ログイン"Menebus kesalahan?" Kapten Yu Lei menatap singa raksasa itu dengan heran. Ia dan Luo Han refleks menghentikan serangan ketika mendengar binatang spiritual itu berkata seperti itu. "Apa aku tidak salah dengar?""Aku juga mendengarnya." Luo Han menimpali. Energi Qi kuning yang melapisi pedangnya perlahan meredup. "Dia meminta diberikan kesempatan karena ingin menebus kesalahan."Luo Yunxi berbalik, menatap singa raksasa itu. Gadis itu juga melihat binatang spiritual itu membalas tatapannya. Ia kemudian menoleh ke arah Luo Han dan Kapten Yu Lei. "Tenggorokannya sepertinya terluka. Suara yang barusan dikatakannya parau sekali."Singa Seratus Ribu Tahun itu berusaha bangkit dengan dua kaki depannya yang bergetar hebat, membuat Kapten Yu Lei dan Luo Han mengeratkan genggaman pedangnya. "Tenang saja. Aku sudah tidak memiliki niat sama sekali untuk bertarung," kata singa raksasa itu dengan suara paraunya. "Aku hanya ingin menggunakan Teknik Reinkarnasi untuk menghidupkan kembali orang-orang
Bola Simfoni Yin Yang itu melesat bagai meteor raksasa yang jatuh dari langit, menerjang Singa Seratus Ribu Tahun itu tanpa ampun.Singa Seratus Ribu Tahun itu langsung menyalurkan seluruh energinya ke tenggorokannya, mengaktifkan Teknik Auman sang Raja Rimba, mencoba menahan serangan itu dengan seluruh sisa energi Qi yang dimilikinya. Hanya ini yang bisa dilakukannya, karena binatang spiritual raksasa itu tidak bisa menggerakkan tubuhnya yang terjerat jaring laba-laba Arachna.GROAAAR!Auman bertekanan tinggi dan Bola Simfoni Yin Yang itu bertabrakan, saling menekan dengan kekuatan yang nyaris seimbang. Hingga dalam waktu tujuh tarikan napas kemudian, terjadilah ledakan dahsyat di udara.DUAAAR!Tekanan dari gelombang ledakan itu membuat tanah yang dipijak Singa Seratus Ribu Tahun itu ambrol, membentuk kawah berdiameter sekitar tiga puluh tombak. Sementara nasib singa raksasa itu mengenaskan sekali. Tubuhnya tergeletak lemas di tengah-tengah kawah yang baru saja terbentuk itu, seola
Dengan Ilmu Meringankan Tubuh, Kapten Yu Kai melesat ke arah Singa Seratus Ribu Tahun itu seraya mengayunkan pedangnya secara vertikal.Menyadari serangan itu, singa raksasa itu langsung mengaum. Auman bertekanan tinggi dari binatang spiritual seratus ribu tahun itu membuat tubuh Yu Kai terdorong ke belakang.'Kuat sekali tekanan aumannya!' pekik Yu Kai dalam hati seraya melakukan putaran di udara dan mendarat dengan aman di daratan. Debu-debu yang berterbangan membuat penglihatannya sedikit terhalang.Dari jarak seratus lima puluh tombak di atas daratan, dengan Teknik Pedang langit Luo Han dan Luo Yunxi sedang mengawasi pertarungan antara Yu Kai dan Singa Seratus Ribu Tahun itu, bersiap melakukan serangan Teknik Kombinasi Simfoni Yin Yang ketika mendapat instruksi dari sang kapten.Meski Luo Han kultivasinya hanya Ranah Tinggi Tahap Awal dan Luo Yunxi masih berada di Ranah Lanjutan Tahap Sembilan, kekuatan mereka akan meningkat tujuh kali lipat lebih kuat jika mereka menggabungkan ke
Bab 80 - Kisah Pendekar Yin Yang "Terima kasih atas tawarannya, Ketua," kata Luo Yi dengan tenang. "Namun, kami ingin melanjutkan perjalanan mengembara saja, karena saya merasa masih banyak kegaduhan yang belum ditenangkan." "Baiklah kalau begitu," kata Xuan Lu. "Namun, sebelum kalian pergi, bolehkah aku bertanya sesuatu?" Luo Yi mengangguk. "Silahkan, Ketua." "Sebelum menanyakannya, aku ingin memberitahu bahwa pertanyaan ini mungkin akan sedikit menyinggungmu," kata Xuan Lu. "Ketua tidak perlu khawatir soal itu," kata Luo Yi dengan tenang. "Silahkan tanyakan saja." "Baiklah, maaf ...." Xuan Lu lalu mengambil nafas dalam-dalam sebelum bertanya, "Apakah dantianmu cacat?" Alis Yun Xiao terangkat mendengar itu. Luo Yi menatap Xuan Lu beberapa saat, lalu ia mengangguk dengan tenang. "Benar, Ketua. Dantian saya memang telah cacat sejak lahir, karena saya tidak mampu mewarisi kekuatan orangtua saya." Yun Xiao yang sejak tadi hanya diam menyimak akhirnya tak bisa untuk tidak bertany
Setelah tujuh pembakaran dupa berlalu, akhirnya Xuan Lu membuka matanya. Ia masih terbaring di lantai bambu gazebo taman Paviliun Tamu dengan kepalanya yang kini telah bertumpu pada bantal.Sesaat pandangannya agak buram, lalu perlahan kembali jernih. Ketika ia menyadari bahwa dirinya telah kembali ke dunia nyata, ia langsung beranjak duduk dan menoleh ke kanan dan ke kiri."Apakah aku sudah kembali?" Xuan Lu langsung mencengkeram bantal yang baru saja digunakannya untuk memastikan. Ketika ia berhasil mengangkat bantal itu, ia bernapas lega. "Akhirnya aku telah kembali."Ia lalu menoleh ke kanan dan ke kiri, tetapi ia tidak mendapati dua pemuda yang sebelumnya bersamanya. Xuan Lu kemudian beranjak keluar dari gazebo, lalu tanpa diduga ia melihat Luo Yi dan Yun Xiao duduk di bawah pohon bunga persik. Ia langsung berjalan ke arah mereka.Luo Yi langsung berdiri, begitu pula dengan Yun Xiao. Mereka menangkupkan tinju di depan dada."Selamat datang kembali, Tuan Xuan," kata Luo Yi dengan
Ketua sekte mengerutkan kening. "Kenapa kau mengeluarkan seruling?""Karena seruling ini yang akan menceritakannya pada Anda," jawab Luo Yi dengan tenang.Ketua sekte dibuat semakin heran dengan jawaban Luo Yi, bahkan Yun Xiao yang sudah beberapa hari bersama Luo Yi juga merasa heran."Bagaimana mungkin seruling bisa melakukan itu?" tanya ketua sekte."Tentu saja bisa," jawab Luo Yi dengan tenang. "Dalam setiap alunan nada, terdapat jejak masa lalu. Dari situlah Anda dapat melihat masa lalu." "Aku tidak mengerti maksudmu, tapi mungkin aku akan mengerti setelah kau menunjukkannya," kata ketua sekte. "Silahkan tunjukkan saja."Luo Yi mengangguk, lalu ia meniup seruling perak itu, memainkan nada lembut yang menenangkan jiwa.Mendengar permainan seruling Luo Yi, tiba-tiba ketua sekte teringat sesuatu. "Lagu ini ... sepertinya aku pernah mendengarnya," batin ketua sekte. "Kalau tidak salah ...." Ketua sekte membulatkan matanya ketika teringat sesuatu. "Ini lagu yang terakhir yang dimain
“Setelah pulang dari menjalankan misi, ibu pasti terkejut ketika melihat aku tidak ada di rumah,” batin Luo Yi seraya melangkah ke arah kursi. Sesampainya di depan kursi, ia duduk dengan santai, tetapi hatinya masih berkata-kata. “Ibu pasti mencariku. Aku ingin pulang, tetapi aku belum menguasai Te
“Baik, Guru. Saya sudah siap!” jawab Luo Yi dengan antusias, dalam hati ia bergumam, “Aku akan mengembalikan kehormatan keluargaku, dan aku juga akan menjadi kuat, agar semua orang mengakuiku!”Hua Lianyi menggenggam lembut kedua lengan Luo Yi. “Duduklah dalam sikap lotus!” katanya tenang, seraya m
Jantung Luo Yi berdetak kencang saat suara gemerisik dari semak-semak semakin mendekat. Ia berharap yang muncul bukan hewan buas atau makhluk mengerikan.Namun harapannya sirna, ketika telinganya menangkap suara desisan, suara khas seekor ular.Melihat semak-semak di hutan ini setinggi pohon biasa,
PLAK! Tamparan itu datang sebelum Luo Yi sempat menjelaskan apa pun. “Dasar tidak tahu diuntung!” Luo Yang membentaknya dengan wajah merah padam. “Sudah kubilang berkali-kali untuk tidak usah keluar rumah! Bikin malu saja kau ini!” “Tapi, Ayah—” PLAK! Tamparan keras itu mendarat di pipi Lu







