Se connecterDibuang, dihina, dan dikhianati. Julian pikir Krystalia sudah hancur, tapi dia salah. Dia baru saja menciptakan iblis paling cantik yang akan menghancurkan hidupnya. Krystalia Adiningrat kehilangan segalanya dalam satu malam. Suaminya berselingkuh dengan putri pejabat, statusnya diinjak-injak, bahkan Arthur—putra kandungnya sendiri—menatapnya dengan tatapan jijik seolah ia tak layak jadi seorang ibu. Bangkit dari puing-puing pengkhianatan, Kiya memasang topeng baru. Targetnya? Kenzo Valerius. Si dingin, si penguasa, sang pemangsa di puncak rantai makanan bisnis. Kiya masuk ke ranjang Kenzo bukan karena cinta, tapi karena ia butuh sekutu yang sanggup meratakan Julian hingga ke dasar tanah. Dia menggoda, memanipulasi, dan menggunakan tubuhnya sebagai umpan untuk menjerat sang Singa. Di tengah permainan gairah yang mematikan dan intrik yang berdarah, hanya ada satu aturan: Jangan jatuh cinta!
Voir plusSuara denting gelas kristal di ballroom mewah itu seharusnya menjadi melodi kemenangan bagi Krystalia Adiningrat. Malam ini adalah perayaan enam tahun pernikahannya dengan Julian Cavendish. Ia mengenakan gaun emerald sutra rancangannya sendiri dengan potongan backless yang berani. Gaun itu memeluk lekuk tubuhnya dengan sempurna. Senyum tipis terukir di wajahnya; ia tahu ia tampak mempesona malam ini.
"Enam tahun, Kiya. Kamu berhasil," bisiknya pada bayangannya sendiri. Enam tahun ia membangun kerajaan untuk pria yang ia cintai. Dari sebuah studio kecil di pinggiran kota hingga menjadi raksasa mode yang disegani.
Kiya menggenggam sebuah kotak beludru kecil berisi jam tangan langka. Ia ingin memberikan kejutan ini di ruang rias pribadi Julian sebelum acara puncak dimulai. Dengan langkah ringan, ia menyusuri lorong VIP yang sepi, namun langkahnya terhenti tepat di depan pintu ruangan suaminya yang sedikit terbuka.
"Ah... Julian... lebih cepat..."
Suara desahan wanita itu menghantam jantung Kiya seperti godam. Ia membeku. Tangan yang memegang kado pernikahan itu gemetar hebat. Dengan sisa keberanian yang ada, Kiya mendorong pintu itu perlahan.
Di dalam sana, di atas meja rias yang penuh dengan draf desain terbaru milik Kiya, Julian sedang memeluk mesra Isabella Sterling—putri seorang politikus berpengaruh yang selama ini menjadi donatur bagi ambisi politik Julian. Pakaian mereka berantakan, dan pemandangan itu terasa seperti racun yang menyebar ke seluruh aliran darah Kiya.
BRAK!
Kotak kado di tangan Kiya jatuh menghantam lantai. Julian tersentak dan menoleh.
"Kiya," suara Julian terdengar dingin, datar, tanpa ada jejak penyesalan sedikit pun. "Kau tidak seharusnya ada di sini."
Kiya tertawa getir, matanya berkaca-kaca namun ia menolak membiarkan air mata itu jatuh. "Tidak seharusnya di sini? Ini acara ulang tahun pernikahan kita, Julian! Dan kau melakukannya di atas sketsa desainku?"
Julian berjalan mendekat, menatap Kiya seolah wanita itu hanyalah gangguan kecil dalam jadwalnya yang padat. "Sketsa-sketsa ini? Aku bisa mempekerjakan sepuluh desainer lulusan Paris untuk menirunya. Tapi koneksi politik ayah Isabella? Itu tidak bisa kau berikan."
"Kau bajingan," desis Kiya. "Aku yang membangun Cavendish dari nol! Kau bukan siapa-siapa tanpa namaku di setiap desain itu!"
Julian tersenyum sinis, sebuah senyum yang belum pernah Kiya lihat selama enam tahun ini. "Namamu? Coba periksa kembali dokumen legal perusahaan, Sayang. Kau hanya anak panti asuhan yang kebetulan bisa menggambar. Semua aset, hak cipta desain, hingga gedung ini, terdaftar atas namaku. Kau tidak punya apa-apa."
Isabella melangkah maju, berdiri di samping Julian sambil memegang lengannya dengan posesif. "Sudahlah, Kiya... jangan terlalu dramatis. Kau harusnya sadar posisi!"
"Diam kau!" bentak Kiya. Ia beralih pada Julian. "Julian... kau tidak mungkin melakukan ini padaku," suara Kiya bergetar, ia mencoba mencari sedikit saja rasa iba di mata suaminya.
"Aku butuh koneksi politik ayah Isabella untuk naik ke kursi parlemen," lanjut Julian tanpa ampun. "Sedangkan kau? Bahkan karena terlalu sibuk mengurusi Cavendish Fashion, kau sampai lupa caranya menjadi wanita di ranjang. Kau sudah tidak berguna, Kiya."
Plak!
Satu tamparan keras mendarat di pipi Julian. Napas Kiya memburu. Air mata yang tadi tertahan kini tumpah, bukan karena sedih, tapi karena amarah yang mulai membakar jiwanya.
"Beraninya kau..." desis Julian, matanya berkilat marah. Ia mencengkeram lengan Kiya dengan kasar dan menyeretnya keluar menuju ballroom yang penuh tamu undangan.
Di tengah kerumunan, di bawah sorotan lampu panggung, Julian menahan tangan Kiya di depan semua orang.
"Perhatian semuanya!" teriak Julian. Suasana seketika hening.
"Malam ini, saya ingin mengumumkan bahwa pernikahan saya dengan Krystalia Adiningrat telah berakhir. Dia akan meninggalkan kediaman Cavendish malam ini juga. Dan perkenalkan, tunangan baru saya, Isabella Sterling!"
Gumam kaget memenuhi ruangan. Kiya berdiri mematung, Julian mempermalukannya di depan relasi bisnis, rekan kerja dan juga teman-temannya. Saat itulah, putranya yang berusia lima tahun, yang selama ini Kiya pedulikan, berlari ke arah panggung.
"Arthur ... come to mommy!" ucap Kiya lirih sambil mengulurkan tangan.
Namun, anak itu justru menghindar dan memeluk kaki Isabella. "Nggak mau! Selama ini Mommy cuma sibuk gambar terus. Aku cuma mau sama Aunty Bella, Aunty selalu ngajak aku main!"
Dunia seolah runtuh. Dikhianati suami, dirampok asetnya, dan kini ditolak oleh anak yang ia kandung dan lahirkan sendiri.
"Keluar dari rumah keluarga Cavendish, Kiya. Jangan membawa apapun. Mulai saat ini kau bukan siapa-siapa!" usir Julian dingin.
Kiya menatap Julian, lalu beralih pada Isabella, dan terakhir pada kerumunan yang kini menatapnya dengan pandangan rendah. Perlahan, ia menghapus air matanya dengan punggung tangan. Bahunya yang tadi merosot kini tegak kembali. Matanya yang lembut berubah menjadi tajam dan kelam.
"Baik," ucap Kiya, suaranya kini tenang namun mengancam. "Simpan semua hartamu, Julian. Simpan juga wanita murahan itu. Tapi ingat satu hal..."
Kiya melangkah maju, berbisik tepat di telinga Julian hingga pria itu sedikit bergidik.
"Kau mencuri namaku untuk membangun kerajaanmu. Aku akan memastikan, saat aku kembali nanti, aku akan menghancurkanmu sampai kau berlutut dan memohon ampun di bawah kakiku."
Tanpa menoleh lagi, Kiya berjalan keluar menembus hujan deras yang mengguyur kota. Ia berdiri di pinggir jalan, basah kuyup, tanpa uang sepeser pun. Namun, di dalam kepalanya, ia sudah menyusun rencana.
Ia tahu ke mana ia harus pergi. Ia tahu siapa satu-satunya pria yang cukup kuat—dan cukup kejam—untuk membantu menghancurkan Julian Cavendish.
"Kenzo Valerius," bisiknya di tengah gemuruh guntur.
Kiya tersenyum miring. Malam ini, istri yang lembut itu telah mati. Dan dari abunya, lahir seorang wanita yang siap membakar dunia demi pembalasan dendam.
Pintu lobi tahanan terbuka.Isabella Sterling berdiri di sana.Wajahnya sedikit berbeda dari terakhir kali Julian melihatnya — ada sesuatu di sekitar matanya yang tidak bisa didefinisikan dengan tepat. Bukan lelah. Lebih seperti seseorang yang baru saja membayar harga yang lebih mahal dari yang tertera di label, dan sudah memutuskan untuk tidak memikirkannya.Rambutnya tersisir rapi. Gaun hamilnya longgar dan mahal. Senyumnya muncul begitu melihat Julian — tapi tidak sampai ke matanya."Bella." Julian melangkah mendekat. "Bagaimana kamu bisa—""Jangan tanya," potong Isabella. Suaranya ringan, tapi ada sesuatu di baliknya yang menutup pintu sebelum Julian sempat melongok ke dalam. "Kita pergi dulu. Nanti bicara."Julian menatapnya sebentar.Sesuatu di nada itu membuat pertanyaannya berhenti di tenggorokan. Ada batas yang tiba-tiba ada di sana — garis yang tidak terlihat tapi terasa sangat jelas, garis yang mengatakan: ada hal-hal yang lebih baik tidak kamu ketahui.Ia memilih untuk tid
Pagi setelah malam eksekusi, Jakarta terbangun dengan berita yang sama di setiap layar.Nama Julian Cavendish bergulir di ticker berita seperti bendera yang sudah terlanjur terbakar — tidak ada yang bisa menyelamatkannya, yang bisa dilakukan hanya menonton sampai habis. Foto-fotonya dari malam kampanye tersebar di mana-mana: wajah yang tegang, langkah yang terburu-buru, dan di belakangnya layar LED raksasa yang memajang dosanya sendiri.Richard Sterling sudah lebih dulu bergerak.Konferensi pers pagi itu singkat, terkontrol, dan kejam dengan caranya sendiri. Richard berdiri di depan mikrofon dengan setelan yang sempurna dan wajah seorang politikus yang sudah berlatih menghadapi badai sejak puluhan tahun lalu."Saya menyesalkan tindakan Julian Cavendish yang menyalahgunakan kepercayaan yang saya berikan sebagai asisten pribadi. Seluruh transaksi ilegal tersebut dilakukan tanpa sepengetahuan saya—"Kiya mematikan televisi.Ia berdiri di depan jendela kamar dengan secangkir teh yang sud
Kenzo berdiri di sisi ranjang, menatap Kiya yang kini kembali bersandar ke bantal dengan tenang — seperti ia baru saja mendiktekan menu makan malam, bukan baru saja menyusun rencana yang akan menghancurkan dua orang sekaligus dalam satu malam."Enam tahun," kata Kenzo akhirnya.Kiya meliriknya. "Hm?""Kamu bilang enam tahun hidup bersama Julian dan dia tidak pernah belajar." Kenzo menatapnya. "Tapi kamu belajar semua kelemahannya."Kiya tidak menjawab langsung. Matanya kembali ke arah jendela, ke lampu-lampu kota di kejauhan."Aku tidak punya pilihan lain,"
Kiya justru tertawa renyah.Bukan tawa yang dipaksakan — tawa seseorang yang benar-benar menikmati momen ini. Lalu dengan gerakan yang sangat santai, ia mendorong dada Kenzo dengan dua jari."Uh-oh." Senyumnya melebar. "Ingat kata Dokter Arlo, Tuan Muda Valerius? Tubuhku belum boleh melakukan aktivitas berat sampai minggu depan."Kenzo membeku.Ia menatap Kiya yang kini dengan tenang membenahi jubah tidur sutranya, merapikan rambutnya yang berantakan akibat ulahnya sendiri, lalu bersandar kembali ke bantal dengan ekspresi seseorang yang baru saja memenangkan pertandingan catur dalam tiga langkah.Pena berlapis emas di atas meja nakas hampir ia
Dinding sel kantor polisi yang dingin dan beraroma apek sama sekali bukan tempat yang pantas untuk seorang Isabella Sterling. Setelah mendekam satu malam dalam ketakutan, pintu besi berkarat itu akhirnya terbuka dengan suara derit yang memilukan.
Sisa-sisa kehangatan semalam masih tertinggal pekat di dalam kamar utama. Di bawah selimut sutra yang tebal, Kiya menggeliat pelan, merasakan sepasang lengan kokoh yang mengunci pinggangnya dengan begitu posesif.
Hari yang dinanti tiba. Ballroom hotel bintang lima tempat berlangsungnya Grand Fashion Show Valerius Group dipenuhi oleh jurnalis, kritikus mode kelas dunia, dan jajaran sosialita papan atas. Aroma kemewahan tercium di setiap sudut, namun ketegangan di balik panggung jauh lebih terasa.Kiya berdir
Suara deru helikopter dan teriakan tim pencari memecah kesunyian hutan yang masih basah. Matahari pagi baru saja mengintip di balik perbukitan saat Giselle Valerius — sepupu dari Kenzo yang secara kebetulan juga sahabat dari Kiya — melompat turun dari kendaraan off-road dengan wajah panik. "Kenzo!






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
commentaires