LOGINJuned menggeser layar ponsel, lalu menempelkan benda tipis itu ke telinganya dengan gerakan teratur. "Halo, Fit?" sapa Juned lembut, nada suaranya berubah berat dan teratur. "Halo, Jun..." suara Fitri terdengar mendayu-dayu dari seberang telepon, diselingi tawa kecil yang sarat godaan. "Nanti siang sibuk gak? Makan siang bareng yuk di kantorku, sekalian ada yang mau aku omongin... berdua aja." Jemari Juned mengetuk-ngetuk permukaan meja makan, menyunggingkan senyum tipis yang langsung ia sembunyikan di balik cangkir kopi. "Sebentar ya, Fit..." potong Juned halus. Pria itu menurunkan ponselnya sedikit, membiarkan layar tetap menyala sebelum beralih menatap wanita di hadapannya. "Na, nanti siang kita ada agenda keluar gak?" tanya Juned tenang, menatap mata Ratna tanpa ada keraguan. Ratna yang sedang memotong buah pisang menghentikan gerak pisunya, menatap Juned seraya menggeleng pelan. "Gak ada kok, Ned, bebas aja hari ini. Emang kenapa?" sahut Ratna seraya menyuapkan potongan p
Malam perlahan merayap, membawa kesunyian pekat yang menyelimuti seluruh sudut rumah.Lampu kamar utama di lantai atas sudah dipadamkan, menandakan Ratna telah lelap dalam tidur pulasnya.Di kamar belakang, Nayla duduk gelisah di tepi ranjang dengan napas memburu dan debar jantung yang tak karuan.Pintu kamar perlahan terbuka tanpa suara, menampakkan sosok Juned yang melangkah masuk sambil mengunci pintu rapat-rapat."Udah tidur semua di atas, kan?" bisik Nayla pelan dengan binar mata yang kian menggelap penuh gairah.Juned menyunggingkan senyum miring, melangkah mendekati ranjang dengan sorot mata penuh dominasi."Udah pulas, gak usah khawatir," jawab Juned rendah seraya menghempaskan tubuhnya ke atas kasur.Tanpa basa-basi, Juned langsung menarik tubuh Nayla ke dalam dekapannya, melumat bibir manis gadis itu dengan liar.Nayla mendesah nikmat, membalas ciuman tersebut sambil mencengkeram erat pundak Juned tanpa ampun.Tangan Juned bergerak cepat menyingkirkan piyama tipis yang memba
Juned menyunggingkan senyum tenang tanpa ada keraguan sedikit pun di raut wajahnya."Paling cuma nanyain jadwal meeting buat hari Senin nanti, Ra," sahut Juned santai seraya meraih ponselnya dan mengantonginya."Oalah... kirain ada masalah pekerjaan yang darurat di kantor," balas Ratna mengangguk-angguk percaya tanpa rasa curiga.Juned memutar kunci kontak, menyalakan mesin mobil yang langsung berderum halus di area parkiran."Enggak kok, aman. Yaudah, kita langsung pulang yuk sebelum makin macet," ujar Juned lembut pada kakak iparnya itu.Mobil hitam itu perlahan bergerak memotong arus lalu lintas, meninggalkan halaman toko kue menuju rumah.Di sepanjang perjalanan, Ratna bersandar nyaman di kursinya seraya mengobrol ringan tentang acara arisannya tadi.Juned merespons setiap cerita Ratna dengan senyuman dan anggukan santai, tetap memegang kendali penuh atas suasana.Dalam benaknya, Juned menyeringai tipis merencanakan langkah berikutnya saat sampai di rumah nanti.Mobil hitam Juned
Saat mobil Juned baru saja belok menuju kawasan perumahan tempat tinggal Caca, ponselnya di *dashboard* mendadak berdering nyaring.Nama Ratna terpampang di layar, membuat Juned terpaksa menghentikan laju mobilnya di pinggir jalan.Juned menggeser tombol hijau, menempelkan ponsel ke telinganya. "Halo, Ra?""Juned, kamu udah sampai mana?" tanya Ratna langsung dari seberang telepon."Ini baru banget masuk kota, Ra. Kenapa?" sahut Juned tenang."Aduh, pas banget! Tolong jemput aku dong di tempat arisan, mobil yang biasa aku tumpangi mendadak mogok nih," pinta Ratna penuh harap.Juned mendadak terdiam sejenak, mengusap tengkuknya seraya memikirkan caca yang sudah menunggunya di rumah.Namun, menolak permintaan Ratna secara mendadak tentu bisa memicu kecurigaan yang tidak perlu."Oh... gitu. Yaudah, kirim lokasinya aja, nanti aku langsung meluncur ke sana," jawab Juned akhirnya tanpa bisa menolak."Makasih ya, Juned! Aku tunggu," balas Ratna lega sebelum memutuskan sambungan.Juned menghel
Juned hanya tersenyum santai meraba lehernya, tidak ada sedikit pun rasa canggung atau risih di wajahnya."Biasa, Bu. Namanya juga udah lama gak ketemu," sahut Juned terkekeh tipis, menerima rantang makanan tersebut dengan rileks.Tetangga itu tertawa mengangguk-angguk paham, lalu berpamitan melangkah pergi meninggalkan halaman rumah.Juned memutar badan melangkah kembali ke dalam rumah, membawa rantang kue itu langsung menuju ke area dapur.Di dapur, Desi sedang sibuk memotong bumbu di atas meja dengan daster lamanya yang agak melonggar di bagian dada."Siapa yang datang di depan tadi, Mas?" tanya Desi tanpa menoleh, fokusnya masih tertuju pada irisan bawang."Bu RT antar rantang kue pesan kamu tuh," jawab Juned santai, menaruh rantang di atas meja persis di sebelah Desi.Desi menoleh, matanya langsung tertuju pada bekas memar merah di leher Juned yang dipamerkan terang-terangan.Wajah Desi mendadak merona merah, teringat betapa liarnya ia menggigit leher suaminya saat di kamar tadi
Juned menyunggingkan senyum miring, melempar tas pakaiannya ke sembarang tempat lalu melangkah santai mendekati sofa."Baru nyampe rumah langsung disuguhi pemandangan begini," goda Juned sambil menatap intens lekuk tubuh Desi dari atas ke bawah.Desi menepuk tempat kosong di sampingnya, melempar tatapan manja yang siap menerkam sang suami kapan saja."Kan aku udah bilang, Mas, aku kangen banget sama kamu," bisik Desi saat Juned akhirnya mendaratkan tubuh di sisinya.Tanpa basa-basi, Desi langsung naik ke atas pangkuan Juned, melilitkan kedua lengannya di leher pria itu dengan sangat ketat.Aroma parfum manis yang merebak dari tubuh Desi seketika menyapu indra penciuman Juned, membakar gairahnya yang sempat reda."Kangennya beneran atau cuma mau minta jatah nih?" bisik Juned terkekeh pelan seraya meremas pinggul lunak Desi dari balik daster satinnya.Desi mendesah halus, menyandarkan dahi mereka hingga napas hangatnya yang terengah-engah menerpa bibir Juned."Dua-duanya, Mas... Kamu la