Chapter: Kecurigaan LeoTak lama kemudian, terdengar suara langkah dari luar kamar. Pintu terbuka perlahan, dan Dinda masuk dengan senyum kecil di wajahnya. Tangannya memegang cangkir."Mas sudah bangun?" tanya Dinda lembut.Leo menoleh, berusaha menampilkan wajah biasa. "Iya, Sayang."Dinda mendekat, meletakkan cangkir di meja kecil. "Aku bikin susu hangat Mas. Diminum yah mumpung masih hangat."Leo mengangguk. "Iya, Sayang. Makasih...."Dinda duduk di sisi ranjang. "Mas kelihatan kurang bugar. Tidurnya nggak nyenyak ya?"Pertanyaan itu membuat Leo menelan ludah. Ia menatap wajah istrinya, wajah yang terlihat tulus, sedikit pucat karena kehamilan, namun tetap hangat seperti biasa."Lumayan tidur sih," jawab Leo singkat. "Kepikiran kerjaan aja.""Oh...." Dinda mengangguk pelan. "Jangan terlalu dipikirin. Kesehatan Mas juga penting."Leo mengiyakan, meski pikirannya melayang ke arah lain. Ia ingin bertanya. Ingin langsung menembakkan satu nama itu. "Rendi"Namun lidahnya terasa berat. Ia takut dengan jawabann
Terakhir Diperbarui: 2026-01-20
Chapter: Nomor Pria Lain Di Ponsel Dinda"Mas, kenapa sih?" tanya Dinda sambil menatap wajah suaminya. "Kok diam aja?"Leo tersentak dari lamunannya. Ia baru sadar bahwa tangannya masih menggenggam gagang pintu, dan matanya, tanpa sengaja sempat tertuju ke arah Sindi. Detik itu juga dadanya menghangat oleh rasa bersalah."Nggak apa-apa," jawab Leo cepat, berusaha tersenyum. "Sindi kayaknya mau begadang."Dinda mengerling, seolah mencoba membaca raut wajah Leo. Namun kemudian ia menghela napas kecil dan mendekat. "Ya sudah biarin lah, Mas. Ayo kita tidur aja. Dari tadi aku nungguin."Leo mengangguk. Ia melangkah ke dalam kamar, mematikan lampu utama, menyisakan lampu tidur dengan cahaya temaram. Saat ia berbaring, Dinda langsung mendekat dan menyelipkan tubuhnya ke dalam pelukan Leo, seperti kebiasaannya."Mas... Peluk aku," pinta Dinda manja, suaranya lirih. "Aku mau tidurnya di peluk."Leo terdiam sejenak, lalu mengangkat lengannya dan memeluk Dinda. Tubuh istrinya terasa hangat, familiar, dan seharusnya menenangkan. Namun
Terakhir Diperbarui: 2026-01-20
Chapter: Hampir Ketahuan"Aku tahu… Mas Leo pasti lagi pengen, iya kan. Ngaku aja...." Sindi meledek, terkekeh kecil.Sontak Leo terkejut."Hah? Nggak. Kamu ini kalau ngomong jangan sembarangan ih," bantahnya cepat.Sindi tersenyum, kali ini lebih berani."Mas Leo bohong," ucapnya sambil mencondongkan badan sedikit."Aku tahu kok. Kelihatan banget kalau Mas Leo lagi tegang."Leo melirik cepat ke arah kamar Dinda. Jantungnya berdetak semakin keras."Sindi… pelan sedikit," ucapnya setengah berbisik. "Jangan keras-keras."Sindi menutup mulutnya, terkekeh kecil."Iya, iya… takut ketahuan Mbak Dinda?"Leo tidak menjawab. Diamnya justru menjadi jawaban.Saat itu terjadi sesuatu yang tak terduga. Sindi yang sedang terkekeh, tangannya bergerak tanpa sengaja dan menyentuh tepat di bagian area kejantanan Leo. Sentuhan itu singkat, hanya sepersekian detik, tapi cukup membuat tubuh Leo menegang.Sindi langsung menarik tangannya."Eh! Maaf, Mas," ucapnya cepat, matanya membesar.Leo terdiam. Degup jantungnya berdetak kenc
Terakhir Diperbarui: 2026-01-20
Chapter: Ternyata DiaMalam itu rumah terasa tenang. Jam dinding di ruang keluarga menunjukkan hampir pukul delapan. Televisi menyala dengan volume kecil, menemani Leo dan Dinda yang duduk berdampingan. Dinda bersandar nyaman, sesekali menimpali acara yang mereka tonton. Leo mengangguk-angguk, tapi pikirannya melayang."Mas kelihatan capek," ucap Dinda lembut. "Kalau mau istirahat duluan gak apa-apa, Mas.""Nggak kok, Sayang. Aku sepertinya lupa ada tugas, sebentar aku mau ke kamar," jawab Leo. "Ada dokumen yang harus aku cek."Dinda tersenyum. "Ya sudah. Jangan lama-lama ya."Leo berdiri dan melangkah ke kamar. Ia membuka koper, mengeluarkan beberapa berkas, lalu berhenti. Alisnya berkerut. Ia membongkar ulang, menarik map satu per satu. Map biru yang ia cari tidak ada."Hah… kok gak ada?" gumamnya.Ia duduk di tepi ranjang, mencoba mengingat. "Terakhir aku pakai di kantor… iya, di meja." Leo menghela napas kesal. Ia berdiri lagi dan keluar kamar.Dinda menoleh saat melihat Leo kembali ke ruang keluarga.
Terakhir Diperbarui: 2026-01-19
Chapter: Hasrat Yang Belum TersalurkanAyu membeku. Matanya membesar, jelas kaget dengan pertanyaan itu."Tidak, Pak," jawabnya cepat, hampir refleks. "Sama sekali tidak."Leo menatap wajah Ayu, mencari tanda-tanda kebohongan. Namun yang ia lihat justru keterkejutan yang tulus."Aku bahkan baru tahu soal ini dari cerita Pak Leo," lanjut Ayu. "Setahuku, Pak Amar baik dan profesional. Aku gak pernah diperlakukan aneh."Entah kenapa, Leo merasa dadanya sedikit lebih ringan mendengar jawaban itu. Ia menghela napas, lalu mengangguk pelan."Syukurlah," gumamnya tanpa sadar.Ayu menatap Leo dengan ekspresi heran. "Pak Leo kelihatan… khawatir sekali."Leo tersenyum tipis, tapi tidak menjawab langsung. Ia sendiri bingung dengan perasaannya. Ayu bukan siapa-siapa baginya secara resmi. Ia sudah punya istri. Namun tetap saja, ada rasa tidak rela membayangkan Ayu diperlakukan tidak pantas oleh orang lain."Aku cuma gak mau kamu kenapa-kenapa," ucap Leo pelan. "Hati-hati saja. Kalau kamu merasa tidak nyaman, kamu berhak menolak."Ayu te
Terakhir Diperbarui: 2026-01-18
Chapter: Interogasi AyuDi dalam, suara itu mereda. Sunyi menyusul. Leo menunggu beberapa detik, berharap pintu terbuka atau seseorang keluar. Namun tidak ada."Silahkan masuk aja," gumamnya pelan, meyakinkan diri.Saat itulah pintu terbuka sedikit dari dalam. Leo refleks melangkah mundur. Seorang perempuan muncul, ia cepat-cepat merapikan rambut dan kerah blusnya. Wajahnya memerah, tatapannya terkejut melihat Leo berdiri di sana."Oh Pak Leo," ucapnya gugup. "Pak Amar… sedang rapat."Leo mengangguk kaku. "Oh. Maaf. Saya nanti saja."Perempuan itu tersenyum canggung dan menutup pintu kembali. Leo berdiri terpaku, perasaan aneh mengalir di dadanya. Rasa penasaran terjawab setengah, namun justru menambah beban.Ia berbalik dan berjalan menjauh, pikirannya riuh."Jadi itu…" Leo mengusap wajahnya. "Ini kantor. Dan Pak Amar…"Ia kembali ke ruangannya, duduk, namun sulit berkonsentrasi. Pikirannya melompat-lompat tentang Dinda, tentang Sindi, tentang Ayu, dan kini tentang Pak Amar.Tak lama, ponselnya bergetar. N
Terakhir Diperbarui: 2026-01-18
Chapter: Akhir Yang Indah (END)Bulan berikutnya, cuaca cerah seakan menyambut hari yang spesial itu. Langit biru tanpa awan dan hembusan angin lembut membuat suasana semakin tenang."Sayang.., ayo siap-siap," seru Rendi dari ruang depan sambil merapikan kerah kemejanya.Lisna keluar dari kamar dengan bayi mereka yang kini mulai bisa duduk di gendongan kain. "Mau ke mana sih, Mas tumben kamu rapi banget?"Rendi tersenyum penuh misteri. "Pokoknya ikut aja."Lisna mengerutkan dahi, tapi senyumnya tak bisa disembunyikan. "Oke, aku ikut, asal jangan kejutan aneh-aneh.""Tenang, kali ini kejutan manis," ujar Rendi sambil membuka pintu.Perjalanan mereka diiringi canda kecil dan gelak tawa bayi mereka yang sesekali menggumam lucu. Di dalam mobil, suasana hati Rendi terlihat begitu ringan. Ia menggenggam tangan Lisna erat sambil menyetir dengan tangan satunya."Kamu tahu, Sayang…” Rendi membuka suara, matanya menatap ke jalan. "Aku jauh lebih bahagia sekarang."Lisna menoleh. "Iya, aku lihat. Kamu kelihatan lebih tenang a
Terakhir Diperbarui: 2025-08-04
Chapter: HarmonisSatu bulan telah berlalu sejak Rendi kembali bekerja di perusahaan lamanya. Kehidupan rumah tangga mereka perlahan membaik. Setiap pagi Rendi berangkat dengan semangat, dan setiap malam ia pulang dengan senyum di wajahnya. Gaji yang layak, lingkungan kerja yang sehat, dan kepercayaan yang mulai pulih dari Lisna, semuanya membuat hati Rendi lebih tenang.Di rumah, Lisna juga merasa lebih damai. Anak mereka tumbuh sehat, dan kini ia bisa menyaksikan sendiri perubahan besar pada suaminya.Suatu sore, setelah menidurkan anak mereka, Lisna duduk di teras bersama Rendi yang sedang menyeduh kopi."Kamu tahu, Mas?" ucap Lisna sambil menatap langit jingga."Apa, Sayang?" Rendi menyerahkan secangkir kopi padanya."Jujur, aku senang… karena akhirnya aku bisa melihat kamu jadi sosok ayah yang baik buat anak kita."Rendi menoleh, sedikit terkejut. "Maksud kamu?"Lisna tersenyum. "Dulu aku sempat takut. Takut kamu gak bisa berubah. Tapi sekarang… aku lihat sendiri. Kamu rajin, kamu perhatian, kamu
Terakhir Diperbarui: 2025-08-04
Chapter: Teman Lama Untuk MawarNamun momen haru itu terpotong oleh tangisan bayi mereka dari kamar sebelah. Rendi dan Lisna saling berpandangan, lalu segera bangkit dan menuju kamar si kecil.Di kamar yang diterangi lampu tidur redup, bayi mereka menangis kencang. Rendi langsung menggendongnya sementara Lisna menyiapkan botol susu."Sini, Mas. Aku kasih susunya," ucap Lisna.Rendi mengangguk dan menyerahkan bayi mereka ke pelukan Lisna. Ia menatap anak mereka dengan tatapan penuh kasih dan rasa bersalah."Maafin Papa ya, Nak… Papa janji bakal jadi ayah yang baik."Bayi itu perlahan tenang setelah menyusu, membuat suasana rumah kembali damai. Rendi duduk di sisi tempat tidur.Beberapa menit kemudian, suara dering ponsel memecah keheningan.Rendi buru-buru mengambil ponselnya dari meja. Di layar tertera nama yang sangat ia kenal: Pak Dimas – CEO perusahaan tempat Rendi dulu bekerja sebelum dipecat.Lisna menoleh sambil mengangkat alis. "Siapa lagi, Mas?" tanyanya menekan."Pak Dimas," jawab Rendi, masih ragu menekan
Terakhir Diperbarui: 2025-08-04
Chapter: Kejujuran Rendi Setelah melihat anaknya tertidur lelap, Rendi dan Lisna masih berang di tempat tidurnya. Mereka berdua tengah mengobrolkan tentang usaha. Hal itu membuat Lisna merasa heran dan kebingungan dengan perkataan suaminya. "Kenapa kamu pengen buka usahasendiri? Kan kamu udah kerja, Mas," ucap Lisna menatap penuh suaminya. "Setelah aku pikir-pikir, aku memilih untuk berhenti dari kerjaan itu. Aku enggak mau terus-terusan dihantui rasa bersalah," jawab Rendi pelan.Lisna memandang baik-baik suaminya yang berbaring di sebelahnya. Lisna masih kebingungan dengan perkataan Rendi. "Maksudnya gimana sih, Mas? Apa yang membuat kamu ingin berhenti dari kerjaan itu? Bukankah itu cepet dapet hasilnya?" Lisna merasa heran. "Iya, aku tahu kerjaan itu cepet banget dapet uang. Tapi aku enggak mau terus-terusan membohongi kamu, aku enggak mau mengkhianati kamu. Yang aku inginkan saat ini, kita bareng-bareng ngurus anak, aku pengen buka usaha sendiri entah itu buka toko atau usaha apa, yang jelas aku ing
Terakhir Diperbarui: 2025-08-04
Chapter: Pertengkaran Merasa kakinya ditepuk-tepuk akhirnya Rendi terbangun, ia membuka matanya perlahan dan langsung menatap ke arah istrinya yang duduk di sebelahnya. "Jam berapa sih ini, Sayang?" tanya Rendi dengan nada yang terdengar masih ngantuk. "Udah buruan bangun. Ada yang sudah nungguin kamu tuh," balas Lisna dengan raut wajah yang terlihat marah.Rendi membuka matanya lebar-lebar ketika istrinya menunjukan Handphone-nya dan memperlihatkan isi pesan itu. Sontak Rendi kaget melihat kejadian itu, ia takut kalau istrinya mengetahui profesinya yang seorang gigolo. "Ada bisnis apa kamu sama perempuan itu?" tanya Lisna matanya menatap tajam."Kerja apa kamu sebenarnya? Kamu bilang kalau kamu itu kerja bareng sama paman kamu, terus apa maksudnya dengan perempuan yang nungguin kamu?" Lisna terus mencecar melontarkan pertanyaan yang membuat Rendi tidak bisa berkata banyak. Rendi berusaha untuk membuat istrinya tenang dan tidak memikirkan sesuatu hal yang buruk terhadapnya. "Sayang ... Kamu dengerin d
Terakhir Diperbarui: 2025-08-04
Chapter: Pesan Mencurigakan Rendi merasa sudah sangat kelelahan, namun biar bagaimanapun ia tidak mau mengecewakan perempuan yang sudah datang jauh-jauh untuk mendapatkan kepuasan darinya. Hingga akhirnya Rendi berusaha untuk melayani tiga perempuan lagi dan berupaya untuk bisa memuaskan mereka bertiga.Rendi meminta untuk istirahat sejenak karena nafasnya terasa berat. Tante Dewi yang melihat itu, ia sebenarnya merasa kasihan terhadap keponakannya itu, namun Rendi yang sudah menyatakan diri untuk menjadi seorang gigolo supaya bisa mengangkat kembali ekonomi keluarganya. Dengan begitu, maka tante Dewi tidak bisa berbuat banyak selain menenangkan Rendi dan terus menyemangatinya."Istirahat dulu aja, Ren," ucap Tante Dewi."Iya, Tante... Ini gila, mereka hyper semua," jawab Rendi."Gak apa-apa, Ren... Yang penting kamu dapat uang banyak hari ini," balas tante Dewi.Setelah merasa cukup beristirahat dan menikmati minuman, Rendi kembali melayani satu-persatu dari ketiga perempuan itu. Hari semakin sore, stamina pun
Terakhir Diperbarui: 2025-08-03
Chapter: Bab 196. END....Satu minggu terakhir terasa seperti satu bulan penuh penantian yang menyesakkan dada. Setiap pagi aku bangun dengan harapan kecil bahwa hari itu akan ada kabar dari Bunga. Setiap malam sebelum tidur aku menatap layar ponsel, berharap ada pesan atau panggilan darinya, tapi nihil. Nomornya tetap tidak aktif. Aku terus berjuang menenangkan diriku sendiri, tapi setiap detik yang berlalu justru menambah kecemasan.Raka selalu berusaha menghiburku. Di ruang tamu, di dapur, bahkan saat kami makan atau sedang sekadar duduk di teras, dia tidak pernah berhenti mengatakan hal yang sama:“Tenang. Pak Aditya pasti akan cari tahu sendiri. Percaya saja.”Aku mencoba percaya. Tapi rasa rindu dan khawatir bercampur jadi satu, membuat dada ini berat. Entah apa yang dilakukan Bunga, apa dia baik-baik saja, atau apa dia masih memikirkan aku.Malam ini, aku dan Raka sedang duduk di ruang tamu. Televisi menyala, tapi tidak ada satu pun yang benar-benar kami tonton. Pikiranku tidak berada di sini. Jauh mela
Terakhir Diperbarui: 2025-11-25
Chapter: Bab 195. Mengungkap Kelicikan BobiAku terdiam lama sebelum akhirnya mengangguk pelan. “Gue bakal coba ngomong sama Andini besok,” kataku lirih. Raka tersenyum puas. “Good. Itu langkah pertama yang paling penting sekarang.” Aku menatap lampu-lampu kota yang lewat di jendela mobil. Di kepalaku hanya ada satu harapan. "Semoga semua ini benar-benar bisa menyelamatkan aku dan Bunga." *** Pagi ini aku bangun dengan perasaan yang benar-benar kacau. Rasanya perutku seperti dipelintir sejak tadi malam, sejak aku dan Raka pulang dari rumah Pak Aditya dan diusir begitu saja meski sudah membawa bukti nyata tentang kelakuan Bobi. Raka bilang aku harus tetap tenang, bahwa cepat atau lambat Pak Aditya pasti akan mencari tahu sendiri siapa Bobi sebenarnya. Tapi hati aku tetap gelisah. Sampai sekarang ponsel Bunga masih tidak aktif, dan itu membuat pikiranku semakin nggak karuan. Aku sudah rapi sejak jam tujuh pagi. Hari ini aku harus menemui seseorang, tak lain Andini. Yang dulu dijuluki “ratu es”. Yang dulu dingin, tegas,
Terakhir Diperbarui: 2025-11-25
Chapter: Bab 194. Bantuan Andini"Heh! Kalian pikir saya buta? Zaman sekarang orang bisa membuat foto apa saja, dan saya yakin ini cuma editan!" bentak pak Aditya.Aku hanya diam. Raka kembali meyakinkan. "Pak. Sumpah demi apa pun, ini foto asli, pelayan hotel yang memfoto langsung, jika semalam Bobi bersama perempuan lain.""Cukup! Saya tidak mau mendengar omong kosong kalian! Bobi itu lelaki yang pantas untuk Bunga, tidak seperti dia!"Aku langsung menunduk saat pak Aditya menunjuk ke arahku.Raka mencoba mengeluarkan bukti berupa rekaman, dan aku berharap itu bisa meyakinkan pak Aditya. Akan tetapi, lagi-lagi pak Aditya mengelak. "Saya tidak percaya sama kalian! Sekarang pergi! Jangan injakan kaki lagi di sini!"Deg!Hatiku terasa hancur mendengar perkataannya. Raka melihat ke arahku, lalu menarik tanganku. "Ayo, Yon. Kita pergi."Aku hanya bisa diam berjalan menuju mobil dengan langkah gontai. Udara pagi yang seharusnya menenangkan justru terasa seperti menghimpit dadaku. Suara bentakan Pak Aditya masih menggema
Terakhir Diperbarui: 2025-11-24
Chapter: Bab 193. Mengungkap Kebenaran Di Depan Pak Aditya Malam semakin larut. Lampu ruang tamu rumah Raka hanya tinggal satu yang menyala, redup, tapi cukup membuat ruangan tidak terasa kosong. Raka berdiri sambil meregangkan tubuhnya.“Yon, udah. Lo istirahat dulu. Jangan mikir macam-macam lagi. Besok semua kita selesain bareng-bareng,” katanya sambil menepuk bahuku.Aku hanya mengangguk pelan. “Iya, Ka. Makasih.”“Kasur tambahan gue taruh di kamar sebelah. Lo tidur duluan. Gue mau mandi sebentar,” ujarnya sebelum akhirnya melangkah menuju kamarnya.Tinggal aku sendiri di ruang tamu.Aku bersandar di sofa, memeluk bantal kecil, mencoba menenangkan napas yang terasa naik turun tak beraturan. Gelisahku tidak berkurang sedikit pun… bahkan setelah mendengar semua keyakinan Raka. Ada ruang kosong dalam dadaku yang tidak bisa diisi selain oleh satu hal, atau lebih tepatnya, satu orang. "Bunga."Nama itu terus menari dalam pikiranku. Setiap kali aku berpikir tentangnya, dadaku selalu terasa panas sekaligus perih. Rasa takut terus mencengkeramku.
Terakhir Diperbarui: 2025-11-24
Chapter: Bab 192. Menunggu Dalam Cemas Setengah perjalanan pulang, Raka melambatkan mobil karena lampu merah. Di momen itu, dia kembali bicara.“Lo ingat, Yon? Waktu Bunga cerita kalau Bobi pernah bikin dia nggak nyaman? Itu aja udah cukup jadi alasan buat Pak Aditya hati-hati sama dia. Tapi kenyataannya malah kebalik.”Aku mengangguk, meskipun angin dingin malam membuat tengkukku menegang. “Yah, gue ingat. Bunga pernah bilang Bobi terlalu memaksa. Dan gue yakin, kalau ada apa-apa tadi… Bunga pasti takut.”Raka mendengus kesal. “Makanya besok gue yang bicara. Lo kan tipe kalem, kalau ditekan pasti diam. Biarin gue yang ngomong. Biar dia dengar versi kita.”Aku tersenyum tipis, meski hatiku masih terasa gelisah. “Makasih, Ka. Kalau bukan lo, gue mungkin sudah menyerah sejak tadi.”Raka tertawa kecil. “Santai saja. Gue ini kan sahabat yang baik.”Mobil kembali melaju ketika lampu berubah hijau. Suara angin kembali mendominasi.Sesampainya di rumah Raka, suasana malam terasa lebih tenang. Rumahnya diterangi lampu kuning hang
Terakhir Diperbarui: 2025-11-23
Chapter: Bab 191. Bunga Di ManaBegitu kami parkir, Raka langsung menarik napas panjang dan menatapku serius.“Dion, lo ikut gue. Kita tanya dulu ke petugas hotel. Tapi inget, jangan emosi,” ucapnya.Aku mengangguk walau dada masih terasa sesak. Kami turun dari mobil dan berjalan cepat menuju lobi hotel. Ruangan itu wangi, dingin, mewah, kontras sekali dengan kepanikan yang kurasakan di dalam diri.Begitu tiba di meja resepsionis, Raka memberi isyarat agar aku bicara.Aku menelan ludah, memaksa suaraku stabil. “Permisi… saya mau nanya. Ada tamu atas nama Bobi Pranata?”Petugas hotel mengecek daftar. Lalu mengangguk sopan. “Betul, Pak. Ada.”Dadaku langsung berdegup makin keras. “Dia… dia datang sama seorang perempuan?”Petugas itu kembali membuka buku daftar. “Iya, Pak. Tamu tersebut check-in dengan satu orang pendamping perempuan.”Aku tercekat. Aku mencondongkan tubuh, bertanya dengan napas tak beraturan, “Siapa… siapa nama perempuan itu?”Petugas itu melihat lagi daftar registrasi, lalu menjawab tanpa ragu, “Atas
Terakhir Diperbarui: 2025-11-23