author-banner
Olivia
Olivia
Author

Novels by Olivia

Bos, Jangan di Sini!

Bos, Jangan di Sini!

Sevi bekerja di perusahaan susu segar, hidupnya tampak sempurna. Ia mencintai pekerjaannya sebagai milk tester, mencintai susu strawberry, dan hidup mandiri. Tapi semuanya berubah ketika ia menemukan susu baru yang justru membangkitkan ‘reaksi biologis’ aneh pada tubuhnya. Tanpa hamil, tanpa hubungan, tiba-tiba tubuhnya memproduksi ASI... beraroma strawberry. Lebih rumit lagi, bosnya yang dikenal dingin dan perfeksionis, Arlan, mulai mencium rahasia aneh yang disembunyikannya. Tapi siapa sangka? Keanehan itu justru jadi awal kedekatan mereka dengan cara yang tidak pernah terpikirkan Sevi sebelumnya. “Saya tahu cara supaya nggak terlalu sakit. Mau?”
Read
Chapter: Obsesi Nggak Bener
Pintu ruang rapat baru saja tertutup ketika langkah Pak Wijaya kembali terhenti."Om." Suara Arlan terdengar tenang.Pak Wijaya tidak berbalik. "Ada apa lagi?"Arlan menatap Maya, Dito, dan beberapa staf yang masih berdiri dengan wajah tegang. "Kalian keluar dulu."Semua saling berpandangan. "Pak...""Keluar."Tidak ada yang berani membantah. Sevi pun ikut berdiri, namun sebelum melangkah menuju pintu, Arlan menggenggam pelan tangannya."Kamu tetap di sini."Sevi mengangguk pelan.Tak lama kemudian ruangan benar-benar sepi, hanya tersisa tiga orang di dalam.Beberapa detik tidak ada yang berbicara. Arlan berjalan perlahan menuju jendela besar yang menghadap ke arah kawasan industri miliknya."Dulu Om yang ngajarin aku kalau bisnis itu dibangun pake kepercayaan."Pak Wijaya hanya diam."Sekarang aku cuma pengin satu hal." Arlan berbalik. "Kejujuran Om."Tatapan mereka akhirnya bertemu. "Semuanya tanpa terkecuali."Pak Wijaya mengembuskan napas panjang. "Kamu emang udah besar ya.""Buka
Last Updated: 2026-07-25
Chapter: Kehilangan Ayah Kedua.
Ruangan rapat utama yang biasanya dipenuhi suara presentasi kini terasa begitu sunyi. Arlan baru saja kembali dari kantor kepolisian ketika Maya masuk dengan wajah tergesa-gesa."Pak..."Arlan yang sedang membaca beberapa dokumen langsung mengangkat kepala. "Iya?""Pak Wijaya datang."Sevi yang duduk di samping Arlan ikut menghentikan aktivitasnya. "Sekarang?"Maya mengangguk pelan. "Baru banget nyampe beliau."Belum sempat Arlan menjawab, pintu ruang rapat terbuka tanpa ketukan. Pak Wijaya masuk lebih dulu dan di belakangnya berdiri beberapa staf yang langsung memilih mundur begitu melihat ekspresi Arlan.Ruangan menjadi sunyi, tak ada satu pun yang berani membuka percakapan.Pak Wijaya masih memakai senyum yang sama. Senyum yang dulu selalu membuat Arlan merasa tenang ketika baru merintis perusahaan ini. Namun hari ini... senyum itu terasa asing."Jaenul ditahan?" Nada bicaranya datar.Arlan ikut berdiri. "Iya.""Kamu nggak ngobrol dulu sama Om?"Arlan menggeleng pelan. "Buktinya ud
Last Updated: 2026-07-24
Chapter: Ruang Pemeriksaan
Menjelang siang, Arlan dan Sevi akhirnya berangkat menuju kantor kepolisian. Perjalanan mereka berlangsung nyaris tanpa percakapan. Arlan lebih banyak memandang ke luar jendela mobil, sementara Sevi membiarkannya tenggelam dalam pikirannya sendiri.Sesampainya di sana, mereka langsung diarahkan menuju ruang penyidikan.Ternyata Maya, Bagas, dan Dito sudah lebih dulu tiba.Maya melambaikan tangan kecil. "Pak.""Gimana?" tanya Arlan."Baru selesai dimintai keterangan."Bagas mengangguk. "Semua rekaman udah kita serahin. Backup juga aman." Dito menyandarkan tubuhnya ke kursi. "Pak Jaenul masih di dalam. Katanya habis ini gantian bapak sama Mbak Sevi."Arlan mengangguk pelan. "Oke, thank u guys."\\\Hampir empat puluh menit berikutnya, Arlan dan Sevi bergantian memberikan keterangan. Penyidik meminta mereka menjelaskan kronologi sejak awal.Mulai dari kejanggalan produksi, merubah takaran, rekaman CCTV, hingga penangkapan Pak Jaenul pagi tadi.Arlan menjawab satu per satu dengan tenang.
Last Updated: 2026-07-23
Chapter: Tangisan Anak Kecil
Sudah hampir satu jam berlalu dan pintu ruang kerja Arlan masih tertutup rapat. Kesibukan di luar perlahan kembali seperti biasa. Maya sudah lebih dulu berangkat bersama tim legal untuk mengurus proses pemeriksaan Pak Jaenul. Bagas dan Dito juga sibuk menyiapkan dokumen tambahan yang sewaktu-waktu dibutuhkan.Hanya Sevi yang masih bertahan di depan ruangan itu. Sesekali ia melihat jam di ponselnya, bukan karena tidak sabar, melainkan khawatir.Ia tahu Arlan bukan tipe orang yang mudah menangis. Selama mereka bersama, ia bisa menghitung dengan jari berapa kali lelaki itu benar-benar kehilangan kendali. Dan hari ini adalah salah satunya.Sevi akhirnya berdiri. "Kayaknya aku balik ke ruangan dulu deh," gumamnya pelan.Baru saja ia membalikkan badan. Klik. Pintu ruang kerja terbuka perlahan.Arlan berdiri di sana. Dengan matanya merah dan kelopak matanya bengkak. Terlihat rambutnya sedikit berantakan karena berkali-kali diusap sendiri. Begitu melihat Sevi, ia tidak mengatakan apa-apa. I
Last Updated: 2026-07-23
Chapter: Ayah Kedua
Setelah Pak Jaenul resmi dibawa keluar gedung, suasana kantor belum juga kembali normal. Beberapa karyawan masih berbisik membicarakan apa yang baru saja terjadi. Tim legal mulai menyusun berita acara, sementara Maya, Bagas, dan Dito sibuk memastikan seluruh rekaman disimpan dengan aman. Di tengah kesibukan itu, Arlan hanya berkata pelan,"Aku mau sendiri dulu."Sevi yang berdiri di sampingnya sempat hendak mengikuti, tetapi langkahnya terhenti. "Lan..."Arlan tersenyum tipis. Senyum yang dipaksakan. "Nggak apa-apa, sayang. Aku cuma butuh waktu bentar."Sevi mengangguk pelan. "Oke, kalau butuh apa-apa aku di luar ya."Tanpa banyak kata, Arlan masuk ke ruang kerjanya dan mengunci pintu dari dalam.\\\Ruangan itu mendadak terasa begitu luas dan sunyi. Yang terdengar hanya dengungan pendingin ruangan dan suara kendaraan samar dari luar gedung.Arlan berdiri cukup lama di dekat pintu, seolah belum tahu harus melakukan apa. Pandangannya perlahan menyapu seluruh isi ruangan.Meja kerja, r
Last Updated: 2026-07-21
Chapter: Kata Terakhir Pak Jaenul
Senin pagi datang lebih cepat dari biasanya. Sejak pukul tujuh, Arlan sudah berada di ruang kerjanya. Tidak hanya dirinya, Sevi, Maya, Bagas, Dito, tim legal perusahaan, bagian HR, serta dua orang dari pihak berwenang yang sebelumnya telah dihubungi juga sudah berada di gedung. Mereka datang dengan pakaian biasa agar tidak menarik perhatian. Semuanya sudah ditata sejak malam, tidak ada lagi ruang untuk kesalahan. Arlan berdiri di depan jendela ruangannya, dengan tatapannya mengarah ke halaman parkir."Udah masuk?"Dito melihat layar CCTV. "Belum, Pak."Beberapa detik kemudian... "Itu, mobilnya."Semua orang spontan melihat monitor. Mobil Pak Jaenul perlahan memasuki area parkir seperti hari-hari biasa. Ia turun dengan wajah tenang, menyapa beberapa karyawan yang berpapasan. Tidak ada sedikit pun tanda bahwa dirinya sedang diawasi.Arlan menarik napas panjang. "Oke, ayo."\\\Pukul delapan tepat, Pak Jaenul menerima pesan dari sekretaris untuk menghadiri rapat mendadak di ruang utama.
Last Updated: 2026-07-20
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status