Home / Romansa / Jangan Dikeluarin Dulu, Dok! / 42. Sebenarnya Aku Adalah ....

Share

42. Sebenarnya Aku Adalah ....

Author: Mas Author
last update Petsa ng paglalathala: 2026-04-16 18:34:02

Nayla menatap Naufal dengan tajam, napasnya masih belum stabil. Tangannya mengangkat pigura itu lebih tinggi, seolah itu adalah bukti paling kuat yang ia pegang saat ini.

“Jangan pura-pura nggak tahu, Dokter Naufal yang terhormat!” ucapnya dingin. “Kamu pasti udah cari tahu tentang aku, dan tentang masa lalu aku kan?”

Naufal mengangkat satu alisnya. “Hah? Cari tahu?” ulangnya santai.

“Iya!” Nayla melangkah maju satu langkah. “Nggak mungkin foto ini bisa ada di sini kalau kamu nggak sengaja meny
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Jangan Dikeluarin Dulu, Dok!   185. Meraba-Raba Milikmu (21+)

    “Terus, Sayang. Ahh! Aku … aku juga mau keluar!” Tubuh Nayla melengkung.Ia raih lengan kekar Naufal dan dipegangnya kuat-kuat. Sementara Naufal masih terus menghujam tubuh Nayla dengan hentakan keras dan dalam.“Oh! Kamu nikmat banget, Sayang. Mmhhh! Aku nggak tahan lagi rasanya." Wajah Naufal menengadah, ia pejamkan matanya rapat-rapat.Bersamaan dengan itu, hentakan tubuhnya semakin cepat dan sedikit kasar. Lalu dalam sekali hentakan dan lenguhan panjang, Naufal membenamkan miliknya dalam-dalam ke milik Nayla."Arrggghh!” Pria itu mengerang panjang, memuntahkan seluruh lahar panasnya ke dalam rahim milik sang istri.Nayla tak hanya diam. Ia menungg*ng semakin dalam, agar cairan Naufal bisa masuk seluruhnya ke dalam rahimnya. Miliknya pun juga terasa hangat dan membanjir, bercampur dengan cairan milk Naufal yang panas.Bruk!Keduanya ambruk bersamaan ke atas tempat tidur. Nayla menatap ke langit-langit kamar, nafasnya terengah-engah, dadanya naik turun tak beraturan.Naufal pun juga

  • Jangan Dikeluarin Dulu, Dok!   184. Bab Panas (21++)

    “Naufal, kamu mau ngapain sih?" Nayla terkejut karena tiba-tiba suaminya itu main melucuti kancing bajunya begitu saja.Kancing bagian atas Nayla bahkan sudah terlepas. Jemari kekar Naufal masih terlihat asyik bermain di sana."Na!”"Kenapa sih, Sayang? Aku cuma bantu kamu buat lepasin baju kamu aja. Kan basah,” sahut pria itu sambil mengangkat wajahnya, hingga pandangannya beradu lekat dengan mata sang istri."Dasar modus! Aku juga tau apa yang ada di pikiran mesum kamu itu.” Nayla meraih wajah suaminya dan mendekatkan wajah mereka."Jadi … mmm … apa aku boleh melakukannya?" bisik Naufal sembari mendekatkan bibir ke telinga Nayla.Nayla tak menjawab. Ia hanya tersipu malu, perlahan kepalanya mengangguk. Wajahnya terlihat memerah. Lagipula sekarang kondisinya sudah lebih baik. Tak ada salahnya jika melayani sang suami kan?Merasa sudah mendapatkan lampu hijau dari sang istri, Naufal pun perlahan merebahkan tubuh Nayla ke atas tempat tidur. Tangannya tak berhenti, hingga akhirnya selur

  • Jangan Dikeluarin Dulu, Dok!   183. Akhirnya Menemukan Bahagia

    "Aku ganggu sesuatu?"Suara Naufal membuat suasana kamar mendadak canggung. Reza yang sebelumnya duduk santai di sofa spontan berdiri dan menjauh beberapa langkah. Entah kenapa, ia merasa seperti tertangkap melakukan sesuatu yang salah, padahal dirinya hanya sedang mengobrol dengan Nayla.Sebaliknya, Naufal terlihat biasa saja. Ia masuk sambil menggenggam ponsel di tangannya lalu berjalan mendekati ranjang tanpa menunjukkan ekspresi curiga sedikit pun."Nggak. Kami cuma ngobrol," jawab Nayla santai.Naufal mengangguk. "Tadi Bara telepon. Polisi masih memeriksa Dimas. Sepertinya mereka mulai menemukan beberapa hal baru.""Bagus." Nayla menghela napas lega.Reza yang sedari tadi berdiri akhirnya berdeham pelan. "Kalau begitu aku pulang dulu. Masih ada pasien yang harus aku tangani.""Cepat amat?" tanya Nayla."Kalau aku lama-lama di sini, nanti ada yang ngusir."Naufal mendengus pelan. "Siapa yang mau ngusir?""Kau kalau lagi mode suami posesif."Nayla tertawa kecil mendengar itu. Sedan

  • Jangan Dikeluarin Dulu, Dok!   182. Mengagumimu Dalam Diam

    Keesokan paginya, sinar matahari yang masuk melalui jendela ruang rawat membuat Nayla perlahan membuka matanya. Kondisinya memang belum sepenuhnya pulih, tetapi jauh lebih baik dibanding malam sebelumnya. Rasa pusing yang sempat mengganggu sudah berkurang, hanya menyisakan sedikit nyeri di bagian belakang kepala. Di atas meja kecil di samping ranjang, sarapan sudah tersaji rapi. Nayla sedang menghabiskan buburnya ketika Naufal duduk di sofa sambil memeriksa hasil pemeriksaan terakhir. Sesekali pria itu mengangkat kepala untuk memastikan kondisi istrinya baik-baik saja. Sikapnya membuat Nayla geli. Sejak semalam, Naufal benar-benar memperlakukannya seperti pasien paling penting di seluruh rumah sakit. "Aku mau pulang." Kalimat itu keluar begitu saja dari mulut Nayla. Naufal yang sedang membaca berkas hanya menjawab singkat. "Nggak." Nayla mengembuskan napas panjang. "Aku sudah sehat." "Nggak." "Naufal." "Nggak." "Kamu bahkan nggak lihat aku dulu." "Kondisi pasien belum mem

  • Jangan Dikeluarin Dulu, Dok!   181. Aku Takut Kehilangan Kamu

    Tanpa membuang waktu lagi, Naufal menggendong tubuh sang istri dan membawanya masuk ke dalam mobil. Aldo buru-buru membukakan pintu, lalu Naufal masuk sambil tetap memeluk Nayla erat."Ke rumah sakit sekarang. Ngebut kalau perlu!" perintahnya.“Siap, Dok." Aldo mengangguk tanpa banyak bicara. Pedal gas segera diinjak dalam hingga mobil melesat membelah jalanan malam.Beberapa menit kemudian mereka tiba di Rumah Sakit Mahendra Medika.Begitu mobil berhenti, Naufal turun sambil mengangkat tubuh Nayla ke dalam pelukannya. Wajahnya tegang sejak tadi. Ia bahkan tidak memperdulikan rasa nyeri dari luka-luka yang masih menghiasi tubuhnya sendiri."Dokter Naufal!"Beberapa perawat yang melihat kedatangannya bergegas menghampiri."Siapkan ruang pemeriksaan sekarang," perintah Naufal tanpa memperlambat langkah."Baik, Dok."Suasana rumah sakit mendadak sibuk. Semua orang mengenali wanita yang sedang digendong Naufal.Nayla Mahendra.Istri pemilik rumah sakit mereka.Tanpa menunggu siapa pun, N

  • Jangan Dikeluarin Dulu, Dok!   180. Terbongkarnya Kebusukan Dimas

    “Ini nggak mungkin!” Nayla menggeleng lemah, rasanya ia masih tak percaya dengan apa yang terjadi. Perlahan kakinya mundur, hendak pergi dari sana. Ia ingin mengatakan semuanya pada Naufal. Nayla meraih ponselnya dengan tangan gemetar. Tapi sial, ponselnya tak menyala. Ia kehabisan baterai. “Argh! Bisa-bisanya habis baterai di saat yang tepat seperti ini," decaknya kesal. Ia berjalan pelan hendak meninggalkan tempat itu. Kalau sampai ketahuan Dimas, bisa habis Nayla disana. Klanggg! Suara kaleng bekas yang tersenggol kaki Nayla bergema keras di dalam gudang. Tubuh Nayla langsung membeku. Sial! Beberapa pria yang sedang menjaga Hendra spontan menoleh. Dimas pun ikut memalingkan wajahnya. Untuk sesaat suasana menjadi hening. Kemudian mata Dimas menyipit, menatap Nayla yang sedang berada di sana. "Nayla, itu kamu?” Suaranya terdengar berat. Jantung Nayla berdebar keras tidak karuan. Ia tahu dirinya sudah ketahuan. Tanpa pikir panjang, Nayla berbalik dan berusaha pergi dari san

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status