Compartir

Bab 92

Autor: Syaard86
last update Última actualización: 2026-03-01 21:04:13

Ruang rapat fakultas terasa lebih dingin dari biasanya, seolah dinginnya udara masuk menyusup ke dalam hati Akira. Dia duduk tegak di kursi depan meja panjang, jari-jari rapinya mengepal perlahan.

Di seberangnya, dua dosen dan satu staf administrasi membuka laptop dengan wajah serius namun tetap menjaga sikap profesional.

“Kami tidak ingin mencampuri urusan pribadi,” suara salah satu dosen pelan, hampir seperti bisikan, “tapi isu ini sudah menyentuh nama kampus. Apalagi menjelang wisuda.”
Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Jadi Mama Bohongan? Siapa Takut!   Bab 92

    Ruang rapat fakultas terasa lebih dingin dari biasanya, seolah dinginnya udara masuk menyusup ke dalam hati Akira. Dia duduk tegak di kursi depan meja panjang, jari-jari rapinya mengepal perlahan. Di seberangnya, dua dosen dan satu staf administrasi membuka laptop dengan wajah serius namun tetap menjaga sikap profesional. “Kami tidak ingin mencampuri urusan pribadi,” suara salah satu dosen pelan, hampir seperti bisikan, “tapi isu ini sudah menyentuh nama kampus. Apalagi menjelang wisuda.” Akira mengangguk pelan, bibirnya tipis tertutup rapat. “Saya mengerti, Pak,” jawabnya dengan suara tenang, meski ada ketegangan terselip di balik kalimat itu. Layar laptop diputar menghadapnya, memancarkan cahaya dingin yang menyorot ke wajahnya. Tangkapan layar itu terpampang jelas, foto Arka dan Aluna, disertai potongan chat yang sudah tersebar luas. “Apakah ini benar?” tanya staf administrasi, suaranya pelan dan hati-hati, seolah takut mengguncang suasana. Akira menghela napas panja

  • Jadi Mama Bohongan? Siapa Takut!   Bab 91

    Pagi baru saja menyingkap tirai saat Akira mengeringkan rambutnya. Tiba-tiba ponselnya bergetar tanpa henti, membuat jarinya terpaku sejenak. Grup kampus, grup angkatan, DM berdatangan bertubi-tubi. Namanya terus disebut dengan nada yang bukan cuma penasaran. Jantungnya berdegup lebih cepat, tangan gemetar saat akhirnya membuka salah satu pesan yang sudah diberi tanda puluhan kali. Di layar, tampak tangkapan layar foto Arka dan Aluna di acara keluarga. Di bawahnya, potongan chat antara Arka dan seseorang bernama "A". "Kalau memang harus nikah demi keluarga, aku nggak masalah." "Cinta bisa nyusul." Tanggalnya tertulis empat bulan lalu. Caption unggahan anonim itu tajam menyerang: “Semoga yang sekarang sadar, jangan bangga dulu jadi pilihan terakhir.” Darahnya seolah mengalir ke kaki, berat yang tak terucap memenuhi dadanya. Akira terdiam lama, matanya menempel di layar, menelan setiap kata dengan perih yang menusuk. Naya buru-buru mengangkat telepon, suaranya hampir berter

  • Jadi Mama Bohongan? Siapa Takut!   Bab 90

    Malam itu, suara kota terdengar bising sampai menusuk. Tapi di kamar kecilnya, Akira malah merasa sepi, seperti sedang tenggelam dalam ruang hampa. Ia duduk di tepi kasur, lampu kamar menyala temaram, membiarkan bayangan menari-nari di dinding. Kata-kata Aluna terus berputar dalam kepalanya, menekan seperti rekaman rusak yang tak mau berhenti. "Menikah tanpa cinta itu nggak masalah." "Kamu cuma fase pemberontakan." Jari Akira gemetar saat meraih ponsel. Di layar, nama Arka terpampang jelas. Matanya mengerut, berjuang menahan ragu. Ia bisa saja menunda, pura-pura lupa. Tapi ada sesuatu yang berbisik pelan, diam justru membuat cerita orang lain tumbuh liar, tak terkendali. Dengan napas berat, ia menekan tombol panggil. Satu dering. Dua dering. “Ra?” suara Arka terdengar cepat, penuh harap seperti menunggu lama. “Aku perlu ketemu kamu,” bisik Akira, suaranya tercekat. Hening sesaat, sebelum Arka menjawab, “Oke. Sekarang?” “Iya.” “Aku jemput.” *** Lima belas me

  • Jadi Mama Bohongan? Siapa Takut!   Bab 89

    Suasana mal tetap ramai, tapi di sudut kecil itu, udara terasa begitu pekat, berat menusuk. Akira berdiri tegak, bahunya kaku menghadapi Aluna yang berdiri di depannya dengan senyum tipis yang tak sampai ke matanya. Naya dan Lintang berjaga beberapa langkah di belakang, mata mereka tajam menatap tanpa berkedip. Aluna menarik napas pelan, lalu suaranya mengalir lembut, “Santai aja. Aku nggak akan jambak kamu di tempat umum.” Senyum itu tak lantas mengendur, tapi dinginnya nyaris seperti pisau terselip di balik kata-kata. Naya mendengus kecil, suara kecewanya terselip di antara keramaian, “Sayang banget, padahal gue udah siap live.” Lintang menyikut lengan Naya dengan pelan, bisiknya, “Fokus, Nay.” Akira tetap membalas dengan tenang, matanya tak bergeming. “Kamu mau ngomong apa?” Aluna memiringkan kepala, sorot matanya berubah tajam, menusuk hingga ke dasar. “Aku cuma mau pastikan kamu tahu siapa yang kamu pilih.” Akira diam membisu, tatapannya lurus ke arah Aluna tanp

  • Jadi Mama Bohongan? Siapa Takut!   Bab 88

    Dua hari berlalu sejak keluarga Aluna datang, tapi rumah Pak Surya malah jadi riuh tak karuan. Telepon berdering tanpa henti, notifikasi pesan terus berdatangan di layar ponsel. Diana duduk terpaku di sofa, wajahnya berubah pucat saat membaca satu per satu isi pesan yang berisi pertanyaan penuh rasa penasaran, sindiran halus, bahkan ada yang terang-terangan menyalahkan keluarganya. “Katanya Arka hampir tunangan sama Aluna, kok tiba-tiba pindah ke gadis lain?” “Kasihan Aluna, sudah dipermainkan.” “Benar ya keluarga kalian membatalkan sepihak?” Sambil menghela napas panjang, Pak Surya menatap Diana. “Cepat sekali gosip ini menyebar,” gumamnya pelan. Diana menekan ponselnya dengan jari gemetar. “Weni sudah mulai memutar cerita, seolah-olah Arka yang mempermainkan Aluna, dan kita yang mempermalukan mereka,” ucapnya dengan suara nyaris berbisik, matanya menatap kosong ke depan. Arka berdiri agak menjauh, rahangnya mengeras seolah menahan gelombang emosi yang sulit dijina

  • Jadi Mama Bohongan? Siapa Takut!   Bab 87

    Rumah Pak Surya yang biasanya hening di sore hari tiba-tiba berubah tegang. Sebuah mobil hitam berhenti dengan suara keras di depan pagar, mengusik ketenangan itu. Diana yang tengah sibuk menyusun dokumen wisuda Akira menoleh, matanya terpaku ketika bel berbunyi panjang berulang kali, tak hanya sekali. Pak Surya mengernyit, bibirnya bergetar sedikit. “Siapa sih yang sabarnya setipis itu?” gumamnya, nada suara penuh kekesalan. Pintu terbuka, dan terlihat Aluna bersama kedua orang tuanya berdiri di ambang. Wajah mereka serius, tanpa senyum, tanpa basa-basi. Bu Weni melangkah masuk lebih dulu, langkahnya tegap seolah sudah siap berhadapan. Matanya tajam menatap Diana. “Ini maksudnya apa, Diana?” suaranya dingin menghentak ruang itu. Udara mendadak beku. Arka yang baru saja turun dari lantai atas terdiam kaku di tangga, sementara Akira yang sedang duduk di ruang keluarga otomatis menegakkan tubuhnya, pandangannya sulit menyembunyikan kegelisahan. Pak Surya pun bangkit berdi

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status