LOGINDikhianati di hari anniversary, Nara runtuh. Ia dituduh gagal menjadi kekasih hanya karena menolak disentuh. Jijik, marah, dan mempertanyakan dirinya sendiri, Nara nyaris kehilangan kendali, hingga Aland Dashiel muncul. Teman masa kecil yang dulu ia tinggalkan kini berubah menjadi pria dengan tatapan gelap, suara rendah, dan jarak yang sengaja dipersempit. Aland tidak memaksa. Ia hanya mendekat… perlahan… sampai melewati batas yang selalu Nara jaga. “Kamu gemetar, Nara,” bisiknya. “Dan kamu masih bilang kamu tidak menginginkanku?” Saat sentuhan yang dulu ia takuti justru membuatnya ingin menyerah, satu pertanyaan tersisa, setelah ini… apa mereka hanya akan menjadi teman kecil saja?
View More“Eits! Ada yang mau anniversary, nih! Ciyee… ciyee!”
Mendengar godaan itu, Nara, yang baru saja tiba di kampus, langsung menepuk lengan sahabatnya, Wina.
“Husst! Apa sih! Nanti kedengaran orang, tahu!” bisiknya panik.
“Aaa, dia malu… tapi bahagia, kan?” sahut Lusi, sahabat Nara yang lain, sambil tersenyum jahil.
Hal itu membuat Nara refleks menunduk malu. Pipinya memerah, seolah mengiyakan tanpa kata tebakan kedua sahabatnya.
Hari ini adalah hari istimewa bagi Nara. Tepat empat tahun sejak ia dan Byan, kekasihnya, resmi menjalin hubungan. Sejak pagi, hatinya terasa ringan, langkahnya pun penuh semangat. Ia bahkan bangun lebih awal hanya untuk memastikan segala sesuatunya sempurna di hari spesial tersebut.
Riasan wajah, pakaian, hingga tatanan rambut telah ia persiapkan dengan cermat. Ia ingin tampil sebaik mungkin agar perayaan hari jadinya berjalan indah dan tidak mengecewakan sang kekasih.
Ketiganya berjalan menyusuri koridor kampus yang mulai ramai. Sambil menenteng tas, Lusi menoleh dengan senyum menggoda.
“Terus, rencana kalian malam ini apa? Mau candle light dinner gitu?”
Nara menggeleng pelan sambil tersenyum kecil. “Byan sibuk, jadi sepertinya dia nggak ingat,” jelasnya, membuat kedua temannya mengerjapkan mata kaget, sedikit prihatin untuk sesaat, sebelum kemudian Nara menambahkan, “Tapi, itu lebih baik! Karena dengan begitu aku bisa kasih kejutan ke Byan di apartemennya pas dia pulang!”
Sambil berkata demikian, ia mengangkat sebuah kotak dari dalam tasnya. Di dalamnya terdapat kue cokelat moka berhias krim lembut yang tampak menggoda, kue favorit Byan. Melihatnya, mata Wina dan Lusi langsung membesar.
“Wih! Ini beli atau buat sendiri?” tanya Wina dengan nada kagum.
Lusi terkekeh. “Buat, nggak sih? Tahu sendiri, demi Byan, Nara mah rela kasih apa aja.”
“Selama nggak kasih keperawanan aja,” sahut Wina cepat. “Nggak boleh, ya, Dek. Ingat ucapan Mama Papa.”
“Ih, Wina! Kamu bisa nggak sih kalau bercanda jangan kayak gitu,” protes Nara sambil mengerucutkan bibir.
Wina terkekeh kecil. “Maaf, Ra. Tapi serius, keluargamu kan konservatif. Jadi, walaupun udah empat tahun pacaran, masalah keperawanan itu bukan candaan, Sayang. Kalau kamu udah niat tunggu sampai nikah, ya nikah dulu, baru lakuin.”
Lusi mengangguk-angguk sambil menimpali, “Benar, tuh. Jangan kayak Wina, main gonta-ganti cowok mulu. Penyakitan atau nggak, kita juga nggak ada yang tahu.”
“Eh, enak aja!” Wina spontan berusaha menjewer Lusi, tapi Lusi sigap menghindar sambil tertawa terbahak.
“Gue mainnya nggak sembarangan, ya!” seru Wina kesal. “Pakai pengaman dan cuma sama orang tertentu doang!”
“Ya emang gue nanya? Too much information, tahu nggak sih!” balas Lusi.
Melihat kedua temannya saling berdebat dan bercanda, Nara hanya bisa tertawa kecil.
Memang benar, meski mereka semua berkuliah di lingkungan yang cukup bebas, Nara dikenal sebagai perempuan yang konservatif. Bukan karena ajaran keluarganya yang ketat, itu hanya alasan Nara, melainkan karena—
Nara merasa takut terhadap hubungan intim.
Ya, serius. Nara memang sangat takut dan anti terhadap hubungan fisik itu. Dan hal tersebut bukan terjadi tanpa alasan, melainkan sebuah trauma yang terjadi saat dirinya masih begitu belia.
Saat masih duduk di bangku sekolah dasar, seorang sepupu jauhnya pernah berkunjung dan menginap di rumah mereka bersama dengan sang suami. Malam itu, ketika Nara hendak mengambil air minum karena haus, ia mendengar suara rintihan keras dari kamar tamu yang mereka tempati. Suara itu terdengar aneh dan menakutkan di telinganya.
Keesokan paginya, setelah dengan polos ia menanyakan apa yang terjadi kepada kakak perempuannya yang sudah SMA, barulah Nara memahami bahwa suara rintihan kesakitan tersebut berasal dari aktivitas hubungan intim antara suami dan istri. Walau sudah diberi paham dengan baik, tapi hal tersebut membuat Nara trauma dan jijik setiap kali mengingatnya.
Bahkan setelah sekarang beranjak dewasa dan tahu tentang apa yang terjadi antara pria dan wanita saat melakukan hal semacam itu, Nara bukannya penasaran, melainkan takut setengah mati!
Bagi Nara, dia baru rela menantang rasa takutnya tersebut ketika sudah menikah, dengan orang yang dia cintai. Karena kalau sudah menikah, hubungan intim jatuhnya adalah bentuk tanggung jawab Nara sebagai istri. Begitu pula sebaliknya.
Pernah dulu Byan dengan lembut memintanya untuk membuktikan cinta mereka lewat cara itu, tapi Nara tetap menolak. Untungnya, Byan tidak memaksa dan malah memahami keputusan Nara. Pria itu berkata bahwa ia rela menunggu hingga pernikahan mereka nanti, sesuatu yang rencananya akan dilaksanakan setelah Nara lulus tahun depan.
Setelah kelas kampus selesai, Nara segera membereskan buku-bukunya. “Win, Lus, aku pergi duluan ya,” ucapnya saat selesai. “Sebelum Kak Byan pulang kantor, aku harus udah siap di apartemennya.”
“Aman, Ra! Hati-hati ya. Semangat surprisenya!” pesan Lusi sambil melambai.
“Dan semoga Byan suka sama kejutanmu!” tambah Wina dengan senyum lebar.
Nara membalasnya dengan anggukan kecil dan senyum bersemu.
Ia melangkah keluar dari gerbang kampus, menaiki taksi menuju gedung apartemen Byan.
Perlu setidaknya dua puluh menit sebelum Nara sampai di tujuan. Dan begitu sampai, dia langsung menaiki lift. Di dalam lift, ia sempat menatap pantulan dirinya di dinding logam yang mengilap. Dengan dress putih sederhana dan rambut yang diikat setengah, penampilannya sangat manis dan cantik.
“Perfect!” pujinya pelan, menyemangati diri sendiri sebelum melangkah keluar dari lift menuju pintu apartemen Byan.
Namun, saat jaraknya dengan tujuan semakin dekat, samar Nara mendengar suara dari dalam, membuat langkah Nara melambat dan keningnya berkerut.
Awalnya ia mengira televisi menyala. Tapi beberapa detik kemudian, ia mendengar suara lain.
Rintihan yang terlalu nyata, terlalu familiar, dan menohok sisi terdalam ketakutannya.
“Ahh… ya, Pak Byan… seperti itu…”
Dunia Nara seakan berhenti untuk sesaat. Segala skenario terburuk muncul di otaknya.
Namun, tubuh Nara bergerak sendiri, dan tangannya menekan tombol password di keypad pintu yang sudah sangat dia hafal itu.
Begitu kunci terbuka dan pintu bergeser, tubuh Nara langsung terpaku.
Di depan matanya, Nara menangkap sosok pria di ruang tamu yang tengah menekan tubuh seorang wanita di bawahnya. Gerakan kedua orang itu liar, dan sangat jelas … keduanya tengah mengejar kenikmatan seperti binatang.
Lemas, kotak kue yang dibawa Nara terjatuh ke lantai. Suara hentakannya cukup keras untuk membuat pria itu menoleh.
Dan saat mata mereka bertemu—
“N-Nara?!”
Wajah Nara langsung memucat.
Karena pria yang tengah bersetubuh dengan wanita asing itu tidak lain dan tidak bukan … adalah Abyan, kekasih Nara.
Wajah Nara berubah kecewa, muncullah Irene dari dalam rumah menyapa ramah Nara seperti biasanya. “Nara kenapa tidak masuk saja, ayo tante bikin makanan enak banget-” “Maaf tante, Nara hanya mampir mau menanyakan tentang Aland tapi kata om Roy Aland sudah berangkat ke luar negeri kemarin, kenapa begitu mendadak tante?” Nara tak sungkan bertanya lebih jelas pada nyonya rumah itu. Irene hendak menjawab, langkah gusar suaminya mengalihkannya sejenak. Orang itu bahkan masuk ke dalam tanpa pamit. Sebagai istrinya ia juga sengit melihatnya. “Maaf Nara, sebenarnya kabar ini sangat mendadak. Aland sebulan yang lalu diam-diam mencari informasi kuliah di luar negeri dan ia mendapat jawaban pun juga mendadak. Segera ia persiapkan dan ingin memberitahumu tapi kemarin kamu susah sekali dihubungin. Maaf ya sayang, pasti kamu terkejut dengan cara om Roy memberi tahu.” Irene bisa menduga seperti apa cara suaminya memberi tahu. “Baiklah tante, Nara nggak papa kok hanya berita ini cukup mengejutkan
Aland baru saja sampai di Negara lain. Ia melihat ponselnya, tak ada tanda-tanda pesan balasan dari Nara. Nomornya tak aktif, membuat Aland berpikir macam-macam. Bagaimana jika sesuatu terjadi padanya. Aland menghubungi mamanya, namun tidak diangkat. Antara sudah tidur atau sedang sibuk yang lain. Ia memutuskan menghubungi nanti lagi setelah sampai di apartemen. Sepanjang perjalanan Aland hanya memikirkan Nara, mengulas lagi bagaimana mereka kembali berbaikan setelah beberapa tahun tak menjalin komunikasi. Nafasnya berhembus teratur dan senyumnya kembali menyungging. Aland tiba di sebuah apartemen yang akan menjadi tempat tinggalnya. Begitu masuk ruangan itu lebih bagus dari yang ia pikirkan. Dari gedung yang tinggi ia bisa melihat pemandangan kota dengan jelas. Lampu-lampu gemerlap menyilaukan mata. Membayangkan Nara mengetahuinya pasti ia akan sangat senang dan tiada henti terpukau. Sama seperti Dikta, ia melihat Nara lain saat wajah cerah dan semringah itu memandang gemerlap l
"Yuk!" Dikta membiarkan Nara mendahuluinya, ia mempersilahkan Nara memilih tempat. Hujan reda, sisa-sisa mendung masih terlihat. Namun sebentar lagi gelap, lampu-lampu kota akan menyala menggantikan mendung.Nara dan Dikta duduk di bangku paling sudut, sengaja Nara yang memilihnya agar bisa memotret pemandangan dari sudut dan mendapatkan lebih luas. Ckrek!"Wah, boleh juga nih hp! cantik nggak?" tanyanya girang.Netra Dikta berhenti pada wajah Nara, lalu menjawab, "Cantik. cantik banget!""Tuh, ya kan! coba kamera jarak jauhnya-" Nara sibuk mengeksplor ponsel barunya. Ia terlihat sangat senang dengan ponsel barunya. Tapi sayang, nomor lamanya tak bisa dibuka tandanya pencuri itu sudah mengotak-atik ponselnya.Sial sekali Nara, terlebih semua nomor-nomor temannya disana juga nomor penting lainnya. Nara mengambil nomor Mamanya dari ponsel Dikta, menyimpannya lal menelponnya. "Halo Ma-" dari balik telepon Laudya sedang mengungkapkan kekhawatirannya. Panjang lebar omelan itu dan Nara h
“Nara!” Merasa ada yang memanggilnya ia menoleh, awalnya ia masih mencari-cari suara itu karena lalu lalang keramaian di stasiun. Nara berdiri ketika melihat Dikta. Dikta mempercepat langkah untuk sampai pada posisi Nara, wajahnya terlihat khawatir. “Nara- kamu nggak pa-pa?” tanyanya sembari mengusap rambut samping Nara. Nara menggeleng, ia melihat Dikta yang sekhawatir itu padanya. “Aku baik-baik saja kak, hanya ketinggalan kereta dan ponselku hilang.” Dikta menunjukkan muka yang sedikit lega karena Nara terlihat baik-baik saja, “ayo ke mobil.” “Pak-”Nara menggeleng cepat, memperbaiki sebutannya.”Kak- kamu naik mobil sendiri kesini?” Dikta mengangguk,”Ha?” wajah Nara menatap heran. Namun sebelum mengatakan sesuatu lagi Dikta sudah menarik tangannya. Ia membawanya ke luar stasiun, Dikta memarkir mobilnya di luar stasiun karena tempatnya yang penuh. Mereka masuk ke mobil, sesampainya di dalam Dikta mengambil handuk kecil di dasbor. “Pakailah-” katanya mengingatkan Nara pada sebu
“Dikta, umur tante mungkin nggak panjang. Nara selama ini kurang perhatian, ia lebih nyaman dengan orang lain dari pada ibunya sendiri. Dengan mata sayu, nada yang lemah Laudya berkata, Dikta menangkap ada penyesalan juga kesedihan mendalam. “Kamu sudah dengar dari Mama kamu kan, apa rencana tante
“Tante, maaf jika aku ikut bicara. Namun, keluarga kami berusaha menebus kesalahan di masa lalu.” katanya tulus. “Semua bukti juga sudah nyata adanya bahwa itu murni kecelakaan. Mengenai tuntutan Papa, itu juga bagian dari pekerjaan bukan dendam pribadi.” Aland menjelaskan sepengetahuannya. Ia jug
Menjelang sore Aland pamit pada Nara untuk kembali ke apartemen. Ia juga berpamitan pada Laudya yang sedang membaca sesuatu di dalam tabletnya. “Terimakasih sudah hadir untuk Nara.” kata Laudya dengan sorot mata menantang. Aland mengangguk, seolah tak ada pembicaraan lain siang tadi. Ia juga memb
“Nara? Ajak dia masuk, Mama mengenalnya.” perintah Laudya terdengar santun dan lembut. Nara masih terheran antara mendengar mamanya juga melihat lelaki tadi yang mengetahui namanya. “Masuklah,” katanya sopan. Lelaki itu tersenyum. Lelaki yang muda, gagah dan punya postur badan seperti CEO yang ad
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews