LOGINAkira hanya ingin istirahat dari tugas kuliah yang bikin otaknya mendidih. Duduk santai di taman sambil mengunyah roti itu rencananya. Tapi semesta berkata lain. Seorang anak kecil tiba-tiba datang, memeluk kakinya sambil teriak, "Mama!" Lebih gila lagi, si anak ternyata putra dari Pak Arka, dosen killer paling tampan, dingin, dan pelit nilai seantero kampus. Gara-gara insiden absurd itu, Akira malah diseret dalam drama kehidupan sang dosen. Mulai dari pura-pura jadi mama di acara sekolah, jadi pengasuh dadakan, sampai... tinggal satu atap? Awalnya cuma pura-pura. Tapi kenapa hati jadi makin nggak karuan? Jadi mama bohongan? Siapa takut! ...Kecuali kalau hati mulai baper.
View MoreSuara kicau burung bersahutan lembut di antara ranting-ranting pohon, sementara angin sore menyusup lewat celah daun, membawa aroma tanah basah yang menenangkan. Akira duduk terdiam di bangku taman kampus yang hampir kosong, tubuhnya merosot santai sambil menggenggam roti isi telur yang setengah digigit.
Headset bluetooth murahan melingkar di lehernya, satu sisi earbud terlepas dan menggantung, sesekali mengeluarkan suara statis saat mencoba menyambung kembali. Matanya menatap kosong ke arah rerumputan yang berayun pelan, napasnya keluar pelan dan panjang, membebaskan penat yang menumpuk selama tiga hari terakhir. Wajahnya menunjukkan kelelahan, garis-garis gelisah mengintip di sudut mata, namun ada secercah ketenangan yang mulai menyusup menggantikan stres. "Akhirnya bisa napas juga gue," gumamnya lirih, suaranya nyaris tenggelam oleh desir angin. Tangan kanan Akira secara refleks mengusap pelipisnya yang masih terasa tegang, lalu ia menarik napas dalam-dalam sekali lagi, seolah menyerap seluruh damainya sore itu, berharap bisa bertahan sedikit lebih lama sebelum kembali menghadapi dunia yang menuntutnya kembali. "Sebenernya Pak Arka itu dosen apa malaikat maut sih! Galaknya udah ngalahin ibu tiri aja!" gerutu Akira dengan wajah cemberut, matanya menatap tajam ke arah pepohonan rindang di tengah taman. Ia menggigit roti isi sambil menghela napas panjang, frustrasi yang jelas terpancar dari sudut bibirnya yang menahan kesal. "Tampan sih tampan, tapi iritnya itu loh kebangetan," gumamnya pelan sambil menatap ke arah rindangnya pepohonan yang ada di depan sana. "Udah irit ngomong, eh tambah irit nilai juga," lanjutnya, suara Akira nyaris serak karena menahan amarah yang lama terpendam. Ia mengunyah roti itu dengan setengah hati, seolah ingin menelan sekaligus segala beban yang membuatnya jengkel. Matanya lalu melirik ke arah jalan setapak, membayangkan sosok Pak Arka yang selalu berdiri tegak dengan wajah serius dan sorot mata tajam yang bikin semua mahasiswa serasa diawasi dari atas awan. "Pak Arka itu sebenernya suka cewek nggak ya? Perasaan gue nggak pernah denger kalau dia deket sama cewek," pikir Akira sambil mengerutkan dahi. Keraguan itu membuatnya menunduk, lalu kembali menatap roti yang setengah dimakannya. "Atau jangan-jangan para cewek takut deket sama dia," gumamnya lirih, sambil membayangkan reaksi cewek-cewek yang mungkin ciut nyalinya kalau berhadapan dengan Pak Arka. Bayangan itu membuatnya tersenyum miris, seakan pria dengan tatapan dingin itu memang punya aura yang sulit ditembus. Akira baru saja mengangkat sepotong roti ke mulutnya ketika suara cempreng itu memecah keheningan taman. “Mamaaa!!” teriak si bocah dengan penuh semangat. Ia menoleh, matanya membesar, seolah tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Di depannya berdiri seorang anak kecil dengan pipi tembam dan rambut ikal yang berantakan, wajahnya begitu manis sampai membuat hati Akira tiba-tiba mencair tanpa bisa menolak. Tanpa ragu, si bocah langsung melompat dan memeluk kaki Akira dengan erat, suaranya bersemangat, “Horee! Mamaaaa! Aku udah ketemu sama mama!” Sementara itu, Akira hanya bisa terpaku, mulutnya menganga setengah kaku. “W-wait... apa?” gumamnya terbata-bata, penuh kebingungan. Ia menoleh ke kanan dan kiri, mata berkeliling mencari sosok wanita yang semestinya hadir di taman luas itu. Namun, taman itu kosong, tak ada siapa pun selain mereka berdua. Hati Akira berdegup cepat, campuran antara kebingungan dan rasa ingin tahu yang mendalam. Siapa sebenarnya anak ini? Dan di mana mama yang ia cari? Akira menunduk, menatap mata anak kecil yang mulai berkaca-kaca itu dengan hati yang tiba-tiba sesak. Tangannya perlahan melepas pelukan, berusaha menjaga suara agar tetap lembut. "Adek kecil... kamu salah orang. Kakak bukan mama kamu," ucapnya pelan sambil berjongkok agar sejajar dengan anak itu. Namun, kata-kata itu justru memecah keheningan menjadi isak tangis yang pecah, "UWAAAAA...!" Suara tangisnya menggema memenuhi taman kampus itu. Akira terpaku, dadanya naik turun karena panik yang menyeruak tanpa ia sangka. "Ya Tuhan, cobaan apalagi ini," pikirnya dalam hati sambil mengusap keringat di dahinya. Ia menggigit bibir, bingung harus berbuat apa. Anak kecil itu masih menangis tersedu-sedu, wajahnya memerah, bibir gemetar, dan kedua tangan mungilnya menggenggam baju Akira seolah ingin melekat selamanya. "Waduh, mati gue... ini anak siapa sih? Gimana cara ngebujuknya?" bisik Akira dengan suara tercekat, matanya menyapu sekeliling mencari bantuan yang tak kunjung datang. Jangankan mengasuh bayi, pacaran pun belum pernah ia jalani. Akira merasakan detak jantungnya melonjak, jari-jarinya gemetar saat mencoba mengelus punggung anak itu perlahan, berharap air matanya segera berhenti. Ia menarik napas panjang, menundukkan kepala sejenak, lalu menatap anak kecil itu dengan mata penuh campuran rasa iba dan ketidakberdayaan. "Tenang, tenang... Kakak di sini," ucapnya setengah berbisik, berharap suaranya cukup menenangkan. Namun, ketidaktahuannya tentang dunia anak-anak membuatnya semakin cemas, seolah sedang berdiri di tengah badai tanpa perlindungan. Akira menunduk, suara kecilnya berusaha menenangkan, "Ssstt, ssstt... Jangan nangis ya. Kakak nggak jahat kok, kakak orang baik." Tangannya gemetar saat mengusap kepala bocah itu, tapi air mata si kecil malah menetes deras. Hatinya sesak, ingin rasanya ikut melepaskan tangis. "Mak! Tolongin anakmu ini!" jeritnya dengan nada frustasi, sambil merogoh tas mencari sesuatu. Ketemu! Potongan roti isi telur diambilnya dengan tangan yang masih gemetar. "Adek mau roti? Nih, makan dulu ya? Suka telur kan?" katanya pelan. Ajaib, tangisan itu berhenti, anak itu meraih roti sambil sesenggukan. Akira menarik napas lega, menyipitkan mata melihat bocah itu mulai tenang di pangkuannya. Bibir Akira tersungging senyum kecil, tapi pikirannya sibuk mengulur jawaban dalam hati. "Wih, pinter banget sih gue bisa bikin dia kalem. Nggak mungkin hadiahnya panci kan?" gumamnya pelan sambil mengusap dagunya. Tiba-tiba, suara berat memecah keheningan, "AZKA!" Akira cepat menoleh ke sumber suara. Seorang pria tinggi berjalan cepat, rapi dengan kemeja biru tua dan celana hitam. Wajah dinginnya, rahang tegas, dan mata elang tajam membuat seluruh tubuh Akira merinding. Tidak perlu ditebak lagi Pak Arka Dwijaya, dosen killer yang selalu bikin nyali ciut. “Apa yang kamu lakukan pada anak saya!” suara Arka pecah, penuh amarah dan cemas. Akira langsung membeku, tubuhnya kaku seperti patung yang baru saja terpaku dalam kilatan petir. “Anak saya?” Akira mengulang pertanyaan itu dengan bodoh dan panik, matanya melebar seolah mencari-cari alasan yang tepat. Ia lalu cepat menggeleng, suaranya bergetar, “A-aku nggak ngapa-ngapain, Pak! Sumpah deh, demi IPK aku nggak bakal macam-macam!” katanya tergagap, ketakutan menguasai seluruh gerak tubuhnya. Arka, dengan wajah serius namun lembut, menarik anaknya ke dalam pelukan. Anak itu, yang sebelumnya rewel, kini sudah tenang sambil menggenggam sepotong roti di tangannya. Namun, tatapan polosnya tak pernah lepas dari Akira. “Itu Mama…” suara kecilnya terdengar lirih tapi penuh kejujuran. Akira menundukkan kepala, kedua tangannya menutupi wajahnya. Hari sial dimulai.Malam sudah pekat ketika mereka menginjakkan kaki di lobi hotel. Lampu-lampu hangat menggantung, menari pelan di dinding, seakan mengusir lelah yang terlukis jelas di wajah mereka satu per satu. Diana mengembuskan napas panjang sambil merenggangkan bahunya yang kaku. “Finally...” suaranya lirih, sedikit lega. Pak Surya mengangguk pelan, wajahnya lelah tapi puas. “Lumayan juga acaranya.” Arka hanya menatap sekilas ke arah Akira, matanya menelisik dengan cermat. Perlahan, suaranya mengalir lembut. “Sayang, kamu masih oke?” Akira mengangguk pelan, bibirnya tersenyum tipis walau matanya terlihat berat. “Iya... cuma capek.” Arka membalas senyum itu dengan setengah getir. “Ya, itu berarti nggak oke.” Akira mendengus pelan, matanya menyipit menahan rasa tidak nyaman. “Tapi... masih bisa jalan,” ucapnya setengah memaksa. Tiba-tiba, Azka yang dari tadi diam, meraih tangannya dengan nada buru-buru, “Kamarnya di mana?” Arka membalas dengan suara pendek, “Di atas. Kita naik bar
Langkah Aluna yang menjauh meninggalkan jejak kosong di antara keramaian, namun bayangan sosoknya tetap menempel di pikiran Akira, seolah tak mau pergi. Akira berdiri membeku, matanya tak lepas mengawasi punggung Aluna hingga tubuh itu benar-benar tenggelam di balik lautan manusia. Suasana di sekitarnya terasa hening, seolah waktu ikut berhenti sejenak. “Sayang…” suara Arka terdengar lirih, penuh kekhawatiran yang tak tersembunyi. Akira tetap diam, enggan membalas. Napasnya terhenti sebentar sebelum akhirnya menarik napas panjang, berusaha mengendalikan badai perasaannya yang bergejolak di dalam dada. “Kamu dengar sendiri tadi,” suara Arka berubah menjadi lebih berat, menandakan beban yang terasa semakin dalam. “Dan kamu masih mau anggap ini biasa?” Akira perlahan menoleh, tatapannya bertemu dengan Arka. Matanya tenang, namun menyimpan kedalaman perasaan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Ada luka dan penyesalan yang tersembunyi di balik ketenangan itu. “Aku nggak pernah bi
Sore yang perlahan memudar ke senja membawa nuansa hangat dari lampu-lampu temaram yang mulai menyala satu per satu. Cahaya kuning keemasan memeluk ruangan, menciptakan ilusi kehangatan di tengah keramaian yang mulai lengang. Namun di sudut ruangan, Akira berdiri membisu, sosoknya terpisah dari riuh rendah tamu undangan. Tangannya menggenggam gelas kaca bening, namun bibirnya tak pernah menyentuh minuman di dalamnya. Matanya tertuju pada panggung kecil di ujung ruangan, tempat Aluna berdiri dengan anggun. Tatapan Akira sesekali berkelip, penuh perasaan yang sulit diungkapkan antara rindu dan luka yang belum sembuh. Tiba-tiba, sebuah suara lembut memecah keheningan di sampingnya. Arka, dengan sikap santai tapi penuh perhatian, menyentuh bahu Akira. “Masih lihat dia?” tanyanya, nada suaranya ringan tapi penuh arti. Akira tetap diam, membiarkan waktu mengambang di antara mereka. Dalam hening itu, ada pergulatan batin yang sulit dijelaskan. Setelah beberapa detik yang terasa seperti
Kerumunan mulai bergerak dinamis, suara tawa dan obrolan memenuhi udara, menciptakan suasana riuh yang hangat. Orang-orang berlalu-lalang dengan semangat, menikmati momen yang baru saja berlalu dari atas panggung. Namun, bagi Akira, kebisingan itu seolah menjadi latar yang jauh, seperti gelombang yang tidak sampai ke telinganya. Ia duduk dengan tenang di kursi yang disediakan, punggungnya tegak namun bahunya tampak sedikit menurun. Tangan kanannya menggenggam lengan kursi, dingin menyelinap dari ujung jarinya. Wajahnya tetap datar, tanpa ekspresi yang berlebihan, namun ada keheningan yang menyesakkan di balik tatapannya. Di sebelahnya, Arka duduk tanpa suara, dekat sekali. Kehadiran tanpa kata itu malah menjadi penopang yang tak terlihat bagi Akira. Sesekali, Arka menoleh dan menatap mata Akira, memberi isyarat bahwa dia ada, dan dia peduli. “Sayang, kamu oke?” suara Arka lirih, penuh perhatian dan lembut, seolah takut mengganggu kesunyian yang sedang melingkupi Akira. Akira men
Suasana mal tetap ramai, tapi di sudut kecil itu, udara terasa begitu pekat, berat menusuk. Akira berdiri tegak, bahunya kaku menghadapi Aluna yang berdiri di depannya dengan senyum tipis yang tak sampai ke matanya. Naya dan Lintang berjaga beberapa langkah di belakang, mata mereka tajam menata
Dua hari berlalu sejak keluarga Aluna datang, tapi rumah Pak Surya malah jadi riuh tak karuan. Telepon berdering tanpa henti, notifikasi pesan terus berdatangan di layar ponsel. Diana duduk terpaku di sofa, wajahnya berubah pucat saat membaca satu per satu isi pesan yang berisi pertanyaan penuh
Pagi baru saja menyingkap tirai saat Akira mengeringkan rambutnya. Tiba-tiba ponselnya bergetar tanpa henti, membuat jarinya terpaku sejenak. Grup kampus, grup angkatan, DM berdatangan bertubi-tubi. Namanya terus disebut dengan nada yang bukan cuma penasaran. Jantungnya berdegup lebih cepat, tang
Rumah Pak Surya yang biasanya hening di sore hari tiba-tiba berubah tegang. Sebuah mobil hitam berhenti dengan suara keras di depan pagar, mengusik ketenangan itu. Diana yang tengah sibuk menyusun dokumen wisuda Akira menoleh, matanya terpaku ketika bel berbunyi panjang berulang kali, tak hanya s






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.