Mag-log inAleea tak menyangka keberadaanya sekaranh kini terlihat lebih menakutkan dibanding skripsinya yang tak kunjung selesai. Di sekelilingnya, duduk beberapa golongan laki-laki dan perempuan, dimulai dari yang tua sampai bayi pun ada. Namun yang terutama, semua pria tua disana bukan orang sembarangan, mereka adalah para sesepuh kampung dan pemuka agama dari beberapa desa.
Mereka terlihat asik bercengkrama saling melempar kata yang Aleea dengar sangat berbobot, dan daging sekali dalam beradu argumen.Namun bukan itu keresahannya saat ini. Tepat di hadapannya, duduk sesosok yang sesekali menatapnya dengan sorot tak suka. Sosok yang secara sengaja tadi ia halangi saat hendak menghampiri sahabatnya itu.Aleea benar-benar ingin kabur dari tempat itu sekarang juga, namun tangan sang abah yang selalu memegangnya membuat Aleea tak bisa kemana-mana, seolah abahnya itu tahu bahwa ia akan melarikan diri dari sana."Nak Wildan bagaimana kabarnya? Masih betah sendiLayla merasakan hatinya bergemuruh kencang diiringi dengan geliat resah di dalam dirinya. Entah mengapa, ia ingin perjalanannya ke rumah mertuanya lebih lama lagi, namun nyatanya jarak rumah mertuanya begitu dekat karena hanya terbatas area persawahan dan perkebunan yang cukup luas.Layla menghembuskan nafas lelah entah untuk yang keberapa kalinya, seolah beban di benaknya tak kunjung hilang dan terus menyesakkan dadanya. Raffa yang sedari tadi menyetir mobil hanya mampu menoleh tanpa mengeluarkan suara, meskipun dalam benaknya ia ingin sekali menanyakan keadaan Layla."Kamu baik-baik saja?" tanya Raffa memecah keheningan.Layla termenung sejenak, lantas mengangguk menjawabnya, "Iya mas," lirihnya pelan, hampir tak terdengar."Kamu tenang aja, keluarga saya baik-baik dan menerima kamu sebagai anggota keluarga baru mereka." kata Raffa menenangkan, namun entah mengapa perkataan itu tak membuat hatinya tenang, ada banyak gemuruh di hatinya yang tak bisa dijabarkan dan hanya ditenangkan h
Ijab qabul telah diucapkan, suasana nampak riuh dengan beberapa obrolan serta ucapan do'a yang dipanjatkan. Pengantin wanita muncul ke depan menyita perhatian seluruh orang. Raffa tak bisa menyembunyikan senyum gugupnya kala menatap wajah Layla yang begitu cantik dengan balutan gaun putih dan hijab yang sederhana. Wajahnya menunduk, tak berani mendongak karena rasa malu yang menghantuinya, namun Raffa tak peduli, nyatanya Layla terlihat cantik meskipun wanita itu berusaha menyembunyikannya.Kini Layla berdiri di hadapan Raffa, semakin tertunduk dan canggung enggan menatap wajah di sekitarnya. Hingga sentuhan lembut di punggung tangannya menyentak dirinya dan membuat dirinya menatap sosok di hadapannya.Layla melihatnya, sorot tulus dan senyum bahagia Raffa yang diam-diam menyusupkan debarag asing di dadanya. Tak lama, Raffa mendekat, mencondongkan tubuhnya seraya menarik belakang kepala Layla lembut, bibirnya melafalkan do'a di puncak kepala sang istri.Layal tak bisa menahan debaran
Beberapa saat yang laluKeadaan rumah Pak Usman masih terasa tegang, meskipun kemarahan dan kepanikan mulai mereda. Beberapa pria duduk berkumpul, membahas nasib Layla yang masih terbaring tak sadarkan diri. Ustadz Khairil hadir kembali, menatap serius ke arah para warga yang berdiskusi dengan nada tinggi."Jadi gimana bapak-bapak? Apa sanksi yang setimpal untuk Layla?" Nisa memotong dengan amarah, suaranya bergetar."Diam Nisa, kita tidak akan gegabah. Suami kamu menghilang, dan Layla belum sadar," Pak Usman menimpali, mencoba membela anaknya.Nisa mendengus, "Tapi saya gak ridho kalau dia hidup tenang! Dia harus diberi pelajaran.""Lalu apa yang harus Layla terima? Kalau terbukti berzina, biarkan suami kamu yang bertanggung jawab," ucap Pak RT menyela."Saya tidak setuju!" Raffa menolak keras jika Layla dinikahkan dengan Reza. "Kalau status jandanya Layla jadi masalah, maka saya yang bertanggung jawab. Saya yang akan menikahi Layla." ujar Raffa lantang, mengejutkan semua orang yang
Sebelumnya, Layla tak pernah merasakan malam yang begitu mencekam. Namun malam ini, terasa berbeda. Ada hal yang ditunggunya bersama beberapa orang di rumahnya, sebuah bukti untuk mengeluarkannya dari jerat fitnah yang menimpanya.Layla pasti yakin, foto tersebut hasil rekayasa semata. Karena bagaimana pun ia sendiri tidak pernah melakukan hal tersebut. Berfoto dalam busana tertutup pun ia jarang lakukan, apalagi berfoto tanpa busana dengan senyum lebar dengan tatapan menggoda. Layla tak seberani itu.Entah apa yang dilakukan Reza sehingga dengan tega memfitnahnya, bahkan setelah sebelumnya mencoba melecehkannya. Layla merasa hancur, terlebih ketika orang-orang meragukannya dan lebih mempercayai tuduhan lelaki itu.Dalam sujudnya, Layla berdo'a, memohon dalam sujudnya agar permasalahan ini segera menemukan titik terangnya.Setelah menyelesaikan ibadahnya, Layla segera beranjak lalu menyimpan kembali mukena putihnya dengan rapi. Nafasnya masih tera
"Assalamu'alaikum, Pak Usman, ada apa ramai seperti ini?" tanya Raffa yang sejak kedatangannya di rumah Pak Usman dilanda penasaran karena hadirnya banyak orang. Terlebih akan suara jeritan yang menyayat hati bagi yang mendengarnya.Kedatangannya sebagai salam perpisahan dengan Layla menjadi berubah saat ia melihat sosok yang dicintainya berada dalam kondisi yang memprihatinkan.Layla terlihat lebih kurus dengan penampilan yang sangat berantakan. Wajah sembab dengan lingkaran hitam di sekitar mata, serta hijabnya yang acak-acakkan membuat hati Raffa mencelos seketika."Ada apa, Di?" tanya Raffa kepada Ardi disaat tak ada yang menjawab pertanyaannya.Dengan ragu, Ardi menyerahkan ponsel Nisa yang masih berada di tangannya, "Bang Raffa.. bisa perhatikan apa foto ini asli atau editan?"Raffa menatap ponsel tersebut, lalu matanya membulat tak percaya dengan apa yang baru saja ia lihat. Dalam hati, ia mengucap istigfar dengan benak yang mencelos mendengar isak Layla yang tak jauh darinya.
Di depan sana, muncul Nisa yang dengan wajah penuh amarahnya menghampiri Pak Usman yang terkejut. Perempuan itu tanpa mengucapkan salam dan malah meneriaki nama anaknya langsung menerobos masuk tanpa sopan santun.Ustadz Khairil yang saat itu tenga berbincang ringan dengan Pak Usman ikut terkejut dan melihat kembali perempuan yang waktu itu ada dalam kejadian yang menimpa menantunya."Ada apa kamu datang kesini langsung marah-marah?!" tanya Usman berang. Usman yang sudah tahu akan kejadian yang menimpa anaknya merasa marah karena Nisa datang mengacau disaat kondisi Layla masih terpuruk.Fatma dan Firda terlihat jeluar dari kamar untuk mengetahui penyebab kegaduhan terjadi."Mana anak perempuan bapak yang sok suci itu?! Aku harus memberi pelajaran kepada perempuan gatal itu!""Bicara apa kamu?! Mulut kotormu tidak pantas mengata-ngatai anakku!" ujar Usman dengan dada yang naik turun pertanda tengah emosi."Mulut kotorku jauh lebih







