, menampakkan Seline yang masuk dengan riasan yang hancur karena air mata. Ia luruh di depan Adrian, bahunya bergetar hebat."Adrian... Victor benar-benar gila. Dia sudah tidak melihatku lagi," isak Seline, suaranya parau oleh kebencian yang murni. "Matanya hanya tertuju pada Batari. Aku melihat dia mulai merayu Victor kemarin di Gym dan Victor malah memujanya seolah aku ini sampah!"Adrian mencengkeram gelas wiski hingga buku jarinya memutih. "Dia berani membawa jalang itu ke wilayah kita?""Bukan cuma itu! Dia mulai mengikuti jalang itu kemanapun!" Seline mendongak, matanya merah menyala. "Kalau kita tidak menghancurkan Batari sekarang, Victor akan memberikan segalanya padanya. Kakak kan tahu bagaimana Victor, jalang itu tidak
Malam di apartemen mewah itu terasa lebih pekat, seolah-olah kabut dari bukit terlarang ikut terbawa hingga ke pusat Jakarta. Di tengah ruang kerja yang kedap suara, sebuah papan akrilik besar berdiri kokoh layaknya mezbah penghakiman. Cahaya lampu sorot kecil dari langit-langit menjatuhkan bayanga
"Berapa lama lagi kau mau aku jadi pengasuhmu, Adrian? Polisi sudah mondar-mandir di gerbang depan dua kali pagi ini!"Victor membanting gelas wiskinya ke meja marmer, suaranya bergema tajam di ruang tengah yang luas. Matanya yang lelah menatap Adrian yang sedang duduk di sofa kulit, mas
"Lepaskan! Kau binatang, Adrian! Kau pikir uang keluargamu bisa membeli harga diriku?" "Diamlah, Sayang. Nikmati saja. Besok kau akan berterima kasih karena nilaimu mendadak sempurna," suara Adrian di video itu terdengar menjijikkan, disusul suara robekan kain yang kasar. “ AKHHHHHH.” Suara jerit
Mobil sport itu membelah jalanan dengan kecepatan yang nyaris gila. Erick mencengkeram kemudi seolah-olah benda itu adalah leher musuhnya, napasnya menderu berat, tersengal-sengal oleh campuran adrenalin, alkohol, dan pengaruh mistis aroma mawar Lenka. Dahaganya bukan lagi soal minuman; ada rasa l






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
ความคิดเห็น