LOGINLampu kamar sudah dipadamkan. Hanya lampu tidur di sudut ruangan yang masih menyala redup, memberikan semburat cahaya hangat di dalam kamar. Arlan dan Sevi sama-sama sudah berada di bawah selimut. Meski mata mulai terasa berat, keduanya masih enggan memejamkan mata.Sevi memutar tubuhnya menghadap Arlan. "Arlan Arlan...""Hm?""Aku boleh jujur nggak?"Arlan mengangguk pelan."Sejujur-jujurnya." Sevi menarik napas panjang sebelum akhirnya tersenyum tipis. "Jujur... dulu aku sampai jijik sama diri sendiri gara-gara itu."Arlan langsung menoleh. "Karena ASI?""Iya.""Kenapa gitu?"Sevi mengusap ujung selimut dengan jemarinya. "Ya coba aja kamu beda dari orang sekitar. Kamu pasti ngerasa aneh, ngerasa rusak, ngerasa... kenapa harus aku."Arlan tidak menyela. Ia membiarkan Sevi mengeluarkan semua isi hatinya."Dulu aku bahkan nggak berani cerita ke siapa-siapa. Takut dianggap aneh. Takut dikasih tatapan kasihan. Padahal yang paling capek itu justru pikiranku sendiri."Arlan perlahan mengg
Perjalanan pulang terasa jauh lebih lengang dibanding biasanya. Jakarta mulai dipenuhi lampu-lampu gedung yang menyala, sementara kendaraan masih mengular di beberapa ruas jalan. Namun kali ini Arlan dan Sevi tidak terlalu banyak berbicara. Setelah beberapa hari dipenuhi penyelidikan, rapat, dan kejadian yang menguras emosi, mereka akhirnya bisa mengembuskan napas sedikit lebih lega.Sesampainya di apartemen, Arlan langsung meletakkan tas kerjanya di dekat sofa."Akhirnya rumah..." gumamnya sambil meregangkan badan.Sevi terkekeh pelan. "Baru juga beberapa hari ditinggal.""Rasanya kayak sebulan.""Lebay.""Nggak, serius ini."Sevi hanya menggeleng sambil berjalan ke dapur. "Malam ini aku masak ya."Arlan yang semula hendak menjatuhkan diri ke sofa langsung mengikuti dari belakang. "Aku bantu.""Beneran?""Iya lah.""Nanti malah bikin berantakan."Arlan mengangkat kedua tangannya. "Sumpah nggak bakal, aku nurut semua instruksi chef."Sevi tertawa kecil. "Yaudah. Ambilin bawang dulu."
Waktu berjalan tanpa terasa. Matahari yang sejak siang bersinar terang kini mulai turun perlahan di balik gedung-gedung Jakarta. Cahaya jingga masuk melalui jendela apartemen, membuat ruang tamu terasa lebih hangat.Setelah memastikan kondisi Sonya jauh lebih baik, Sevi akhirnya merapikan tasnya. "Aku pulang dulu ya."Sonya yang duduk di sofa mengangguk pelan. "...Iya.""Nanti kalau ada apa-apa, telepon aku. Jangan dipendem sendiri.""Iya."Sevi tersenyum. "Bagus."Bima ikut berdiri. "Makasih ya, Sev.""Santai aja Bim. Udah, jagain dia aja ya."Bima mengangguk pelan. "Pasti."Tak lama kemudian bel apartemen berbunyi. Ting Tong"Itu pasti Arlan." Bima berjalan membukakan pintu.Benar saja, Arlan berdiri di depan sambil masih mengenakan kemeja kerja. Dasi yang sejak pagi dipakai sudah dilepas, sementara dua kancing atas bajunya terbuka.Kelihatannya benar-benar baru selesai dari kantor."Gimana?" Sevi tersenyum. "Udah jauh lebih tenang, sayang?"Arlan mengangguk lega. "Syukur."Setelah
Suasana kamar kembali tenang. Hanya terdengar suara pendingin ruangan yang berdengung pelan. Sonya duduk bersandar di kepala ranjang, sementara Sevi kembali duduk di sampingnya sambil menggenggam tangan perempuan itu.Beberapa saat keduanya memilih diam. Bukan karena tidak ada yang ingin dibicarakan. Melainkan karena sama-sama sedang mengumpulkan keberanian.Sevi mengembuskan napas pelan. "Aku... boleh cerita dikit nggak?"Sonya mengangguk. "Hm."Sevi tersenyum tipis. "Sebenernya aku nggak pernah nyangka bakal ngalamin hal kayak gini."Sonya menatapnya."Dulu aku suka banget susu stroberi." Wajah Sevi perlahan berubah menjadi sendu. "Lucu ya.""Apa?""Orang lain mungkin nganggep itu minuman biasa. Tapi buat aku... itu kayak rumah."Sonya mendengarkan tanpa memotong."Sejak kecil, setiap pulang sekolah aku selalu dibuatin susu stroberi sama Ibu, kalau lagi sedih, Ibu bikinin, kalau lagi seneng, juga bikinin.""Bahkan waktu pertama kali tinggal sendiri, hal pertama yang aku beli di mini
Pintu kamar kembali tertutup pelan. Kini hanya ada Sevi dan Sonya di dalam. Sementara Arlan dan Bima memilih menunggu di ruang tamu. Tidak ada yang berbicara, keduanya duduk berseberangan, sama-sama menatap lantai dengan pikiran masing-masing.Dari balik pintu sesekali masih terdengar isak tangis Sonya yang mulai mereda.Bima mengusap wajahnya pelan. "Bang..."Arlan mengangkat kepala. "Hm?""Aku takut."Arlan tidak langsung menjawab. "Takut kenapa?""Takut dia makin hancur." Suara Bima terdengar pelan, nyaris seperti bicara pada dirinya sendiri. "Aku bahkan nggak tahu harus bantu dari mana."Arlan menepuk pelan bahu pria itu. "Kita pelan-pelan aja.""Sumpah, aku ngerasa gagal.""Jangan nyalahin diri sendiri.""Kalau aja aku nemuin dia lebih cepet...""Bim."Bima mengembuskan napas panjang. "Iya, maaf bang..."Ruangan kembali sunyi, mereka berdua memilih membuka hp masing-masing. Walaupun sebenarnya Bima hanya menggeser menu hp nya saja.Di dalam kamar, Sevi membantu Sonya duduk di t
Empat puluh menit kemudian mobil mereka berhenti di basement apartemen Bima. Begitu pintu unit dibuka, wajah Bima langsung terlihat, kusut dan matanya sembab. Rambutnya bahkan belum sempat dirapikan."Masuk."Arlan memperhatikan keadaan apartemen. Masih rapi memang. Di atas meja makan terdapat semangkuk bubur yang sudah dingin, segelas teh hangat pun tinggal setengah."Dia makan?"Bima menggeleng. "Dua sendok doang bang.""Minum?""Dikit banget.""Terus?""Langsung masuk kamar gitu aja" Bima menunjuk ke arah lorong. "Dia disitu."Mereka bertiga berjalan mendekat. Benar saja, pintu kamar tamu tertutup rapat. Sunyi dan tidak terdengar suara apa pun dari dalam.Bima mengetuk pelan. "Son..." Tidak ada jawaban. "Sonya..." Tetap diam. "Aku masuk ya?" Masih tidak ada suara.Bima menoleh kepada Arlan. Tatapannya penuh kebingungan."Gimana?"Arlan belum sempat menjawab ketika Sevi melangkah maju. "Biar aku."Bima mengernyit. "Hah?""Aku aja udah percaya deh."Sevi berdiri tepat di depan pintu
Malam turun tanpa suara ketika mobil Arlan berhenti di depan kontrakan kecil milik Sevi. Tidak ada percakapan sejak kalimat terakhir yang diucapkan Sevi di dalam mobil. Kalimat yang menyinggung masa lalu Arlan dengan Alya itu masih terngiang di kepala keduanya. Sevi turun tanpa menoleh lagi. Pintu
Hari itu terasa lebih panjang dari biasanya bagi Sevi.Sejak pagi pikirannya tidak pernah benar-benar tenang. Ia sudah berusaha bekerja seperti biasa dengan membuka dokumen, membalas beberapa email, membaca laporan yang menumpuk di mejanya. Namun setiap beberapa menit sekali, fokusnya selalu pecah.
Pagi datang lebih lambat bagi Arlan dan Sevi.Matahari sebenarnya sudah cukup tinggi ketika sinarnya menembus tirai kamar. Namun di atas ranjang itu, keduanya masih enggan bergerak. Tubuh mereka terasa lelah setelah hari yang panjang kemarin, tetapi bukan hanya karena kelelahan fisik.Mereka hanya
Suasana kantor malam itu begitu sunyi. Hanya dengungan pendingin ruangan dan bunyi jarum jam dinding yang sesekali terdengar. Lampu neon berpendar dingin, memantulkan cahaya putih pucat ke meja-meja kerja yang sebagian besar sudah kosong.Sevi masih duduk di balik meja, menatap layar komputer denga







