Share

Calon Mantu

Penulis: Olivia
last update Tanggal publikasi: 2026-01-18 23:53:58

Suara erangan manis bersahutan dengan bunyi kulit mereke yang bersentuhan, Miko yang sudah kehilangan akal tak memikirkan apapun kecuali Mila yang berada diatas nya. Gerakan tubuh yang membuat kejantanannya puas, serta dua dada nya beradu satu sama lain.

“Nggak kuat, Ko. Mau.. mauu..”

Tepat di hentakan terakhir, mereka bersamaan mengeluarkan cairan yang membuat Mila basah di bawah.

\\\

Miko terbangun dengan kepala yang masih terasa berat. Bukan pusing yang menusuk, melainkan sisa-sisa mabuk ya
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Bos, Jangan di Sini!   Siapa Lagi Coba

    Pagi itu, Sevi bangun lebih awal dari biasanya. Udara Lembang yang sejuk membuatnya sedikit menggigil, namun juga memberi semangat tersendiri. Tanpa membangunkan Arlan yang masih terlelap, ia langsung bersiap membantu ibunya di dapur.Tak lama, ia sudah ikut membonceng ibunya menuju pasar.Perjalanan pagi itu terasa segar. Jalanan belum terlalu ramai, namun aktivitas sudah mulai terlihat. Beberapa pedagang membuka lapak, kendaraan hilir mudik, dan suara khas pasar mulai terdengar bahkan sebelum mereka sampai.Setibanya di pasar, ibunya langsung turun dan berpamitan sebentar.“Ibu ke dalam dulu ya, kamu tunggu di sini aja.”Sevi mengangguk.“Iya, Bu.”Ia memilih duduk di dekat parkiran, membeli air kelapa muda dari penjual di pinggir jalan. Gelas plastik dingin itu ia pegang santai, sambil menatap keramaian di depannya.Orang-orang berlalu lalang dengan kesibukan masing-masing.Ada yang menawar harga, ada yang mengangkat barang, ada pula yang sekadar berjalan sambil membawa kantong bel

  • Bos, Jangan di Sini!   Dasar Anak Muda

    Sevi dengan sigap merebahkan dirinya, sedangkan Arlan langsung melucuti semua yang Sevi kenakan saat ini. Arlan menatap penuh puja oleh pemandangan Sevi yang tanpa busana, gerakan tangan Sevi yang menutupi area intim ya malu-malu membuat Arlan semakin gemas.“Ngapain ditutupin gitu?” Tanyanya sambil menciumi seluruh badan Sevi.“Umm, ge-geli sayang.”Tak butuh waktu lama, Sevi menggeliat pelan dan merasakan bawahnya sudah terasa basah. Kejantanan yang sedari itu tegak, kini sudah menggesek pelan pada labia, mencari titik enak Sevi yang katanya sekecil kacang tanah. Tangan kirinya ikut mengelus bagian enak Sevi, sedangkan satunya memijat dada secara bergantian.“Di-disitu sayang.. Enak banget,” racau Sevi.Semakin Sevi meracau dan mendesah, Arlan begitu semangat menggerakkan pinggulnya ke depan belakang. Yang di dalam semakin mengetat, tanda akan dekat untuk mengeluarkan cairan kenikmatan. Sedangkan Arlan yang merasa terjepit membuatnya semakin mengerutkan kening dan langsung mencabu

  • Bos, Jangan di Sini!   Membujuk Arlan

    Acara berjalan dengan khidmat. Semua orang tampak larut dalam suasana hangat yang tercipta. Percakapan berlangsung dengan sopan, diselingi senyum dan anggukan dari masing-masing pihak keluarga. Namun di balik itu, ada dua orang yang tidak sepenuhnya menikmati momen tersebut.Arlan masih terlihat sedikit cemberut. Wajahnya tenang, tetapi jelas ada rasa tidak puas yang ia sembunyikan. Baginya, keputusan menunda hingga pertengahan bulan keenam terasa terlalu lama.Sementara itu, Sevi duduk di sampingnya dengan pikiran yang justru tidak kalah sibuk. Ucapan tentang “balak” tadi terus terngiang di kepalanya. Ia berusaha fokus, namun bayangan-bayangan kecil tetap muncul tanpa diminta.Di luar mereka berdua, suasana justru terasa lega.Orang tua, keluarga, bahkan para saudara yang hadir terlihat bahagia. Obrolan tentang rencana ke depan mulai mengalir, disambung dengan tawa ringan dan candaan khas keluarga.Setelah sesi utama selesai, acara dilanjutkan dengan makan bersama. Hidangan sederhan

  • Bos, Jangan di Sini!   Hari yang Ditetapkan

    “Si sekretaris Arlan nggak buat ulah lagi kan?”Suara Mama Arlan terdengar pelan namun penuh kehati-hatian. Tangannya masih sibuk merapikan salah satu bingkisan terakhir, namun pikirannya jelas tidak sepenuhnya ada di sana.Sevi yang duduk di sampingnya tersenyum tipis.“Aman, Ma. Akhir-akhir ini balik kayak dulu.”Mama Arlan mengangguk pelan, meski keraguan masih tersisa di wajahnya.“Bagus deh…” gumamnya. “Waktu kamu cerita kemarin, Mama agak khawatir… sama was-was juga sama dia. Padahal Mama juga nggak tahu orangnya yang mana. Tapi kayak…”Kalimat itu menggantung.Seolah ada firasat yang sulit dijelaskan.Tiba-tiba, dari belakang, Arlan datang dan langsung memeluk pundak mamanya dengan manja.“Tenang, Ma,” ucapnya lembut. “Percayain semua ke Arlan sama Sevi.”Mama sedikit terkejut, namun tangannya refleks mengelus lengan Arlan.“Arlan juga jaga jarak. Apapun kegiatan di luar kantor, pasti Arlan libatin Sevi,” lanjutnya.Mama menoleh, menatap anaknya lebih dalam.“Iya… Mama paham,”

  • Bos, Jangan di Sini!   Hari yang Ditunggu

    Hari berganti hari tanpa terasa. Waktu yang sempat terasa lambat kini justru berjalan cepat, seolah semua hal sedang bergerak menuju satu titik yang sama. Hingga akhirnya, hari yang dinanti itu benar-benar tiba.Sore itu, setelah pulang kerja, Sevi dan Arlan tidak banyak membuang waktu. Keduanya langsung bersiap menuju rumah utama Arlan. Beberapa tas sudah disiapkan, berisi pakaian dan perlengkapan yang akan mereka bawa ke Lembang keesokan harinya.Suasana kontrakan Sevi terasa sedikit berbeda. Ada kesibukan kecil, namun di balik itu terselip rasa antusias yang sulit disembunyikan.“Mandinya nanti aja di rumah Mama, sayang,” ucap Arlan sambil memasukkan barang ke dalam tas.Sevi yang sedang berdiri di depan cermin hanya mengangguk.“Iya, ini cuma cuci muka aja.”Ia lalu menoleh sedikit.“Itu tas yang di atas meja rias aku kamu bawa nggak?”Arlan berhenti sebentar, berpikir.“Iya, satu kan?”“Iya... Udah di mobil kok.”Sevi mengangguk puas.“Terus tas baju udah di bagasi kan?”“Udah, a

  • Bos, Jangan di Sini!   Hangat

    Sepulang dari kantor, suasana di kontrakan Sevi terasa jauh lebih santai dibanding hari-hari sebelumnya. Tidak ada beban pikiran yang menggantung, tidak ada rasa was-was yang mengganggu. Hari itu berjalan begitu mulus hingga Sevi sendiri merasa ingin menikmati momen kecil yang sering terlewat.Tanpa banyak kata, ia sudah duduk di pangkuan Arlan di sofa ruang tengah. Televisi menyala, namun tidak benar-benar mereka tonton. Fokus mereka sepenuhnya ada satu sama lain.Sevi bersandar, tubuhnya rileks. Tangannya melingkar di leher Arlan, sementara wajahnya perlahan mendekat. Ia mengusap pelan leher Arlan, menikmati kehangatan yang terasa familiar.Arlan tidak menolak. Justru tangannya refleks memeluk pinggang Sevi, menahan tubuh itu agar tidak menjauh.Beberapa detik terasa tenang.Namun Sevi, dengan sifat jahilnya, tidak berhenti sampai di situ. Ia mencium leher Arlan pelan, lalu dengan sengaja mengusik lebih jauh.Sevi menjilat pelan hingga tubuh Arlan menegang seketika, lalu wajahnya be

  • Bos, Jangan di Sini!   Yang Menenangkan

    Bau mie instan yang pekat masih memenuhi udara kontrakan itu, bercampur dengan aroma bawang goreng dan uap panas yang belum sempat menguap. Namun perhatian Sevi teralih seluruhnya ketika wajah Arlan muncul di ambang pintu dengan wajah emosi yang masih menempel kuat… dan lebam ungu besar di pipi kir

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-24
  • Bos, Jangan di Sini!   Rapat Penuh Perasaan

    Arlan memulai presentasinya dengan napas yang tertata. Suaranya terdengar stabil, walau di dadanya banyak hal berdesakan kenangan, penyesalan, dan secercah keteguhan yang baru ia temukan beberapa waktu terakhir.“Produk ini… sebenarnya sudah kami rancang jauh sebelum semua masalah terjadi. Ini adal

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-24
  • Bos, Jangan di Sini!   Baru Dimulai

    Suatu malam, saat kantor sudah sepi, hanya beberapa komputer yang masih menyala, dan hujan turun deras di luar, Sevi berjalan ke pantry untuk mengambil air hangat. Tubuhnya sedikit lelah, tapi bukan karena stres, lebih karena banyak pekerjaan menumpuk setelah ia lama menghilang saat masa investigas

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-24
  • Bos, Jangan di Sini!   Rasa yang Tak Pernah Selesai

    Rasa Vanilla Creamy sebenarnya bukan sekadar ide yang muncul begitu saja dari bibir Alya. Ada cerita panjang yang tidak pernah Arlan pahami, kisah kecil yang dulu tampak remeh namun ternyata membentuk sebagian dari hidup Alya.Itu berawal pada masa ketika mereka masih duduk di bangku sekolah. Arlan

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-24
Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status