Compartilhar

Bab 3 

Autor: Syara
Setelah menyelesaikan prosedur pemindahan data kependudukan, Anita meninggalkan kantor polisi dan pergi ke kelompok tari.

Di kantor manajer kelompok tari, salah satu dinding dipenuhi dengan penghargaan kelompok tari dan foto mereka yang sedang menari. Anita menyentuh satu per satu foto itu dengan mata dipenuhi emosi dan keengganan untuk berpisah.

Anita selalu mengira dirinya akan mendedikasikan masa muda dan sisa hidupnya untuk kelompok tari ini. Tak disangka, perpisahan datang begitu mendadak.

"Nita." Manajer kelompok tari yang bernama Mira masuk dari luar dan menepuk-nepuk bahu Anita.

Melihat sosok yang telah membimbingnya selama sepuluh tahun, keengganan untuk berpisah yang baru saja ditahan Anita kembali muncul. Dia mencubit telapak tangannya dan menarik napas dalam-dalam.

"Bu Mira, aku mau ajukan pengunduran diri. Orang tua kandungku sudah menemukanku. Aku mau menetap di luar negeri bersama mereka."

Mata Mira melebar. Keterkejutan itu dengan cepat digantikan oleh kegembiraan. Dia merasa sangat bahagia untuk Anita.

"Ini kabar baik! Apa kamu akan terus menari setelah pergi ke luar negeri?"

Mira menyaksikan sendiri Anita tumbuh dari seorang gadis yang pemalu dan pendiam menjadi seorang wanita muda yang anggun. Dia tahu betapa banyak usaha yang telah Anita curahkan untuk menari selama ini. Menari telah membuat Anita berkembang dan merasa percaya diri. Jadi, dia tidak ingin Anita menyerah.

Anita memandang foto-foto di dinding yang menangkap sosoknya saat menari. Kilatan tekad terpancar dari matanya. Dia tersenyum dan mengangguk. "Menari selalu menjadi impianku. Aku nggak akan menyerah begitu saja. Aku akan terus menari di masa depan."

Mira mengangguk. Dia selalu mengagumi keteguhan Anita. Itulah sebabnya dia bersedia memberikan posisi penari utama kepada Anita, juga hendak membimbing Anita menjadi penerusnya.

Namun, rencana sering kali berubah. Sekarang, Anita ingin mengundurkan diri dari kelompok tari dan pergi ke luar negeri untuk berkumpul kembali dengan orang tuanya. Mira juga tidak bisa menolak.

Dia hanya bertanya dengan ragu, "Kamu akan langsung pergi? Tarian yang kamu koreografikan selama setahun itu akan segera dipentaskan. Kamu sudah curahkan banyak usaha dan waktu untuk itu. Kamu seharusnya menampilkannya sekali di atas panggung, 'kan?"

Anita mengangguk. "Aku sudah diskusi dengan orang tuaku. Aku akan selesaikan dulu semua urusan di sini sebelum kembali. Aku masih punya waktu sebulan, jadi aku bisa selesaikan tarian ini."

Mira merasa lega dan menepuk-nepuk bahu Anita. Mereka mengobrol sebentar sebelum Anita pergi ke studio tari untuk melanjutkan latihan.

Sampai sangat larut, Anita baru mengambil tasnya yang tergantung di dinding dan pulang. Alhasil, ketika membuka pintu, dia mendapati Jessica masih ada di rumah. Setelah mendengarkan dengan seksama, dia menemukan mereka sedang membicarakan hal mengenai pakaian dan perhiasan pernikahan.

"Bibi, semua pakaian dan perhiasan itu sangat bagus! Aku mau Nita membantuku memilih. Bagaimanapun, kami sudah berteman baik selama bertahun-tahun. Dia juga tahu seleraku."

Tepat saat Jessica mengucapkan kata-kata itu, Anita sedang berjalan masuk ke rumah. Juliana segera memanggilnya, "Nita, kakak iparmu lagi khawatir tentang hal ini. Bagaimana kalau kamu temani dia pilih barang-barang yang dibutuhkan dalam pernikahan dalam beberapa hari ini?"

Anita menatap Jessica yang sedang tersenyum di seberangnya. Namun, begitu tatapan mereka bertemu, senyum itu berubah menjadi provokasi.

Anita menunduk, lalu berpikir sejenak sebelum menolak, "Maaf, aku nggak punya waktu. Aku ada urusan di kelompok tari."

Anita hanya memiliki waktu sebulan, sedangkan pertunjukan kelompok tari akan segera diselenggarakan. Sebelum pergi, ada banyak hal yang harus diurusnya. Dia benar-benar tidak bisa menemani Jessica berbelanja.

Namun, begitu Anita selesai berbicara, suasana langsung menjadi tegang.

Anthony menatap gadis di hadapannya dengan mata sedingin es. "Sahabatmu akan segera menikah! Memangnya kamu nggak bisa kesampingkan dulu urusanmu? Kita putuskan begini saja. Besok, aku akan bantu kamu minta izin cuti!"

Jika Anthony memaksa meminta cuti untuk Anita dengan status keluarga, apa haknya untuk menolak?

Mendengar ini, Anita tersenyum pahit dan tidak bicara lagi.

Selama beberapa hari berikutnya, Anita mau tak mau mengesampingkan semua urusannya dan fokus menemani Jessica memilih barang-barang untuk pernikahan. Dia mengira Jessica hanya perlu memilih barang-barang di mal. Tak disangka, Jessica membawanya keliling kota dan menyuruhnya mengambil keputusan tentang segala hal mulai dari gaun pengantin hingga aksesori rambut terkecil.

Setiap kali Anita menyarankan untuk mengutus orang bertanya kepada Anthony, Jessica akan mengeluh, "Buat apa tanya ke kakakmu? Pria dewasa sepertinya cuma tahu kasih aku uang. Kamu yang paling pahami seleraku."

"Terakhir kali aku minta dia untuk temani aku pilih cincin pernikahan, dia malah kirimkan etalase penuh cincin pernikahan ke rumahku dan bilang aku boleh pilih apa saja yang kumau."

Jessica mengeluh sambil mencoba berbagai aksesoris rambut di depan cermin. Niatnya untuk pamer sama sekali tidak tersembunyikan.

Anita hanya mendengarkan dengan tenang, tanpa menunjukkan reaksi yang diharapkan Jessica.

Jessica menggigit bibirnya dan hendak mengatakan sesuatu. Tiba-tiba, dia melihat sosok pria di pintu dan berseru kaget, "Tony? Kok kamu ada di sini?"

Anita mendongak dan melihat Jessica berlari ke arah Anthony. Dia memeluk dan mencium dagu Anthony dengan lembut. Pria itu mengelus rambutnya, berbicara dengan penuh kasih sayang, "Bukannya kamu bilang mau pergi berdoa di kuil pinggiran kota? Aku ambil cuti setengah hari untuk menjemputmu."

Mereka membisikkan beberapa patah kata lagi yang membuat wajah Jessica makin merah. Dia pun membenamkan kepalanya dalam pelukan Anthony.

Tiba-tiba, seolah teringat sesuatu, Jessica tersadar dan menggenggam tangan Anita. "Nita sudah temani aku selama beberapa hari terakhir. Bagaimana kalau dia juga ikut bersama kita?"

Anthony bahkan tidak melirik Anita, hanya mengambil barang-barang yang telah dibeli Jessica dan berjalan keluar.

"Terserah."
Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App

Último capítulo

  • Jangan Ceritakan Tentangku Padanya   Bab 23

    Satu demi satu fakta yang dilontarkan Karina membuat Anthony perlahan-lahan memejamkan matanya. Kata-kata yang ingin diucapkannya menjadi sangat sulit diucapkan. Rasa pahit memenuhi mulutnya.Anthony tiba-tiba teringat malam ketika gadis kecil itu terlalu takut untuk tidur. Dia membawa boneka beruang kecil dan duduk di samping tempat tidur gadis itu untuk membacakan dongeng pengantar tidur. Di akhir cerita, dia meletakkan boneka beruang itu di samping bantal si gadis, lalu berbicara dengan lembut tapi tegas, "Kakak akan selalu melindungimu, seperti boneka beruang ini. Aku nggak akan pernah sakiti kamu. Kamu akan selalu jadi pilihan pertamaku." Sekilas keterkejutan melintas di mata gadis kecil itu, tetapi dia segera menunduk lagi. "Kakak cuma mencoba menghiburku.""Nggak. Ayo kita buat janji kelingking.""Oke. Kalau Kakak benar-benar menyakitiku kelak, aku nggak akan pernah peduli sama kamu lagi!" Air mata mengalir tanpa suara di wajahnya. Anthony membuka matanya lagi dan menatap ora

  • Jangan Ceritakan Tentangku Padanya   Bab 22

    Di kuil pegunungan di luar kota. Langit perlahan-lahan memutih dan kabut juga makin tebal. Gumpalan asap putih tebal naik bersama kabut dan menutupi seluruh jalan.Karina dan Jonathan berjalan selangkah demi selangkah di sepanjang jalan setapak batu menuju kuil di puncak gunung. Di kejauhan, terdengar lantunan doa samar dan bunyi lonceng yang panjang. Di halaman kuil, pepohonan tua menjulang tinggi dan batu-batunya ditutupi lumut. Angin yang bertiup membuat daun berguguran dan menimbulkan suara gemerisik. Lonceng perunggu yang tergantung di atap juga bergetar pelan.Karina menarik napas dalam-dalam dan duduk di kursi batu yang ada di sudut halaman. Dia memperhatikan Jonathan melihat ke sana kemari, seperti seorang anak kecil yang penasaran. Momen yang seharusnya indah terganggu oleh kedatangan Anthony. Pria ini benar-benar bagai hantu gentayangan. Itulah pikiran pertama Karina ketika melihat Anthony berjalan ke arahnya."Karin, bisa nggak kita bicara baik-baik?" Kata-kata Juliana ke

  • Jangan Ceritakan Tentangku Padanya   Bab 21

    Jessica pada dasarnya sudah kesal mendengar kata-kata Anthony. Sekarang, pria itu malah bersikap galak padanya. Dia juga tidak perlu bersembunyi lagi. Dia bangkit dan berjalan mendekat, lalu ingin meraih lengan Anthony. Akan tetapi, pria itu menghindar dengan cekatan.Jessica menggertakkan giginya, lalu mengamati Karina dari atas sampai bawah. Pada akhirnya, tatapannya berhenti di kaki Karina. Dia berkata dengan santai, "Kelompok tari kami sudah terima tawaran untuk menampilkan pertunjukan dari Keluarga Kusnadi. Kami awalnya berlatih dengan baik, tapi manajer kami tiba-tiba masuk dan bilang pertunjukan kami dibatalkan.""Setelah ditanyakan, alasannya ternyata karena kamu nggak sanggup nonton pertunjukan menari setelah nggak bisa menari. Tapi, kamu juga payah banget. Kalau nggak bisa nonton pertunjukan, ya jangan nonton. Kenapa acaranya harus dibatalkan? Jadinya, ada begitu banyak orang yang kehilangan penghasilan. Kamu memang masih seegois biasanya!""Diam!""Diam!" Beberapa pria itu

  • Jangan Ceritakan Tentangku Padanya   Bab 20 

    Pertanyaan itu membuat Anthony termenung. Dia membuka mulutnya. Apa yang harus dia katakan? Apa dia harus mengatakan bahwa dia menyadari perasaannya pada Karina setelah Karina pergi. Itulah alasan dia ingin mendapatkan Karina lagi.Mengenai Jessica, Anthony bisa saja mengusirnya setelah dia melahirkan. Lagi pula, mereka belum mendaftarkan pernikahan mereka.Anthony menelan ludah, lalu menatap gadis di belakang kedua pria itu. Hanya dalam waktu setengah tahun, keadaan Karina sudah terlihat jauh lebih baik daripada saat dia berada di Kediaman Keluarga Pangestu. Matanya yang dulu suram kini dipenuhi cahaya."Karin, aku tahu aku salah. Aku nggak seharusnya memperlakukanmu seperti itu. Aku selalu mengira aku nggak menyukaimu. Sampai kamu pergi, aku baru sadar orang yang benar-benar kucintai adalah kamu. Jessica cuma alat yang kugunakan untuk buat kamu kesal. Jadi, bisa nggak kamu kasih aku kesempatan lagi?" Anthony bersikap seperti seorang suami yang akhirnya menyadari kesalahannya setelah

  • Jangan Ceritakan Tentangku Padanya   Bab 19

    Jika itu dulu, Jessica pasti akan menolak. Sekarang, dia tidak punya pilihan selain datang. Jika bisa memenangkan hati Keluarga Kusnadi dengan menginstruksikan tarian ini, statusnya di Keluarga Pangestu akan meningkat. Memikirkan hal ini, dia menegakkan punggungnya dan berseru, "Yang paling kiri, angkat kakimu sedikit lebih tinggi lagi." Saat semua orang berlatih dengan antusias, manajer baru itu tiba-tiba masuk dengan wajah suram dan bertepuk tangan. "Untuk apa kalian masih berlatih? Pulanglah!" Menghadapi amarah manajer yang tiba-tiba, semua orang saling memandang. Bahkan Jessica yang sedang duduk di kursi juga berdiri dan berjalan menghampirinya secara perlahan."Bukannya latihannya berjalan dengan baik? Kenapa tiba-tiba berhenti?" Melihat Jessica, manajer itu langsung kesal. Namun, karena takut pada status Jessica, dia hanya bisa menjawab dingin, "Mana kutahu? Keluarga Kusnadi baru saja kirim orang untuk suruh kita nggak perlu berlatih lagi. Mereka nggak jadi tampil di acara in

  • Jangan Ceritakan Tentangku Padanya   Bab 18 

    Setelah membereskan barang-barang, Karina dan Jonathan mengobrol sebentar dengan ibu Jonathan. Kemudian, mereka baru membawa hadiah dan berjalan kaki ke Kediaman Keluarga Kusnadi untuk mengunjungi mentor Susana.Sebelum pergi, mereka tidak lupa berpesan kepada ibu Jonathan untuk tidak menyisakan makanan untuk mereka. Ibu Jonathan mengangguk, lalu mengingatkan mereka untuk berhati-hati sebelum memperhatikan mereka pergi.Jarak dari Kediaman Keluarga Wijaya ke Kediaman Keluarga Kusnadi tidak jauh. Namun, Jonathan adalah orang yang tidak bisa diam. Dia terus meminta Karina untuk menceritakan kisah tentang ibu kota.Meskipun telah tinggal di ibu kota selama 15 tahun, Karina hanya selalu bolak-balik antara studio tari dan Kediaman Keluarga Pangestu. Dia sangat jarang pergi ke tempat lain. Apalagi setelah Anthony mengetahui perasaannya, dia lebih jarang keluar rumah lagi, kecuali perjalanan ke kuil di luar kota itu.Mendengar tentang kuil itu, Jonathan terus-menerus meminta Karina untuk meng

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status