LOGIN“RYAN LU?”Mata Liana melebar saat ia bisa melihat dengan jelas pria yang sedang berjalan menuju ke arahnya adalah Ryan.Liana menoleh ke Tuan Julian.“Kek, ini bercanda, kan? Ryan tidak mungkin yang menjadi calon suamiku.”Tuan Julian tersenyum sambil menautkan kedua tangannya.“Memang bukan. Awalnya Tuan Muda Zhang, tapi karena sesuatu hal ia tiba-tiba membatalkan pertunangannya.”“Namun, aku tidak kehilangan akal. Siapa yang tidak tahu Tuan muda Lu. Dia tampan, pewaris Keluarga Lu dan yang pasti dia sudah jatuh cinta padamu.”Liana diam. Menelan ludah sambil menatap kakeknya tidak percaya.“Bukannya Kakek marah saat mendengar gosip tentang pertunanganku dan Ryan tempo hari, tapi kenapa sekarang ---”“Liana, Kakek juga memikirkan masa depanmu. Masa depan perusahaan kita dan keluarga besar kita. Dan semuanya itu terlihat bagus saat kalian bersatu.”
“APA???”“Ka—kamu sedang hamil anak Adrian?” sergah Tuan Julian.Liana tersenyum, mengelus lembut perutnya. Ia memang sudah beberapa kali tidur bersama Adrian. Namun, ia sendiri tidak tahu sebenarnya ia sedang hamil atau tidak. Ia hanya ingin menakuti kakeknya saja.Wajah Tuan Julian merah padam. Rahangnya mengeras dengan mata yang menyalang penuh amarah. Tangan Tuan Julian mengepal di samping tubuhnya.“Berani sekali Adrian menghamilimu, Liana!!!”Liana tersenyum penuh kemenangan.“Aku mencintainya, Kek. Tentu saja aku akan melakukan apa saja untuknya.”Tuan Julian terdiam lama. Bahunya naik turun tampak mengatur udara.Beberapa saat kemudian, wajahnya yang tadinya penuh amarah berangsur melunak bahkan sebuah senyum sudah terukir di wajah pria paruh baya itu.“Baik. Kakek anggap itu tak masalah, Liana.”“Banyak wanita muda yang hamil di luar
Hari masih pagi saat beberapa kali terdengar bunyi notifikasi dari ponsel Liana. Liana tergesa bangun, ia langsung duduk menggulir ponselnya sambil memicingkan mata.Sebuah pesan masuk dikirim oleh akun anonym. Liana mengerjapkan mata, memastikan kalau yang ia lihat benar. Tanpa menunggu lama, ia langsung membuka pesan tersebut.“Tentu, Nona Liana. Saya akan membantu Anda menemukan Adrian.”Liana tersenyum lega. Ia juga melihat sebuah nomor tertera di bagian bawah agar dia bisa berhubungan langsung dengan Jinha.“Ya Tuhan, terima kasih.”Mata Liana terpejam sambil mengurut dadanya.Tak berapa lama terdengar suara ketukan dari pintu.“Siapa?”“Nona, saya Nancy, pelayan Anda. Tuan Julian meminta saya membantu Anda untuk bersiap.”Liana menghela napas. Ia tahu jika kakeknya sudah berkata seperti itu. Artinya, akan ada jamuan resmi yang harus ia hadiri pagi ini.Liana berjalan dengan malas menuju pintu. Ia tidak punya alasan lagi untuk menolak perintah kakeknya. Tuan Julian adalah hukum y
Liana hanya terdiam. Kemudian perlahan ia memalingkan wajah menghindari Ryan.“Aku tidak tahu apa yang kau katakan, Ryan.”“Sudah cukup basa basinya dan jangan bahas lagi soal Adrian atau siapa dirimu.”Ryan mengangguk lesu. Ia kembali duduk di tempatnya dan hanya diam tak bersuara.Sementara Liana, tanpa Ryan ketahui, ia mencoba menghubungi David, asistennya. Sebuah pesan sudah terkirim darinya.“David, bantu aku cari info tentang Adrian. Apa dia benar-benar menghilang atau ada yang menculik? Lakukan apa pun!!”David tertegun membaca pesan itu.“Sepertinya ada yang terjadi dengan Dokter Adrian hingga Nona Liana mengirim pesan seperti ini,” gumam David.“Apa yang harus kulakukan sekarang?”David beberapa kali menghela napas kemudian tak berapa lama jarinya menari di atas layar ponsel mencoba menghubungi seseorang.**Hari masih larut saat pesawat L
“Apa katamu? Tidak ada sopir?”Wajah Adrian tegang. Matanya melebar dengan mulut terbuka sedikit. Ia yakin jika ia berangkat bersama orang kepercayaannya. Lalu kenapa perawat tadi berkata seperti itu?“Benar, Tuan. Anda ditemukan tergeletak di jalan yang sepi. Untung saja ada pemulung yang datang sehingga bisa menghubungi kami.”Adrian terlihat bingung. Ia meringis memijit keningnya.Ia yakin dan masih ingat jika mobilnya sedang melintas jalanan sibuk, bukan jalanan sepi. Namun, kenapa semua ingatannya bertentangan dengan yang dikatakan perawat tersebut.“Lebih baik Anda istirahat dulu. Biar saya panggil dokter!!”“Saya juga dokter dan saya tahu keadaan tubuh saya!!” geram Adrian kesal.Perawat itu mengabaikan ucapan Adrian dan memilih berjalan keluar. Sementara Adrian gegas bangkit. Ia duduk dengan napas naik turun.Perlahan ia turun dari brankar. Kepalanya langsung berdenyut usa
“Siapa ini?? Di mana Tuan Adrian?” seru Tommy.Ia sangat panik. Ia takut terjadi sesuatu dengan Andrian. Apalagi jika berhubungan dengan Gu Group.Jangan-jangan kehilangan Adrian berhubungan dengan musuh Gu Group.“Jangan panik begitu. Aku akan memberitahu posisinya jika kamu mau bekerja sama denganku.”Tommy terdiam. Alisnya mengernyit. Ia harus memberitahu Charles. Ia takut jika melakukan kesalahan nantinya. Apalagi ini menyangkut keselamatan Adrian.“Baik. Apa maumu? Katakan saja!!”**Mobil Andrew berlegak legok mengurai kemacetan lalu lintas petang itu. Ryan beberapa kali meringis begitu melihat cara Andrew mengemudi.“Tidak kusangka di balik sikapmu yang pendiam, kamu menyimpan darah pembalap.”Andrew tersenyum mendengarnya.“Apa ini sebuah pujian untukku, Tuan Ryan?”Ryan berdecak sambil mempererat seat beltnya.“Tidak. Aku hanya ingin sampai di bandara tepat waktu, tapi kamu harus ingat ada Liana di belakang.”Andrew tersenyum sambil melirik Liana melalui kaca spion. Ia meliha
Ruangan mendadak sunyi.Adrian menghentikan gerakan tangannya. Sementara wanita yang baru masuk itu terlihat mengernyit bingung mendengar nama yang disebut Liana.“Han… Yurin?” ulang wanita itu pelan.Wajah Liana perlahan memucat. Tidak mungkin ia salah mengenali orang.
Jari Liana mencengkeram ponselnya kuat-kuat. Tatapannya tertuju pada pesan itu cukup lama, sampai Daniel mulai merasa ada yang tidak beres. “Nona?” Liana tersadar. Dengan cepat ia mematikan layar ponselnya lalu menarik napas panjang. “Tidak ada apa-apa.” Namun sorot matanya terlalu dingin untuk
Udara di dalam kafe mendadak terasa sempit. Bukan karena ramai, melainkan karena kehadiran satu orang.Lu Zhenyu.Ia berdiri di sana, tegak, tenang… seolah dunia ini memang miliknya untuk diinjak.Sementara di hadapannya, Liana membeku.Wajah itu, tatapan itu, senyum itu adalah racun. Racun yang me
“...liana…?”Suara itu samar.“Nona Liana, bisa mendengar saya?”Liana.Nama itu… bukan miliknya. Namun entah mengapa, menyentuh sesuatu di dalam dirinya.Kelopak matanya bergetar. Berat. Sangat berat. Namun dengan sisa tenaga yang ia miliki, ia memaksa membukanya.Silau. Cahaya putih langsung meny







