LOGINPagi itu datang lebih cepat dari biasanya. Suasana rumah sudah ramai sejak matahari belum sepenuhnya naik. Tidak ada lagi santai seperti hari sebelumnya. Semua orang sibuk dengan urusannya masing-masing.Tas-tas sudah mulai disusun.Bingkisan yang sempat dibawa kini dirapikan kembali.Beberapa barang dipastikan tidak tertinggal.Keputusan pulang hari itu memang mendadak. Ada urusan pekerjaan yang tidak bisa ditunda, membuat mereka harus kembali lebih cepat dari rencana awal.Meski begitu, suasana tidak sepenuhnya berat.Justru terasa… ringan.Terutama bagi Sevi.Ia berdiri di tengah ruang tamu, memperhatikan ibunya yang sedang melipat beberapa kain dengan rapi. Sesekali ia ikut membantu, tapi lebih sering memperhatikan dengan senyum kecil yang tidak lepas dari wajahnya.“Kok senyum-senyum sendiri?” tanya ibunya tanpa menoleh.Sevi terkekeh.“Enggak apa-apa.”Namun dalam hatinya, Ia tahu.Kali ini berbeda.Biasanya, setiap kali harus meninggalkan Lembang, ada rasa berat yang mengganjal
Sevi menatapnya lama. Lalu perlahan Ia mendekat sedikit. Tangannya menyentuh lengan Arlan. “Cemburu itu wajar, Lan,” ucapnya lembut. Arlan menatapnya. “Apalagi kalau kamu sayang.” Sevi tersenyum tipis. “Tapi kamu tahu nggak bedanya?” Arlan menggeleng pelan. Sevi melanjutkan. “Cemburu yang sehat itu… diomongin. Bukan dipendam.” Hening sebentar. Lalu Sevi menghela napas kecil. “Aku sama Bima emang deket dulu,” jelasnya. “Tapi ya cuma teman. Bahkan lebih ke kayak saudara.” Ia menatap Arlan lurus. “Aku nggak punya perasaan apa-apa ke dia.” Nada suaranya tegas. terdengar tidak ada keraguan. “Dan sekarang,” lanjutnya pelan, “aku punya kamu.” Kalimat itu sederhana. Namun cukup. Arlan terdiam. Dada yang sejak tadi terasa berat, perlahan mengendur. Sevi menepuk pelan tangannya di setir.“Kalau kamu nggak nyaman, bilang,” katanya. “Jangan dipendam terus mikir sendiri.” Arlan mengangguk pelan. “Iya…”Sevi tersenyum kecil. “Lagipula,” tambahnya santai, “kalau aku mau sa
Langit mulai berubah warna. Jingga perlahan memudar, digantikan oleh semburat gelap yang merayap pelan di ufuk barat. Udara Lembang semakin dingin, membawa suasana sore menuju malam.Dirasa sudah cukup lama berkunjung, Bima akhirnya berdiri dari tempat duduknya.“Bima pamit ya, Pak, Bu… Sev, Lan,” ucapnya sambil tersenyum. “Maaf datangnya dadakan gini.”Ibu Sevi langsung berdiri dan mendekat.“Kayak siapa aja kamu ini,” ucapnya sambil memeluk Bima hangat.Pelukan itu dibalas dengan santai oleh Bima.Tak lama, Mama Arlan ikut mendekat dan memeluknya juga.“Hati-hati di jalan ya.”“Iya, Bu,” jawab Bima sopan.Yang lain hanya berdiri di belakang, memperhatikan dengan senyum kecil.Sebelum benar-benar pergi, Bima menoleh ke arah Sevi.“Mampir nanti ke gym Bima ya,” ucapnya sambil menaikkan alis, memberi kode. “Dikasih diskon aman aja.”Sevi tertawa kecil.Namun belum sempat ia menjawab Arlan sudah lebih dulu mendelik ke arah Bima. Tatapan tajam, meski hanya sekilas.Bima seperti menangkap
Arlan duduk di kursi kayu itu dengan tubuh sedikit condong ke depan. Kedua tangannya saling bertaut, jemarinya bergerak pelan, seolah menahan sesuatu yang tidak bisa ia keluarkan.Papa dan ayah Sevi bergantian menasihatinya.“Perasaan itu wajar,” ucap Papa pelan. “Tapi jangan sampai jadi asumsi.”Ayah Sevi ikut menimpali.“Iya, Nak. Kamu lihat dari jauh, belum tentu yang kamu pikir itu benar.”Arlan hanya diam. Tatapannya kosong ke depan. Bukan tidak mendengar, tapi juga tidak benar-benar memahami. Semua kata-kata itu seperti masuk… lalu menghilang begitu saja.Ia menghela napas panjang. Matanya terpejam sebentar.Berusaha menenangkan diri.Namun bayangan tadi soal tangan Bima di pipi Sevi, cara mereka bercanda masih terputar jelas di kepalanya.“Arlan!”Suara Sevi dari dalam rumah memecah lamunannya.“Papa! Ayah! Masuk, yuk!”Arlan membuka mata.Papa menepuk pundaknya pelan.“Udah, jangan terlalu dipikirin. Santai aja.”Ayah Sevi mengangguk setuju.“Yang penting kamu percaya sama pas
“Bima! Katanya siangan?”Sevi berlari kecil menghampiri, wajahnya terlihat cerah. Bima yang baru saja mematikan mesin motornya hanya tersenyum santai, seolah kehadirannya yang lebih cepat itu bukan masalah besar.“Gapapa,” jawabnya ringan. “Takutnya kamu pulang cepat. Di rumah juga lagi sepi, jadi main sini deh.”Tanpa canggung, ia mengangkat tangan dan menarik pelan pipi Sevi.“Mbul mbul… masih aja ya,” godanya.Sevi refleks meringis.“Ih, apaan sih kamu,” balasnya sambil menepis tangan Bima, namun tetap tertawa.Di kejauhan, Arlan yang menyaksikan interaksi itu langsung merengut. Rahangnya sedikit mengeras. Ia berdiri, lalu berjalan mendekat dengan langkah yang tidak terburu-buru, tapi jelas menunjukkan kehadirannya.Bima yang baru saja memarkirkan motor, akhirnya menyadari sosok Arlan.“Siapa, Sev?” tanyanya sambil menoleh.Sevi langsung mengisyaratkan.“Oh, Arlan… sini, Lan,” ucapnya memanggil. “Arlan ini Bima, teman SD-ku dulu.”Ia lalu menoleh ke arah Bima.“Bima, ini Arlan. Tun
Pagi itu, Sevi bangun lebih awal dari biasanya. Udara Lembang yang sejuk membuatnya sedikit menggigil, namun juga memberi semangat tersendiri. Tanpa membangunkan Arlan yang masih terlelap, ia langsung bersiap membantu ibunya di dapur.Tak lama, ia sudah ikut membonceng ibunya menuju pasar.Perjalanan pagi itu terasa segar. Jalanan belum terlalu ramai, namun aktivitas sudah mulai terlihat. Beberapa pedagang membuka lapak, kendaraan hilir mudik, dan suara khas pasar mulai terdengar bahkan sebelum mereka sampai.Setibanya di pasar, ibunya langsung turun dan berpamitan sebentar.“Ibu ke dalam dulu ya, kamu tunggu di sini aja.”Sevi mengangguk.“Iya, Bu.”Ia memilih duduk di dekat parkiran, membeli air kelapa muda dari penjual di pinggir jalan. Gelas plastik dingin itu ia pegang santai, sambil menatap keramaian di depannya.Orang-orang berlalu lalang dengan kesibukan masing-masing.Ada yang menawar harga, ada yang mengangkat barang, ada pula yang sekadar berjalan sambil membawa kantong bel
Sore perlahan merayap turun di Lembang. Matahari yang sejak siang begitu ramah kini mulai condong ke barat, meninggalkan cahaya keemasan yang menyentuh dedaunan dan halaman rumah Sevi. Acara lamaran sudah memasuki fase akhir. Suara tawa mulai mereda, hidangan tersisa dibereskan, dan satu per satu s
Dengkuran halus terdengar bersahutan.Televisi sudah lama dimatikan. Cahaya layar hitam memantulkan bayangan samar di dinding ruang tengah. Selimut tebal menutup rapi tubuh para ayah yang tertidur di depan TV, posisi mereka berantakan namun nyaman, seolah dunia bisa menunggu sampai pagi.Namun tida
Bermaksud atau tidak,” sela Mila, “hasilnya sama.”Sevi menunduk. “Aku minta maaf kalau aku menyakiti kamu.” “Maaf?” Mila tersenyum miring. “Kamu selalu punya kata itu.” “Mila,” suara Sevi bergetar. “Aku nggak merebut siapa pun.” “Ya,” balas Mila dingin. “Karena dari awal dia milik kamu, kan.”
Keramaian di rumah orang tua Miko akhirnya mereda menjelang sore. Tawa yang sejak siang memenuhi ruang tamu perlahan berubah menjadi obrolan ringan yang melelahkan. Mila terlihat menahan kantuknya meski masih berusaha tersenyum sopan.Miko menangkap itu dengan cepat.“Ma,” katanya sambil berdiri, “







