Mag-log inDikhianati di hari anniversary, Nara runtuh. Ia dituduh gagal menjadi kekasih hanya karena menolak disentuh. Jijik, marah, dan mempertanyakan dirinya sendiri, Nara nyaris kehilangan kendali, hingga Aland Dashiel muncul. Teman masa kecil yang dulu ia tinggalkan kini berubah menjadi pria dengan tatapan gelap, suara rendah, dan jarak yang sengaja dipersempit. Aland tidak memaksa. Ia hanya mendekat… perlahan… sampai melewati batas yang selalu Nara jaga. “Kamu gemetar, Nara,” bisiknya. “Dan kamu masih bilang kamu tidak menginginkanku?” Saat sentuhan yang dulu ia takuti justru membuatnya ingin menyerah, satu pertanyaan tersisa, setelah ini… apa mereka hanya akan menjadi teman kecil saja?
view moreWajah Nara berubah kecewa, muncullah Irene dari dalam rumah menyapa ramah Nara seperti biasanya. “Nara kenapa tidak masuk saja, ayo tante bikin makanan enak banget-” “Maaf tante, Nara hanya mampir mau menanyakan tentang Aland tapi kata om Roy Aland sudah berangkat ke luar negeri kemarin, kenapa begitu mendadak tante?” Nara tak sungkan bertanya lebih jelas pada nyonya rumah itu. Irene hendak menjawab, langkah gusar suaminya mengalihkannya sejenak. Orang itu bahkan masuk ke dalam tanpa pamit. Sebagai istrinya ia juga sengit melihatnya. “Maaf Nara, sebenarnya kabar ini sangat mendadak. Aland sebulan yang lalu diam-diam mencari informasi kuliah di luar negeri dan ia mendapat jawaban pun juga mendadak. Segera ia persiapkan dan ingin memberitahumu tapi kemarin kamu susah sekali dihubungin. Maaf ya sayang, pasti kamu terkejut dengan cara om Roy memberi tahu.” Irene bisa menduga seperti apa cara suaminya memberi tahu. “Baiklah tante, Nara nggak papa kok hanya berita ini cukup mengejutkan
Aland baru saja sampai di Negara lain. Ia melihat ponselnya, tak ada tanda-tanda pesan balasan dari Nara. Nomornya tak aktif, membuat Aland berpikir macam-macam. Bagaimana jika sesuatu terjadi padanya. Aland menghubungi mamanya, namun tidak diangkat. Antara sudah tidur atau sedang sibuk yang lain. Ia memutuskan menghubungi nanti lagi setelah sampai di apartemen. Sepanjang perjalanan Aland hanya memikirkan Nara, mengulas lagi bagaimana mereka kembali berbaikan setelah beberapa tahun tak menjalin komunikasi. Nafasnya berhembus teratur dan senyumnya kembali menyungging. Aland tiba di sebuah apartemen yang akan menjadi tempat tinggalnya. Begitu masuk ruangan itu lebih bagus dari yang ia pikirkan. Dari gedung yang tinggi ia bisa melihat pemandangan kota dengan jelas. Lampu-lampu gemerlap menyilaukan mata. Membayangkan Nara mengetahuinya pasti ia akan sangat senang dan tiada henti terpukau. Sama seperti Dikta, ia melihat Nara lain saat wajah cerah dan semringah itu memandang gemerlap l
"Yuk!" Dikta membiarkan Nara mendahuluinya, ia mempersilahkan Nara memilih tempat. Hujan reda, sisa-sisa mendung masih terlihat. Namun sebentar lagi gelap, lampu-lampu kota akan menyala menggantikan mendung.Nara dan Dikta duduk di bangku paling sudut, sengaja Nara yang memilihnya agar bisa memotret pemandangan dari sudut dan mendapatkan lebih luas. Ckrek!"Wah, boleh juga nih hp! cantik nggak?" tanyanya girang.Netra Dikta berhenti pada wajah Nara, lalu menjawab, "Cantik. cantik banget!""Tuh, ya kan! coba kamera jarak jauhnya-" Nara sibuk mengeksplor ponsel barunya. Ia terlihat sangat senang dengan ponsel barunya. Tapi sayang, nomor lamanya tak bisa dibuka tandanya pencuri itu sudah mengotak-atik ponselnya.Sial sekali Nara, terlebih semua nomor-nomor temannya disana juga nomor penting lainnya. Nara mengambil nomor Mamanya dari ponsel Dikta, menyimpannya lal menelponnya. "Halo Ma-" dari balik telepon Laudya sedang mengungkapkan kekhawatirannya. Panjang lebar omelan itu dan Nara h
“Nara!” Merasa ada yang memanggilnya ia menoleh, awalnya ia masih mencari-cari suara itu karena lalu lalang keramaian di stasiun. Nara berdiri ketika melihat Dikta. Dikta mempercepat langkah untuk sampai pada posisi Nara, wajahnya terlihat khawatir. “Nara- kamu nggak pa-pa?” tanyanya sembari mengusap rambut samping Nara. Nara menggeleng, ia melihat Dikta yang sekhawatir itu padanya. “Aku baik-baik saja kak, hanya ketinggalan kereta dan ponselku hilang.” Dikta menunjukkan muka yang sedikit lega karena Nara terlihat baik-baik saja, “ayo ke mobil.” “Pak-”Nara menggeleng cepat, memperbaiki sebutannya.”Kak- kamu naik mobil sendiri kesini?” Dikta mengangguk,”Ha?” wajah Nara menatap heran. Namun sebelum mengatakan sesuatu lagi Dikta sudah menarik tangannya. Ia membawanya ke luar stasiun, Dikta memarkir mobilnya di luar stasiun karena tempatnya yang penuh. Mereka masuk ke mobil, sesampainya di dalam Dikta mengambil handuk kecil di dasbor. “Pakailah-” katanya mengingatkan Nara pada sebu
Nara diam, merajuk karena dicurigai. Jelas-jelas dia tidak dengan sengaja memberikan nomornya. Aland menyadari tidak seharusnya berkata yang menyudutkan pacarnya. Bagaimana pun, Nara tidak pernah melakukan hal aneh. Justru yang berpotensi aneh-aneh adalah dia. Seketika Aland menyesal. Ia mencari m
“Lha memangnya ngedeketin dia harus jomblo dulu? Selagi belum ada undangan pernikahan itu masih aman aja Dik.” ucap tari terdengar meremehkan. “Lihat ajalah nanti.” katanya sembari mengutak-atik nomor yang ia simpan sejak siang tadi. Malam itu hujan, dari kaca kamar rumah sakit tetesan air hujan
Mendengar pertanyaan Laudya, ia tak langsung menanggapi. Tingkahnya masih basa-basi, mengambilkan air putih di gelas untuk Laudya tanpa diminta. Merapikan selimut padahal tidak ada yang berantakan. “Mama kenapa tanya begitu?” Nara berkata dengan lembut. “Jawab saja dulu, baik apa tidak?” Pertany
“Tolong Ma, jangan berkata begitu.” katanya dengan terisak. Pelukan itu meregang, “Kesempatan kita tidak banyak untuk bersama? Mama nggak mau menyayangiku seperti ibu lain pada umumnya? Mama hanya mau berakhir sampai disini?” Kata-kata Nara cukup menohok, hatinya menghangat mendnegar putrinya bisa


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Rebyu