LOGINAda pertanyaan di forum, "Bagaimana rasannya menikah dengan orang yang nggak kita cintai?" Suamiku menjawab, "Berhubungan seks dengannya seperti rutinitas dan setiap hari rasanya hanya ingin bercerai." Wanita yang menempati hati Sendra Wijayanto, Kirana Larasati, sudah kembali dari luar negeri. Keduanya beradu adegan panas di tempat tidur. Kirana bersikap sok di depanku dan ingin aku mundur. Aku melemparkan surat cerai dengan dingin ke arahnya. "Kalau bisa, buat dia menandatangani surat cerai ini. Kalau nggak, aku hanya akan meremehkanmu."
View MoreSetelah aku mengatakan itu, senyum di wajah Kirana langsung kaku.Aku dengan bangganya mengeluarkan liontin itu dan menunjukkannya kepadanya.Entah dari bahan liontin atau pembuatannya, milikku jauh lebih bagus dibandingkan yang ada di tangan Kirana.Sendra menatap kosong nama yang terukir di liontin."Niara? Apa maksudnya?"Aku menghela napas tanpa ekspresi. "Aku lupa bilang kalau itulah nama yang aku berikan pada putriku, Niara Sarastika."Sendra menjadi panik. "Bukannya kita sudah sepakat bakal kasih dia nama Kirana Wijayanto?""Itu dulu."Aku terdiam dan menatap Sendra tanpa sedikitpun kehangatan di mataku. "Lagipula, aku benci bulan."Setelah bercerai dengan Sendra, aku dengan senang hati menunjukkan surai cerai itu pada status media sosialku.Lisa, tetanggaku sangat senang saat melihat itu. Dia meneleponku dan membicarakan banyak hal."Kak Jelita, kamu cerdas sekali. Pecundang sepertinya memang pantas dicampakkan!"Dari Lisa, aku mendapat kabar terbaru tentang Sendra.Setelah ber
"Ya, kalian berdua terlihat sangat serasi, seperti pasangan sejati."Kirana menunduk dengan wajah malu-malu.Tepat pada saat itu, aku mendorong pintu dan melangkah masuk.''Suamiku, apa kamu bisa keluar sebentar, ada yang ingin aku katakan pada Nona Kirana."Suasana di sekitar seketika menjadi canggung.Kedua orang tua yang memuji Sendra dan Kirana memandang kedua orang ini lagi, sepertinya menyesali apa yang sudah mereka katakan. Sorot mata mereka pun berubah sulit diartikan."Jelita, Kirana masih sakit dan emosinya nggak boleh terpancing."Tubuh tinggi Sendra melindungi Kirana di belakangnya, takut aku akan melakukan sesuatu padanya."Sendra, kamu minggir dulu. Kak Jelita mungkin salah paham denganku. Mungkin kita harus membicarakannya biar jelas."Kirana berjuang untuk duduk dari tempat tidur dan tersenyum tipis pada Sendra.Aku meletakkan bunga yang aku bawa dan menyaksikan penampilan mereka dengan penuh minat.Ketika mereka hampir selesai berakting, aku terbatuk dan berdehem."Jan
"Selama aku mau, dia akan langsung mendekat selama aku menggerakkan jariku.""Mungkin kamu belum tahu kalau hari pernikahanmu dengan Sendra sebenarnya hari ulang tahunku.""Lalu?"Aku bertanya dengan nada dingin.Kirana terkejut, lalu tertawa setelahnya."Aku tahu apa yang kamu inginkan. Kamu pikir dengan berpura-pura bersikap tenang, kamu bisa terus menjadi istri Sendra?"Kirana mengatupkan kedua tangannya di depan dan berkata remeh, "Kalau begitu, kamu salah besar."Hehe.Aku tersenyum dingin, "Kamu terlalu meremehkanku. Aku datang menemui Sendra karena ingin membicarakan perceraian.""Karena dia belum bangun, jadi tolong katakan padanya kalau sidang akan dilangsungkan besok. Aku harap dia nggak terlambat.""Mengenai status sebagai istri Sendra, aku sungguh nggak peduli. Kalau kamu bisa, kamu bisa mengambilnya. Tapi ...."Aku menyipitkan mata padanya. "Aku khawatir kau nggak akan mampu mendapatkannya."Meninggalkan surat dari pengadilan, aku langsung pergi dari rumah.Hari persidanga
"Hmm."Sendra mengangguk, pikirannya terbawa dalam situasi yang dikatakan Kirana."Karena kamu ingin ke sana, kita ke sana saja.""Tapi sepertinya aku ingat kalau sekolah ini punya peraturan kalau yang bukan murid sana nggak boleh masuk."Melalui kaca belakang, Kirana menatapku dan berkata sambil menyeringai.Ciiiittt!Sendra tiba-tiba menginjak rem.Dia menatapku. "Jelita, turun dan pulang naik taksi saja."Di tengah malam, aku yang menggendong putriku diturunkan dari mobil. Menyedihkan sekali.Saat kami pergi, Kirana menatapku dengan tatapan penuh kepuasan, mulutnya terbuka tanpa suara."Kamu kalah."Apa aku benar-benar kalah?Aku mencibir saat melihat punggung Sendra yang pergi bersama Kirana dengan penuh percaya diri.Akhir dari situasi ini masih belum diputuskan, tidak ada yang tahu siapa yang menang dan siapa yang kalah.Setelah sampai di rumah, aku melihat status terbaru yang dikirimkan Kirana."Bertemu denganmu adalah hal terbaik dalam hidup."Gambar yang menyertainya adalah ba






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews