Compartilhar

Bab 6 

Autor: Syara
Pada larut malam, Anita baru pulang dan langsung melihat Anthony berdiri di depan pintu. Ekspresinya sulit dipahami dan dia sepertinya sedang menunggu Anita.

Anita berjalan menghampirinya dan bermaksud menanyakan apa yang salah. Namun, Anthony malah menuntut dengan dingin, "Anita, bisa nggak kamu berhenti menindas Jessi? Kalau kamu nggak suka sama dia, katakan saja. Buat apa kamu menindasnya di studio tari?"

Anita pada dasarnya sudah kelelahan. Dalam seketika, kata-kata itu memicu berbagai luapan emosi yang rumit, ada rasa kesal, sedih, dan tak berdaya.

Sangat jelas bahwa Jessica telah melebih-lebihkan sesuatu di depan Anthony. Anita tidak menjelaskan lebih lanjut, hanya berjalan melewati Anthony dan kembali ke kamarnya.

Sejak saat itu, Anita bersikap jauh lebih lunak terhadap Jessica. Hal ini membuat Jessica makin menjadi-jadi. Setiap hari, dia hanya datang ke studio tari untuk absen, lalu langsung pergi.

Ketika yang lain merasa marah dan ingin berdebat dengan Jessica, Anita menghentikan mereka dan menggeleng. Ini adalah hidup Jessica. Jika dia gagal dalam ujian penilaian, dia akan dikeluarkan dari kelompok tari secara paksa. Dia harus bertanggung jawab atas hidupnya sendiri. Apalagi, Anita juga tidak punya cukup waktu untuk mengajarinya lagi.

Anita mengira masalah ini sudah berakhir. Tak disangka, Anthony tiba-tiba mencarinya dan memintanya untuk menyerahkan posisi penari utama tarian tersebut kepada Jessica. Awalnya, dia tidak bereaksi. Sampai Anthony bertanya lagi apakah dia bersedia mengalah.

Anita akhirnya menatap Anthony. Matanya berkilat dengan amarah yang dingin. "Maksudmu, aku harus serahkan posisi penari utamaku kepadanya?"

Anita berusaha sekuat tenaga untuk mengendalikan emosinya, tetapi dia tidak bisa menyembunyikan getaran dalam suaranya.

Anthony tidak menyadari kejanggalannya, hanya berkata dengan dingin, "Dia itu kakak iparmu. Lagian, itu cuma posisi penari utama. Apa itu begitu penting?"

Hanya posisi penari utama? Apa itu begitu penting?

Pada saat ini, Anita tidak lagi bisa mengendalikan emosinya.

"Anthony, lima tahun yang lalu, setelah tahu aku suka menari, kamu yang menyewa guru tari terbaik untukku. Empat tahun lalu, waktu aku bawa pulang piala kejuaraan tari pertamaku, kamu yang begadang semalaman untuk merayakannya."

"Tiga tahun lalu, waktu aku dikucilkan anggota lain setelah menjadi penari utama, kamu yang mendukung dan menyemangatiku untuk terus mengejar mimpiku, juga menyuruhku untuk jangan peduli dengan apa yang dipikirkan orang lain."

"Sekarang, kamu juga yang mau aku serahkan posisi penari utama di koreografi yang telah kubuat selama setahun kepada Jessica! Kamu jelas-jelas ... tahu apa artinya menari bagiku!"

Anita mengepalkan tangannya erat-erat. Suaranya bergetar karena menahan tangis.

Melihat air mata yang membasahi wajah Anita, Anthony merasa seolah-olah ada sesuatu yang mencengkeram hatinya. Dia tiba-tiba teringat studio tari yang tetap terang benderang di malam hari selama beberapa tahun, juga bagaimana gadis ini melompat dan jatuh berkali-kali.

Tangannya yang besar tiba-tiba terkepal. Tanpa mengatakan apa-apa lagi, Anthony berbalik dan pergi.
Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App

Último capítulo

  • Jangan Ceritakan Tentangku Padanya   Bab 23

    Satu demi satu fakta yang dilontarkan Karina membuat Anthony perlahan-lahan memejamkan matanya. Kata-kata yang ingin diucapkannya menjadi sangat sulit diucapkan. Rasa pahit memenuhi mulutnya.Anthony tiba-tiba teringat malam ketika gadis kecil itu terlalu takut untuk tidur. Dia membawa boneka beruang kecil dan duduk di samping tempat tidur gadis itu untuk membacakan dongeng pengantar tidur. Di akhir cerita, dia meletakkan boneka beruang itu di samping bantal si gadis, lalu berbicara dengan lembut tapi tegas, "Kakak akan selalu melindungimu, seperti boneka beruang ini. Aku nggak akan pernah sakiti kamu. Kamu akan selalu jadi pilihan pertamaku." Sekilas keterkejutan melintas di mata gadis kecil itu, tetapi dia segera menunduk lagi. "Kakak cuma mencoba menghiburku.""Nggak. Ayo kita buat janji kelingking.""Oke. Kalau Kakak benar-benar menyakitiku kelak, aku nggak akan pernah peduli sama kamu lagi!" Air mata mengalir tanpa suara di wajahnya. Anthony membuka matanya lagi dan menatap ora

  • Jangan Ceritakan Tentangku Padanya   Bab 22

    Di kuil pegunungan di luar kota. Langit perlahan-lahan memutih dan kabut juga makin tebal. Gumpalan asap putih tebal naik bersama kabut dan menutupi seluruh jalan.Karina dan Jonathan berjalan selangkah demi selangkah di sepanjang jalan setapak batu menuju kuil di puncak gunung. Di kejauhan, terdengar lantunan doa samar dan bunyi lonceng yang panjang. Di halaman kuil, pepohonan tua menjulang tinggi dan batu-batunya ditutupi lumut. Angin yang bertiup membuat daun berguguran dan menimbulkan suara gemerisik. Lonceng perunggu yang tergantung di atap juga bergetar pelan.Karina menarik napas dalam-dalam dan duduk di kursi batu yang ada di sudut halaman. Dia memperhatikan Jonathan melihat ke sana kemari, seperti seorang anak kecil yang penasaran. Momen yang seharusnya indah terganggu oleh kedatangan Anthony. Pria ini benar-benar bagai hantu gentayangan. Itulah pikiran pertama Karina ketika melihat Anthony berjalan ke arahnya."Karin, bisa nggak kita bicara baik-baik?" Kata-kata Juliana ke

  • Jangan Ceritakan Tentangku Padanya   Bab 21

    Jessica pada dasarnya sudah kesal mendengar kata-kata Anthony. Sekarang, pria itu malah bersikap galak padanya. Dia juga tidak perlu bersembunyi lagi. Dia bangkit dan berjalan mendekat, lalu ingin meraih lengan Anthony. Akan tetapi, pria itu menghindar dengan cekatan.Jessica menggertakkan giginya, lalu mengamati Karina dari atas sampai bawah. Pada akhirnya, tatapannya berhenti di kaki Karina. Dia berkata dengan santai, "Kelompok tari kami sudah terima tawaran untuk menampilkan pertunjukan dari Keluarga Kusnadi. Kami awalnya berlatih dengan baik, tapi manajer kami tiba-tiba masuk dan bilang pertunjukan kami dibatalkan.""Setelah ditanyakan, alasannya ternyata karena kamu nggak sanggup nonton pertunjukan menari setelah nggak bisa menari. Tapi, kamu juga payah banget. Kalau nggak bisa nonton pertunjukan, ya jangan nonton. Kenapa acaranya harus dibatalkan? Jadinya, ada begitu banyak orang yang kehilangan penghasilan. Kamu memang masih seegois biasanya!""Diam!""Diam!" Beberapa pria itu

  • Jangan Ceritakan Tentangku Padanya   Bab 20 

    Pertanyaan itu membuat Anthony termenung. Dia membuka mulutnya. Apa yang harus dia katakan? Apa dia harus mengatakan bahwa dia menyadari perasaannya pada Karina setelah Karina pergi. Itulah alasan dia ingin mendapatkan Karina lagi.Mengenai Jessica, Anthony bisa saja mengusirnya setelah dia melahirkan. Lagi pula, mereka belum mendaftarkan pernikahan mereka.Anthony menelan ludah, lalu menatap gadis di belakang kedua pria itu. Hanya dalam waktu setengah tahun, keadaan Karina sudah terlihat jauh lebih baik daripada saat dia berada di Kediaman Keluarga Pangestu. Matanya yang dulu suram kini dipenuhi cahaya."Karin, aku tahu aku salah. Aku nggak seharusnya memperlakukanmu seperti itu. Aku selalu mengira aku nggak menyukaimu. Sampai kamu pergi, aku baru sadar orang yang benar-benar kucintai adalah kamu. Jessica cuma alat yang kugunakan untuk buat kamu kesal. Jadi, bisa nggak kamu kasih aku kesempatan lagi?" Anthony bersikap seperti seorang suami yang akhirnya menyadari kesalahannya setelah

  • Jangan Ceritakan Tentangku Padanya   Bab 19

    Jika itu dulu, Jessica pasti akan menolak. Sekarang, dia tidak punya pilihan selain datang. Jika bisa memenangkan hati Keluarga Kusnadi dengan menginstruksikan tarian ini, statusnya di Keluarga Pangestu akan meningkat. Memikirkan hal ini, dia menegakkan punggungnya dan berseru, "Yang paling kiri, angkat kakimu sedikit lebih tinggi lagi." Saat semua orang berlatih dengan antusias, manajer baru itu tiba-tiba masuk dengan wajah suram dan bertepuk tangan. "Untuk apa kalian masih berlatih? Pulanglah!" Menghadapi amarah manajer yang tiba-tiba, semua orang saling memandang. Bahkan Jessica yang sedang duduk di kursi juga berdiri dan berjalan menghampirinya secara perlahan."Bukannya latihannya berjalan dengan baik? Kenapa tiba-tiba berhenti?" Melihat Jessica, manajer itu langsung kesal. Namun, karena takut pada status Jessica, dia hanya bisa menjawab dingin, "Mana kutahu? Keluarga Kusnadi baru saja kirim orang untuk suruh kita nggak perlu berlatih lagi. Mereka nggak jadi tampil di acara in

  • Jangan Ceritakan Tentangku Padanya   Bab 18 

    Setelah membereskan barang-barang, Karina dan Jonathan mengobrol sebentar dengan ibu Jonathan. Kemudian, mereka baru membawa hadiah dan berjalan kaki ke Kediaman Keluarga Kusnadi untuk mengunjungi mentor Susana.Sebelum pergi, mereka tidak lupa berpesan kepada ibu Jonathan untuk tidak menyisakan makanan untuk mereka. Ibu Jonathan mengangguk, lalu mengingatkan mereka untuk berhati-hati sebelum memperhatikan mereka pergi.Jarak dari Kediaman Keluarga Wijaya ke Kediaman Keluarga Kusnadi tidak jauh. Namun, Jonathan adalah orang yang tidak bisa diam. Dia terus meminta Karina untuk menceritakan kisah tentang ibu kota.Meskipun telah tinggal di ibu kota selama 15 tahun, Karina hanya selalu bolak-balik antara studio tari dan Kediaman Keluarga Pangestu. Dia sangat jarang pergi ke tempat lain. Apalagi setelah Anthony mengetahui perasaannya, dia lebih jarang keluar rumah lagi, kecuali perjalanan ke kuil di luar kota itu.Mendengar tentang kuil itu, Jonathan terus-menerus meminta Karina untuk meng

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status