Home / Romansa / Jangan Hisap, Pak Bos! / Makin Overthinking

Share

Makin Overthinking

Author: Olivia
last update publish date: 2026-03-10 23:39:34

Hari itu terasa lebih panjang dari biasanya bagi Sevi.

Sejak pagi pikirannya tidak pernah benar-benar tenang. Ia sudah berusaha bekerja seperti biasa dengan membuka dokumen, membalas beberapa email, membaca laporan yang menumpuk di mejanya. Namun setiap beberapa menit sekali, fokusnya selalu pecah.

Pikirannya kembali ke satu hal yang sama.

Sonya.

Arlan sebenarnya sudah menjelaskan dengan jelas kemarin. Ia bahkan berjanji akan menjaga jarak di luar urusan pekerjaan. Cara Arlan berbicara juga tid
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (2)
goodnovel comment avatar
roha mimha
Kenapa lama sangat episod Sevi dan Arlan menuju perkahwinan. Sedangkan Mila berkahwin dalam 1 atau 2 episod. Apa authornya ingin muter² cerita biar kepanjangan. Jangan kasi bosan deh!
goodnovel comment avatar
roha mimha
Kenapa mesti ada perempuan lain yang suka menganggu hubungan pasangan lain. Sedangkan dia sendiri perempuan. Tak faham aku dengan hati perempuan begini.
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Jangan Hisap, Pak Bos!   Masa Lalu Sonya

    Mungkin bagi sebagian orang, mempercayai ramalan adalah sesuatu yang tabuh. Sesuatu yang tidak masuk akal, bahkan cenderung dianggap tidak waras. Namun bagi Sonya, itu bukan sekadar percaya, itu adalah satu-satunya cara ia bertahan tanpa harus hancur sepenuhnya.Sonya bukan orang yang suka berdebat. Ia juga bukan tipe yang akan menjelaskan dirinya panjang lebar. Sejak kecil, ia sudah belajar satu hal, tidak semua hal yang diucapkan akan berakhir baik.Orang tuanya berpisah ketika ia masih terlalu muda untuk memahami arti pengkhianatan, tetapi cukup dewasa untuk merasakan dampaknya. Ayahnya ketahuan berselingkuh. Ibunya pergi, membawa adiknya. Dan Sonya… tetap tinggal.Bukan karena ia dipilih.Tapi karena ia tidak diperebutkan.“Sonya ikut Papa aja ya. Adik masih kecil,” ucap ibunya waktu itu, sambil tersenyum tipis, seolah keputusan itu ringan.Sonya kecil hanya mengangguk.“Baik, Ma.”Tidak ada tangisan. Tidak ada protes. Ia bahkan tidak bertanya kenapa.Sejak saat itu, hidupnya ber

  • Jangan Hisap, Pak Bos!   Makin Agresif

    Hari itu terasa berbeda bagi Arlan.Semakin ia memperhatikan, semakin jelas perbedaan sikap Sonya dibanding hari-hari sebelumnya. Jika dulu interaksi mereka murni profesional, terukur, seperlunya, tanpa celah, hari ini terasa… terlalu dekat.Terlalu personal.Tatapan Sonya berubah.Senyumnya pun berbeda.Bukan lagi sekadar sopan, tapi seperti menyimpan maksud lain yang tidak diucapkan.Beberapa kali Sonya masuk ke ruangannya bukan hanya untuk urusan kerja. Ia mulai menanyakan hal-hal ringan yang tidak berkaitan dengan pekerjaan.“Bapak biasanya sarapan apa?”“Weekend kemarin ke mana?”Hal-hal yang sebelumnya tidak pernah ia tanyakan.Arlan hanya menjawab seperlunya.Singkat.Jelas.Namun tidak memberi ruang untuk berkembang.Puncaknya ketika Sonya masuk membawa secangkir kopi.“Pak, ini kopi.”Arlan langsung mengangkat tangan.“Nggak usah, Sonya. Saya biasa bikin sendiri.”Namun Sonya tersenyum.“Sekali-sekali saya yang buat, Pak.”Arlan menghela napas pelan.Nada Sonya tidak memaksa,

  • Jangan Hisap, Pak Bos!   Batas yang Mulai Terlihat

    Malam di Puncak terasa lebih dingin dari yang mereka bayangkan.Namun di dalam kamar itu, suasana justru hangat.Arlan dan Sevi menghabiskan waktu berdua tanpa gangguan. Tidak ada suara notifikasi, tidak ada pekerjaan, tidak ada orang lain yang menuntut perhatian mereka. Malam itu benar-benar terasa seperti milik mereka."Lan... Jangan masuk sekaligus," Erangan Sevi yang terdengar seperti bisikan."Ahh.. enak sayang, ketat banget..."Arlan mencoba menyesuaikan ritme agar Sevi tak kesakitan, sebab disini ia tau kalau Sevi tak akan bersuara keras untuk meredam sakitnya. Namun apa daya, di bawah sana Arlan merasa seperti terjepit, enak namun ngilu, ia berusaha keras menahan agar tidak keluar dalam."Sayang..." Kejantanannya dikeluarkan paksa agar tidak terjadi pembuahan di dalam. Ciuman manis nan basah mengakhiri kegiatan mereka, setelah lelah dan tenang kembali, Sevi berbaring di samping Arlan. Kepalanya bersandar di lengan pria itu, sementara Arlan mengelus rambutnya perlahan.Beberap

  • Jangan Hisap, Pak Bos!   Puncak

    Hari mulai beranjak sore ketika Arlan dan Sevi akhirnya meninggalkan kebun binatang. Tidak ada rencana pasti sejak awal. Semua yang mereka lakukan hari ini berjalan begitu saja, mengikuti keinginan sesaat yang terasa menyenangkan.Dan entah bagaimana, di tengah perjalanan pulang yang seharusnya sederhana, Sevi tiba-tiba mengusulkan sesuatu.“Kita ke Puncak, yuk.”Arlan melirik sekilas. “Sekarang?”Sevi mengangguk tanpa ragu. “Nginep. Cari suasana baru.”Arlan sempat terdiam beberapa detik. Namun melihat ekspresi Sevi yang penuh harap, ia hanya tersenyum nakal.“Yakali nolak.”Keputusan itu diambil tanpa banyak pertimbangan.Tanpa persiapan matang.Tanpa membawa perlengkapan apa pun.Hanya mereka berdua, dengan waktu yang mereka punya hari ini.\\\Di perjalanan, mereka sempat berhenti di sebuah pusat perbelanjaan terdekat.Sevi memilih beberapa pakaian ganti dengan cepat. Tidak terlalu banyak, hanya yang sekiranya cukup untuk satu malam. Arlan juga mengambil beberapa kaos santai dan p

  • Jangan Hisap, Pak Bos!   Standar Jodoh

    Hari di kantor berjalan seperti biasanya bagi Sonya.Laptopnya terbuka sejak pagi, layar dipenuhi dokumen dan laporan yang harus diselesaikan. Sejak Arlan tidak masuk hari ini, sebagian pekerjaannya otomatis berpindah ke tangan Sonya.Ia mengatur jadwal Arlan untuk besok.Memeriksa beberapa email penting dari klien.Membaca laporan produksi susu hari itu dengan teliti, memastikan tidak ada angka yang janggal sebelum laporan tersebut dikirim ke manajemen pusat.Pekerjaan demi pekerjaan selesai ia tangani tanpa keluhan.Sonya memang terbiasa seperti itu. Rapi, terstruktur, dan selalu terlihat menguasai keadaan.Selama jam kerja, hampir tidak ada ruang bagi pikirannya untuk memikirkan Arlan secara pribadi.Namun ketika alarm kecil di ponselnya berbunyi, penanda waktu istirahat yang sengaja ia atur untuk dirinya sendiri, barulah ia berhenti sejenak.Sonya bersandar di kursinya.Tangannya berhenti mengetik.Matanya menatap layar laptop yang kini tampak kosong di hadapannya.Dan tanpa sadar

  • Jangan Hisap, Pak Bos!   Belalai

    Pagi datang lebih lambat bagi Arlan dan Sevi.Matahari sebenarnya sudah cukup tinggi ketika sinarnya menembus tirai kamar. Namun di atas ranjang itu, keduanya masih enggan bergerak. Tubuh mereka terasa lelah setelah hari yang panjang kemarin, tetapi bukan hanya karena kelelahan fisik.Mereka hanya ingin diam.Hanya ingin berada di tempat yang sama.Sevi meringkuk di dada Arlan, memeluk pinggang pria itu dengan malas. Sesekali ia menggesekkan pipinya pelan, seperti anak kecil yang mencari kenyamanan.Arlan tersenyum kecil.Tangannya mengelus rambut Sevi yang sedikit berantakan. Sesekali ia menunduk dan mengecup puncak kepala perempuan itu.“Kamu nggak mau bangun?” tanyanya pelan.Sevi menggeleng.“Nggak.”Ia malah semakin mendekat, menempelkan wajahnya ke dada Arlan.“Capek.”Arlan tertawa kecil.“Capek apa? Nangis?”Sevi mencubit pinggangnya pelan.“Nyebelin.”Mereka terdiam beberapa saat lagi. Tidak ada yang benar-benar terburu-buru untuk memulai hari.“Apa kita izin aja ya hari ini?

  • Jangan Hisap, Pak Bos!   Baru Dimulai

    Suatu malam, saat kantor sudah sepi, hanya beberapa komputer yang masih menyala, dan hujan turun deras di luar, Sevi berjalan ke pantry untuk mengambil air hangat. Tubuhnya sedikit lelah, tapi bukan karena stres, lebih karena banyak pekerjaan menumpuk setelah ia lama menghilang saat masa investigas

    last updateLast Updated : 2026-03-24
  • Jangan Hisap, Pak Bos!   Rasa yang Tak Pernah Selesai

    Rasa Vanilla Creamy sebenarnya bukan sekadar ide yang muncul begitu saja dari bibir Alya. Ada cerita panjang yang tidak pernah Arlan pahami, kisah kecil yang dulu tampak remeh namun ternyata membentuk sebagian dari hidup Alya.Itu berawal pada masa ketika mereka masih duduk di bangku sekolah. Arlan

    last updateLast Updated : 2026-03-24
  • Jangan Hisap, Pak Bos!   Penutup Luka

    “Disitu nggak ada apa-apa nya sakitnya dibanding disini" Tangan Sevi merasakan tonjolan keras dibalik celana jeans yang Arlan gunakan. Matanya terbelalak, antara kaget dan malu jadi satu. “Apasi, Lan” Perkataan dan perlakuan Sevi tampak berbanding terbalik, tangannya meremas pelan sesuatu yang

    last updateLast Updated : 2026-03-24
  • Jangan Hisap, Pak Bos!   Mereka Semua Tahu

    Suara printer berdengung di ruang tengah kantor pusat.Lembar demi lembar laporan hukum dan data hasil laboratorium keluar, menumpuk di sisi meja kayu tempat Arlan duduk.Di layar laptopnya, logo perusahaan bersanding dengan tulisan besar di sisi kanan,“Preliminary Legal Case: Berrystraw Product I

    last updateLast Updated : 2026-03-23
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status