LOGINDi hari mencoba gaun pengantin, Levi sekali lagi menunda hari pernikahan kami. Alasannya adalah adik angkatnya baru saja putus cinta dengan pacarnya. "Neina baru saja putus, dia sedang butuh penghiburan. Pernikahan kita hanya akan membuatnya semakin sedih." Aku mengangguk setuju dan menanggalkan gaun pengantin itu dalam diam. Demi adik angkat yang dia besarkan sendiri itu, Levi sudah berulang kali menunda pernikahan kami. Pertama kali, adik angkatnya bertanya dengan air mata berlinang, "Kak, kalau kamu menikah dengannya, apa kamu nggak akan mau punya adik sepertiku lagi?" Hati Levi luluh. Dia bersumpah akan menunggu hingga adiknya lulus kuliah baru akan menikah. Kedua kalinya, saat sang adik sudah lulus kuliah. Dia kabur dari rumah dan meninggalkan sepucuk surat perpisahan. [Kak, aku nggak sanggup berpisah denganmu.] Levi berjanji, dia baru akan menikah setelah adiknya menemukan pasangan yang sesuai. Tahun demi tahun berlalu, penantianku menjadikanku bahan tertawaan di lingkaran pergaulan kami. Kali ini, aku tidak ingin menunggu lagi. Aku mengirimkan pesan singkat kepada Levi. [Ayo kita putus. Semoga kamu dan adik kecilmu itu hidup bahagia selamanya.]
View MoreZaky menyewa apartemen tepat di bawah unitku. Dia seperti "aksesori" berukuran besar yang menempel padaku setiap hari. Dia mengikutiku ke kelas, tidur siang di studio lukis, dan menyodorkan cat saat aku sedang berkarya. Dia tidak pernah mengungkit masa lalu, aku pun tidak pernah bertanya tentang masa depan.Sore itu, saat aku sedang menggambar sketsa, Levi mengetuk pintu apartemenku. Dia tampak kurus dan layu, dengan lingkaran hitam pekat di bawah matanya."Diana, hari itu aku terlalu impulsif. Aku sangat menyesal."Aku menggelengkan kepala. "Aku sudah nggak peduli lagi."Levi maju selangkah. "Aku akhirnya sadar bahwa perasaan Neina melampaui batas perasaan saudara. Menunda pernikahan sebelumnya adalah kebodohanku.""Ikut aku pulang, kita akan segera mengadakan pernikahan paling megah. Setelah menikah hanya akan ada kita berdua, oke?"Aku tersenyum tipis. "Nggak perlu. Kita sudah putus."Saat aku hendak menutup pintu, Levi menahan gagang pintu dengan kuat. Pada saat itulah, Zaky mu
Mengenai luka-luka di tubuh Neina, opini publik terus memanas. Willy merasa terdesak hingga akhirnya merilis pernyataan resmi. Pernyataan itu dengan tegas menyatakan bahwa dia dan Neina tidak pernah memiliki hubungan lebih dari sekadar teman, apalagi melakukan tindakan kekerasan.Levi bertanya pada Neina, "Sebenarnya dari mana asalnya luka-luka di tubuhmu itu?"Tubuh Neina gemetar sesaat. "Aku sendiri yang melakukannya.""Kenapa?" Levi menekan amarahnya."Karena aku merasa sakit!" Neina menunjuk luka-luka di tubuhnya. "Sakit di sini nggak ada apa-apanya dibandingkan seperseribu rasa sakit di hatiku!""Setiap kali aku membayangkan Kakak nggak sayang aku lagi dan bersanding dengan wanita lain, hatiku rasanya seperti disayat pisau! Aku nggak mau!" teriaknya histeris.Levi terpaku menatap Neina yang tampak hampir gila. "Lalu di balkon hari itu, kenapa kamu memfitnah Diana?""Aku nggak memfitnahnya. Aku nggak pernah mengatakannya."Otak Levi berdengung hebat. Dia mengingat kembali kejadia
Satu bulan telah berlalu. Levi sedang menangani dokumen, tetapi matanya selalu melirik ke arah layar ponsel tanpa sadar. Setiap kali layar menyala, nama yang muncul bukanlah nama yang dia harapkan.Dengan gusar, dia melemparkan pulpennya ke meja. Diana benar-benar bisa menahan diri. Kejadian di balkon hari itu, di hadapan begitu banyak orang, sikapnya memang agak buruk. Levi mengakui bahwa dia tidak cukup adil pada Diana. Namun dengan kondisi Neina saat itu, apa yang bisa dia lakukan?Levi membatin, setelah Diana puas bermain di Negara Adaris dan amarahnya mereda, dia pasti akan pulang. Saat itu, dia akan bicara baik-baik pada Diana dan memberinya kompensasi. Hubungan mereka selama bertahun-tahun tidak mungkin putus begitu saja....Satu minggu berlalu lagi. Di dalam kantornya, Levi menatap layar ponsel, tidak bisa lagi duduk dengan tenang. Perasaan kehilangan kontak total ini membuat hatinya terasa kosong, sebuah kegelisahan asing mulai tumbuh perlahan.Dia membuka kolom perc
Sebelum pergi, aku membereskan barang-barang lama. Satu-satunya hal yang perlu diselesaikan antara aku dan Levi adalah sahamku di perusahaannya. Perusahaan itu kami dirikan bersama saat kuliah, aku mencurahkan seluruh tenaga dan harta bendaku di sana. Setelah kejadian di balkon itu, Levi tidak pernah mencariku lagi. Sehari sebelum keberangkatanku, aku pergi ke kantornya. Melihat kehadiranku, Levi menyunggingkan senyum tipis yang hampir tak terlihat."Akhirnya kamu sadar juga? Aku sengaja mendiamkanmu beberapa hari ini agar kamu benar-benar merenung." Dia mengira pengabaiannya selama beberapa hari terakhir telah membuatku menyerah."Nggak ada yang perlu kurenungkan, hari ini aku datang bukan untuk berbaikan, tapi untuk perhitungan." Aku meletakkan surat pengalihan saham yang sudah kusiapkan di atas meja, lalu mendorong surat itu ke hadapannya.Levi tampak tidak sabar. "Neina bahkan nggak berniat menuntutmu, bahkan selama beberapa hari ini dia nggak pernah menjelek-jelekanmu. Kamu






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.