MasukMelanie, atasanku yang galak, menekan kuku ke punggungku saat aku, intern yang selalu ia marahi, terpaksa menghabiskan malam dengannya demi mengeluarkan efek obat yang ada pada tubuh bosku itu. Namun, semenjak malam itu, tubuhnya selalu membutuhkanku sebagai penawar, kapan pun dan di mana pun...
Lihat lebih banyak“Ini yang kamu bilang selesai?!” Suara wanita itu begitu nyaring, sampai-sampai membuat Raka terkejut.
Melanie, manajer divisi yang menaungi Raka, menatap intern itu dengan sorot mata menyala oleh amarah. Namun justru dalam ketegangan itu, sosoknya tampak semakin mencolok–kemeja putih yang membalut tubuhnya yang berisi namun proporsional seakan menegaskan setiap keindahan garis tubuhnya. Siluet tubuh bagian atasnya, sempat tersamarkan oleh rambut pirang yang terurai panjang, justru semakin menyembul ketika tertahan oleh lapisan kain yang terlalu ketat–seolah gundukan kembar itu sendiri meronta, mencari celah untuk bebas. “Lihat ini! Semua tabel yang kamu susun tidak ada yang sinkron dengan divisi-divisi lain!” Laporan yang Raka berikan pun kini sudah lecek, bahkan ada yang dirobek di depan matanya. “Ta–tapi bu, saya hanya menerima…” Brak! “Tidak ada tapi tapian! Mau alasan apa lagi?!” bentak Melanie. Raka menelan ludah. Ini pertama kalinya ia bertemu dengan manajer divisinya sendiri. Walaupun wanita di depannya ini begitu cantik dan menggoda, tetap saja ia seperti iblis yang mengamuk ketika marah. “Pokoknya saya nggak mau tau, satu jam lagi laporan itu sudah harus ada di meja saya. Sekarang kamu keluar!” Sambil memunguti berkas-berkas yang dilempar oleh Melanie, Raka segera keluar dari ruangan ber-AC namun sangat panas itu. Ya, panas yang ditimbulkan tidak hanya oleh sumpah serapah yang Melanie katakan, melainkan juga Melanie sendiri yang… memesona. “Pantas saja semua pria di kantor ini membicarakannya…” Raka pun berjalan menuju kubikelnya dengan lesu. Padahal, ia hanya bertugas untuk menyusun laporan-laporan dari divisi-divisi lain. “Padahal susunan laporanku sudah betul. Apa jangan-jangan…” Raka tahu betul laporan itu sengaja dibuat berantakan. Para seniornya tak pernah memberi instruksi jelas, hanya melemparkan berkas seadanya dan memintanya “rapikan saja” dengan nada meremehkan. Sebagai intern, ia sudah terbiasa jadi sasaran empuk. Mengantar kopi ke setiap kubikel, jadi kurir makanan saat jam makan siang, bahkan kerap dipaksa membayar pesanan mereka. Gaji intern-nya yang tipis habis bukan untuk dirinya, tapi untuk memenuhi permintaan orang-orang yang jelas menikmati posisi mereka. Yang membuatnya makin terjepit, evaluasi kerjanya berada di tangan orang-orang yang sama. Ia tak bisa menolak, tak bisa melawan. Namun jika terus begini… “Tidak… Aku tidak boleh menyerah, ibuku membutuhkan biaya untuk operasi jantungnya!” Raka bertekad untuk bertahan, demi peluang menjadi karyawan tetap. Hanya dengan status itu ia bisa mengajukan pinjaman di bank–kesempatan untuk membawa ibunya ke rumah sakit dan mendapatkan perawatan. Segala perjuangannya, tak lain, adalah untuk sang ibu. Namun di tengah semua tekanan itu, Raka menemukan satu cahaya kecil di kantor. Diva, intern wanita yang masuk berbarengan dengannya, selalu menjadi pelipur laranya. Kepadanya, Raka menceritakan segala persoalan–tentang ibunya, juga perlakuan para senior. Perlahan, kedekatan itu menumbuhkan perasaan yang tak bisa ia abaikan. Hingga beberapa hari lalu, ia akhirnya menyatakan cintanya pada Diva. Namun, Diva belum memberikan jawaban padanya. “Aku harus menyelesaikan laporan ini, lalu menemui Diva!” Raka pun mempercepat langkahnya ke lift. Namun, sesampainya di sana, lift yang ingin ia gunakan justru malah error. “Sial, kenapa harus di saat seperti ini!” Raka lantas bergegas turun melalui tangga darurat. Dari ruangan Melanie yang terletak di lantai 15, ia hanya perlu turun tiga lantai untuk sampai ke ruangan para karyawan. Namun, saat ia bergegas turun tangga, Raka tiba tiba berhenti. “Ohh… yes… teruskan, Mas…” Suara rintihan itu terdengar samar, memantul di antara dinding tangga darurat yang seharusnya kosong. “Pelankan suaramu, Diva!” ujar Bayu terburu-bisik, suaranya menahan gairah. “Tapi…” napas Diva tersengal. “Mas Bayu janji, kan? Diva bisa lolos Intern?” Langkah Raka langsung membeku. Diva…? “Tentu saja.” Suara Bayu berubah congkak. “Selama kamu nurut begini, kamu pasti lolos. Dan kita akan singkirkan si miskin Raka itu. Aku jamin.” Diva terkikik kecil, nada yang tak pernah Raka dengar sebelumnya. “Ih… Raka itu ya, Mas… setiap hari curhat ke Diva. Ngadu kalau Mas dan geng sering ngerundung dia.” Ia mendesis geli. “Kasihan sih… tapi kok nyebelin ya? Dia pikir Diva peduli.” Bayu tertawa pelan, melecehkan. “Biarin. Anak itu memang pantas buat diinjak.” Diva menimpali, nada jijiknya menusuk. “Dia selalu bilang ‘Diva satu-satunya teman aku di kantor.’ Aduh… please. Aku sampai males pura-pura baik.” Darah Raka berdesir panas. Tenggorokannya mengering. Suara mereka berdua–desahan, tawa, hinaan–menyatukan satu kenyataan yang jauh lebih menyakitkan daripada perundungan apa pun yang pernah ia terima. “Berengsek!” Brak! Raka menerobos masuk, membuat Bayu dan Diva tersentak–keduanya masih setengah berpakaian, terperangah seperti binatang yang ketahuan mencuri. “Apa–?!” Bayu mundur selangkah, terbirit sambil menarik celananya. Diva memekik kaget. Raka melayangkan tinju, tapi pukulan itu ditangkis dengan satu hentakan kasar dari Bayu. Tubuh Raka terhempas ke tembok. “Keparat!” Bayu mendesis. “Siapa yang biarkan intern busuk ini masuk?!” Bayu melirik ke arah pintu. Di balik kaca buram, tampak jelas siluet seseorang yang berjaga. Bukan satu, tapi dua. Diva memelototkan mata. “Ra–Raka?! Ngapain kamu di sini?!” Raka menatapnya dengan mata merah, suara pecah oleh campuran marah dan kecewa. “A–aku kira kamu tulus… Div… Aku kira kamu benar-benar tem–” “Tulus?” Diva malah tertawa–tawa merendahkan yang keras, lantang, menusuk. Ia menyambar roknya tanpa sedikit pun rasa malu. “Raka… Raka… sampai kapan kamu sebodoh itu?” Ia mendekat dua langkah, menatap Raka seolah menatap sampah di lantai. “Sejak kapan aku tulus sama laki-laki miskin sepertimu? Apalagi punya ibu yang sakit-sakitan!” Mendengar ibunya disebut, tangan Raka mengepal keras! Tepat saat itu, pintu di depan mereka terbuka. Kini Reno dan Bimo masuk, tubuh mereka besar dan penuh kesombongan. “Masuk dari mana kamu, bajingan?!” hardik salah satu dari mereka. Bayu kini sudah berdiri sempurna dengan celana terkancing rapi, dagunya terangkat tinggi. “Bocah tengik ini mengganggu permainanku,” katanya dingin. “Hajar.” Tanpa menunggu aba-aba lain, Reno dan Bimo menerjang. Pukulan pertama menghantam perut Raka hingga napasnya terputus. Pukulan kedua mengenai pipinya, memutar kepalanya ke samping. KREKK! Lalu tendangan–keras, ke arah dada–membuat Raka seketika sesak napas. Suara retakan–yang entah datang dari mana–menggema, namun tidak disadari oleh mereka. Diva menonton sambil melipat tangan, bibirnya tersenyum geli. Sementara Bayu merokok, meniupkan asap sambil memerhatikan Raka tersungkur. “Lemah banget,” komentar Diva dingin. “Pantas cuma jadi tumbal intern.” “Cih… bocah tengik ini tidak mungkin macam-macam sama kita…” ucap Bayu seraya meludah ke wajah Raka yang berdarah. “Lain kali di hotel aja Mas Bayu, daripada di sini… nanti ketahuan lagi sama si miskin ini…” Bayu lalu merangkul Diva, “Iya sayang, nanti lagi ya pas merayakan kelulusan Intern kamu…” Mereka pun meninggalkan Raka yang berusaha sekuat tenaga untuk bernafas, sementara gema tawa mereka menghantui pikirannya. “Apakah memang orang sepertiku tak pantas mendapatkan kebaikan…” Raka seketika memejamkan mata, merasa tubuhnya tak lagi bisa bergerak akibat pukulan dan tendangan brutal Bayu dan kawan-kawannya. “Ibu… maafkan anakmu…” CRING! Tepat saat pandangan Raka menggelap, sebuah cahaya hijau keemasan yang pekat menguar di depan matanya!"Enggak enak aja sama saudaraku, Mel." Raka menghembuskan napas pelan. "Aku juga enggak nyangka kalau suadaraku masih ingat dengan kami karna udah lama sekali kami putus hubungan dan setahuku, dulu suadaraku itu bukan orang kaya, sama susahnya dengan kami. Makanya, aku juga enggak minta tolong sama saudaraku itu. Tapi ternyata dia udah jadi orang kaya sekarang." Melanie manggut-manggut, ia kembali menghadap depan. "Oh begitu, bagus deh. Tadinya kalau suadaramu belum membayarkan biaya operasi ibumu, aku akan membayarkannya. Aku ikut senang karna Ibumu dioperasi. Dengan begitu, kamu bisa fokus dengan tugasmu padaku setelah ini." Melaine tidak bohong. Ia akan melakukannya. Tujuannya semata supaya Raka tambah terikat padanya dan tak ada alasan untuk berbuat macam-macam. Raka yang mendengarnya tersenyum tipis. Mulai berpikir bahwa datangnya orang-orang yang mengulurkan tangan padanya saat ini karena keuntungan mata giok yang ia miliki. "Ngomong-ngomong... gimana orang tuamu? Apa kamu
Lampu merah di atas ruang operasi akhirnya padam setelah berjam-jam lamanya. Beberapa menit kemudian, pintu ruang operasi terbuka yang menampilkan sosok seorang dokter keluar dari dalam. Raka yang sejak tadi duduk tegang di kursi lorong dengan mata merah, rambut berantakan langsung berdiri dan bergegas menghampirinya. "Bagaimana, Dok? Apakah operasi Ibu saya berjalan lancar?" tanya Raka tak sabaran. Dokter itu melepas masker dan tersenyum tipis, "Operasi Ibu anda berjalan lancar." Mendengar itu, napas Raka seketika seperti kembali setelah ditahan berjam-jam. Pertama kalinya sejak pagi ketegangan di wajahnya sedikit menghilang. "Jantung donor merespons dengan baik, Mas. Sekarang pasien hanya perlu melewati masa." "Terima kasih, Dok…" suara Raka serak hampir seperti kehilangan tenaga. "Sama-sama." Tak lama kemudian, ranjang dorong keluar dari ruang operasi. Arumi terlihat pucat dengan berbagai alat medis terpasang, napasnya dibantu oksigen, dan matanya masih tertutup karena pe
Pagi itu, lorong rumah sakit sudah disibukan oleh perawat yang berlalu-lalang mendorong troli, suara langkah kaki dan roda tempat tidur bercampur dengan aroma antiseptik yang menusuk samar. Di saat ini, tampak Raka berdiri di depan meja administrasi dengan wajah tegang. Hari operasi transplantasi jantung Ibunya akhirnya tiba. Tentu saja Raka sangat bahagia dan lega. Tapi satu hal yang paling mengganggu pikirannya sejak awal hanyalah satu–yaitu biayanya. Sebenarnya, ketika ia sudah mendapatkan uang mukanya, ia tidak benar-benar bisa lega sebab masih ada sisa biaya yang jauh lebih besar. Uang muka itu belum seberapa. Satu nama langsung menjadi jawaban ketika ia memikirkan dari mana ia mendapatkan biaya operasi itu. Tak lain dan tak bukan adalah Melaine. Namun, Raka juga tidak yakin kalau Melaine akan memberikan uang dalam jumlah miliaran. Ia sudah mendapatkan bayaran pertama dari menjadi suami kontrak. Jemari Raka kini sedikit mengepal, rahangnya terkatup rapat. "Maaf… berapa tota
Pria tua bernama Jayasena itu berdiri tenang di tengah bias cahaya hijau seperti sosok yang tidak sepenuhnya berasal dari waktu yang sama. Tubuhnya tinggi dan kurus, rambutnya panjang berwarna putih keperakan diikat rendah di belakang kepala dengan tali sederhana. Pakainnya kuno jauh dari gaya modern. Ia mengenakan jubah panjang berlapis berwarna abu-abu yang sudah memudar oleh waktu. Kainnya tampak tebal dengan tekstur kasar seperti tenunan lama. Kakinya dibalut sepatu kain sederhana, model lama yang hampir tak pernah terlihat di zaman sekarang. Keseluruhan penampilannya seperti seseorang yang berjalan keluar dari masa lalu, bukan sekadar tua, tapi berasal dari era yang sudah lama hilang. Dan auranya benar-benar kuat. Seperti seseorang yang pernah memegang kekuatan besar. "Anda adalah leluhur mata giok?" tebak Raka. Jayasena tersenyum tipis, dagunya terangkat. "Bisa dibilang begitu," Raka termangu. Lalu ia memperhatikan ke sekeliling. Tempat apa ini? Apakah ia sedang bermimpi?
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.