เข้าสู่ระบบAngin dingin berhembus pelan di Puncak Gunung Baihe. Kabut tipis menggantung di antara pepohonan tua. Dari puncak itu, terlihat seekor bangau putih raksasa beranjak berdiri. Matanya yang tajam menatap Zhang Hao dengan penuh kebencian.Sementara itu, dari jarak dua ratus meter, Yun Xiao mencengkeram dadanya, mencoba meredamkan rasa sakit akibat aura ganas yang bangau raksasa itu pancarkan. Setiap kata yang diucapkan beast seratus ribu tahun itu seperti jarum yang menusuk jantung dan paru-parunya. Napasnya tersendat. Tubuhnya terasa berat, sulit digerakkan. Dirinya yang baru berada di Ranah Lanjutan Tahap Awal tentu tak kuasa menahan aura seganas ini.'Aku harus menjauh lebih jauh lagi. Aura Bangau Putih Seratus Ribu Tahun ini benar-benar ganas sekali,' batin Yun Xiao seraya berusaha melangkahkan kakinya meski tertatih-tatih, setiap langkah ia menjauh, rasa sakit akibat aura ganas itu berkurang.Di sisi lain, Zhang Hao telah bersiap dengan pedang besar yang berada di genggaman tangannya
"Gurumu yang telah meninggal?" ualng Luo Yi.Yun Xiao menganguk, kemudian ia melanjutkan, "Dua tahun lalu ...." Pikirannya kembali ke masa di mana gurunya masih hidup.Waktu itu, tepatnya pada malam yang sunyi di pedalaman Hutan Moyun, yang terletak di sebelah timur laut Kerajaan Li, Yun Xiao sedang duduk di depan api unggun bersama gurunya, Zhang Hao. Meski tampak seperti lima puluhan tahun, usia Zhang Hao sebenarnya adalah seratus tujuh puluh enam tahun.Sambil menatap api unggun, Yun Xiao membuka suara. "Guru, kenapa kau menyelamatkanku dan mengangkatku menjadi murid?"Pertanyaan itu membuat Zhang Hao teringat saat pertama kali melihat Yun Xiao menyelamatkan seekor kancil dari lilitan ular sanca. Sambil mengelus-elus jenggotnya, ia menatap bocah dua belas tahun itu seraya menjawab, "Karena kau anak yang baik.""Apakah hanya karena itu?" tanya Yun Xiao.Zhang Hao menjelaskan, "Dunia kultivasi yang kejam ini membutuhkan seseorang yang berhati mulia sepertimu. Kancil saja kau selamatk
"Berapa usiamu, Tuan Muda Xiao?" tanya Chen Kai."Empat belas tahun, Paman," jawab Yun Xiao.Chen Kai menatap wajah Yun Xiao dengan serius, mencoba mencari tanda-tanda kebohongan di sana, tetapi ia tidak menemukannya sedikit pun.Ia kemudian menoleh ke arah Luo Yi seraya bertanya, "Lalu, berapa usiamu, Tuan Muda Luo?""Usia saya tujuh belas tahun, Paman," jawab Luo Yi dengan tenang.Mendengar Luo Yi menjawab dengan setenang itu, Chen Kai juga kesulitan mencari tanda-tanda kebohongan dalam diri pemuda itu. Namun, ia juga sulit percaya pada jawaban mereka.Chen Kai bisa merasakan aura Ranah Tinggi Tahap Delapan dalam diri Yun Xiao, tetapi ia sama sekali tidak dapat merasakan aura kultivasi dalam diri Luo Yi.Ia lalu kembali menatap Yun Xiao dan bertanya, "Bagaiman caramu menerobos ke Ranah Tinggi Tahap Delapan di usia semuda itu?""Apa?!" kata Chen Lao dan Tang Yue secara bersamaan, terkejut. Pasalnya, ranah setingi itu kekuatannya setara dengan jenderal kerajaan. "Ranah Tinggi Tahap De
Halaman Kediaman Tabib Chen mulai tenggelam dalam sunyi. Chen Jia tak lagi bertanya, ia hanya diam memperhatikan Luo Yi yang tampak terpaku menatap langit jingga yang mulai memudar. Cahaya senja menyapu wajah tenang pemuda itu, menciptakan bayangan panjang di atas tanah."Kakak Yi, hari sudah sore. Ayo kita masuk," ajak Chen Jia memecah keheningan seraya beranjak berdiri.Luo Yi menoleh pelan, tersenyum tipis. "Kau duluan saja."Chen Jia mengangguk patuh. Namun, tepat saat ia hendak berbalik, dua sosok muncul di pintu gerbang. Mata bocah itu seketika berseri, beban di pundaknya seolah menguap saat melihat siapa yang datang."Ayah! Ibu!"Tanpa menunggu lama, Chen Jia berlari kencang, menyambut kedatangan mereka dengan penuh suka cita.Sepasang pria dan wanita yang tampak berusia dua puluh lima tahunan itu tersenyum, lalu memeluk Chen Jia saat anak itu berada di hadapan mereka."Benarkah kau sudah bisa mendengar, Nak?" tanya Tang Yue, ibu Chen Jia."Iya, Ibu, aku sudah bisa mendengar,"
Setelah mengirim bayangan untuk mengawasi tubuh Yin Yao, Luo Yi turun dari ranjang dan keluar dari kamar itu. Ia membiarkan Yun Xiao yang masih berkultivasi.Luo Yi mendapat kabar bahhwa orang tua Chen Jia akan datang sore ini.Sebelumnya juga Chen Lao menyuruh Luo Yi dan Yun Xiao untuk menginap di kediamanya malam ini, karena kedua orang tua Chen Jia mengirim pesan bahwa mereka ingin bertemu dengan penyelamat putra mereka.Luo Yi pun menyetujuinya dengan senang hati, karena tugasnya di sini juga belum selesai. Meskipun tugas menyembuhkan Chen Jia sudah selesai, tetapi ia masih harus mengawasi dan menjaga tubuh Yin Yao, karena jiwanya masih berada dalam dunia ilusi.Ia dapat memperkirakan, bahwa iblis yang dulu menyelamatkan Yin Yao itu akan datang untuk membunuh pria itu, karena setelah Yin Yao keluar dari dunia ilusinya, maka ia sudah bukan lagi kultivator aliran gelap.Jika bayangan cahaya yang ia kirim melihat datangnya iblis itu, maka saat itu juga ia akan menyegelnya.Saat melih
Bertepatan dengan Ting Ting Xir yang ingin memainkan seruling hitam, ketujuh bayangan itu membuat segel tangan, mengaktifkan Teknik Ilusi Bayangan Cahaya.Seketika, cahaya yang sangat terang terpancar dari tubuh ketujuh bayangan cahaya itu, membuat Ting Ting Xir tak bisa untuk tidak menutup mata karena saking silaunya. Pria itu bahkan tidak sempat memainkan seruling hitamnya.Merasa cahaya yang sangat terang itu kini telah sirna, Ting Ting Xir membuka matanya perlahan. menyadari tempat ia berdiri kini telah berbeda dari sebelumnya, seketika matanya langsung melebar, karena sejauh mata memandang, yang ia lihat hanyalah padang pasir."Di mana ini?" ujarnya seraya memutar tubuhnya ke segala arah dengan gelisah.Lalu, sebuah suara tanpa rupa tiba-tiba menggema dari arah langit. "Selamat datang di dunia ilusiku."***Siang itu, dalam sebuah kamar di Kediaman Tabib Chen, terlihat Luo Yi sedang duduk bersila di atas ranjang dengan kedua mata terpejam.Di sampingnya, Yun Xiao juga melakukan h
Setelah Luo Yi selesai memainkan seruling, Yun Xiao bertanya pada bocah di hadapannya. "Apakah sekarang kau sudah bisa mendengar, Jia'er?" Dalam satu tarikan nafas, mata Chen Jia seketika berbinar-binar. "Aku bisa mendengar!" Ia kemudian menoleh ke arah Chen Lao. "Paman, aku bisa mendengar lagi."
"Tidak mungkin!" gumam Yun Xiao lirih. Ia tidak menyangka Teknik Pelepas Energinya akan gagal. Luo Yi merasa ada sesuatu yang janggal. Ia pun langsung mengaktifkan Teknik Mata Cakrawala, dan yang ia lihat, ternyata ada aliran energi hitam sangat halus dari arah barat laut, yang terus-menerus meran
Di Lembah Batu Hitam yang sepi, seorang pria yang tampak berusia dua puluh tujuh tahun, mengenakan jubah merah, sedang berjalan-jalan dengan santai. Dinamakan Lembah Batu Hitam karena terdapat banyak sekali batu-batu berwarna hitam pekat di daerah ini. Batu-batu tersebut dipercaya memiliki energi
Luo Yi tetap membuka pintu rumah kayu itu dan melangkah masuk ke dalam seraya berkata, "Kau tenang saja. Ketujuh bayangan cahayaku masih aktif dan masih berjaga di setiap sudut hutan. Jika salah satu bayanganku ada yang melihat musuh, maka aku akan langsung mengetahuinya. Sebab, antara aku dan baya







