เข้าสู่ระบบ“Kenapa kau diam saja, Fal? Ada apa sebenarnya?” Suara Reza kembali terdengar panik dari seberang telepon.Naufal terdiam beberapa detik. Tatapannya masih tertuju kepada Nayla yang duduk bersama Marina dan Renata di kursi tunggu. Istrinya memang selamat, tetapi malam ini mereka baru saja melewati kejadian yang hampir membuat jantungnya berhenti.“Kau dengar dari siapa?” tanya Naufal akhirnya.“Kak Sarah.” Suara Reza terdengar sedikit terburu-buru. “Tadi kakakku bilang kalau ada kecelakaan dan identitas korban sempat mengarah kepada Nayla . Aku sangat khawatir.”Naufal menghela napas panjang. Entah kenapa, mendengar nama Nayla disebut dengan nada secemas itu membuat perasaannya kembali tidak nyaman. Ia teringat pengakuan Reza kepada Sarah, dan bagaimana sahabatnya itu mencintai istrinya. Perasaan yang baru muncul setelah mereka bertemu dan saling mengenal lebih dekat.Namun di saat yang sama, Reza tetaplah sahabatnya.“Tenang. Nayla baik-baik saja,” jawab Naufal.“Benarkah?” suara Rez
Di tempat lain, sore itu Dimas masih terbaring di ranjang rumah sakit dengan tatapan kosong mengarah ke langit-langit. Sudah berhari-hari ia berada di sana, dan semakin lama ia semakin muak dengan bau obat, suara alat medis, serta rutinitas yang sama setiap hari. Dulu ia adalah seorang dokter yang terbiasa berjalan ke sana kemari, menangani pasien, dan membuat keputusan penting. Sekarang, untuk sekadar berpindah tempat pun ia harus mengandalkan orang lain.Kedua kakinya masih tidak bisa digerakkan seperti biasa. Bahkan untuk duduk dan berpindah ke kursi roda saja ia membutuhkan bantuan. Hal itu membuat harga dirinya terasa semakin terinjak.“Ma,” panggil Dimas akhirnya.Rianti yang sejak tadi duduk di sofa pun langsung menoleh kepada putranya itu.“Iya, Nak?”“Aku mau pulang,” kata Dimas pelan.“Hah?" Rianti mengerutkan kening dalam-dalam. “Pulang?”“Iya, Ma. Aku sudah sangat muak di sini.”Revan yang berdiri di dekat jendela ikut menoleh. Ia sudah cukup lama menemani Dimas dan tahu
Waktu terus berjalan, tetapi satu hal masih belum berubah. Wanita yang menjadi korban kecelakaan itu belum memiliki identitas.Naufal berdiri di depan ruang operasi dengan wajah tegang. Sesekali matanya melirik pintu yang sejak tadi tertutup rapat. Di sampingnya, Nayla duduk dengan kedua tangan saling menggenggam. Wajahnya pucat dan matanya sembap karena terlalu banyak menangis.Mereka sudah melakukan berbagai cara. Petugas rumah sakit kembali memeriksa barang-barang yang ditemukan di lokasi kecelakaan, sementara polisi yang datang beberapa waktu lalu juga melakukan pendataan. Namun hasilnya tetap sama.Wanita itu tidak ada kartu identitas, tidak ada ponsel, tidak ada dompet, dan tidak ada satu pun benda yang bisa mengungkap siapa wanita tersebut.Bahkan motor yang dikendarainya pun bukan atas nama dirinya.“Astaga bagaimana ini? Sampai sekarang kita benar-benar nggak tahu siapa dia?” tanya Naufal kepada salah seorang polisi.Polisi tersebut menggeleng. “Belum, Dok. Kami sedang mencob
“Iya, Na. Aku setuju.” Nayla mengangguk mendengar perkataan Naufal. Tatapannya masih tertuju kepada pintu ruang tindakan yang kembali tertutup. Di balik pintu itu, seorang wanita sedang berjuang mempertahankan hidupnya, sementara tidak seorang pun tahu siapa sebenarnya dirinya.“Kita harus mencari tahu identitasnya,” ujar Naufal lagi. “Kalau tidak ada keluarga yang datang, kita harus menemukan petunjuk lain.”“Aku akan bantu,” jawab Nayla pelan.Naufal menggenggam tangan istrinya.“Kamu jangan memaksakan diri. Kepala kamu tadi terbentur dan masih sakit. Aku nggak mau kalau istriku ini jadi tambah sakit.“Aku nggak apa-apa, Na. Aku masih ingat jelas bagaimana kecelakaannya terjadi. Siapa tau itu berguna, karena biar bagaimana pun aku juga korban sekaligus saksi.” Suara Nayla terdengar berat, seperti menahan beban dalam hatinya.Naufal terdiam, kemudian menatap Nayla beberapa saat sebelum akhirnya mengangguk. “Baiklah kalau begitu," angguknya.Setelah memberikan beberapa instruksi kep
“Nayla?”Suara Naufal nyaris tidak keluar. Pria itu hanya mampu menatap perempuan yang berdiri beberapa meter di hadapannya dengan mata membesar. Tubuhnya seakan membeku di tempat. Selama beberapa detik, ia bahkan tidak berani bergerak karena pikirannya masih berusaha memahami apa yang sedang dilihatnya.Nayla berdiri di sana dalam keadaan menangis. Rambutnya berantakan, wajahnya basah oleh air mata, jaketnya kotor dan terdapat beberapa noda tanah di bagian lengan. Namun tidak ada luka parah di wajahnya. Tidak ada tubuh yang terbaring tidak sadarkan diri. Tidak ada perban yang menutupi seluruh wajahnya.“Nayla, ini benar-benar kamu?”“Naufal.” Nayla melangkah mendekat.Naufal masih diam. Matanya bergerak dari wajah Nayla, turun ke kedua tangannya, lalu ke tubuhnya. Ia seperti sedang memastikan bahwa wanita di hadapannya benar-benar nyata.“Sayang, kamu … ini benar kamu? Kenapa kamu ada di sini?”“Aku cari kamu, Na.” Nayla mengusap air matanya.Mendengar jawaban itu, Naufal langsung b
Hening sesaat, sebelum akhirnya terdengar jawaban dari ujung telepon yang membuat tubuh Naufal seketika membeku.“Dokter… ada korban kecelakaan yang baru saja dibawa ke rumah sakit.”“Jangan berbelit-belit! Cepat katakan, siapa?" desak Naufal.“Kami belum bisa memastikan identitasnya secara langsung, Dok. Kondisinya cukup parah, terutama pada bagian wajah. Wajah korban mengalami luka berat sehingga sulit dikenali.”Naufal mulai merasakan sesuatu yang tidak beres.“Terus kenapa kalian menelepon saya?”Petugas di seberang telepon terdiam beberapa detik sebelum akhirnya menjawab dengan hati-hati.“Karena dari barang-barang yang ditemukan di lokasi kejadian, identitas korban mengarah kepada seseorang bernama Nayla Raharja.”Dunia Naufal seakan berhenti. Jantungnya serasa berhenti berdetak.“Apa?” “Kami menemukan tas, kartu identitas, dan beberapa barang pribadi yang mengarah kepada nama Nayla Raharja. Selain itu, motor yang ditemukan di lokasi juga terdaftar atas nama yang sama.”Naufal
What?Nama itu sontak membuat Nayla terdiam. Tubuhnya mendadak tegang dan terasa panas dingin.Dokter Naufal Mahendra?Dokter judes yang bahkan tak punya senyum di wajahnya itu?Bagaimana mungkin dia bisa direkomendasikan oleh ibu mertuanya?Tiba-tiba bayangan wajah tampan Dokter Naufal kembali ter
Usai mengatakan itu, Agung pergi masuk kamar begitu saja. Ia membanting pintu hingga suara kerasnya membuat Nayla terlonjak.“Huft! Harus dengan cara apalagi aku bisa meluluhkan hati kamu, Mas?" lirihnya, suaranya bergetar.Nayla pun masuk ke kamar dan segera mandi. Setelah selesai mandi, ia membuk
Setelah pamit dari ruangan dokter tampan itu, Nayla melangkah keluar dengan tergesa-gesa dan berjalan cepat menyusuri lorong klinik. Napasnya tidak teratur. Setiap langkah terasa berat oleh kesadaran baru yang mengganggu pikirannya.Namun, seketika langkah kakinya terhenti di ruang tunggu.“Loh, bu
Tubuh Nayla terasa ringan, seperti melayang di antara sadar dan tidak.“Nayla, tenang. Kamu pingsan sebentar tadi,” suara Dokter Naufal terdengar sangat dekat.Kelopak mata Nayla terbuka perlahan. Matanya sedikit menyipit, karena cahaya lampu ruang periksa itu sangat menyilaukan.Ia menatap tubuhny







