Kacamata Penakluk Wanita

Kacamata Penakluk Wanita

last updateLast Updated : 2026-04-09
By:  LincoolnUpdated just now
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
Not enough ratings
6Chapters
12views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Bima, mahasiswa tua menghadapi kesulitan dalam menyelesaikan perkuliahannya yang sudah di ambang batas. Apalagi, dia harus berurusan dengan Monica, dosen muda yang terkenal galak di balik kecantikannya, sebagai pembimbingnya. Sore itu, di tengah keresahan Bima karena lagi-lagi draft tugas akhirnya ditolak, dia menemukan sebuah kacamata misterius yang ada di motornya di parkiran. Bima iseng-iseng mengambil alat itu dan membawanya pulang. Keputusan itu ternyata mengubah hidupnya, tidak hanya memuaskan keinginan liarnya, tetapi juga memberi jalan keluar dari masalah tugas akhirnya karena telah menaklukkan dosen pembimbingnya yang cantik. Namun, tidak sampai di situ saja. Alat itu membuka berbagai skandal yang berkaitan dengan para wanita yang telah dia taklukkan.

View More

Chapter 1

1. Kacamata ajaib

"Ini sampah, Bima! Kamu mau lulus tahun ini atau nunggu sampai jenggotan di kampus ini?"

Suara dosenku, Monica melengking. Ia membanting bundel kertas revisiku ke atas meja.  Matanya menatapku tajam, dia bersandar di kursi kerjanya, menyilangkan kaki jenjangnya yang terbungkus rok span ketat. Gerakan itu membuat kancing kemeja putihnya yang nyaris tidak sanggup menahan beban dadanya merenggang.

"Maaf, Bu. Saya sudah berusaha memperbaiki bab tiganya sesuai arahan terakhir," kataku lirih.

Fokusku goyah. Celah sempit di antara kancing kemejanya memperlihatkan gumpalan daging putih mulus yang terjepit bra renda hitam.

Napasku mendadak berat. Monica memang singa betina, tapi kecantikannya di usia tiga puluh tahun ini benar-benar tidak masuk akal. Wajah ovalnya yang tanpa cela bersinar di bawah lampu ruangan.

"Berusaha? Ini namanya malas! Kalau dalam seminggu draf ini tidak berubah total, jangan harap aku mau tanda tangan." Monica mencondongkan tubuhnya ke depan, membuat belahan dadanya semakin terekspos jelas.

Suaranya meninggi, namun aku justru terhipnotis oleh pemandangan di depanku. Saat dia menggerutu, rambut hitam panjangnya yang diikat tinggi bergoyang, memamerkan tengkuknya yang putih mulus tanpa cela.

Ada sisa-sisa parfum vanila yang menguar dari sana, menusuk indra penciumanku. Aku menelan ludah, membayangkan bagaimana rasanya menelusuri garis leher itu dengan ujung lidahku.

"Bima! dengar tidak?!"

Brak!

Telapak tangannya menghantam meja dengan keras. Aku tersentak, bahuku mencuat ke atas karena terkejut. Lamunanku pecah seketika saat pandanganku dipaksa naik, bertemu langsung dengan mata Monica yang kini berkilat penuh amarah.

Napasnya memburu, membuat dadanya—yang tadi kuamati—naik turun dengan provokatif di balik blusnya.

"Apa yang kau lihat, hah?"

Suaranya kini merendah, berubah menjadi geraman yang jauh lebih menakutkan daripada teriakannya tadi.

Dia menyadari arah pandanganku. Wajah ovalnya yang cantik mengeras, bibir tipisnya yang dipulas lipstik merah padam bergetar menahan murka.

"Ma-maaf, Bu... saya hanya..."

"Sekali lagi kau bersikap seperti ini, kau tidak akan pernah lulus, Bima. Catat itu."

Dia menunjuk pintu keluar dengan telunjuknya yang lentik berhias kuku yang dicat merah mengkilap. Ketegasannya membuat nyaliku menciut hingga ke titik nol.

Bibirku gemetar, ingin mengucap permohonan maaf yang tulus, namun kata-kata itu tersangkut di tenggorokan. Dengan gerakan kikuk, aku bergegas memunguti kertas-kertas di lantai, memasukkannya sembarangan ke dalam tas, lalu melesat keluar dari ruang dosen tanpa berani menoleh lagi.

Langkah kakiku berderap berat di koridor kampus. Tubuhku yang besar dan cenderung tambun seringkali membuat mahasiswa lain menyingkir, bukan karena hormat, melainkan karena aku menghalangi jalan mereka.

Orang-orang hanya memandangku sebagai mahasiswa abadi yang tak punya masa depan, pengisi ruang yang keberadaannya sama sekali tidak diinginkan.

 Aku menghela napas panjang, mencoba membuang sesak yang menghimpit dada saat berjalan menuju area parkir. Matahari mulai condong ke barat, menyisakan semburat jingga yang muram di langit, sementara parkiran motor sudah mulai sepi.

Langkahku terhenti tepat di samping motor bebek bututku. Di atas jok hitam yang sudah mulai pecah-pecah itu, sebuah kotak hitam polos berbentuk persegi panjang tergeletak begitu saja. Warnanya yang senada dengan jok motor hampir membuatnya tidak terlihat jika aku tidak teliti.

Aku menoleh ke kiri dan ke kanan. Kosong. Hanya ada deretan motor yang tak bertuan di bawah bayang-bayang pohon besar. Siapa yang meninggalkan kotak sebagus ini di atas motorku? 

Aku berdiri mematung sambil menoleh ke kiri dan kanan. Tampaknya tidak ada seorang pun yang datang mencari barang ini. Rasa penasaran mengalahkan rasa takutku. Aku menyimpan kotak itu dan memasukkannya ke dalam tas, lalu bergegas berangkat karena gerimis mulai turun.

Sepanjang perjalanan pulang ke kosan, pikiranku berputar. Ada rasa bersalah yang mengambil barang yang bukan milikku, tapi ada dorongan di bawah alam sadarku untuk membawa alat itu pulang. 

Sesampainya di kamar kosan yang sempit, aku langsung mengunci pintu. Tas kulempar ke kasur, dan aku segera mengeluarkan kotak hitam tipis persegi itu.

Tidak sampai satu detik setelah aku meletakkan kotak itu di meja, tiba-tiba salah satu sisinya terbuka dan ternyata kotak ini berisi kacamata yang aneh. Bentuknya seperti kacamata klasik berbingkai emas, namun lensanya benar-benar hitam dan pekat.

Aku mengetuk dan mengamati lensa itu. Bentuknya hitam, tidak transparan seperti kacamata pada umumnya. Setelah melihat berbagai sisi dari kacamata itu, aku beranikan diri untuk mengenakannya.

Tiba-tiba, kegelapan total menyelimuti sesaat sebelum sebuah notifikasi berwarna merah menyala mulai berkedip-kedip di depan mataku.

Tulisan itu menggunakan bahasa Indonesia yang sangat formal.

Aku melepaskan kacamata itu, jantungku berdegup kencang. Ini bukan benda biasa. Ini seperti alat virtual yang canggih berbentuk kacamata. Lalu memakainya kembali.

Belum sempat aku mencerna kacamata milik siapa, sensasi aneh menjalar dari pangkal tengkorak ke seluruh tubuh. Rasanya seperti ditarik paksa melalui lubang sedotan yang sangat sempit. Pandanganku memutih selama tiga detik yang terasa seperti selamanya.

Saat mataku bisa fokus kembali, aku tidak lagi berada di kamar kosanku yang pengap. Aku berdiri di sebuah ruangan serba putih yang sangat luas tanpa ujung. Di depanku, berdiri seorang wanita yang kecantikannya membuat dosen cantiknya tadi pagi terlihat seperti orang biasa.

Wajahnya oriental dengan kulit seputih porselen. Rambut hitam pendeknya membingkai wajahnya dengan sempurna. Dia mengenakan pakaian ketat berwarna perak yang menonjolkan lekuk tubuhnya yang luar biasa—pinggang kecil dengan pinggul lebar dan dada yang sangat montok, hampir meledak dari balik kainnya.

Dia tersenyum padaku, "Terima kasih sudah menjadi pemilik kacamata pengendali. Silahkan menikmati... sepuas hati."

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
6 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status