LOGINPYAR!!!Suara gelas pecah memecah keheningan ruang kerja Liana. Wanita cantik itu berdiri membeku sambil menatap serpihan beling yang berserakan di lantai.“Nona, Anda baik-baik saja?”Daniel tergesa berjalan menghampiri. Liana hanya mengangguk. Tangannya gemetar dan entah mengapa saat ia hendak mengambil minuman dari dispenser, gelas itu pecah.“Saya akan minta OB untuk membersihkan lantainya.”Daniel berjalan keluar dan tak lama masuk lagi dengan kotak P3K serta seorang OB. Liana duduk diam sambil menatap tangannya yang tergores pecahan gelas.“Biar saya obati, Nona.”Sekali lagi Liana hanya diam. Ia mengulurkan tangan dan mengizinkan Daniel mengobati lukanya.“Lain kali periksa lebih teliti gelas yang ada di ruangan Nona Liana. Kalau retak sedikit, diganti!!”Daniel berkata ke OB tersebut yang langsung dijawab anggukan kepala sang OB.“Sudah Daniel. Terima k
Mobil Adrian berhenti di depan sebuah rumah. Langkahnya tergesa saat keluar dari mobil, bahkan sapaan dan salam hormat beberapa pelayan yang menyambutnya ia abaikan.“TUAN!!!”Sosok tinggi dengan wajah tegang dan baju serba hitam berdiri menghadang Adrian.“Iya, aku datang ke sini untuk memastikan kalau apa yang kau katakan benar.”Pria misterius itu terdiam, wajahnya tidak menunduk, tapi tatapannya menunjukkan penyesalan.“Apa Tuan berpikir saya bersengkokol dengan Samantha?”Adrian tidak menjawab hanya mengedikkan bahu.“Hanya kamu yang bisa menjawabnya, bukan.”Jakun pria itu naik turun dengan tergesa. Wajahnya terlihat tenang, tapi sorot matanya menunjukkan hal yang sebaliknya.“Saya tidak mengkhianati Anda. Saya sepenuhnya berpihak pada Anda, Tuan.”“Baguslah kalau begitu. Namun, aku butuh buktinya.”Pria itu terdiam sejenak, melan
BRAK!!Ryan menutup pintu apartemen Adrian dengan keras. Langkahnya panjang dan cepat seolah ingin segera meninggalkan tempat itu.Wajah Ryan merah padam dengan mata menyalang marah.“Sialan!! Beraninya Adrian mencumbu Liana di depanku,” dengusnya.Banyak amarah bergelora di dadanya. Padahal Ryan berharap kehadirannya ke apartemen Adrian pagi itu bisa menunjukkan taringnya. Ryan berasumsi, Adrian akan menjaga jarak dengan Liana. Namun, nyatanya …Sementara itu di kabin apartemen …Liana tergesa mengurai pagutan Adrian. Bibirnya merah dan sedikit bengkak akibat aktivitas mereka yang berlebihan.Tangan Liana menempel di bahu Adrian dengan tatapan yang begitu hangat.“Maaf, Adrian. Sepertinya ditunda nanti malam saja. Aku banyak kerjaan hari ini.”Adrian tersenyum lembut. Kepalanya mengangguk dengan mantap.“Iya, gak masalah. Aku hanya menggodamu tadi.”Liana t
“Sedikit lagi, Tuan.”Adrian berdecak, meraup wajahnya dengan kasar.“Sedikit? Apa kamu pikir aku puas dengan jawabanmu itu?”“Atau jangan-jangan kamu sedang merencanakan sesuatu dengan Samantha."Hening beberapa saat. Hanya helaan napas panjang yang terdengar dari seberang sana.“Saya harap Anda bersabar. Saya tidak mau membuatnya curiga dan membongkar keterlibatan Anda selama ini.”Adrian terdiam. Semua yang diucapkan pria misterius di seberang sana benar. Ia hanya ingin bermain rapi dan tanpa sepengetahuan Liana.“Baiklah, aku serahkan semua padamu.”“Hanya saja, dua hari dari sekarang aku akan menemui Tuan Julian dan aku harap semua bukti yang aku inginkan sudah siap.”“Iya, Tuan.”Adrian tersenyum, menganggukkan kepala kemudian sudah mengakhiri panggilannya. Sementara itu, sosok pria misterius itu hanya diam. Tangannya tampak bermai
“Xander, sebenarnya aku tidak berpikir ke sana.”“Namun, kalau kamu memintanya. Aku bersedia kerja sama denganmu.”Xander tersenyum lebar. Padahal sebelumnya ia berharap Ryan akan membantunya, tapi sepertinya pria itu hanya mencari keuntungan sendiri. Xander rasa kerja sama yang tepat adalah dengan Rhea.“Lalu … kita mulai dari mana?”Xander menghela napas panjang.“Setahuku akhir pekan ini, Liana akan pulang ke kampung halaman. Tuan Julian yang memintanya.”“Lalu?”“Aku juga ingat, sebenarnya Liana sudah dijodohkan dengan seseorang. Bisa jadi, kepulangannya kali ini untuk tujuan itu. Pengumuman pertunangannya.”Rhea terbelalak kaget.“Kamu tahu semuanya?”Xander mengangguk. “Aku pernah bertemu Tuan Julian dan aku rasa pria tua itu suka padaku.”Rhea mencibir ke arahnya. Xander melotot melihat Rhea dengan
“Kita pulang sekarang. Banyak hal yang ingin kuceritakan padamu.”Liana mengangguk. Ia mengurai pelukannya dan mengikuti Adrian masuk ke dalam mobil. Selanjutnya mobil Adrian sudah melaju pergi.Di kejauhan Rhea memperhatikan semua itu. Air mata membasahi pipinya satu persatu. Tangannya terkepal di samping tubuh menahan amarah.“Sialan, Liana!! Tunggu saja pembalasanku!!” geramnya marah.Sementara itu di waktu yang sama, Ryan terlihat masih berada di kantornya. Ethan baru saja keluar dari ruangannya saat ponsel Ryan berdering.“Tuan Julian,” gumam Ryan.Ini kali kedua Tuan Julian menelepon Ryan secara personal dan Ryan tidak menyia-nyiakan kesempatan itu.“Halo, Tuan Julian. Apa yang bisa saya bantu?” Ryan menyapa dengan ramah di awal panggilan.Hanya kekehan tawa yang terdengar dari seberang sana.“Anda memang sangat sigap, Tuan Lu.”Ryan tersenyum malu
“Kau masih ingat?” ucapnya pelan.Zhao Lian menunduk. Hatinya terasa diremas. Bagaimana mungkin ia lupa?Gu Beichen.Cinta pertamanya. Pria yang pernah ia janjikan masa depan. Namun juga, pria yang ia tinggalkan. Bukan karena tidak mencintai. Namun karena, ia tidak punya pilihan.“Apa yang dilakuka
“Mereka ingin… membunuhku?”Napas Zhao Lian tersengal, tak lagi beraturan. Dadanya naik turun cepat, seolah udara di ruangan itu tiba-tiba menghilang. Ia ingin bangkit, ingin berteriak, ingin menghancurkan semua yang baru saja ia dengar… namun ketakutan mencengkeramnya lebih kuat daripada keinginan
“HENTIKAN, LIAN’ER!! HENTIKAN KEGILAANMU INI!!”Suara keras itu menggema di ruang kerja megah seorang pejabat tinggi ibukota. Tirai sutra berwarna gading bergoyang perlahan tertiup angin musim semi yang menyusup dari celah jendela. Aroma dupa cendana memenuhi udara, namun suasana terasa membeku.Di
Ruangan mendadak sunyi.Adrian menghentikan gerakan tangannya. Sementara wanita yang baru masuk itu terlihat mengernyit bingung mendengar nama yang disebut Liana.“Han… Yurin?” ulang wanita itu pelan.Wajah Liana perlahan memucat. Tidak mungkin ia salah mengenali orang.







