LOGIN"Ka--kakek," gugup Adrian. Ia tergesa bangun, merapikan baju dan celananya kemudian duduk di sofa dengan tegang. Hal yang sama juga dilakukan Liana. Ia mengancing kembali blusnya dan duduk dengan panik di sofa. Tuan Julian hanya diam, kemudian berjalan mendekat sambil mengambil tisu lalu memberikannya ke Adrian. Untuk beberapa saat Adrian tercenung. Hal yang sama juga dilakukan Liana. "Hapus lipstik cucuku di bibirmu!" ucap Tuan Julian ketus. Liana ingin marah, tapi berbanding terbalik dengan Adrian. Pria itu mengulum senyum sambil menyeka bibirnya. "Aku lapar. Mau makan," ucap Tuan Julian melenggang santai ke ruang makan. Liana terburu bangun meninggalkan Adrian di ruang tamu. "Iya, Kek. Aku sudah menyiapkan makanannya."
"Tuan, ada yang ingin bertemu Anda," ucap salah satu pengawal Tuan Julian. Pria tua itu mengangguk. "Suruh masuk!". Tak lama pria berpenampilan rapi itu masuk bersama Andrew Wu. Kali ini Andrew datang seorang diri tanpa Cecilia. "Maaf, mengganggu waktu istirahat Anda, Tuan." Tuan Julian hanya tersenyum sembari menyilakan Andrew duduk. "Maksud kedatangan saya untuk menjelaskan kesalahpahaman tadi siang. Soal Cecilia." Tuan Julian yang awalnya berwajah tegang. Berangsur-angsur wajahnya melunak. "Putri saya, Cecilia sangat mengidolakan Liana. Apalagi wajah Liana mirip dengan almarhum ibunya. Jadi, saya mohon maaf jika karena itu putri saya lancang memanggilnya 'Mama'." Alis Tuan Julian mengernyit. "Jadi murni karena itu?" Andrew menganggukkan kepala den
Selang beberapa saat kemudian ... Liana duduk berhadapan dengan Tuan Julian di sisi lain dalam resto tersebut. Sedangkan Ryan, Xander, Andrew dan juga Cecilia berada di meja yang lain. Ketiga wajah pria dewasa itu tampak tegang. Hanya kehadiran Cecilia yang mencairkan suasana. “Om Ryan gak suka es krimnya?” tanya Cecilia. Ryan hanya tersenyum masam sambil menggelengkan kepala. “Kalau begitu, aku makan, ya?” Ryan mengangguk kesal seraya menatap Andrew dengan tajam. Xander yang biasa ceria dan suka dengan anak kecil jadi pendiam kali ini. Andrew menyadari perubahan sikap dua pria itu. Perlahan ia membisikkan sesuatu di telinga Cecilia. Tak lama kemudian, Cecilia beranjak pergi. “Jadi Anda juga suka pada Liana?” tanya Ryan to the point begitu Cecilia pergi. Andrew menghela napas panjang sambil memandang Ryan dan Xander bergantian. “Bilang saja k
“Li ... Liana Zhao, desainer itu cucu Anda?” ulang Ryan terbata. Tuan Julian hanya diam, tapi netra kelabunya malah menatap tajam Ryan. Memindai dari ujung rambut sampai ujung kaki, sama seperti yang dilakukannya pada Xander tadi pagi. Ryan terdiam. Beberapa kali tampak menelan saliva. Sesekali ia mengubah posisi duduknya. Entah kenapa ia merasa tidak nyaman. “Maaf, Tuan. Ini salah paham. Saya sama sekali tidak ---“ “Jadi menurutmu cucuku tidak cocok menjadi menantu di keluarga Lu dan bisa mudah dipermainkan, begitu?” Ryan tercenung. Wajahnya menatap linglung. Baru kali ini ia benar-benar tidak bisa berkata apa-apa saat berhadapan dengan orang. “Bukan begitu, maksud saya.” Ryan terdiam sejenak. Kepalanya menunduk, napasnya diatur dengan perlahan. Lalu tanpa mengangkat kepala, ia berkata, “Saya suka cucu Anda. Hanya saja ... dia yang selalu menolak saya.”
Sepanjang perjalanan, suasana di dalam mobil terasa sangat aneh. Liana duduk di kursi depan sambil sesekali melirik ke kaca spion.Di sana, Xander duduk tegak berhadapan dengan Tuan Julian. Biasanya pria itu tidak bisa diam lebih dari lima menit.Namun sekarang?Xander bahkan duduk lebih rapi daripada saat menghadiri pemotretan."Kamu kenapa?" bisik Liana.Xander langsung menjawab."Gugup."Liana hampir tertawa. Ternyata pria ini juga bisa merasa takut.Sementara itu, Tuan Julian hanya memejamkan mata sepanjang perjalanan. Entah sedang beristirahat atau sedang memikirkan sesuatu.Tak lama kemudian mobil memasuki area hotel bintang lima tempat Tuan Julian menginap. Begitu turun dari mobil, Xander langsung menghela napas lega."Syukurlah."Liana meliriknya."Kenapa?""Aku masih hidup."Liana memutar bola mata. Namun belum sempat mereka masuk ke lobi, suara Tuan
"Si--siapa yang mengirim pesan itu?" Suara Samatha bergetar bahkan tangannya juga ikut gemeteran. Hampir saja membuat ponselnya terjatuh ke lantai. Samantha duduk di kursi. Wajahnya pias dengan mata yang ketakutan. Ia benar-benar shock usai mendapat pesan dari nomor tak dikenal itu. "Bukannya tidak ada yang tahu nomor baruku selama ini. Lalu siapa yang mengirim pesan tersebut?" Napas Samatha masih tersenggal dengan bahu naik turun. Ia terdiam cukup lama hingga kembali bersuara. "Apa mungkin Liana yang melakukannya?" "Bukankah tempo hari ia berhasil mengatasi servernya yang kuhack. Pasti Liana sengaja mencari tahu keberadaanku." "Sialan!! Berengsek!! Wanita itu tidak ada habisnya membuatku kesal." Tangan Samantha mengepal, memukul lengan sofa beberapa kali. Bibirnya terlihat bergetar saking marahnya. "Kali ini, aku tidak akan diam saja, L
Samantha tersenyum manis sambil mempersilakan pria itu masuk ke dalam kontrakannya.“Maaf tempatnya agak sempit, Tuan Muda.”Pria yang berdiri di depan pintu itu mengenakan hoodie hitam dan topi yang menutupi sebagian wajahnya. Namun, aura dingin dan elegan yang keluar d
“Adrian, apa kamu bisa menemaniku pemotretan malam ini?” tanya Rhea.Mereka sudah berada di sebuah kafe pusat kota. Adrian duduk di depan Rhea dengan tangan yang sibuk mengaduk kopi.“Aku gak bisa.”Rhea langsung mendongak.“Bukannya kamu
Adrian tidak langsung menjawab.Pria itu hanya menatap Ryan tenang. Terlalu tenang sampai membuat rahang Ryan semakin mengeras.Beberapa detik kemudian, Adrian akhirnya tersenyum tipis.“Kalau saya memang menganggapnya milik saya,” ucap Adrian santai, “meman
Ryan langsung menoleh tajam.“Apa?”Ethan seketika menelan ludah.“M-maaf, Tuan. Saya hanya bertanya.”Ryan mendecih pelan lalu kembali menatap ke arah kafe. Dari balik kaca mobil, ia masih bisa melihat Adrian menarik kursi untuk Liana dengan wa







