Home / Romansa / Janda Tangguh Dikejar Mantan Suami / Part 112 Jangan Gombalin Ibu

Share

Part 112 Jangan Gombalin Ibu

Author: Rat!hka saja
last update Huling Na-update: 2025-09-30 15:30:57
'Carisa Masayu, ibunya Agam Putrajaya, menikahlah denganku. Izinkan aku di sisi kalian selamanya.'

'Kamu boleh menghindariku, tapi jangan lari dariku.'

'Kamu silakan menjauh, nanti aku kejar.'

Aku mengerjap saat mendengar suara pengingat dari oven. Kue kesuakaan Bu Uma yang kubuat akhirnya matang. Sengaja kubuat sekarang agar besok pagi bisa dinikmati saat wanita itu sarapan.

Malam ini, Bu Uma ikut pulang denganku. Tetapi, Agam memilih tinggal. Papanya Riswan, calon papa mertuaku juga datang da
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Janda Tangguh Dikejar Mantan Suami   Part 118 Kenangan Surabaya

    Tak pernah kusangka akan kembali menginjakkan kaki di tempat ini. Bandara Internasional Juanda punya makna khusus dalam hidupku. Di tempat ini, aku bertemu pria yang kini menjadi suamiku.Riswan benar-benar memberiku kejutan. Baru saja mendarat, aku dan Agam disambut oleh petugas bandara yang dulu membantu kami saat aku kehilangan dompet. Aku sampai terheran-heran melihat Agam menyapanya lebih dulu. Ternyata Agam mengingatnya dengan baik.“Kita mau ke mana, Mas?”Aku penasaran saat kendaraan roda empat yang kemudikannya berbelok ke kiri. Arah itu bukan menuju ke tempat tinggal Mas Dadang dan Mbak Hera. “Bengkel.”“Bengkel?” Aku mengernyit. Apa mobil ini mau diperbaiki dulu? “Apa mobinya rusak, Mas?”“Bukan, Ibu. Kita mau ketemu Kakek yang punya bengkel tempat dulu Agam sama ayah peltama kali ketemu. Agam mau bilang, kalau Agam sekarang, sudah punya mobil seperti mobilnya ayah dulu,” ujar A

  • Janda Tangguh Dikejar Mantan Suami   Part 117 Bulan Madu

    “Ayah sama ibu, bulan madunya lama nggak?” tanya Agam.“Tidak, kok, Nak. Nanti, kalau Agam sudah puas liburan sama Kakek Hendrawan, Agam liburan sama ayah dan ibu juga,” ujar Riswan yang duduk memangku Agam.“Libulan ke mana, Ayah?”“Ayah mau ajak Agam ke Surabaya. Kita ziarah kubur eyang di sana. Kita ke tempatnya Papa Aditya sama Mama Devi, sama ke rumahnya Paman Dadang,” jelasnya menanggapi sederet celotehan Agam.Aku tersenyum mendengar ajakan suamiku. Sebelum kami menikah, Riswan memang sudah mengutarakan hal itu. Ia bahkan ingin mengajakku dan Agam bernostalgia ke kontrakan tempat kami tinggal dulu. Termasuk beberapa tempat di mana dulu Agam dan Riswan pernah bertemu.“Ayah, kalau nanti Agam sudah besal, Agam mau jadi polisi kayak Om Lian,” ungkapnya antusias.“Agam harus rajin belajar, makan yang sehat sama rajin olehraga. Kalau badannya Agam pendek terus tidak sehat, t

  • Janda Tangguh Dikejar Mantan Suami   Part 116 Malam Pengantin

    Belum apa-apa, tubuhku rasanya sudah remuk. Aku tahu kalau keluarga Riswan itu terpandang di kota ini. Namun, tetap saja aku tidak menyangka jika acara resepsi kami dihadiri sekitar 2000 undangan.Hal itu aku sadari setelah mengingat paman dari Riswan yang tidak lain ayah dari Akham, adalah walikota. Pantas saja tamu acara mencapai ribuan.“Terima kasih sudah mau jadi istriku. Belum pernah mama sama papa senyum selebar itu,” bisik Riswan.Aku menoleh dan kulihat senyum kedua mertuaku. Keduanya tampak begitu bahagia menyambut tamu yang naik ke pelaminan. Pandanganku beralih pada Bu Uma dan Tuan Hendrawan yang menjadi pendamping dari pihak keluargaku.Aku turut berdoa agar Bu Uma mau luluh dengan lamaran pria itu. Baik Aditya maupun Kemal sama-sama tidak keberatan. Keduanya bahkan setuju jika keduanya menikah dan membentuk keluarga yang utuh.Di sudut lain, kulihat keluarga Riswan berbaur dengan Aditya dan Devi. Keduanya menjadi saksi bah

  • Janda Tangguh Dikejar Mantan Suami   Part 115 Terselamatkan

    Aku mendengar suara pintu terbuka. Penasaran, aku akhirnya menguntai langkah. Mengapa tak ada sapaan salam dari orang itu?Kernyitan dahiku makin dalam. Ada dua bayangan orang di jendela yang saling berhadapan. Tapi siapa mereka? Mengapa tidak langsung masuk saja?Aku menghampiri pintu dan menggapai gagangnya. Akan tetapi, runguku menangkap obrolan lamat-lamat dari teras. Menahan gerak dan mengurung niatku menarik daun pintu yang tidak tertutup rapat.Mengintip dari celah pintu, mataku mencoba fokus. Menyusuri sepatu dan seragam yang sudah tak asing lagi, aku menghela lega. Ternyata Rian dan Gaby. Wajar jika mereka di sini, bukankah pasangan itu juga sahabat Riswan?"Sayang, aku kangen," ungkap pria berseragam itu.Wanitanya terkikik geli mengalungkan tangan di pundak suaminya. Tatapan penuh cinta tergambar jelas di mata dokter tomboi itu. "Kangen banyak atau sedikit?" tanyanya dengan bibir yang mengerucut."Aku tidak tahu, tidak pernah kuhi

  • Janda Tangguh Dikejar Mantan Suami   Part 114 Terbang ke Hatimu

    “Carissa!” Aku menelan saliva karena sulit menjelaskannya. Aku tidak ingin meraup simpati atau belas kasihan darinya.Ia mengeluarkan sebuah kartu nama dan memotretnya. Sepertinya ia kirimkan pada sekretarisnya. Namun, tatapannya tak pernah lepas padaku.Aku pun menyadari jika ia membutuhkan jawabanku. Bukan sekedar basa-basi. Lebih tepatnya, ingin tahu pasti.“Aku nggak jadi pesan yang tadi, Yang. Tiba-tiba aku kepengen martabak yang ada di kompleknya bunda,” celutuk wanita hamil di meja samping.“Tadi kan kamu bilang kepengen banget, Yang,” balas suaminya garuk-garuk kepala heran.“Iya, tapi tadi. Sekarang udah nggak. Aku malah pusing cium aroma mie goreng yang di sana,” jelas wanita itu dengan wajah kusutnya. Suaminya menghela napas panjang sembari memijat kepalanya.“Semoga kelak aku lebih sabar dari pria itu,” gumam Riswan.Pasangan itu beranjak dan Riswan kembali bertanya, “Apa semua wanita hamil sesensitif itu?”“Kadang kala, Mas,” sahutku apa adanya.Belum sempat aku menjelaska

  • Janda Tangguh Dikejar Mantan Suami   Part 113 Pertanyaan Menyakitkan

    “Aku senang karena kita tidak harus pingitan.”Ungkapannya itu membuat langkahku terhenti. Pernikahan kami memang akan dilangsungkan lima hari lagi. Namun, pria yang satu ini sepertinya belum sadar sama sekali dengan misi rahasia yang diberikan para orang tua padaku.“Kenapa?” tanyanya sembari menoleh.“Kenapa Kak Riswan senang?”“Ketemu kamu saja rasanya masih kangen karena belum bebas mau peluk. Kalau tidak ketemu kamu seharian, aku galau,” akunya gamblang.Tak ayal, pipiku pasti sudah memerah. Pria yang satu ini ternyata pandai menggombal juga. Tidak kalem sama sekali seperti penilaian para abg yang menjadi penyerbu Toko Tita’s Outfit.“Kak Riswan kalau masih ada keraguan untuk melangkah ke jenjang pernikahan, aku tidak masalah. Tapi tolong jangan sakiti Agam.” Kali ini, langkahnya yang terhenti.“Apa maksud kamu? Kamu pikir, setelah berada ditahap ini, aku bakalan ragu? Terus mundur ninggalin kamu sama Agam?” tanyanya lalu menggeleng.Kedua tangannya memegang bahuku. Tidak kuat, t

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status