MasukKoridor menuju Kamar 101 terasa lebih panjang dari biasanya.
Setiap langkah yang Riana ambil di atas lantai marmer dingin mengirimkan sensasi aneh yang menjalar naik ke perutnya. Ia mengenakan slip dress satin hitam selutut, dibalut kimono luar yang senada. Dari luar, ia terlihat elegan dan tertutup.
Namun, Riana tahu apa yang—atau lebih tepatnya, apa yang tidak—ada di balik kain satin itu.
Angin malam yang berhembus dari ventilasi l
Ada jenis keheningan yang menenangkan, seperti suasana pagi di pegunungan. Lalu ada jenis keheningan yang menyiksa, seperti saat ini.Dua hari.Sudah empat puluh delapan jam sejak insiden di parkiran Pasar Modern. Sejak saat itu, Galih Prasetyo berubah menjadi hantu.Dia ada di kos. Riana tahu itu. Ia melihat lampu kamar 101 menyala di malam hari. Ia mendengar suara air keran kamar mandi dinyalakan di pagi buta. Ia bahkan mencium aroma sabun sea salt yang tertinggal samar di koridor.Tapi Galih tidak terlihat.Dia berangkat kuliah atau kerja sangat pagi, sebelum Riana bangun. Dia pulang sangat larut, saat Riana sudah menyerah menunggu di sofa ruang tamu. Pesan WhatsApp Riana? Hanya centang dua biru. Dibaca, tapi tidak dibalas. Telepon? Rejected.Riana merasa seperti orang gila.Ia duduk di meja makan rumah induknya yang megah, menatap piring di depannya.Di atas piring porselen itu tergeletak Wagyu Steak A
Pasar Modern di kawasan elit itu ramai oleh hiruk-pikuk akhir pekan. Aroma kopi yang baru digiling bercampur dengan dinginnya udara AC sentral.Riana mendorong troli belanja yang sudah separuh penuh, sementara Galih berjalan di sampingnya.Pemandangan ini menipu.Bagi orang asing yang melihat sekilas, mereka tampak seperti pasangan muda yang serasi. Riana mengenakan jumpsuit denim kasual yang memeluk tubuh, rambutnya diikat cepol asal-asalan namun stylish. Galih mengenakan kaos polo hitam yang pas badan dan celana chino, memperlihatkan lengan berototnya yang terbentuk sempurna.Tidak ada kacamata tebal hari ini. Galih memakai lensa kontak—atas paksaan Riana sebelum berangkat tadi."Ambilin beras yang 10 kilo dong, Ganteng," Riana menunjuk rak bagian bawah.Galih tidak membantah. Dengan satu tangan, ia mengangkat karung beras itu seolah seringan bantal, lalu meletakkannya ke dalam troli dengan bunyi buk yang m
Koridor menuju Kamar 101 terasa lebih panjang dari biasanya.Setiap langkah yang Riana ambil di atas lantai marmer dingin mengirimkan sensasi aneh yang menjalar naik ke perutnya. Ia mengenakan slip dress satin hitam selutut, dibalut kimono luar yang senada. Dari luar, ia terlihat elegan dan tertutup.Namun, Riana tahu apa yang—atau lebih tepatnya, apa yang tidak—ada di balik kain satin itu.Angin malam yang berhembus dari ventilasi lorong menyapu pahanya, mengingatkan Riana bahwa ia sedang menuruti perintah gila Galih: Jangan pakai celana dalam.Rasanya memalukan, tapi juga memabukkan. Ia merasa telanjang meski berpakaian lengkap. Ia merasa menjadi milik seseorang.Riana berhenti di depan pintu 101. Ia mengangkat tangan untuk mengetuk.Pintu terbuka sebelum tinjunya menyentuh kayu.Galih berdiri di sana.Ia mengenakan kemeja hitam yang sama dengan tadi sore, tapi kali ini kancing
Siang itu matahari Jakarta sedang terik-teriknya, seolah ingin melelehkan aspal jalanan. Namun, panasnya cuaca tidak menyurutkan semangat Bu Darmi untuk melakukan patroli rutinnya.Bu Darmi berdiri di depan pagar kos Riana, berpura-pura sedang memilih sayuran di gerobak Mang Ujang, tukang sayur keliling yang mangkal. Matanya yang tajam seperti radar menyapu halaman kos."Mbak Yuni!" panggil Bu Darmi nyaring saat melihat asisten rumah tangga Riana sedang menyapu halaman. "Itu si Ibu Kos tumben nggak kelihatan? Biasanya jam segini udah mejeng nyiram kembang."Mbak Yuni menyeka keringat di dahinya. "Ibu lagi istirahat di dalem, Bu. Pusing katanya.""Pusing atau 'pusing'?" Bu Darmi terkekeh penuh arti, menyenggol lengan ibu-ibu lain yang belanja. "Denger-denger kemarin malem ada suara ribut-ribut di gudang. Jangan-jangan ada tikus... berkaki dua."Mbak Yuni cemberut, tidak suka majikannya digunjingkan. "Tikus beneran kok, Bu. Kemarin Pak Galih bantu ng
Jam digital di sudut layar monitor menunjukkan pukul 01.30 dini hari.Kamar 101 kembali dingin dan sunyi. Kontras sekali dengan gudang pengap dan panas tempat Galih dan Riana bergumul dua jam yang lalu.Galih sudah mandi, rambutnya masih lembab, tubuhnya segar. Namun, matanya tidak mengantuk sama sekali. Adrenalin pasca-seks masih memompa di pembuluh darahnya, membuatnya terjaga dengan kewaspadaan tinggi.Ia duduk di kursi kerjanya yang ergonomis, menatap kursor yang berkedip di layar hitam terminal Linux-nya.Biasanya, setelah sesi fisik yang intens, laki-laki akan tidur mendengkur. Tapi Galih bukan laki-laki biasa. Otaknya bekerja dengan pola yang berbeda. Keintiman di gudang tadi membuka satu folder pertanyaan baru di kepalanya.Riana tadi sempat berteriak saat mereka bertengkar: "Laki-laki buaya!" dan "Mantan suami Tante emang brengsek, tapi Tante belajar banyak..."Kata "Mantan Suami" itu mengganggu G
Langit Jakarta sudah gelap sempurna. Pukul delapan malam.Riana tidak kembali ke kamarnya. Ia mondar-mandir di area belakang rumah induk, tepat di lorong sempit yang menghubungkan dapur kotor dengan gudang penyimpanan logistik kos.Ia sedang marah. Marah pada Vina si mahasiswa kencur, marah pada Galih yang membelanya, dan paling parah, marah pada dirinya sendiri yang merasa tersaingi.Riana menendang sebuah kardus kosong bekas mi instan yang tergeletak di lantai. Bug."Masa depan," cibir Riana, menirukan kata-kata Galih tadi sore dengan nada mengejek. "Emang masa depan bisa bikin kamu khatam urusan ranjang? Dasar bocah sok idealis."Riana berniat melakukan inspeksi stok sabun—alasan yang ia cari-cari untuk melampiaskan kekesalannya pada Mbak Yuni nanti. Ia berjalan menuju pintu gudang yang sedikit terbuka. Lampu di dalam gudang mati, hanya diterangi bias cahaya dari lampu taman di luar jendela ventilasi.Ia baru saja hendak







