LOGINTala tidak pernah menyukai Geza. Yang ia tahu, Geza adalah adik dari kakak iparnya yang menjauhi keluarganya mati-matian. Sampai sebuah kecelakaan merenggut kakak mereka sekaligus, meninggalkan Sansaya—anak kecil yang belum genap dua tahun—tanpa orang tua. Demi hak asuh, Tala dan Geza terpaksa tinggal serumah. Namun keadaan menjadi semakin rumit ketika mereka dipaksa membangun “keluarga” agar bisa tetap mempertahankan anak itu dengan—menikah. "Tiga Tahun, Tala. Kita jalani ini selama tiga tahun sampai status Sansa aman. Setelah itu, kita berpisah."
View MoreTala berdiri memandangi gundukan tanah merah yang masih basah. Rasa sakitnya sama.
Sama seperti saat ia kehilangan ibu, lalu nenek, dan terakhir ayahnya. Kehilangan sudah terlalu akrab dalam hidup Tala. Namun kali ini, ia berusaha berdiri lebih tegak—meski sekujur tubuhnya masih gemetar dan kepalanya berat karena tangis semalam.
Kini, nama Jani–kakak perempuan satu-satunya yang ia punya terukir di batu nisan itu. Tepat di sebelahnya, nama Arka, kakak iparnya menyusul. Dua orang yang selama ini menjadi tempat Tala pulang, kini justru meninggalkannya lebih dulu.
Kecelakaan di tol dua hari lalu itu merenggut keduanya sekaligus, menyisakan lubang besar di hidup Tala. Kini yang tersisa hanya dirinya dan Sansaya.
Sansa, Keponakan kesayangan Tala yang belum mengerti kenapa ayah dan bundanya tak kunjung pulang, dan kenapa orang-orang berpakaian hitam hari ini memenuhi rumahnya dengan wajah sedih.
Di seberang sana, Geza—adik kandung Arka—berdiri tegak dengan rahang mengeras. Ia masih setenang hari sebelumnya saat mengurus jenazah kakak dan kakak iparnya di rumah sakit. Di sampingnya, ayah dan ibu tirinya berdiri dikelilingi beberapa kerabat. Mereka tidak menangis keras, tidak juga bicara banyak, tetapi sorot mata mereka penuh sesuatu yang sulit Tala artikan.
Sementara di pihak Jani, hanya ada Tala seorang diri.
Pemakaman selesai. Satu per satu pelayat mulai membubarkan diri. Beberapa kerabat yang Tala kenal sempat menghampirinya, menguatkan dengan kalimat-kalimat yang sudah terlalu sering ia dengar.
Tala tidak langsung pulang. Ia terdiam depan pusara. Sesak di dadanya menjalar sampai ke tenggorokan, membuat napasnya berat. Ingatan tentang Jani berputar-putar di kepalanya—tawa, suara, dan hal-hal kecil yang kini terasa terlalu mahal untuk diingat. Semakin jauh ia meninggalkan makam itu, rasa kehilangannya semakin nyata.
Ia tak sanggup meninggalkan pusara itu. Namun, Sansaya di rumah membuatnya ingin segera pulang.
Di dekat pintu keluar area parkir, Geza berdiri sendiri. Sebatang rokok terselip di sela jarinya. Saat Tala mendekat, Geza segera menjentikkan rokok itu ke tanah lalu menginjaknya.
“Tala. Ada yang harus saya bicarakan.”
Mendengar itu, Tala tersentak kecil. Jika ini soal Sansaya, mereka bisa membicarakannya di rumah Jani. Ia tak ingin mengobrol—tidak untuk sekarang. “Nanti.”
“Ini penting.” sahut Geza, nadanya sedikit mengeras. ”Bicara di dalam.” imbuhnya mendongak ke arah mobil hitam yang terparkir.
Tala masuk ke dalam mobil dengan langkah lesu. Pintu tertutup, mesin sudah menyala tapi mobil tak kunjung melaju.
Geza hanya duduk diam di balik kemudi saat masuk, menatap lurus ke depan. Tala ikut terdiam, menyandarkan kepala ke sandaran kursi. Lima belas menit berlalu hanya diisi keheningan.
“Nggak jalan? Kamu masih mau di sini?” kata Tala, menatap ke depan tanpa berani menoleh. Intonasinya jauh lebih sinis dari yang ia perkirakan.
Geza melirik sekilas, rahangnya mengeras. Tanpa menjawab, ia langsung melajukan mobil keluar area pemakaman.
“Apa yang mau kamu bahas?” tanya Tala karena Geza tak kunjung membuka topik.
Pria itu masih menatap jalan lurus. “Pindah ke rumah Kak Jani dan Mas Arka. Lalu ajukan hak wali.” jawab Geza datar.
Tala menoleh cepat. Nada itu terdengar lebih seperti perintah daripada permintaan—sama sekali tak melihat situasi. Inilah salah satu alasan Tala enggan semobil dengan pria itu.
“Aku masih bisa bolak-balik dari kosan.” balas Tala dingin. “Atau Sansa bisa bareng aku dulu buat sementara.”
Geza menghela napas pendek, sudut bibirnya terangkat tipis. “Kamu mau Sansa tinggal di kosan?” tanyanya dengan intonasi meremehkan.
Mendengar itu Tala makin kesal. “Jadi intinya kamu mau apa Geza?” katanya tajam.
Saat Jani dan Arka masih hidup, mereka memang sering bertemu. Tapi jarang benar-benar mengobrol.
Geza menggenggam setir lebih kuat. “Ayah dan kakak saya mengajukan hak wali atas Sansaya.” jelasnya. “Saya nggak mau mereka dapetin itu. Kamu yang harus jadi wali.”
Tala terdiam sejenak. Ia baru bertemu dua kali dengan keluarga kakak iparnya–saat pernikahan Jani dan tadi di pemakaman.
“Kamu mau aku rebutan hak wali? Demi warisan?” Tala tertawa pendek tanpa humor. “Aku nggak mau. Aku tetap ngurus Sansa meskipun hak walinya bukan di aku.”
“Dengar, Tala.” ujar Geza. “Kamu harus ambil alih.”
Mendengar itu Tala muak sekali, pria di sebelahnya ini selalu memutuskan semuanya sendiri seakan semua orang harus ikut perintah dan kemauannya.
“Geza.” katanya keras. “Kalau kamu mau rebutan hak asuh, kamu ajuin sendiri. Jangan bawa-bawa aku.”
Mobil mendadak melambat. Geza menepikannya ke sisi jalan yang sepi.
“Tala, dengar.” ucapnya serius. “Mereka mau ambil hak asuh Sansa supaya bisa mengambil aset peninggalan kakakmu dan kakak saya. Kamu belum paham juga?” imbuhnya.
Tala mendecih, menatap Geza tajam. “Kamu mau bahas warisan di saat kuburan mereka masih basah? kamu gak punya rasa kehilangan, ya?"
Ya, Geza yang ia kenal memang selalu tak berperasaan.
Geza menghela napas panjang. Dadanya naik turun berat, seperti menahan sesuatu yang sejak tadi ingin pecah. “Kamu pikir saya nggak ngerasa apa-apa?” suaranya datar, sedikit serak. Ia menatap lurus ke depan.
“Saya sama berdukanya kayak kamu.” Rahangnya mengeras sebelum menjawab. “Tapi mereka bakal lakuin apapun buat ngambil dia.”
“Mereka yang kamu maksud siapa?” balas Tala keras. “Keluarga kamu?”
Geza menghela napas kasar. “Saya tahu kamu mikirin Sansa.” katanya tegas. “Tapi kamu nggak tahu segimana liciknya keluarga saya.”
“Cara kamu ngomong barusan seakan-akan semuanya cuma soal aset." balas Tala keras.
“Karena itu yang mereka kejar Tala.” Geza menatapnya tajam.
Hening menggantung di antara mereka.
Geza mengusap wajahnya kasar. Untuk pertama kalinya matanya terlihat berair dan merah.
“Saya nggak punya waktu buat sedih Tala. Duka saya bisa tunggu. Tapi masa depan Sansa nggak. Dia satu-satunya yang mau saya jaga sekarang.”Tala menelan ludah. Amarahnya mulai goyah, tapi duka di dadanya masih menganga. Ia memejamkan mata. Bayangan Sansaya yang memanggil ibunya di rumah sakit menekan dadanya.
“Za, aku gak punya apa-apa untuk mengambil alih.” Katanya, kini lebih tenang.
“Kamu punya Sansa.” balas Geza. “Dan itu cukup.”
Lalu ia menoleh menatap Tala. “Saya tahu kita gak pernah bicara, tapi buat sekarang saya harap kamu ada di pihak saya.”
Bagi Tala, ini pertama kalinya Geza meminta tanpa nada perintah
“Demi Sansaya.” lanjut Geza dengan tatapan yang makin lekat. “Kamu pasti menang Tala. saya yang bakal bukain jalannya.” ujar Geza rendah, matanya tak lepas dari wajah Tala.
Tala memutus tatapan itu, mengalihkan pandangannya ke depan. Rahangnya mengeras. “Dengan cara apa?”
“Menikah dengan saya.”
Begitu Geza pergi, kamar kembali terasa lebih tenang. Beberapa menit kemudian, Bi Yuni masuk membawa semangkuk sup ayam hangat untuk Tala.“Mbak Tala, udah mendingan? Bibi kaget banget pas denger kabarnya. Daerah situ emang kadang rawan, Mbak. Rame sih rame, cuma kanan-kirinya pan banyak lahan kosong. Sering dijadiin kesempatan buat yang mau jambret begitu.”“Iya, Bi. Ini udah nggak apa-apa, kok. Makasih, ya.”Tala menerima mangkuk yang disodorkan Bi Yuni, lalu meniup pelan uap yang mengepul dari permukaan sup.“Mau mandi gak Mbak? Nanti bibi bantu. Tadi Pak Geza bilang Mbak jangan dibiarin mandi sendiri dulu. Begitu katanye.”“Oh, nggak usah, Bi. Saya bisa sendiri.”Bi Yuni malah terkekeh.“Lho, mau sama Pak Geza aja ya mandinya?” godanya. “Mau kangen-kangenan, ya, Mbak?”Wajah Tala langsung memerah.“Bi Yuni, apaan, sih?”Kangen-kangenan apanya, Bi? Debat yang ada.Bi Yuni semakin terkekeh melihat wajah Tala.“Becanda, Mbak Tala cepet baek lagi, ya. Bibi tinggal, kalau butuh apa-apa
Begitu kembali ke rumah, Tala mendapati Sansa sudah tidur. Hanya Sus Lia yang masih terjaga dan langsung menyambut mereka dengan raut khawatir begitu melihat kondisi Tala. “Gimana, Mbak kondisinya? Mau saya bantu siapin apa?” “Cuma lecet Sus, udah gapapa. Sansa Aman kan?” Tala bersandar di sofa. Merasakan sekujur tubuhnya mulai pegal dan nyeri. ”Aman Mbak, cuma nanyain aja kayak biasa kapan Tata pulang.” ”Sus bantu aku ke kamar.” pinta Tala. Saat tiba tadi, Geza menurunkan Tala di sofa lalu ia sendiri ke halaman depan untuk menerima telepon dan sepuluh menit sudah berlalu masih belum terlihat tanda percakapan itu akan usai. ”Mari Mbak.” Sus Lia sudah melingkarkan lengan Tala di bahunya, namun pria itu masuk dan segera mengambil alih. “Udah saya bilang, tunggu dulu di sini.” intonasi suaranya tegas. Lantas Geza menoleh kepada Sus Lia. “Sama saya aja, Sus.” Tanpa menunggu jawaban, ia langsung menyelipkan satu tangan di bawah lutut Tala dan tangan lainnya menyangga punggung pere
Geza langsung beringsut mendekat, lalu menarik Tala ke dalam pelukannya. Erat sekali.Jauh lebih erat dari biasanya.Tala sempat membeku beberapa detik. Baru setelah menyadari tubuh pria itu benar-benar menempel padanya, ia perlahan mengangkat tangan dan membalas peluknya. Bisa Tala rasakan detak jantung pria itu berpacu dengan hebat.“Mas... aku beneran nggak apa-apa.”Pelukan itu tidak mengendur.Justru semakin erat, seakan Geza masih perlu memastikan sendiri bahwa perempuan yang ada di dalam pelukannya benar-benar baik-baik saja.”Serius aku gapapa.””Mas...”Saat itulah Geza melepas peluk. Matanya menyapu tubuh Tala dari kepala sampai kaki. “Kamu nggak apa-apa?”“Aku gapapa.” ulang Tala sekali lagi.“Mana yang sakit?”Tala menggeleng. “Cuma lecet sama luka kecil. Dokter juga udah periksa.”“Pusing?”“Sedikit.”“Mual?”“Nggak.”Geza masih menatapnya, belum puas dengan jawaban itu. Tangannya terangkat, menyentuh pelipis Tala yang tertutup plester bening. Jemarinya berhenti di sana, b
“Ada keluarga yang bisa dihubungi, Mbak?” tanya suster yang baru saja selesai memasang perban di siku Tala.“Ada nomor telepon yang bisa dihubungi, Mbak?” ulangnya ketika Tala hanya diam.Tala tergagap. Fokusnya masih belum sepenuhnya terkumpul. Plester bening menempel di pelipisnya, sementara kepalanya masih terasa berat dan berdenyut.Ia mengerjap beberapa kali. Pikirannya bergerak lambat, berusaha menangkap sesuatu yang seharusnya begitu sederhana.Tangannya refleks bergerak ke sisi tubuh, hendak meraih ponsel seperti yang biasa ia lakukan setiap kali membutuhkan nomor seseorang. Namun yang disentuhnya hanya ruang kosong.Baru saat itulah ingatannya seperti tersentak. Tas yang berisi ponsel dan semua barangnya hilang.“HP saya...” gumamnya pelan.“Kenapa, Mbak?”“Kayaknya... ikut hilang.”Suster itu terdiam sejenak, lalu kembali bertanya dengan suara lebih lembut.“Ada nomor yang Mbak hafal?”Tala memejamkan mata.Ia mencoba mengingat satu per satu nomor yang mungkin masih tersimpan
Jam sudah menunjukkan pukul satu dini hari saat Tala akhirnya memutuskan turun ke lantai bawah. Dia benar-benar tidak bisa tidur. Bukan karena ini adalah malam pertamanya dengan status sebagai istri Geza.Bukan.Tidak akan ada yang berbeda karena mereka bukan pasangan nyata. Alarm tubuhnya saja yang
Geza tidak terkejut saat Tala menuntut penjelasan dengan tatapan menghunus. Pria itu memutar tubuh untuk menghadap Tala sepenuhnya."Kita enggak sedang membohongi anak kecil, Tala." jawab Geza rendah, terlampau tenang. "Keluarga saya, kolega bisnis saya dan Arka, sampai pengadilan—ada terlalu banyak
Malam itu jadi malam paling panjang untuk semua sesi perdebatan yang pernah mereka lewati selama enam tahun terakhir. Geza harus mendapatkan kesepakatannya malam ini juga.“Semuanya sudah saya atur di dokumen resmi,” Geza kembali bicara, memecah keheningan. “Saya gak akan ambil sepeser pun yang jadi
Tala terkunci di antara kedua lengan Geza yang bertumpu pada pinggiran meja mahoni. Jantungnya berdentum liar, namun rasa terpojok itu justru membakar keberaniannya. Ia mendongak, menantang sepasang manik gelap di depannya.“Melindungi Sansa, itu yang mau kamu bilang?” Tala tertawa miris, suaranya b












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore