เข้าสู่ระบบMelanie, atasanku yang galak, menekan kuku ke punggungku saat aku, intern yang selalu ia marahi, terpaksa menghabiskan malam dengannya demi mengeluarkan efek obat yang ada pada tubuh bosku itu. Namun, semenjak malam itu, tubuhnya selalu membutuhkanku sebagai penawar, kapan pun dan di mana pun...
ดูเพิ่มเติม"Enggak enak aja sama saudaraku, Mel." Raka menghembuskan napas pelan. "Aku juga enggak nyangka kalau suadaraku masih ingat dengan kami karna udah lama sekali kami putus hubungan dan setahuku, dulu suadaraku itu bukan orang kaya, sama susahnya dengan kami. Makanya, aku juga enggak minta tolong sama saudaraku itu. Tapi ternyata dia udah jadi orang kaya sekarang." Melanie manggut-manggut, ia kembali menghadap depan. "Oh begitu, bagus deh. Tadinya kalau suadaramu belum membayarkan biaya operasi ibumu, aku akan membayarkannya. Aku ikut senang karna Ibumu dioperasi. Dengan begitu, kamu bisa fokus dengan tugasmu padaku setelah ini." Melaine tidak bohong. Ia akan melakukannya. Tujuannya semata supaya Raka tambah terikat padanya dan tak ada alasan untuk berbuat macam-macam. Raka yang mendengarnya tersenyum tipis. Mulai berpikir bahwa datangnya orang-orang yang mengulurkan tangan padanya saat ini karena keuntungan mata giok yang ia miliki. "Ngomong-ngomong... gimana orang tuamu? Apa kamu
Lampu merah di atas ruang operasi akhirnya padam setelah berjam-jam lamanya. Beberapa menit kemudian, pintu ruang operasi terbuka yang menampilkan sosok seorang dokter keluar dari dalam. Raka yang sejak tadi duduk tegang di kursi lorong dengan mata merah, rambut berantakan langsung berdiri dan bergegas menghampirinya. "Bagaimana, Dok? Apakah operasi Ibu saya berjalan lancar?" tanya Raka tak sabaran. Dokter itu melepas masker dan tersenyum tipis, "Operasi Ibu anda berjalan lancar." Mendengar itu, napas Raka seketika seperti kembali setelah ditahan berjam-jam. Pertama kalinya sejak pagi ketegangan di wajahnya sedikit menghilang. "Jantung donor merespons dengan baik, Mas. Sekarang pasien hanya perlu melewati masa." "Terima kasih, Dok…" suara Raka serak hampir seperti kehilangan tenaga. "Sama-sama." Tak lama kemudian, ranjang dorong keluar dari ruang operasi. Arumi terlihat pucat dengan berbagai alat medis terpasang, napasnya dibantu oksigen, dan matanya masih tertutup karena pe
Pagi itu, lorong rumah sakit sudah disibukan oleh perawat yang berlalu-lalang mendorong troli, suara langkah kaki dan roda tempat tidur bercampur dengan aroma antiseptik yang menusuk samar. Di saat ini, tampak Raka berdiri di depan meja administrasi dengan wajah tegang. Hari operasi transplantasi jantung Ibunya akhirnya tiba. Tentu saja Raka sangat bahagia dan lega. Tapi satu hal yang paling mengganggu pikirannya sejak awal hanyalah satu–yaitu biayanya. Sebenarnya, ketika ia sudah mendapatkan uang mukanya, ia tidak benar-benar bisa lega sebab masih ada sisa biaya yang jauh lebih besar. Uang muka itu belum seberapa. Satu nama langsung menjadi jawaban ketika ia memikirkan dari mana ia mendapatkan biaya operasi itu. Tak lain dan tak bukan adalah Melaine. Namun, Raka juga tidak yakin kalau Melaine akan memberikan uang dalam jumlah miliaran. Ia sudah mendapatkan bayaran pertama dari menjadi suami kontrak. Jemari Raka kini sedikit mengepal, rahangnya terkatup rapat. "Maaf… berapa tota
Pria tua bernama Jayasena itu berdiri tenang di tengah bias cahaya hijau seperti sosok yang tidak sepenuhnya berasal dari waktu yang sama. Tubuhnya tinggi dan kurus, rambutnya panjang berwarna putih keperakan diikat rendah di belakang kepala dengan tali sederhana. Pakainnya kuno jauh dari gaya modern. Ia mengenakan jubah panjang berlapis berwarna abu-abu yang sudah memudar oleh waktu. Kainnya tampak tebal dengan tekstur kasar seperti tenunan lama. Kakinya dibalut sepatu kain sederhana, model lama yang hampir tak pernah terlihat di zaman sekarang. Keseluruhan penampilannya seperti seseorang yang berjalan keluar dari masa lalu, bukan sekadar tua, tapi berasal dari era yang sudah lama hilang. Dan auranya benar-benar kuat. Seperti seseorang yang pernah memegang kekuatan besar. "Anda adalah leluhur mata giok?" tebak Raka. Jayasena tersenyum tipis, dagunya terangkat. "Bisa dibilang begitu," Raka termangu. Lalu ia memperhatikan ke sekeliling. Tempat apa ini? Apakah ia sedang bermimpi?
Tepat pada saat kelelakian Raka masuk sepenuhnya ke dalam, Raka langsung memaju mundurkan tongkat kayu miliknya. Raka bergerak dengan tergesa disertai napas berat seolah waktu terus menekan dari belakang. Tangannya menggenggam satu paha Melaine dengan kuat. Otot lengannya terlihat menegang, urat-u
Kamar hotel itu terasa seperti dunia yang terpisah dari hiruk-pikuk luar—sunyi, elegan, dan penuh kemewahan yang tidak berisik, tapi begitu terasa. Lantai marmer mengilap, lampu gantung kristal, dinding yang dihiasi panel kayu berwarna hangat dengan sentuhan emas, ranjang king-size dengan seprai p
Setelah pingsan beberapa menit lamanya, akhirnya Raka tersadar.Sembari mengingat pengkhianatan dan penderitaan yang baru saja dialaminya, ia mendadak kebingungan selagi memegang dada dan perutnya yang tidak terasa sakit lagi meski luka-lukanya masih ada. Juga merasa tubuhnya langsung pulih total.
“Ini yang kamu bilang selesai?!” Suara wanita itu begitu nyaring, sampai-sampai membuat Raka terkejut.Melanie, manajer divisi yang menaungi Raka, menatap intern itu dengan sorot mata menyala oleh amarah. Namun justru dalam ketegangan itu, sosoknya tampak semakin mencolok–kemeja putih yang membalu






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.