Beranda / Urban / Jatah Malam Untuk Mertua / Malam Tak Terlupakan

Share

Malam Tak Terlupakan

Penulis: WAZA PENA
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-08 23:14:16

Malam kian larut. Di dalam kamar yang hanya diterangi lampu temaram, sikap Ayu berubah semakin manja. Ia mendekat, duduk di tepi ranjang Leo, lalu menatapnya dengan mata yang menyimpan kehangatan sekaligus keberanian yang baru.

"Pak Leo… temani aku tidur, ya," pintanya lirih, nyaris berbisik.

Ada jeda sesaat. Leo tahu seharusnya ia menolak. Namun tatapan Ayu, lembut dan penuh harap, membuat niat itu runtuh. Ia hanya mengangguk pelan.

Ayu tersenyum, lalu bangkit untuk berganti pakaian. Gerakannya tenang, seolah tak terburu-buru, seolah sadar betul bahwa Leo memperhatikannya. Saat kembali, pakaian tidurnya sederhana namun jatuh pas di tubuhnya, tipis, rapi, dan membuat garis siluetnya tampak jelas di cahaya lampu. Leo menelan ludah, hatinya berdebar.

"Ayu. Kamu… cantik banget malam ini," ucap Leo jujur, suaranya sedikit serak.

Ayu menunduk malu, namun senyumnya justru semakin berani. Ia mendekat, duduk di samping Leo, jarak mereka tinggal sehelai napas. Keheningan terasa tegang, dipenu
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (1)
goodnovel comment avatar
Adisty Yola
lanjut dong
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Jatah Malam Untuk Mertua   Hasrat Terpendam Pada Sepupu

    Ayu menarik napas panjang. "Pak… aku ngerti bapak marah. Tapi… jangan langsung konfrontasi. Kasihan istri anda."Leo mengangkat tangan, menghentikan. "Aku tahu. Makanya aku ke kantor, bukan ribut di rumah."Ia menatap Ayu dengan mata lelah namun penuh tekad. "Aku nggak mau nuduh tanpa bukti. Tapi aku juga nggak mau dibodohi."Ayu mengangguk. "Anda bener, Pak. Kita harus hati-hati. Aku bakal cari tahu tentang Rendi secepat mungkin."Leo menunduk lagi. "Aku cuma mau kejelasan. Itu saja."Ayu menatapnya dengan empati. "Aku di pihak anda, Pak. Dan aku siap bantu."Leo mengangguk pelan. Untuk pertama kalinya pagi itu, napasnya terasa sedikit lebih ringan. Bukan karena masalahnya selesai, tapi karena ia tahu kini ia tidak sendirian menghadapi semua ini.Di balik wajah tenangnya, Leo sudah mengambil keputusan dalam hati. Apa pun hasilnya nanti, ia akan menghadapinya. Dengan bukti, dengan kepala dingin. Namun satu hal pasti, hari ini, hidupnya sudah memasuki titik yang tidak akan pernah sama

  • Jatah Malam Untuk Mertua   Desahan Di Kamar Mandi ++

    Malam semakin larut tanpa terasa. Hujan rintik yang sempat terdengar di luar jendela kini telah berhenti. Udara dingin menyusup perlahan ke dalam kamar, membuat Leo tanpa sadar menarik selimut lebih rapat. Tubuhnya akhirnya benar-benar terlelap, tenggelam dalam tidur yang tidak terlalu nyenyak.Namun sekitar pukul dua dini hari, Leo terbangun.Matanya terbuka perlahan, kepalanya masih terasa berat. Ia refleks menoleh ke samping, mencari keberadaan istrinya. Tetapi, Dinda tidak ada di sampingnya."Dinda?" gumamnya pelan, suaranya nyaris tak terdengar.Tidak ada jawaban. Leo menghela napas kecil, mencoba berpikir positif. "Pasti ke kamar mandi," bisiknya pada diri sendiri.Ia memejamkan mata lagi sesaat, tapi rasa haus tiba-tiba menyerang. Tenggorokannya terasa kering. Akhirnya Leo bangkit perlahan dari kasur, berusaha tidak menimbulkan suara. Kakinya melangkah keluar kamar menuju dapur, menyalakan lampu kecil, lalu menuang air minum.Sambil minum, pikirannya masih setengah mengantuk. "

  • Jatah Malam Untuk Mertua   Curiga Dibalik Kehangatan

    Dinda tertawa kecil, menepuk pelan lengan Leo. "Mas ini bisa aja ih....""Kenapa?" Leo tersenyum lebar. "Aku serius, Sayang. Aku siap bikin jalan buat si dedek, hehe....""Iya, iya," jawab Dinda sambil menggeleng. "Yang penting kita sama-sama sehat, Mas."Percakapan mereka terdengar ringan, nyaris tanpa beban. Keduanya sama-sama tertawa kecil, seolah semua kecemasan yang sempat muncul sepanjang hari tidak pernah ada. Namun mereka tidak menyadari satu hal, ada sepasang telinga lain yang mendengar percakapan itu.Dari arah dapur, Sindi muncul sambil membawa piring. Senyum di wajahnya terlihat nakal ketika ia melirik ke arah Leo dan Dinda.“Wah," ucap Sindi sambil mendekat. "Aku nggak sengaja dengar obrolannya."Dinda langsung menoleh. "Sindi!""Apa?" Sindi tertawa kecil. "Mbak Dinda sama Mas Leo santai banget bahasnya, hehe."Leo ikut tersenyum kaku. "Kamu denger dari mana?""Ya dari sana," jawab Sindi sambil menunjuk dapur. "Kupikir obrolannya serius, ternyata…" ia menggantung kalimatn

  • Jatah Malam Untuk Mertua   Perhatian Atau Kebohongan

    Ayu mencondongkan tubuh sedikit ke depan. "Apa Mbak Dinda bilang apa-apa?""Dia bilang sudah hubungi dokter. Katanya mau periksa kehamilan," jawab Leo. "Tapi aku nggak tahu siapa dokter itu. Kenapa yang datang dokternya cowok?"Ayu menghela napas. "Pak Leo, aku ngerti kekhawatiran Bapak. Tapi jangan langsung mengarah ke hal buruk."Leo tertawa kecil, pahit. "Aku juga berharap pikiranku salah."Ayu menatap Leo dengan sorot lembut. "Pak… Bapak sendiri lagi capek secara mental. Banyak tekanan. Wajar kalau jadi sensitif."Leo terdiam. "Mungkin."Ayu lalu bertanya pelan, "Terus… soal Rendi?"Leo menegakkan tubuhnya. "Aku masih nunggu kamu cari tahu."Ayu mengangguk. "Aku belum hubungi dia. Aku mau pilih waktu yang tepat. Jangan sampai terkesan mencurigakan.""Terima kasih," ucap Leo tulus.Ayu tersenyum tipis. "Aku cuma nggak mau Pak Leo terus tersiksa sama pikiran sendiri."Leo menatap Ayu cukup lama. Ada perasaan aneh yang muncul, perasaan dimengerti. Sesuatu yang belakangan ini jarang i

  • Jatah Malam Untuk Mertua   Dokter Tak Biasa

    Leo pamit dari rumah dengan senyum yang ia paksakan. Dinda mengantarnya sampai ke pintu, seperti biasa lembut, penuh perhatian. Sindi berdiri tak jauh, ikut menyalami Leo dengan sikap yang terlihat wajar. Tidak ada yang aneh secara kasat mata. Namun justru itulah yang membuat hati Leo tidak benar-benar tenang."Mas hati-hati di jalan," ucap Dinda sambil merapikan kerah kemeja Leo."Iya, Sayang," jawab Leo pelan. Tangannya sempat menyentuh tangan Dinda, lalu ia melangkah keluar.Sebelum benar-benar pergi, Leo melirik ke arah Sindi. Tatapan mereka bertemu sesaat. Tidak ada kata-kata, hanya pemahaman diam-diam. Leo percaya, jika memang ada sesuatu yang tidak beres, Sindi akan memberitahunya. Kepercayaan itu satu-satunya pegangan Leo saat ini.Mobil melaju meninggalkan rumah. Begitu gerbang tertutup, wajah Leo berubah. Senyum yang tadi dipaksakan menghilang. Ia menghela napas panjang."Kenapa rasanya semua jadi rumit begini…" gumamnya sendiri.Sepanjang perjalanan ke kantor, nama itu teru

  • Jatah Malam Untuk Mertua   Kecurigaan Leo

    Tak lama kemudian, terdengar suara langkah dari luar kamar. Pintu terbuka perlahan, dan Dinda masuk dengan senyum kecil di wajahnya. Tangannya memegang cangkir."Mas sudah bangun?" tanya Dinda lembut.Leo menoleh, berusaha menampilkan wajah biasa. "Iya, Sayang."Dinda mendekat, meletakkan cangkir di meja kecil. "Aku bikin susu hangat Mas. Diminum yah mumpung masih hangat."Leo mengangguk. "Iya, Sayang. Makasih...."Dinda duduk di sisi ranjang. "Mas kelihatan kurang bugar. Tidurnya nggak nyenyak ya?"Pertanyaan itu membuat Leo menelan ludah. Ia menatap wajah istrinya, wajah yang terlihat tulus, sedikit pucat karena kehamilan, namun tetap hangat seperti biasa."Lumayan tidur sih," jawab Leo singkat. "Kepikiran kerjaan aja.""Oh...." Dinda mengangguk pelan. "Jangan terlalu dipikirin. Kesehatan Mas juga penting."Leo mengiyakan, meski pikirannya melayang ke arah lain. Ia ingin bertanya. Ingin langsung menembakkan satu nama itu. "Rendi"Namun lidahnya terasa berat. Ia takut dengan jawabann

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status