登入Juned menggerakkan jarinya dengan cepat di atas layar ponsel, mengetikkan balasan dengan ketukan yang beruntung akibat rasa panik yang tertahan."Bukan masalah lagi, Na, tapi ini masalah gede banget. Kan Caca gak tau kalau selama ini aku tinggal serumah sama kamu. Kalau dia beneran bersedia tinggal sama aku karena tugas dari kamu, gimana coba?"Ia menatap nanar layar gawainya, menunggu gelembung ketikan dari seberang. Tak berapa lama kemudian, ponselnya bergetar pendek menampilkan balasan dari Ratna."Yaudah gak apa-apa, Ned. Dia bisa nempatin kamar lama kamu yang di bawah kok."Membaca baris kalimat itu, Juned langsung menggeleng-gelengkan kepalanya perlahan. Ia menyandarkan punggungnya ke sofa kulit dengan sisa tenaga, merasa isi kepalanya mendadak menjadi sangat rumit akibat jalan pikiran sang pemilik perusahaan yang terlalu enteng."Gampang banget ya kalau ngomong," gumam batin Juned merutuki keputusan sepihak tersebut.Napasnya tertahan sejenak saat ia kembali mengetikkan sanggah
"Kok Ratna sampai segitunya sih?" gumam batin Juned yang mendadak diselimuti rasa tidak percaya. Tangannya yang memegang potongan kue kini tampak kaku di udara, sementara otaknya berputar keras memikirkan motif di balik keputusan sang pemilik perusahaan.Caca yang menyadari perubahan drastis pada raut wajah atasannya langsung memiringkan kepala, menatap bingung. "Kenapa, Pak?" tanya Caca, sepasang alisnya bertaut halus.Juned buru-buru menurunkan tangannya, meletakkan kembali camilan itu ke atas piring kecil dengan canggung. Ia berdeham kecil untuk menutupi rasa terkejutnya yang teramat sangat. "Gak apa-apa, Ca. Saya... saya cuma baru tahu soal posisi ini, makanya agak kaget," jawab Juned, mencoba mengatur intonasi suaranya agar terdengar seolah itu hanya kejutan bisnis biasa.Caca mengangguk-angguk paham, lalu membetulkan posisi duduknya agar lebih nyaman menghadap Juned. Ia melipat tangannya di atas pangkuan dan mulai menjelaskan lebih detail obrolannya dengan Ratna di ruangan tadi
"Sana kamu ke kamar mandi dulu, biar saya yang buka pintunya," ucap Juned setengah berbisik sembari menggeser pelan tubuh Caca dari atas dadanya.Caca yang sempat terpaku langsung mengangguk panik, buru-buru memungut celana dalam tipisnya di lantai lalu berlari kecil menuju kamar mandi dengan langkah teratur namun terburu-buru. Juned pun segera bangkit dari ranjang, Ia merapikan kemeja kerjanya yang kusut, menarik ritsleting celananya ke atas.Setelah penampilannya dirasa cukup rapi, Juned melangkah keluar dari area tidur menuju pintu depan. Ia memutar knop pintu kayu tebal itu lalu menariknya perlahan. Begitu daun pintu terbuka, ketegangannya langsung menguap seketika saat melihat seorang pria berseragam pelayan resort berdiri dengan senyum ramah sembari membawa sebuah nampan kayu berukuran sedang di tangannya. Di atas nampan itu, tersaji dua cangkir teh hangat yang mengepulkan asap tipis, dua botol air mineral dingin, dan beberapa piring kecil berisi camilan kue tradisional."Selama
Sambil menarik napas sedalam mungkin demi meredam getaran di pita suaranya, Juned buru-buru menjawab pertanyaan Ratna di telepon. "Eh... m-maaf. Ini tadi saya... saya lagi beresin beberapa berkas yang berceceran di meja, jadi agak gak fokus ngomongnya," ucap Juned, beralasan dengan suara yang dipaksakan senormal mungkin.Di seberang saluran, Ratna terdengar mengembuskan napas, sepenuhnya menepis kecurigaan yang sempat terlintas. "Oalah, kirain kenapa. Ya sudah, kalau gitu kamu sama Caca istirahat dulu aja di sana sampai Pak Rio tiba nanti. Selesaiin tugas kalian dengan baik ya, Ned.""I-iya, Na. Siap," sahut Juned pendek. Begitu suara klik terdengar menandakan panggilan telah terputus dari seberang, Juned langsung melemparkan ponselnya ke atas kasur dengan asal.Ia menunduk, menatap tajam ke arah Caca yang perlahan melepaskan mulutnya dari ujung kejantanan Juned yang sudah basah dan menegang sempurna. "Kamu ini ya, Ca... sengaja banget? Kamu mau saya ketahuan sama Bu Ratna, hah?" bisi
"Ini Pak kamar resort-nya, Pak Juned dan Bu Caca bisa beristirahat dulu di sini. Kalau mau pesan makanan atau minuman bisa langsung melalui telepon di sana, Pak. Semua tidak dikenakan biaya sama sekali," ucap Keysha sembari menunjuk sebuah telepon kabel bergaya klasik di atas meja sudut.Juned dan Caca melangkah masuk melintasi ambang pintu, mata mereka serempak mengedarkan pandangan ke setiap sudut ruangan. Kamar resort bernuansa kayu jati itu tampak sangat mewah, lengkap dengan area ruang tamu minimalis yang dilengkapi sofa kulit empuk dan sebuah televisi layar datar berukuran besar di dinding."Oke, Mbak Key. Terima kasih banyak ya," ucap Juned berbalik badan sambil menyunggingkan senyum ramah.Keysha mengangguk takzim lalu menyerahkan kartu akses elektronik ke telapak tangan Juned. "Sama-sama, Pak. Selamat beristirahat. Nanti jika Pak Rio sudah tiba, saya akan segera ke sini lagi untuk menjemput Bapak dan Ibu sekalian," ucap Keysha dengan nada suara yang sangat sopan sebelum akhir
"Nanti di jalan kita makan dulu ya," ucap Juned sembari melangkah lebar keluar dari pintu lift yang baru saja berdenting terbuka di lantai dasar.Caca yang berjalan beriringan di sampingnya mengangguk cepat, tangannya sibuk memeluk sebuah laptop tipis di dada. "Iya, Pak. Kebetulan perut saya juga udah mulai bunyi dari tadi," sahut Caca dengan senyum manis yang mengembang di bibir tipisnya.Mereka berdua berjalan melintasi lobi utama gedung yang sejuk menuju ke arah area parkiran luar. Juned segera membuka pintu kemudi, sementara Caca membuka pintu penumpang depan dengan gerakan riang. Baru sekitar lima belas menit mobil menembus kepadatan kota, suasana di dalam kabin mulai terasa mencair. Caca tidak bisa diam, ia terus mengajak Juned mengobrol sepanjang jalan. Namun, gaya bicara Caca perlahan mulai bergeser, diiringi obrolan yang sedikit memancing dan gestur genit yang ditujukan khusus untuk pria di sampingnya itu.Di pertengahan jalan, tepat beberapa ratus meter sebelum gerbang masu






