“Astaga, kalian …?” Kalimat itu keluar begitu saja dari bibir Nayla yang bergetar, dan nyaris tak bersuara.Dini tersenyum cerah, dan sama sekali tidak menyadari perubahan ekspresi Nayla yang mendadak pucat.“Iya, Kak Nay, udah datang. Makasih hampersnya. Uang udah aku transfer kemarin ya, Kak?" Dini meraih hampers dari tangan Nayla dengan wajah ceria.Nayla tak menjawab dan hanya mengangguk pelan."Oh iya, Kak Nay kenalin,” ucap Dini ringan, sambil menoleh ke pria di depannya. “Ini calon suamiku.”Pria itu berdiri pelan. Dan saat wajahnya terlihat jelas, dunia Nayla benar-benar seperti runtuh dalam satu detik. Napasnya tercekat.“Mas Agung?” suara Nayla bergetar.Pria itu membelalak. Tubuhnya serasa membeku. Mata mereka bertemu, penuh keterkejutan yang sama, tapi dengan makna yang sangat berbeda.Nayla menggeleng pelan. Itu suaminya. Suami yang masih sah secara hukum. Dan kini, dia duduk di hadapan wanita lain, dengan sebutan sebagai calon suami Dini.Ekspresi Agung berubah tegang.“
Read more