Share

Bab 4

Author: Syara
Saat dentang lonceng terdengar dari kejauhan, kabut tebal perlahan menghilang dan pemandangan pegunungan di luar kuil muncul di hadapan semua orang.

Anita menunduk dan memperhatikan jalan setapak batu di bawah kakinya dengan sungguh-sungguh. Dia berjalan keluar selangkah demi selangkah.

"Apa ini?"

Sebuah suara tiba-tiba menginterupsi pikirannya. Anita mendongak dan melihat Jessica berdiri di depan pohon Bodhi. Dia sedang memeriksa pita harapan yang tergantung di pohon itu dengan serius.

[ Semoga Anita selalu bahagia dari tahun ke tahun. Semoga semua keinginannya terpenuhi. Umatmu, Anthony. ]

[ Semoga Anita bahagia dan semua keinginannya terpenuhi. Semoga dunia ini memperlakukanmu dengan baik. Umatmu, Anthony. ]

[ Semoga Anita diberkati dengan keberuntungan, terbebas dari penyakit dan bencana sepanjang hidupnya, serta dikelilingi orang yang baik. Umatmu, Anthony. ]

[ Semoga gadisku, Anita, selalu hidup dalam kedamaian dari hari ke hari, tahun demi tahun. Umatmu, Anthony. ]

...

Jessica membaca isi pita harapan itu dengan lantang. Setiap selesai membaca isi sebuah pita harapan, kecemburuannya juga makin kuat.

Namun, Anita hanya memandang pita-pita harapan itu. Hatinya sedikit bergetar dan pikirannya melayang jauh.

Akibat terjebak dalam gempa yang dahsyat, kesehatan Anita selalu buruk dan dia sering sakit. Agar dia bisa pulih lebih cepat, setiap minggu, Anthony akan datang ke kuil untuk menggantung pita-pita harapan dan mendoakan keselamatannya.

Anita tidak menyangka bahwa Anthony telah menggantung begitu banyak pita harapan selama bertahun-tahun. Sekarang, pita-pita harapan itu masih tergantung di pohon, tetapi hubungannya dengan Anthony tidak akan pernah bisa kembali seperti dulu.

"Hubungan persaudaraan kalian dekat banget, sampai-sampai aku merasa aku barulah orang luar."

Jessica tidak mampu lanjut membaca lagi. Wajahnya menjadi dingin dan dia berbalik untuk pergi.

Anthony buru-buru menghentikannya dan menghibur dengan sabar, "Jangan ngambek. Apa maksudmu dengan orang luar? Kamu itu istriku, sedangkan dia cuma adikku. Kalau kamu nggak senang, aku akan suruh orang menurunkannya."

Seusai berbicara, Anthony berbalik dan memerintahkan anak buahnya untuk menurunkan semua pita harapan dari pohon itu. Satu demi satu pita itu jatuh ke tanah, terinjak-injak orang, dan ternoda lumpur.

Tak lama kemudian, pita-pita harapan yang baru digantung lagi. Semuanya berisi pesan cinta yang Anthony tulis khusus untuk Jessica.

Saat ini, Jessica baru tersenyum lagi. Dia melirik Anita dengan penuh kemenangan, tetapi pura-pura khawatir. "Bukankah Anita akan marah kalau kamu berbuat begini?"

Anthony terkekeh pelan. "Adik mana sepenting istri? Sekarang, kamu nggak marah padaku lagi, 'kan?"

Mungkin karena sudah gembira, dalam perjalanan kembali ke kota, Jessica terus menempel pada Anthony yang duduk di kursi pengemudi.

Anita yang duduk di kursi belakang memejamkan matanya dan hendak beristirahat. Tiba-tiba, laju mobil makin kencang. Dia membuka matanya dan hendak bertanya apa yang terjadi. Namun, dia hanya mendengar suara tabrakan yang memekakkan telinga.

Mobil itu tiba-tiba menabrak pembatas jalan dan terguling beberapa kali sebelum akhirnya terjepit di jurang kecil pegunungan.

Kepala Anita membentur sandaran kursi dengan kuat hingga menyebabkan pandangannya kabur. Ketika tersadar kembali, dia melihat dirinya terjebak di kursi. Lengannya tertusuk ranting pohon dan darahnya mengalir deras.

Di sampingnya, ada Jessica yang juga tidak sadarkan diri. Dia terlihat baik-baik saja dan hanya pingsan karena ketakutan.

Anthony yang duduk di kursi pengemudi bereaksi cepat. Dia memecahkan jendela dan memanjat keluar dari mobil. Setelah terhuyung-huyung sesaat, dia baru mendapatkan kembali keseimbangannya.

Anthony menatap Anita yang kesakitan hingga kesulitan bernapas dan Jessica yang tidak sadarkan diri. Setelah ragu sejenak, dia menggendong Jessica di punggungnya.

"Aku bawa Jessi pergi dulu. Nanti, aku akan kirim orang untuk menjemputmu."

Seusai berbicara, Anthony berhenti menatap ekspresi Anita dan buru-buru pergi dengan menggendong Jessica, seolah-olah takut terjadi sesuatu padanya.

Sejak memutuskan untuk mengubur perasaannya terhadap Anthony, Anita sudah berkata pada dirinya sendiri bahwa dia tidak akan pernah menangis demi pria itu lagi. Mulai sekarang, dia hanya akan hidup untuk dirinya sendiri.

Namun, ketika ditinggal sendirian dan terjebak dalam mobil di lembah yang terpencil, Anita mau tak mau teringat gempa waktu itu. Saat itu, dia juga terkubur sendiri di bawah reruntuhan yang gelap. Dia terjebak selama tiga hari tiga malam, juga menangis selama itu.

Kemudian, setelah diadopsi oleh Keluarga Pangestu, Anita memimpikan kejadian malam itu setiap hari. Dia membungkus dirinya dengan selimut dan menangis hingga gemetar.

Pada saat-saat itu, Anthony selalu bergegas ke kamarnya dan memeluknya erat-erat sambil berkata, "Jangan takut, Sayang. Ada Kakak di sini. Kakak nggak akan pernah biarkan kamu terluka lagi."

Sekarang, Anita hanya bisa menyaksikan tanpa daya saat Anthony berjalan menjauh, hingga sepenuhnya menghilang dari pandangannya. Darah di tangannya mengalir makin deras. Seiring waktu yang berlalu dan langit yang makin gelap, Anthony yang telah berjanji untuk menjemputnya tidak pernah kembali.

Anita tersenyum getir. Dia mengabaikan rasa sakit dan mengerahkan seluruh kekuatan terakhirnya untuk berusaha merangkak keluar dari mobil. Kemudian, sambil menggertakkan gigi, dia mencabut ranting yang tertancap di lengannya. Akhirnya, dia merangkak ke luar sedikit demi sedikit.

Anita tidak tahu sudah berapa lama dia merangkak. Wajahnya dipenuhi darah yang bercampur air mata. Akhirnya, dia yang seluruh tubuhnya berlumuran darah merangkak sampai ke jalan raya sebelum benar-benar kehilangan kesadaran.

Ketika tersadar, Anita mendapati dirinya terbaring di ranjang rumah sakit dengan tangan dibalut perban tebal. Ingatan terakhirnya adalah dirinya diselamatkan dan dibawa ke rumah sakit oleh orang baik hati yang lewat.

Sejak Anita dirawat di rumah sakit, Anthony belum pernah mengunjunginya sekali pun. Perawat mengatakan bahwa dia sedang menjaga Jessica.

Jessica hanya mengalami luka ringan, tetapi Anthony mereservasi seluruh lantai hanya agar Jessica dapat beristirahat dan memulihkan diri dengan tenang. Dia bahkan menyuruh para spesialis dari berbagai departemen untuk memeriksa Jessica.

Mendengar ini, Anita tanpa sadar melihat seluruh lengannya yang dibalut perban. Dia teringat saat dirinya dulu dirawat di rumah sakit karena flu ringan, Anthony juga pernah sekhawatir ini. Pria itu memanggil banyak dokter untuk memeriksanya dan tetap berada di sisinya sepanjang hari. Anthony bahkan berulang kali menunda kepulangannya ke tim militer.

Air mata mengalir di wajah Anita dan membasahi bantalnya.

Pada hari Anita dipulangkan, ada banyak teman yang datang menjemputnya, termasuk seorang pemuda yang pernah mengejarnya.

Melihat pemuda itu memberikan bunga kepadanya, Anita secara refleks ingin menolak. Namun, pemuda itu menyela dengan terbata-bata, "Ni ... Nita, jangan berpikir kejauhan. Bunga ini cuma untuk merayakan kesembuhanmu. Aku tahu kamu akan segera pergi. Aku cuma berharap kamu bisa hidup dengan baik mulai sekarang."

Mendengar ini, Anita tertegun sejenak. Kemudian, dia berterima kasih dan menerima bunga itu. Namun, begitu berbalik, dia melihat Anthony berdiri di ambang pintu.

Dalam ingatan Anita, Anthony jarang marah. Kini, wajahnya malah terlihat sangat suram. Matanya juga sedingin es saat menatap bunga di tangan Anita. Setelah itu, dia baru berbalik dan pergi.

Anita pun tercengang dan merasa agak bingung. Dia tidak mengerti apa yang membuat Anthony marah. Namun, dia tidak terlalu memikirkannya. Setelah pulang ke rumah, dia langsung memindahkan bunga itu ke vas.

Tiba-tiba, ada ketukan di pintu. Anita berjalan ke arah pintu sambil bertumpu pada dinding dan membukanya. Begitu pintu dibuka, wajah tegas seseorang muncul di hadapannya. Itu adalah Anthony!

Sejak Anthony mengetahui perasaan Anita, hubungan mereka menjadi sangat buruk. Anthony juga tidak pernah mengetuk pintu kamarnya lagi sejak itu. Untuk apa dia datang sekarang?

Sebelum Anita sempat berbicara, Anthony tiba-tiba memeluknya. Gerakan tak terduga itu sangat mengejutkannya. Dia pun terdesak mundur beberapa langkah, hingga jatuh ke sofa bersama Anthony.

Anita mencium aroma alkohol yang kuat dari tubuh pria itu. Baru saja dia hendak menghindar, pria itu mencengkeram dagunya dan menciumnya!
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Jangan Ceritakan Tentangku Padanya   Bab 23

    Satu demi satu fakta yang dilontarkan Karina membuat Anthony perlahan-lahan memejamkan matanya. Kata-kata yang ingin diucapkannya menjadi sangat sulit diucapkan. Rasa pahit memenuhi mulutnya.Anthony tiba-tiba teringat malam ketika gadis kecil itu terlalu takut untuk tidur. Dia membawa boneka beruang kecil dan duduk di samping tempat tidur gadis itu untuk membacakan dongeng pengantar tidur. Di akhir cerita, dia meletakkan boneka beruang itu di samping bantal si gadis, lalu berbicara dengan lembut tapi tegas, "Kakak akan selalu melindungimu, seperti boneka beruang ini. Aku nggak akan pernah sakiti kamu. Kamu akan selalu jadi pilihan pertamaku." Sekilas keterkejutan melintas di mata gadis kecil itu, tetapi dia segera menunduk lagi. "Kakak cuma mencoba menghiburku.""Nggak. Ayo kita buat janji kelingking.""Oke. Kalau Kakak benar-benar menyakitiku kelak, aku nggak akan pernah peduli sama kamu lagi!" Air mata mengalir tanpa suara di wajahnya. Anthony membuka matanya lagi dan menatap ora

  • Jangan Ceritakan Tentangku Padanya   Bab 22

    Di kuil pegunungan di luar kota. Langit perlahan-lahan memutih dan kabut juga makin tebal. Gumpalan asap putih tebal naik bersama kabut dan menutupi seluruh jalan.Karina dan Jonathan berjalan selangkah demi selangkah di sepanjang jalan setapak batu menuju kuil di puncak gunung. Di kejauhan, terdengar lantunan doa samar dan bunyi lonceng yang panjang. Di halaman kuil, pepohonan tua menjulang tinggi dan batu-batunya ditutupi lumut. Angin yang bertiup membuat daun berguguran dan menimbulkan suara gemerisik. Lonceng perunggu yang tergantung di atap juga bergetar pelan.Karina menarik napas dalam-dalam dan duduk di kursi batu yang ada di sudut halaman. Dia memperhatikan Jonathan melihat ke sana kemari, seperti seorang anak kecil yang penasaran. Momen yang seharusnya indah terganggu oleh kedatangan Anthony. Pria ini benar-benar bagai hantu gentayangan. Itulah pikiran pertama Karina ketika melihat Anthony berjalan ke arahnya."Karin, bisa nggak kita bicara baik-baik?" Kata-kata Juliana ke

  • Jangan Ceritakan Tentangku Padanya   Bab 21

    Jessica pada dasarnya sudah kesal mendengar kata-kata Anthony. Sekarang, pria itu malah bersikap galak padanya. Dia juga tidak perlu bersembunyi lagi. Dia bangkit dan berjalan mendekat, lalu ingin meraih lengan Anthony. Akan tetapi, pria itu menghindar dengan cekatan.Jessica menggertakkan giginya, lalu mengamati Karina dari atas sampai bawah. Pada akhirnya, tatapannya berhenti di kaki Karina. Dia berkata dengan santai, "Kelompok tari kami sudah terima tawaran untuk menampilkan pertunjukan dari Keluarga Kusnadi. Kami awalnya berlatih dengan baik, tapi manajer kami tiba-tiba masuk dan bilang pertunjukan kami dibatalkan.""Setelah ditanyakan, alasannya ternyata karena kamu nggak sanggup nonton pertunjukan menari setelah nggak bisa menari. Tapi, kamu juga payah banget. Kalau nggak bisa nonton pertunjukan, ya jangan nonton. Kenapa acaranya harus dibatalkan? Jadinya, ada begitu banyak orang yang kehilangan penghasilan. Kamu memang masih seegois biasanya!""Diam!""Diam!" Beberapa pria itu

  • Jangan Ceritakan Tentangku Padanya   Bab 20 

    Pertanyaan itu membuat Anthony termenung. Dia membuka mulutnya. Apa yang harus dia katakan? Apa dia harus mengatakan bahwa dia menyadari perasaannya pada Karina setelah Karina pergi. Itulah alasan dia ingin mendapatkan Karina lagi.Mengenai Jessica, Anthony bisa saja mengusirnya setelah dia melahirkan. Lagi pula, mereka belum mendaftarkan pernikahan mereka.Anthony menelan ludah, lalu menatap gadis di belakang kedua pria itu. Hanya dalam waktu setengah tahun, keadaan Karina sudah terlihat jauh lebih baik daripada saat dia berada di Kediaman Keluarga Pangestu. Matanya yang dulu suram kini dipenuhi cahaya."Karin, aku tahu aku salah. Aku nggak seharusnya memperlakukanmu seperti itu. Aku selalu mengira aku nggak menyukaimu. Sampai kamu pergi, aku baru sadar orang yang benar-benar kucintai adalah kamu. Jessica cuma alat yang kugunakan untuk buat kamu kesal. Jadi, bisa nggak kamu kasih aku kesempatan lagi?" Anthony bersikap seperti seorang suami yang akhirnya menyadari kesalahannya setelah

  • Jangan Ceritakan Tentangku Padanya   Bab 19

    Jika itu dulu, Jessica pasti akan menolak. Sekarang, dia tidak punya pilihan selain datang. Jika bisa memenangkan hati Keluarga Kusnadi dengan menginstruksikan tarian ini, statusnya di Keluarga Pangestu akan meningkat. Memikirkan hal ini, dia menegakkan punggungnya dan berseru, "Yang paling kiri, angkat kakimu sedikit lebih tinggi lagi." Saat semua orang berlatih dengan antusias, manajer baru itu tiba-tiba masuk dengan wajah suram dan bertepuk tangan. "Untuk apa kalian masih berlatih? Pulanglah!" Menghadapi amarah manajer yang tiba-tiba, semua orang saling memandang. Bahkan Jessica yang sedang duduk di kursi juga berdiri dan berjalan menghampirinya secara perlahan."Bukannya latihannya berjalan dengan baik? Kenapa tiba-tiba berhenti?" Melihat Jessica, manajer itu langsung kesal. Namun, karena takut pada status Jessica, dia hanya bisa menjawab dingin, "Mana kutahu? Keluarga Kusnadi baru saja kirim orang untuk suruh kita nggak perlu berlatih lagi. Mereka nggak jadi tampil di acara in

  • Jangan Ceritakan Tentangku Padanya   Bab 18 

    Setelah membereskan barang-barang, Karina dan Jonathan mengobrol sebentar dengan ibu Jonathan. Kemudian, mereka baru membawa hadiah dan berjalan kaki ke Kediaman Keluarga Kusnadi untuk mengunjungi mentor Susana.Sebelum pergi, mereka tidak lupa berpesan kepada ibu Jonathan untuk tidak menyisakan makanan untuk mereka. Ibu Jonathan mengangguk, lalu mengingatkan mereka untuk berhati-hati sebelum memperhatikan mereka pergi.Jarak dari Kediaman Keluarga Wijaya ke Kediaman Keluarga Kusnadi tidak jauh. Namun, Jonathan adalah orang yang tidak bisa diam. Dia terus meminta Karina untuk menceritakan kisah tentang ibu kota.Meskipun telah tinggal di ibu kota selama 15 tahun, Karina hanya selalu bolak-balik antara studio tari dan Kediaman Keluarga Pangestu. Dia sangat jarang pergi ke tempat lain. Apalagi setelah Anthony mengetahui perasaannya, dia lebih jarang keluar rumah lagi, kecuali perjalanan ke kuil di luar kota itu.Mendengar tentang kuil itu, Jonathan terus-menerus meminta Karina untuk meng

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status