Masuk“Ya ampun, akhirnya!” Bu Yuli menutup mulutnya dengan kedua tangan. Matanya langsung berkaca-kaca.Ruangan mendadak dipenuhi ucapan selamat. Sarah bahkan lebih dulu memeluk Shella.“Selamat ya, Shell. Kakak senang banget dengarnya.”Shella tersenyum malu-malu sambil mengangguk pelan. Jemarinya masih digenggam erat oleh Agung.“Terima kasih, Kak.”Hanya Reza yang masih duduk membeku di tempatnya. Pandangannya tidak lepas dari wajah Agung. Lalu perlahan berpindah kepada Shella.Ada sesuatu yang sangat mengganjal. Pernyataan Shella barusan terus mengusik pikirannya. Ia tak tahan dan akhirnya membuka suara.“Shell, kalian baru menikah, kan?”Pertanyaan itu membuat semua orang langsung menoleh kepadanya.“Iya, Kak.” Shella mengangguk dengan polos.“Kapan terakhir kamu periksa?”“Aku nggak periksa. Tapi aku punya ini,” jawab Shella sambil menunjukkan testpack dengan dua garis merah.“Oh, cuma hasil testpack? Kalau begitu, biar aku yang periksa!”Belum sempat Shella menjawab, Agung lebih du
“Ahh, Sayang. Tangan kamu nakal ih," desah Nayla seraya memukul pelan lengan kekar sang suami yang kini asyik meremas-remas kedua buah dada besarnya.“Biar aja nakal. Kan sama istri sendiri." Naufal mengedipkan sebelah matanya dengan nakal.Setelah mengatakan itu, Naufal tiba-tiba melepaskan seluruh pakaian istrinya, membuat Nayla terkejut.“Sayang!" pekiknya, tetapi Naufal sudah tak peduli.Ia melucuti seluruh pakaian Nayla hingga istrinya itu sudah telanjang bulat. Barulah gantian ia melepaskan seluruh pakaiannya sendiri.Mata Nayla membelalak, melihat pusaka panjang dan besar milik Naufal yang sudah berdiri dengan tegak. Uratnya tampak keras menghiasi benda tumpul itu.“Masukkan ke mulutmu, Sayang," pinta Naufal sambil mengarahkan kepala jamurnya ke mulut Nayla.Sang istri tak membantah. Ia menurut saja saat suaminya itu melesapkan batangnya ke dalam rongga mulutnya yang hangat.Jlebbb!"Ahh! Ahh!” Naufal memejamkan kedua matanya rapat-rapat, ia gerakkan pinggulnya maju mundur hing
“Tapi jangan terlalu overthinking dulu, Za. Ingat, ini masih dugaan,” sambar Naufal cepat, sepertinya ia tahu apa yang dipikirkan oleh sahabatnya itu.Reza menatap kosong ke depan, matanya berkilat-kilat. Kedua tangannya terkepal kuat.“Kalau dugaan kita benar, berarti Agung menikahi adikku bukan karena cinta. Melainkan karena ada sesuatu yang ingin dia inginkan,” kata Reza, membuat dadanya semakin sesak.Bayangan wajah Shella saat makan malam tadi kembali terlintas di kepalanya. Adiknya tersenyum begitu tulus. Tatapan matanya penuh kebahagiaan.Kalau semua dugaan ini benar, berarti Shella sedang hidup bersama pria yang selama ini memakai topeng. Perlahan kedua tangan Reza mengepal.“Aku nggak akan membiarkan itu terjadi.”Naufal menatap sahabatnya cukup lama. “Aku tahu, tapi kau harus janji satu hal.”“Apa?”“Jangan bertindak gegabah.”Reza terdiam mendengar itu. Meskipun ia sangat marah pada Agung, tetapi ia tak akan pernah menyeret nama Naufal dan Nayla dalam permasalahan itu.“Aku
Naufal menutup map itu perlahan, lalu menyerahkannya kembali kepada petugas arsip.“Terima kasih. Tolong data ini tetap dirahasiakan.”“Baik, Dok.”Petugas itu mengangguk hormat sebelum membawa map tersebut kembali ke rak penyimpanan.Begitu pintu ruang arsip tertutup, suasana kembali sunyi. Reza masih berdiri mematung sambil memegang salinan hasil pemeriksaan yang sudah diizinkan untuk dilihat.Tatapannya belum beranjak dari satu kalimat yang tertulis jelas di bagian kesimpulan yang menyatakan jika Agung mengidap Azoospermia.“Fal,” panggil Reza lirih.“Hm?” Naufal hanya mengangkat sebelah alisnya tanpa jawaban.“Aku jadi dilema," keluh Reza sembari membuang nafas panjang.“Kenapa memangnya?" “Di satu sisi, aku senang kalau Agung menghamili Dini, karena itu berarti aku bisa punya alasan untuk membuat adikku bercerai sama dia. Tapi di sisi lain, aku juga marah karena dia menghianati Shella. Kalau faktanya sekarang Agung tidak bisa punya anak, maka aku tidak punya alasan untuk membuat
“Fal, aku lagi serius ya. Kau jangan bercanda!” Reza masih menatap Naufal dengan ekspresi wajah terkejut.“Aku juga serius. Aku tidak sedang bercanda.”Reza yang semula masih duduk santai segera bangkit dengan cepat dan berdiri dari kursinya. Tatapannya tertuju lekat pada wajah Naufal, seolah berusaha mencari tanda kalau sahabatnya itu sedang bercanda.“Fal, ucapanmu itu serius?” tanyanya masih ragu.“Sangat serius,” angguk Naufal.“Tapi Dini hamil.”“Ya, itulah masalahnya.”Reza meraup wajahnya kasar. Napasnya terasa berat. Pikirannya mulai kacau, seolah ada dua kenyataan yang saling bertabrakan di dalam kepalanya.Di satu sisi, ia melihat sendiri semua bukti yang diperlihatkan Dini. Hubungan mereka dengan Agung tampak begitu serius. Bahkan wanita itu begitu yakin bahwa bayi yang dikandungnya adalah darah daging Agung.Namun di sisi lain, Naufal adalah seorang dokter sekaligus sahabatnya yang tau semua tentang permasalahan Agung. Tidak mungkin sahabatnya itu asal berbicara tentang se
Malam itu, suasana di rumah keluarga Sarah terlihat begitu hangat.Meja makan sudah dipenuhi berbagai hidangan. Sarah sibuk mengambilkan lauk untuk Shella, sedangkan ibu mereka, Bu Yuli sesekali tersenyum melihat pasangan pengantin baru yang tampak begitu akrab.“Shella, makan yang banyak ya. Kamu nggak boleh telat makan,” ujar Sarah.“Iya, Kak.” Shella mengangguk.Agung yang duduk di samping Shella pun ikut tersenyum.“Tenang aja, Kak Sarah. Saya pasti jaga Shella.”“Syukurlah. Kakak jadi tenang.”Ucapan itu membuat Agung tersenyum semakin lebar. Ia bahkan dengan sigap mengambilkan sup ke mangkuk istrinya.“Pelan-pelan makannya, Sayang.”“Makasih banyak ya, Mas.”Semua orang memandang mereka dengan senyum puas. Hanya satu orang yang sama sekali tidak ikut tersenyum.Reza.Pria itu baru saja masuk ke ruang makan setelah pulang dari luar. Langkahnya terhenti sesaat ketika melihat Agung duduk di tengah keluarganya seolah tidak pernah terjadi apa-apa.Padahal beberapa jam lalu, ia baru s
“Dia wanita itu!" seru Nayla sekali lagi."Kamu yakin, Sayang?" tanya Naufal cepat sembari menoleh pada sang istri."Sangat yakin." Nayla mengangguk tanpa mengalihkan pandangannya dari layar."Itu wanita yang keluar dari kamar Laras waktu aku ke RSJ. Dan itu juga wanita yang ngikutin aku di florist
"Apa yang sebenarnya terjadi?" Naufal menatap Andra dengan kening berkerut.Andra tidak langsung menjawab. Ia justru mengeluarkan sebuah map dari bawah lengannya lalu menyerahkannya kepada Naufal."Hasil laboratorium sudah keluar.""Apa?" Naufal tercengang. "Secepat itu?""Ya. Aku minta mereka memp
Malam inu sudah semakin larut. Setelah dilanda ketegangan selama beberapa waktunya, kini suasana rumah akhirnya kembali tenang. Namun ketenangan itu hanya terjadi di luar.Karena di dalam kepala Naufal, semuanya masih terasa kacau.Pria itu duduk bersandar di kepala ranjang. Luka di kepalanya sudah
Aldo terdiam beberapa saat sebelum akhirnya mulai bercerita. Wajahnya masih terlihat tegang setelah perjalanan panjang dari desa tempat tinggal orang tua Laras."Saya tadi ngobrol cukup lama dengan orang tua Laras."Nayla dan Naufal pun sontak saling pandang, lalu memusatkan perhatian kepada Aldo.







