Chapter: 28Ijab qabul telah diucapkan, suasana nampak riuh dengan beberapa obrolan serta ucapan do'a yang dipanjatkan. Pengantin wanita muncul ke depan menyita perhatian seluruh orang. Raffa tak bisa menyembunyikan senyum gugupnya kala menatap wajah Layla yang begitu cantik dengan balutan gaun putih dan hijab yang sederhana. Wajahnya menunduk, tak berani mendongak karena rasa malu yang menghantuinya, namun Raffa tak peduli, nyatanya Layla terlihat cantik meskipun wanita itu berusaha menyembunyikannya.Kini Layla berdiri di hadapan Raffa, semakin tertunduk dan canggung enggan menatap wajah di sekitarnya. Hingga sentuhan lembut di punggung tangannya menyentak dirinya dan membuat dirinya menatap sosok di hadapannya.Layla melihatnya, sorot tulus dan senyum bahagia Raffa yang diam-diam menyusupkan debarag asing di dadanya. Tak lama, Raffa mendekat, mencondongkan tubuhnya seraya menarik belakang kepala Layla lembut, bibirnya melafalkan do'a di puncak kepala sang istri.Layal tak bisa menahan debaran
Last Updated: 2025-12-26
Chapter: 27Beberapa saat yang laluKeadaan rumah Pak Usman masih terasa tegang, meskipun kemarahan dan kepanikan mulai mereda. Beberapa pria duduk berkumpul, membahas nasib Layla yang masih terbaring tak sadarkan diri. Ustadz Khairil hadir kembali, menatap serius ke arah para warga yang berdiskusi dengan nada tinggi."Jadi gimana bapak-bapak? Apa sanksi yang setimpal untuk Layla?" Nisa memotong dengan amarah, suaranya bergetar."Diam Nisa, kita tidak akan gegabah. Suami kamu menghilang, dan Layla belum sadar," Pak Usman menimpali, mencoba membela anaknya.Nisa mendengus, "Tapi saya gak ridho kalau dia hidup tenang! Dia harus diberi pelajaran.""Lalu apa yang harus Layla terima? Kalau terbukti berzina, biarkan suami kamu yang bertanggung jawab," ucap Pak RT menyela."Saya tidak setuju!" Raffa menolak keras jika Layla dinikahkan dengan Reza. "Kalau status jandanya Layla jadi masalah, maka saya yang bertanggung jawab. Saya yang akan menikahi Layla." ujar Raffa lantang, mengejutkan semua orang yang
Last Updated: 2025-12-10
Chapter: 26Sebelumnya, Layla tak pernah merasakan malam yang begitu mencekam. Namun malam ini, terasa berbeda. Ada hal yang ditunggunya bersama beberapa orang di rumahnya, sebuah bukti untuk mengeluarkannya dari jerat fitnah yang menimpanya.Layla pasti yakin, foto tersebut hasil rekayasa semata. Karena bagaimana pun ia sendiri tidak pernah melakukan hal tersebut. Berfoto dalam busana tertutup pun ia jarang lakukan, apalagi berfoto tanpa busana dengan senyum lebar dengan tatapan menggoda. Layla tak seberani itu.Entah apa yang dilakukan Reza sehingga dengan tega memfitnahnya, bahkan setelah sebelumnya mencoba melecehkannya. Layla merasa hancur, terlebih ketika orang-orang meragukannya dan lebih mempercayai tuduhan lelaki itu.Dalam sujudnya, Layla berdo'a, memohon dalam sujudnya agar permasalahan ini segera menemukan titik terangnya.Setelah menyelesaikan ibadahnya, Layla segera beranjak lalu menyimpan kembali mukena putihnya dengan rapi. Nafasnya masih tera
Last Updated: 2025-12-02
Chapter: 25"Assalamu'alaikum, Pak Usman, ada apa ramai seperti ini?" tanya Raffa yang sejak kedatangannya di rumah Pak Usman dilanda penasaran karena hadirnya banyak orang. Terlebih akan suara jeritan yang menyayat hati bagi yang mendengarnya.Kedatangannya sebagai salam perpisahan dengan Layla menjadi berubah saat ia melihat sosok yang dicintainya berada dalam kondisi yang memprihatinkan.Layla terlihat lebih kurus dengan penampilan yang sangat berantakan. Wajah sembab dengan lingkaran hitam di sekitar mata, serta hijabnya yang acak-acakkan membuat hati Raffa mencelos seketika."Ada apa, Di?" tanya Raffa kepada Ardi disaat tak ada yang menjawab pertanyaannya.Dengan ragu, Ardi menyerahkan ponsel Nisa yang masih berada di tangannya, "Bang Raffa.. bisa perhatikan apa foto ini asli atau editan?"Raffa menatap ponsel tersebut, lalu matanya membulat tak percaya dengan apa yang baru saja ia lihat. Dalam hati, ia mengucap istigfar dengan benak yang mencelos mendengar isak Layla yang tak jauh darinya.
Last Updated: 2025-11-26
Chapter: 24Di depan sana, muncul Nisa yang dengan wajah penuh amarahnya menghampiri Pak Usman yang terkejut. Perempuan itu tanpa mengucapkan salam dan malah meneriaki nama anaknya langsung menerobos masuk tanpa sopan santun.Ustadz Khairil yang saat itu tenga berbincang ringan dengan Pak Usman ikut terkejut dan melihat kembali perempuan yang waktu itu ada dalam kejadian yang menimpa menantunya."Ada apa kamu datang kesini langsung marah-marah?!" tanya Usman berang. Usman yang sudah tahu akan kejadian yang menimpa anaknya merasa marah karena Nisa datang mengacau disaat kondisi Layla masih terpuruk.Fatma dan Firda terlihat jeluar dari kamar untuk mengetahui penyebab kegaduhan terjadi."Mana anak perempuan bapak yang sok suci itu?! Aku harus memberi pelajaran kepada perempuan gatal itu!""Bicara apa kamu?! Mulut kotormu tidak pantas mengata-ngatai anakku!" ujar Usman dengan dada yang naik turun pertanda tengah emosi."Mulut kotorku jauh lebih
Last Updated: 2025-11-20
Chapter: 23Sudah dua hari Raffa menghabiskan waktunya di rumah sakit. Kondisi bapaknya yang belum sadar membuatnya begitu khawatir dan berharap sang bapak segera sadar. Hari ini seharusnya ia kembali ke Jogja untuk kembali melakukan rutinitas mengajarnya disana. Namun karena keadaan darurat seperti ini, Raffa bersama Aleea memutuskan untuk menunda keberangkatannya beberapa hari. Saat ini Raffa tengah sendirian menunggu Sudirman di ruang rawatnya. Aleea sendiri saat ini masih berada di rumah sebelum siang nanti ia datang dan mengganti Raffa berjaga sementara pamannya itu beristirahat di rumah. Raffa menghela nafas gusar, entah kenapa ia merasa gelisah tanpa alasan. Lelaki itu kemudian menatap bapaknya yang terbaring di atas ranjang, mungkin karena sang bapak yang belum juga sadar, menjadikan perasaannya semakin gelisah tak menentu. Tak lama, pintu diketuk, lalu terbuka menampakkan dua orang yang dikenalnya. Salma, sang kakak nampak berjalan menghampiri ranjang bapaknya. Anak pertama Sudirm
Last Updated: 2025-11-15
Chapter: 39 Lukman tak bisa berkata-kata, keputusannya untuk mengikuti anak dan menantunya setelah mengantar dirinya ke rumah ternyata membawanya pada suatu hal yang selama ini ditakutinya. Jauh di seberang sana, ia dapat melihat mobil menantunya yang berhenti di depan gerbang cukup lama, entah apa yang anak dan menantunya lakukan karena mobil tak kunjung memasuki halaman rumah. Namun, melihat Anna yang keluar dengan raut wajah marah, diiringi mobil menantunya yang melaju meninggalkan rumah membuat Lukman semakin terkejut melihatnya. Lukman tak bisa membiarkan kebingungan melanda dirinya, ia menyuruh sopir mendekat lalu berhenti di depan gerbang rumah anaknya. Disana, ada satpam yang langsung sigap menghampirinya. "Enggak masuk ke dalam, pak?" tanya satpam yang mengenal Lukman sebagai ayah dari majikan perempuannya. Ia melihat Lukman yang hanya menatap ke dalam melalui kaca mobilnya di luar sana. "Kenapa Tama tidak pula
Last Updated: 2025-11-30
Chapter: 38Di dalam ruangan Tama, Zara duduk di sofa dengan gelisah . Sudah beberapa menit ia menghabiskan waktunya disana sendirian, dan Tama tidak kunjung menunjukkan batang hidungnya.Zara merasa kesal sendiri, di luar juga tidak ada sosok Juan yang berkata akan berdiam menemaninya saja. Sepertinya lelaki itu meninggalkannya sendirian di lantai itu.Dan kini Zara mencoba menunggu kedua lelaki itu datang kembali ke ruangan itu, namun sebuah pesan yang dikirim Tama membuat kekesalannya semakin menjadi.'Sayang, maafkan aku karena telah meninggalkanmu sendirian disana. Ayah mertuaku memaksa untuk datang ke ruanganku namun aku berhasil mencegahnya. Kamu sekarang pulang sendiri dulu, nanti aku menyusul.'Zara berdecak, lalu beranjak dari sana setelah membalasnya dengan pesan singkat. 'Ya.' Ia terlalu malas meneror Tama dengan pesan berantainya, karena saat ini ia benar-benar kesal.Zara memutuskan untuk menaiki taksi dan pulang ke tempat ibunya. Biar
Last Updated: 2025-11-21
Chapter: 37Sore hari, Zara keluar dari ruangan divisinya lalu disambut Juan di lobi lantai satu. Lelaki itu membawa Zara ke basement dan memasuki lift khusus presdir yang langsung menuju ke ruangannya."Oh ya, Pak Tama masih menyelesaikan meetingnya, mungkin sekitar 10 sampai 20 menit lagi selesai. Mau ku buatkan minuman?""Gak usah, pak." jawab Zara sopan mengingat saat ini ia masih berada di tempat kerja.Juan mengagguk lalu duduk di sofa sebelah.Suasana di dalam ruangan terasa hening, terlebih Zara merasa tak nyaman dengan kehadiran Juan di sampingnya."Ehm, Pak Juan... Kalau mau pulang silahkan, tidak perlu menemani saya disini." ujar Zara mempersilahkan Juan pergi jika kehadirannya disana hanya sekedar menemaninya yang sendirian."Benarkah? Kau berani tinggal disini sendirian?" tanya Juan menantang.Zara mengangguk meskipun agak sedikit ragu di dalam tatapannya, ruangan luas itu nampak tenang dengan interior mewahnya, meskip
Last Updated: 2025-11-17
Chapter: 36Zara kembali ke apartemen setelah ia selesai mengajari Davin di rumahnya. Ia pergi dengan terburu-buru mengingat perlakuan diam-diam Tama yang semakin menjadi kepada dirinya.Karena sejak kedatangan lelaki itu, Tama tak berhentinya mencari celah untuk mendekatinya dan melakukan sentuhan-sentuhan samar yang membuat Zara kalang kabut.Akal sehatnya menentang perlakuan Tama yang bisa menimbulkan kecurigaan dari Anna yang tengah berada di tempat yang sama.Kini, Zara memutuskan untuk membereskan apartemen seorang diri mengingat ia tak punya pekerjaan lain. Ia mulai membuka semua gorden yang tertutup sehingga cahaya dapat masuk ke dalam ruangan yang luas itu.Seluruh ruangan Zara bersihkan hingga tak ada debu yang beterbangan atau menempel di atas permukaan.Hingga kemudian, Zara membawa tubuhnya ke ruang kerja milik Tama dimana ruangan tersebut yang belum dibersihkan. Karena rencananya, Zara akan menghabiskan waktunya disana setelah pekerjaan bersih-bersihnya selesai. Ia ingin membaca buk
Last Updated: 2025-11-14
Chapter: 35Di akhir pekan, Zara kembali ke rutinitasnya sebagai guru les sesuai permintaan-lebih tepatnya dipaksa-orang tua Davin. Ia akan mengunjungi rumah Davin yang dimana adalah rumah Utama sendiri bersama sang istri.Zara meringis akan pikirannya, bukankah saat ini ia sama saja tengah memasuki kandang singa? Zara tidak tahu apakah disana Tama memang sengaja memasang perangkap untuk menjebaknya? Atau untuk apa? Bukankah lelaki itu sendiri yang memaksa Zara agar kembali menerima tawaran mengajarnya? Untuk apa? Untuk meyakinkan dirinya kembali bahwa posisinya kini hanya sebagai simpanannya saja? Begitukah?Zara merasakan cubitan kecil di ulu hatinya, entah kenapa kini ia merasa tak rela jika lelaki yang telah membuatnya nyaman itu memiliki keluarga di depan sana, sementara dirinya, hanya bisa terus bersembunyi di balik dinding tak kasat mata membayangi punggung lelaki itu.Motor yang ditumpangi Zara akhirnya terhenti di depan gerbang yang lebar dan menjulang tinggi
Last Updated: 2025-11-13
Chapter: 34Zara duduk tak nyaman di kursinya setelah kejadian beberapa saat lalu. Keduanya banyak terdiam, terlebih Daniel yang terlihat murung membuat Zara semakin dilanda perasaan bersalah.Hingga kemudian, seseorang nampak menghampiri mereka. Lalu menyapanya dengan senyum ramahnya, "Zara? Sarapan disini? Gue ikut gabung, boleh?" "Inara? Boleh.. sini duduk." ucap Zara setelah melihat Daniel yang tak keberatan akan kehadiran orang lain di meja mereka.Inara pun duduk di samping kursi Zara dan menatap penasaran akan sosok lelaki asing yang tengah berbicara bersama sahabatnya."Kak Daniel, kenalin temanku, Inara." ucap Zara mengenalkan kedua temannya."Daniel Santoso...""Inara Rusman."Keduanya berjabat tangan beberapa saat sebelum melepasnya kembali."Bukan artis, kan kamu?" tanya Daniel mengingat nama yang hampir mirip dengan seorang artis yang tak asing di telinganya.Inara menggeleng, "Bukan... Agak mirip sih
Last Updated: 2025-11-12