MasukWaktu berjalan tanpa terasa. Matahari yang sejak siang bersinar terang kini mulai turun perlahan di balik gedung-gedung Jakarta. Cahaya jingga masuk melalui jendela apartemen, membuat ruang tamu terasa lebih hangat.Setelah memastikan kondisi Sonya jauh lebih baik, Sevi akhirnya merapikan tasnya. "Aku pulang dulu ya."Sonya yang duduk di sofa mengangguk pelan. "...Iya.""Nanti kalau ada apa-apa, telepon aku. Jangan dipendem sendiri.""Iya."Sevi tersenyum. "Bagus."Bima ikut berdiri. "Makasih ya, Sev.""Santai aja Bim. Udah, jagain dia aja ya."Bima mengangguk pelan. "Pasti."Tak lama kemudian bel apartemen berbunyi. Ting Tong"Itu pasti Arlan." Bima berjalan membukakan pintu.Benar saja, Arlan berdiri di depan sambil masih mengenakan kemeja kerja. Dasi yang sejak pagi dipakai sudah dilepas, sementara dua kancing atas bajunya terbuka.Kelihatannya benar-benar baru selesai dari kantor."Gimana?" Sevi tersenyum. "Udah jauh lebih tenang, sayang?"Arlan mengangguk lega. "Syukur."Setelah
Suasana kamar kembali tenang. Hanya terdengar suara pendingin ruangan yang berdengung pelan. Sonya duduk bersandar di kepala ranjang, sementara Sevi kembali duduk di sampingnya sambil menggenggam tangan perempuan itu.Beberapa saat keduanya memilih diam. Bukan karena tidak ada yang ingin dibicarakan. Melainkan karena sama-sama sedang mengumpulkan keberanian.Sevi mengembuskan napas pelan. "Aku... boleh cerita dikit nggak?"Sonya mengangguk. "Hm."Sevi tersenyum tipis. "Sebenernya aku nggak pernah nyangka bakal ngalamin hal kayak gini."Sonya menatapnya."Dulu aku suka banget susu stroberi." Wajah Sevi perlahan berubah menjadi sendu. "Lucu ya.""Apa?""Orang lain mungkin nganggep itu minuman biasa. Tapi buat aku... itu kayak rumah."Sonya mendengarkan tanpa memotong."Sejak kecil, setiap pulang sekolah aku selalu dibuatin susu stroberi sama Ibu, kalau lagi sedih, Ibu bikinin, kalau lagi seneng, juga bikinin.""Bahkan waktu pertama kali tinggal sendiri, hal pertama yang aku beli di mini
Pintu kamar kembali tertutup pelan. Kini hanya ada Sevi dan Sonya di dalam. Sementara Arlan dan Bima memilih menunggu di ruang tamu. Tidak ada yang berbicara, keduanya duduk berseberangan, sama-sama menatap lantai dengan pikiran masing-masing.Dari balik pintu sesekali masih terdengar isak tangis Sonya yang mulai mereda.Bima mengusap wajahnya pelan. "Bang..."Arlan mengangkat kepala. "Hm?""Aku takut."Arlan tidak langsung menjawab. "Takut kenapa?""Takut dia makin hancur." Suara Bima terdengar pelan, nyaris seperti bicara pada dirinya sendiri. "Aku bahkan nggak tahu harus bantu dari mana."Arlan menepuk pelan bahu pria itu. "Kita pelan-pelan aja.""Sumpah, aku ngerasa gagal.""Jangan nyalahin diri sendiri.""Kalau aja aku nemuin dia lebih cepet...""Bim."Bima mengembuskan napas panjang. "Iya, maaf bang..."Ruangan kembali sunyi, mereka berdua memilih membuka hp masing-masing. Walaupun sebenarnya Bima hanya menggeser menu hp nya saja.Di dalam kamar, Sevi membantu Sonya duduk di t
Empat puluh menit kemudian mobil mereka berhenti di basement apartemen Bima. Begitu pintu unit dibuka, wajah Bima langsung terlihat, kusut dan matanya sembab. Rambutnya bahkan belum sempat dirapikan."Masuk."Arlan memperhatikan keadaan apartemen. Masih rapi memang. Di atas meja makan terdapat semangkuk bubur yang sudah dingin, segelas teh hangat pun tinggal setengah."Dia makan?"Bima menggeleng. "Dua sendok doang bang.""Minum?""Dikit banget.""Terus?""Langsung masuk kamar gitu aja" Bima menunjuk ke arah lorong. "Dia disitu."Mereka bertiga berjalan mendekat. Benar saja, pintu kamar tamu tertutup rapat. Sunyi dan tidak terdengar suara apa pun dari dalam.Bima mengetuk pelan. "Son..." Tidak ada jawaban. "Sonya..." Tetap diam. "Aku masuk ya?" Masih tidak ada suara.Bima menoleh kepada Arlan. Tatapannya penuh kebingungan."Gimana?"Arlan belum sempat menjawab ketika Sevi melangkah maju. "Biar aku."Bima mengernyit. "Hah?""Aku aja udah percaya deh."Sevi berdiri tepat di depan pintu
"Arlan." Suara Om Wijaya membuat Arlan kembali sadar."Iya, Pak?""Pak Jaenul ini nanti akan banyak koordinasi sama kantor pusat.""Oh begitu.""Jadi saya harap bisa saling bantu."Arlan memaksakan senyum. "Tentu."Tidak ada nada marah dan perubahan ekspresi. Padahal di dalam dadanya, emosinya sudah bercampur menjadi satu. Kecewa, marah, bingung dan... tidak percaya.Bagaimana mungkin orang yang selama ini ia anggap keluarga justru muncul di tengah penyelidikan terbesar yang sedang ia lakukan?Rapat berlangsung hampir satu jam. Selama itu pula Arlan lebih banyak diam. Ia hanya berbicara ketika benar-benar diperlukan.Sementara Om Wijaya tampak santai berdiskusi mengenai pengembangan distribusi dan kerja sama antar cabang. Sesekali Pak Jaenul ikut menambahkan pendapat.Tidak ada satu pun pembahasan yang mengarah pada apa yang terjadi di Malang. Seolah semuanya benar-benar bersih, dan yang lain juga enggan membahas.Begitu rapat selesai, para peserta mulai meninggalkan ruangan. Pak Wija
Matahari Jakarta baru saja naik ketika suasana kantor pusat mulai kembali seperti biasanya. Para karyawan keluar masuk membawa berkas, suara mesin juga kopi terdengar dari pantry.Beberapa divisi sudah memulai rapat pagi. Tidak ada satu pun yang mengetahui bahwa hanya beberapa hari yang lalu direktur mereka sedang mempertaruhkan nyawa di Malang.Arlan turun dari mobil bersama Sevi. Keduanya sudah mengenakan pakaian kerja rapi yang senada"Lan." Sevi memanggil pelan saat mereka memasuki lobi."Hm?""Nanti jangan kebawa emosi."Arlan tersenyum tipis. "Aku tahu sayang""Bener?""Iya, percaya sama calon suami mu ini."Sevi menatap wajah suaminya beberapa detik. "Kamu kalau bohong kelihatan."Arlan terkekeh pelan. "Hehehe, iya aku usahain.""Iya, iya aku percaya." Sevi akhirnya ikut tersenyum.Meski begitu, ia tetap menggenggam tangan Arlan sebentar sebelum keduanya masuk ke lift. Ia tahu betul, hari ini akan menjadi ujian terbesar bagi calon suaminya.Begitu pintu lift terbuka, Maya sudah
Malam turun tanpa suara ketika mobil Arlan berhenti di depan kontrakan kecil milik Sevi. Tidak ada percakapan sejak kalimat terakhir yang diucapkan Sevi di dalam mobil. Kalimat yang menyinggung masa lalu Arlan dengan Alya itu masih terngiang di kepala keduanya. Sevi turun tanpa menoleh lagi. Pintu
Hari itu terasa lebih panjang dari biasanya bagi Sevi.Sejak pagi pikirannya tidak pernah benar-benar tenang. Ia sudah berusaha bekerja seperti biasa dengan membuka dokumen, membalas beberapa email, membaca laporan yang menumpuk di mejanya. Namun setiap beberapa menit sekali, fokusnya selalu pecah.
Pagi datang lebih lambat bagi Arlan dan Sevi.Matahari sebenarnya sudah cukup tinggi ketika sinarnya menembus tirai kamar. Namun di atas ranjang itu, keduanya masih enggan bergerak. Tubuh mereka terasa lelah setelah hari yang panjang kemarin, tetapi bukan hanya karena kelelahan fisik.Mereka hanya
Suasana kantor malam itu begitu sunyi. Hanya dengungan pendingin ruangan dan bunyi jarum jam dinding yang sesekali terdengar. Lampu neon berpendar dingin, memantulkan cahaya putih pucat ke meja-meja kerja yang sebagian besar sudah kosong.Sevi masih duduk di balik meja, menatap layar komputer denga







