LOGINDikhianati di hari anniversary, Nara runtuh. Ia dituduh gagal menjadi kekasih hanya karena menolak disentuh. Jijik, marah, dan mempertanyakan dirinya sendiri, Nara nyaris kehilangan kendali, hingga Aland Dashiel muncul. Teman masa kecil yang dulu ia tinggalkan kini berubah menjadi pria dengan tatapan gelap, suara rendah, dan jarak yang sengaja dipersempit. Aland tidak memaksa. Ia hanya mendekat… perlahan… sampai melewati batas yang selalu Nara jaga. “Kamu gemetar, Nara,” bisiknya. “Dan kamu masih bilang kamu tidak menginginkanku?” Saat sentuhan yang dulu ia takuti justru membuatnya ingin menyerah, satu pertanyaan tersisa, setelah ini… apa mereka hanya akan menjadi teman kecil saja?
View MoreSebelumnya, saat hendak makan siang. “Nara-” panggil Dikta. Seketika Nara menoleh dan semua pandangan beralih padanya. Bagaimana bisa seorang CEO mengenal karyawan biasa dengan baik. “Nara, bos kenal kamu?” tanyanya setengah berbisik. Nara menggeleng ragu dengan muka kikuk. “Mau makan siang?” tanya Dikta. “I-iya pak.” jawabnya terdengar kikuk sekali. “Pak?” Dikta bertanya kurang yakin. Tatapan Nara seolah mengisyaratkan,”Please bersikaplah seperti bos pada umumnya, pura-puralah tak mengenalku.” Syukurnya seketika Dikta paham,”Baiklah lanjutkan.” katanya dengan wajah lebih berwibawa. Beberapa teman Nara agak ragu dan menerka-nerka. “Tidak mungkin bos besar bisa begitu terdengar akrab, kalian pasti sudah lama mengenal?” Nara tergelak dan memilih tidak menanggapi, ia terlihat santai agar tak terlihat pembenaran pada sikapnya. Dan mereka melanjutkan aktivitasnya. Dan tibalah Dikta tengah mengunjungi departemen tempat Nara bekerja, Nara memilih menunduk dan atasannya yang bicara
Aland nampak resah karena sejak kemarin Nara tak membalas pesannya bahkan tak membukanya. Aneh, teleponnya bahkan juga tak diangkat. Ia berusaha menghubungi orang rumah namun Mamanya sedang di luar kota menjenguk saudaranya yang sakit. “Naraa, angkat Nara..” gemingnya. Langkahnya modar-mandir, ia bahkan meminta datang terlambat bekerja hari itu. Aland menghubungi sahabat-sahabat Nara untuk menanyakan apakah ada masalah yang Nara ceritakan. Namun nihil, Lusi bahkan mengatakan jika Nara baru saja kedatangan pekerja baru yang membantu merawat Mamanya. “Mungkin Nara sedang sibuk Land, atau belum sempat membuka pesanmu.” Kata Lusi melegakan. “Tidak mungkin. Nara tidak pernah seperti ini Lus.” Aland menyangkal. “Kenapa kamu nggak pulang, atau telepon ke rumahnya?” Lusi mencoba mencari solusi seadanya. Namun Aland takut yang mengangkat adalah Mama Nara, akhirnya Aland mencobanya. “Bisa bicara dengan Nara? Saya teman kampusnya. Bekerja? Hari ini sudah mulai bekerja? Oh, apa Nara baik
Nara melalui malam ini bersama Mamanya. ia bahkan tak tidur dengan tenang, setiap satu jam sekali bangun untuk mengecek apakah napas Mamanya normal atau membutuhkan sesuatu. pagi menjelma, kantung matanya menghitam. Hari senin, Aland pagi ini kembali ke apartemennya. Ia memeriksa ponselnya di kamar. Pesan dari Aland ia dapatkan, sebuah potret foto dari balkon kamarnya.Nara segera bereaksi, membuka pintu jendelanya. Ada sebuah red velvet cookies dalam toples juga bunga mawar merah. "Ya ampun aland..." Nara terharu melihat bagaimana pacarnya berusaha menyenangkannya. Bibirnya menyunggingkan senyum, terlihat cerah dan cantik. Secantik mawar merah yang ia pegang dan semanis cookies yang Aland buat semalam.Nara memeriksa ponselnya, Aland sudah kembali. Wajahnya berseri menerima hadiah itu,"Semoga kedepannya kalau mau ngasih sesuatu nggak sesulit ini deh." ucapnya lemah, aneh aja pacaran tapi backstreet.Nara menyiapkan sarapan untuk Mamanya, tak sembarang makanan saat ini yang bisa masu
Aland menahan rasa ingin tahunya perihal lamaran pekerjaan, sedangkan Nara mengalihkan pembicaraan. “Proyek kampus lancar, tidak ada kendala.” jawabnya dengan mata terus fokus pada wajah Nara. “Syukur deh.” Nara mengangguk senang,”Eh Aland, selanjutnya apa rencanamu jika proyek ini selesai?” rasa ingin tahunya tinggi. Tatapan Aland beredar ke arah lain, ia ragu jika mengatakan akan meneruskan bisnis Papanya. Bukan keinginannya. Ia lebih suka bekerja pada orang lain dari pada menjadi budak Papanya. Aland tak langsung merespon pertanyaan Nara, ia terlihat memikirkan sesuatu atau sedang tak yakin dengan langkah yang ia pikirkan. “Land?” Aland kembali menatap Nara dan tersenyum,”Masih fokus dengan proyek ini aja, kedepannya masih aku pikirkan.” raut mukanya terlihat menutupi sesuatu. Nara mendesah, jawaban Aland tak seperti yang ia pikirkan. Rasanya seperti pesimis, apa hanya dirinya saja yang sedang bersemangat. “Aku pulang dulu boleh?” tanya Aland berat hati. Nara tersenyum me
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews