Mag-log inBagiku terasa tidak pantas. Seharusnya lebih tertutup, lebih rapi… setidaknya mengenakan pakaian yang tidak mengundang perhatian seperti ini. Tapi aku juga sadar, itu bukan urusanku. Aku bukan siapa-siapa di tempat ini, bahkan baru saja datang.
Namun yang membuatku lebih heran, sikapku yang canggung dan berusaha menjaga jarak justru membuat Sophia semakin tertarik.
“Kamu ini polos banget ya,” katanya sambil tersenyum miring. “Jarang-jarang ada yang kayak
“Hm?”“Kenapa tidak jadi mengelusnya?”Aku menggeleng. “Tidak apa-apa.”Nara menggeser tubuhnya lalu merebahkan kepalanya di dadaku dengan manja. Sebelah tangannya dengan cepat merangkul pinggangku.“Kamu kelihatan seperti sedang memikirkan sesuatu.”Aku tersenyum tipis. “Aku cuma ingat suara detak jantung tadi.”Nara terdiam, lalu sebuah senyum kecil muncul di wajahnya.“Indah, kan?”Aku mengangguk. “Iya.”“Kalau nanti dia lahir, kamu mau menggendongnya?”Pertanyaan itu membuatku terdiam cukup lama. Aku menatap Nara dan bibirnya yang terlalu dekat.Kemudian tanpa sadar, aku menjawab dengan suara pelan, “Iya.”Nara tersenyum. “Kalau begitu, aku akan menunggu hari itu.”Aku tidak menjawab, akan
Aku berpikir sejenak. Nara terlalu pintar untuk dibohongi. Dia pasti akan mengejar dan terikat padaku selama anak dalam rahimnya menjadi sumber alasan untuk hubungan kami."Aku pasti mengunjungi kalian, Nara. Jangan repot-repot mencariku di kota. Perjalanannya cukup melelahkan. Kita tidak mau terjadi masalah di jalan, bukan?"Tanpa menunggu jawaban Nara, aku mengangkat tubuhnya sehingga bagian inti kami terlepas lalu aku membaringkannya ke samping.Aku berdiri dan meraih handuk untuk membalut pinggangku. "Sudah, aku mandi dulu. Nanti kamu nyusul mandi kalau aku sudah selesai. Sementara itu, kamu boleh menyusun pakaianmu karena itu adalah alasan kita kemari tadi."Aku melangkah keluar tanpa merasa perlu mendengar omelan dari wanita yang baru saja menguasaiku tadi.Hanya ada satu dalam pikiranku saat ini, aku harus kembali kepada Julia. Air matanya adalah kepedihan untuk hatiku, ak
Aku menelan salivaku. Sudah bisa menebak siapa pemeran adegan basah-basahan di sore hari ini.Mang Ucup dan Bik Sari.Mereka adalah pasangan yang sah dan mereka belum memasuki usia paruh baya. Melakukan hubungan suami istri adalah hal yang sah-sah saja.Namun, entah mengapa, aku sedikit cemburu karena pasangan itu masih juga begitu mesra saat bekerja di rumah yang sama sebagai penjaga dan pembantu.Aku menggelengkan kepala saat membayangkan adegan yang terlintas di benakku. Bik Sari yang bertubuh sedikit gempal dengan Mang Ucap yang tubuhnya kurus kering kerontang.Aku merapat ke pintu kamar mereka lalu sengaja mengetuk pelan."Siapa?" sahut Mang Ucup dengan suara canggung.Aku tertawa pelan karena bisa menebak, bagaimana keadaan dan posisinya saat ini karena terkejut."Mang, aku beli bakso satu bungkus, buat mengganjal perut. Nanti dipanasi ya, berbagi saja sama Bik Sari, bentar lagi makan malam, makanya tidak beli banyak.""Eh, iya. Makasih, Den Bayu.""Selamat bersenang-senang. Aku
Aku menaikkan tanganku, melihat bungkus bakso masih kupegang, tetapi semakin dekat aku menuju pintu kamar, langkahku justru semakin berat.Aku tidak tahu apakah Julia akan menerimanya dan bagaimana aku menjelaskan waktu yang cukup lama kuhabiskan bersama Nara hari ini.Antrian yang cukup lama dan membosankan, sampai aku mendengar suara detak jantung bayi itu.Seolah semua rasa bosanku sudah terbayarkan.Aku mengetuk pelan pintu kamar Julia. “Julia, aku membawa bakso untukmu.”Tidak ada jawaban. Aku mengetuk sekali lagi sebelum akhirnya membuka pintu sedikit.Julia sedang duduk melamun di kursi rodanya. Pandangannya tertuju pada cermin di depan meja rias. Tatapannya kosong.Aku tidak tahu apa yang sedang dipikirkannya. Yang kulihat, dia hanya menatap bayangannya sendiri dengan tatapan kosong. Tidak ada ekspresi marah apalagi sedih.“Julia," panggilku pelan.Kepalanya perlahan meno
Aku terdiam sebentar. Lalu untuk pertama kalinya, tanpa merasa terpaksa, aku menjawab, “Aku harus berangkat besok pagi, tapi aku akan menjenggukmu, setidaknya sebulan sekali, bagaimana?”Nara menatapku. Aku baru menyadari kesalahan kecil dalam kalimatku.“Tidak adakah yang bisa kulakukan untuk mencegah kepergianmu, Bayu?”"Nara, aku...."Nara tersenyum, "tidak apa-apa, Bayu. Aku paham."“Iya. Aku dan anakmu, akan menunggu dengan sabar. Sebulan sekali, kamu janji ya?”Aku menghela napas sambil mengangguk. "Janji." Kali ini aku tidak membantah. Setidaknya, itu yang bisa kulakukan saat ini.Usai menghabiskan setengah baksonya, Nara tiba-tiba berhenti makan.Aku yang sedang duduk tidak jauh darinya langsung memperhatikan wajahnya.“Kenapa? Uda kenyang?”Nara memejamkan mata sebentar. “Pusing.&rdq
Nara sudah berdiri di dekat meja makan sambil menatapku. Tangannya mengelap meja yang sedikit berdebu itu.“Kamu tidak masuk?”"Hmm, kamu makan saja dulu, apa yang mau kubantu untuk angkat ke rumah sebelah?" “Oh.”Hanya satu kata. Namun aku bisa merasakan sesuatu di baliknya.“Aku cuma... Kak Julia sudah cukup lama menungguku,” jelasku.Nara mengangguk. “Aku tidak bertanya.”“Nara....”“Tidak apa-apa, kamu tadi membeli bakso untuk Kak Julia juga. Aku bisa mengangkat barangku sendiri."Sahutan Nara terdengar datar. Entah kenapa aku merasa bersalah atas sebungkus bakso.Aku terdiam sementara Nara tersenyum tipis, lalu duduk di kursi.“Sudah, sana. Antar dulu untuk Kak Julia. Hanya beberapa pakaian, aku akan memasukkannya ke dalam koper dan menariknya pegangannya ke sana, seperti mau ke Luar Negeri 'kan," jelasnya sambil membuka bungkusan bakso.Namun, aroma kuah bakso yang kental malah membuatnya mual seketika."Nara!"Nara menutup mulutnya lalu berlari buru-buru ke wastafel, lalu memu







