Share

Mulai Tertarik

Author: Olivia
last update Petsa ng paglalathala: 2025-08-03 18:55:11

Suasana kantor malam itu begitu sunyi. Hanya dengungan pendingin ruangan dan bunyi jarum jam dinding yang sesekali terdengar. Lampu neon berpendar dingin, memantulkan cahaya putih pucat ke meja-meja kerja yang sebagian besar sudah kosong.

Sevi masih duduk di balik meja, menatap layar komputer dengan mata panas. Jemarinya mengetik cepat, menyusun laporan analisis sampel yang gagal. Seharusnya bisa dikerjakan besok, tapi deadline mendesak.

Di lantai itu, hanya ada satu orang lain—Arlan, bosnya. Cahaya lampu meja pria itu tampak redup dari balik pintu kaca yang setengah terbuka. Sesekali terdengar suara kertas dibalik atau kursi digeser.

Sevi mencoba fokus, tapi tubuhnya mengkhianati. Dada kirinya nyeri, seakan ditarik dan ditekan. Ia menyesuaikan posisi, tapi rasa sakit justru makin menusuk. Napasnya tersengal, jari otomatis mengusap bagian itu pelan. Sekejap, nyeri bercampur sensasi hangat yang membuatnya menggigit bibir.

Ia tahu betul penyebabnya. Sejak kemarin, tubuhnya memproduksi cairan aneh itu. Ia tidak hamil, tidak menikah, bahkan hubungan intim pun tak pernah. Tapi setiap kali ia menekan, cairan itu keluar. Dan nyeri hanya bisa reda jika ia keluarkan.

Sevi menghela napas gemetar. Ia membuka laci, mengeluarkan pompa ASI elektrik yang diam-diam selalu ia bawa belakangan ini. Harapannya sederhana: meredakan nyeri, lalu kembali kerja.

Pompa itu sudah di tangannya saat ia berjalan cepat menuju toilet. Tapi di tikungan lorong, tubuhnya bertabrakan dengan seseorang.

“Ah, maaf—” suara berat itu menghentikan langkahnya.

Arlan.

Sevi terperangah, sementara pompa di tangannya jatuh, terlepas jadi beberapa bagian di lantai. Bunyi plastik pecah memantul keras di lorong sunyi.

Arlan ikut jongkok, memunguti benda itu tanpa banyak tanya. “Saya tidak lihat ada orang. Maaf.” Tangannya mengulurkan bagian pompa yang ia pungut.

Sevi menerima dengan pipi panas. “T… tidak apa-apa, Pak.”

Tatapan Arlan tertahan sesaat pada benda itu, lalu kembali ke wajah Sevi. Ekspresinya tenang, tapi ada kilatan halus di matanya. “Kalau boleh tahu… tidak apa meninggalkan anakmu di rumah kalau lembur begini?”

Sevi membeku. Anak? Dia bahkan belum menikah.

Air matanya mendesak keluar, ditahan sekuat tenaga. “Saya… tidak punya anak, Pak…” suaranya pecah.

Arlan terdiam, jelas terkejut. “Lalu—”

Kata-kata Sevi tumpah. “Ini semua karena saya… kebanyakan minum susu stroberi entah kenapa… tubuh saya bereaksi begini.”

Suara tercekat itu jatuh bersamaan dengan cairan yang merembes di blusnya. Noda basah muncul jelas di bawah cahaya lampu. Sevi buru-buru menutupinya dengan tas, wajahnya merah padam. Nyeri di dadanya makin menusuk, membuatnya menahan napas.

Arlan refleks melepaskan jaketnya, menutupi tubuh Sevi. Dalam gerakan itu, tangannya sempat menyentuh bagian sensitif yang basah itu.

“Ah…” Sevi meringis, nyeri bercampur sensasi aneh.

Arlan langsung menarik tangannya, wajahnya kaku. “Maaf. Saya tidak bermaksud.”

Keheningan menelan lorong. Hanya napas keduanya yang terdengar, berat dan tak teratur.

Akhirnya Arlan bicara lagi, suaranya lebih lembut. “Kalau kamu dalam kondisi seperti ini, jangan memaksakan lembur. Saya bisa cari orang lain.”

Sevi cepat menggeleng. “Tidak, Pak. Ini tanggung jawab saya. Lagipula, saya tidak mau tim terbebani.”

Arlan menatapnya lama. Lidahnya kelu. Yang keluar hanya kalimat datar. “Baiklah. Tapi lebih aman kalau kamu kerja di ruang saya. Setidaknya ada yang memperhatikan.”

Mereka kembali, duduk di ruang Arlan. Suasana sunyi lagi. Sevi sibuk mengetik, tapi sesekali tubuhnya meringis, dadanya berdenyut.

Arlan memperhatikan diam-diam. Sampai akhirnya ia bersuara, lirih tapi jelas. “Sakit?”

Sevi terkejut, lalu mengangguk kecil. “Kalau nggak dikeluarin… makin sakit.”

Ada jeda panjang sebelum Arlan berkata lagi, lebih berat. “Saya bisa bantu.”

Sevi menoleh, ragu. “Pak…?”

Mata Arlan menatapnya dalam, tak ada senyum. Hanya keseriusan yang membuat Sevi merinding. “Saya tahu cara supaya tidak terlalu sakit. Mau?”

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Mga Comments (14)
goodnovel comment avatar
Nur Sia
lanjutkan cerita nya seru bikin penasaran
goodnovel comment avatar
Aisah Kartika
ceritax bagus lanjutkan
goodnovel comment avatar
rahayu wulandari
lanjutttt.....
Tignan lahat ng Komento

Pinakabagong kabanata

  • Bos, Jangan di Sini!   Obsesi Nggak Bener

    Pintu ruang rapat baru saja tertutup ketika langkah Pak Wijaya kembali terhenti."Om." Suara Arlan terdengar tenang.Pak Wijaya tidak berbalik. "Ada apa lagi?"Arlan menatap Maya, Dito, dan beberapa staf yang masih berdiri dengan wajah tegang. "Kalian keluar dulu."Semua saling berpandangan. "Pak...""Keluar."Tidak ada yang berani membantah. Sevi pun ikut berdiri, namun sebelum melangkah menuju pintu, Arlan menggenggam pelan tangannya."Kamu tetap di sini."Sevi mengangguk pelan.Tak lama kemudian ruangan benar-benar sepi, hanya tersisa tiga orang di dalam.Beberapa detik tidak ada yang berbicara. Arlan berjalan perlahan menuju jendela besar yang menghadap ke arah kawasan industri miliknya."Dulu Om yang ngajarin aku kalau bisnis itu dibangun pake kepercayaan."Pak Wijaya hanya diam."Sekarang aku cuma pengin satu hal." Arlan berbalik. "Kejujuran Om."Tatapan mereka akhirnya bertemu. "Semuanya tanpa terkecuali."Pak Wijaya mengembuskan napas panjang. "Kamu emang udah besar ya.""Buka

  • Bos, Jangan di Sini!   Kehilangan Ayah Kedua.

    Ruangan rapat utama yang biasanya dipenuhi suara presentasi kini terasa begitu sunyi. Arlan baru saja kembali dari kantor kepolisian ketika Maya masuk dengan wajah tergesa-gesa."Pak..."Arlan yang sedang membaca beberapa dokumen langsung mengangkat kepala. "Iya?""Pak Wijaya datang."Sevi yang duduk di samping Arlan ikut menghentikan aktivitasnya. "Sekarang?"Maya mengangguk pelan. "Baru banget nyampe beliau."Belum sempat Arlan menjawab, pintu ruang rapat terbuka tanpa ketukan. Pak Wijaya masuk lebih dulu dan di belakangnya berdiri beberapa staf yang langsung memilih mundur begitu melihat ekspresi Arlan.Ruangan menjadi sunyi, tak ada satu pun yang berani membuka percakapan.Pak Wijaya masih memakai senyum yang sama. Senyum yang dulu selalu membuat Arlan merasa tenang ketika baru merintis perusahaan ini. Namun hari ini... senyum itu terasa asing."Jaenul ditahan?" Nada bicaranya datar.Arlan ikut berdiri. "Iya.""Kamu nggak ngobrol dulu sama Om?"Arlan menggeleng pelan. "Buktinya ud

  • Bos, Jangan di Sini!   Ruang Pemeriksaan

    Menjelang siang, Arlan dan Sevi akhirnya berangkat menuju kantor kepolisian. Perjalanan mereka berlangsung nyaris tanpa percakapan. Arlan lebih banyak memandang ke luar jendela mobil, sementara Sevi membiarkannya tenggelam dalam pikirannya sendiri.Sesampainya di sana, mereka langsung diarahkan menuju ruang penyidikan.Ternyata Maya, Bagas, dan Dito sudah lebih dulu tiba.Maya melambaikan tangan kecil. "Pak.""Gimana?" tanya Arlan."Baru selesai dimintai keterangan."Bagas mengangguk. "Semua rekaman udah kita serahin. Backup juga aman." Dito menyandarkan tubuhnya ke kursi. "Pak Jaenul masih di dalam. Katanya habis ini gantian bapak sama Mbak Sevi."Arlan mengangguk pelan. "Oke, thank u guys."\\\Hampir empat puluh menit berikutnya, Arlan dan Sevi bergantian memberikan keterangan. Penyidik meminta mereka menjelaskan kronologi sejak awal.Mulai dari kejanggalan produksi, merubah takaran, rekaman CCTV, hingga penangkapan Pak Jaenul pagi tadi.Arlan menjawab satu per satu dengan tenang.

  • Bos, Jangan di Sini!   Tangisan Anak Kecil

    Sudah hampir satu jam berlalu dan pintu ruang kerja Arlan masih tertutup rapat. Kesibukan di luar perlahan kembali seperti biasa. Maya sudah lebih dulu berangkat bersama tim legal untuk mengurus proses pemeriksaan Pak Jaenul. Bagas dan Dito juga sibuk menyiapkan dokumen tambahan yang sewaktu-waktu dibutuhkan.Hanya Sevi yang masih bertahan di depan ruangan itu. Sesekali ia melihat jam di ponselnya, bukan karena tidak sabar, melainkan khawatir.Ia tahu Arlan bukan tipe orang yang mudah menangis. Selama mereka bersama, ia bisa menghitung dengan jari berapa kali lelaki itu benar-benar kehilangan kendali. Dan hari ini adalah salah satunya.Sevi akhirnya berdiri. "Kayaknya aku balik ke ruangan dulu deh," gumamnya pelan.Baru saja ia membalikkan badan. Klik. Pintu ruang kerja terbuka perlahan.Arlan berdiri di sana. Dengan matanya merah dan kelopak matanya bengkak. Terlihat rambutnya sedikit berantakan karena berkali-kali diusap sendiri. Begitu melihat Sevi, ia tidak mengatakan apa-apa. I

  • Bos, Jangan di Sini!   Ayah Kedua

    Setelah Pak Jaenul resmi dibawa keluar gedung, suasana kantor belum juga kembali normal. Beberapa karyawan masih berbisik membicarakan apa yang baru saja terjadi. Tim legal mulai menyusun berita acara, sementara Maya, Bagas, dan Dito sibuk memastikan seluruh rekaman disimpan dengan aman. Di tengah kesibukan itu, Arlan hanya berkata pelan,"Aku mau sendiri dulu."Sevi yang berdiri di sampingnya sempat hendak mengikuti, tetapi langkahnya terhenti. "Lan..."Arlan tersenyum tipis. Senyum yang dipaksakan. "Nggak apa-apa, sayang. Aku cuma butuh waktu bentar."Sevi mengangguk pelan. "Oke, kalau butuh apa-apa aku di luar ya."Tanpa banyak kata, Arlan masuk ke ruang kerjanya dan mengunci pintu dari dalam.\\\Ruangan itu mendadak terasa begitu luas dan sunyi. Yang terdengar hanya dengungan pendingin ruangan dan suara kendaraan samar dari luar gedung.Arlan berdiri cukup lama di dekat pintu, seolah belum tahu harus melakukan apa. Pandangannya perlahan menyapu seluruh isi ruangan.Meja kerja, r

  • Bos, Jangan di Sini!   Kata Terakhir Pak Jaenul

    Senin pagi datang lebih cepat dari biasanya. Sejak pukul tujuh, Arlan sudah berada di ruang kerjanya. Tidak hanya dirinya, Sevi, Maya, Bagas, Dito, tim legal perusahaan, bagian HR, serta dua orang dari pihak berwenang yang sebelumnya telah dihubungi juga sudah berada di gedung. Mereka datang dengan pakaian biasa agar tidak menarik perhatian. Semuanya sudah ditata sejak malam, tidak ada lagi ruang untuk kesalahan. Arlan berdiri di depan jendela ruangannya, dengan tatapannya mengarah ke halaman parkir."Udah masuk?"Dito melihat layar CCTV. "Belum, Pak."Beberapa detik kemudian... "Itu, mobilnya."Semua orang spontan melihat monitor. Mobil Pak Jaenul perlahan memasuki area parkir seperti hari-hari biasa. Ia turun dengan wajah tenang, menyapa beberapa karyawan yang berpapasan. Tidak ada sedikit pun tanda bahwa dirinya sedang diawasi.Arlan menarik napas panjang. "Oke, ayo."\\\Pukul delapan tepat, Pak Jaenul menerima pesan dari sekretaris untuk menghadiri rapat mendadak di ruang utama.

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status