LOGINSebuah kacamata teknologi tinggi mengubah hidup Bima, mahasiswa tingkat akhir yang hampir putus asa menjadi seorang penakluk wanita. Awalnya dia ingin memanfaatkan teknologi itu membuat Monica, dosen pembimbingnya yang cantik dan galak, tunduk kepadanya. Dia juga menjerat beberapa wanita dan mempermainkan mereka. Ternyata, kemampuannya itu malah membuka skandal busuk yang melibatkan para wanita yang telah dia taklukkan.
View More"Ini sampah, Bima! Kamu mau lulus tahun ini atau nunggu sampai jenggotan di kampus ini?"
Suara dosenku, Monica melengking. Ia membanting bundel kertas revisiku ke atas meja. Matanya menatapku tajam, dia bersandar di kursi kerjanya, menyilangkan kaki jenjangnya yang terbungkus rok span ketat. Gerakan itu membuat kancing kemeja putihnya yang nyaris tidak sanggup menahan beban dadanya merenggang."Maaf, Bu. Saya sudah berusaha memperbaiki bab tiganya sesuai arahan terakhir," kataku lirih.Fokusku goyah. Celah sempit di antara kancing kemejanya memperlihatkan gumpalan daging putih mulus yang terjepit bra renda hitam.Napasku mendadak berat. Monica memang singa betina, tapi kecantikannya di usia tiga puluh tahun ini benar-benar tidak masuk akal. Wajah ovalnya yang tanpa cela bersinar di bawah lampu ruangan."Berusaha? Ini namanya malas! Kalau dalam seminggu draf ini tidak berubah total, jangan harap aku mau tanda tangan." Monica mencondongkan tubuhnya ke depan, membuat belahan dadanya semakin terekspos jelas.Suaranya meninggi, namun aku justru terhipnotis oleh pemandangan di depanku. Saat dia menggerutu, rambut hitam panjangnya yang diikat tinggi bergoyang, memamerkan tengkuknya yang putih mulus tanpa cela.
Ada sisa-sisa parfum vanila yang menguar dari sana, menusuk indra penciumanku. Aku menelan ludah, membayangkan bagaimana rasanya menelusuri garis leher itu dengan ujung lidahku.
"Bima! dengar tidak?!"
Brak!
Telapak tangannya menghantam meja dengan keras. Aku tersentak, bahuku mencuat ke atas karena terkejut. Lamunanku pecah seketika saat pandanganku dipaksa naik, bertemu langsung dengan mata Monica yang kini berkilat penuh amarah.
Napasnya memburu, membuat dadanya—yang tadi kuamati—naik turun dengan provokatif di balik blusnya.
"Apa yang kau lihat, hah?"
Suaranya kini merendah, berubah menjadi geraman yang jauh lebih menakutkan daripada teriakannya tadi.
Dia menyadari arah pandanganku. Wajah ovalnya yang cantik mengeras, bibir tipisnya yang dipulas lipstik merah padam bergetar menahan murka.
"Ma-maaf, Bu... saya hanya..."
"Sekali lagi kau bersikap seperti ini, kau tidak akan pernah lulus, Bima. Catat itu."
Dia menunjuk pintu keluar dengan telunjuknya yang lentik berhias kuku yang dicat merah mengkilap. Ketegasannya membuat nyaliku menciut hingga ke titik nol.
Bibirku gemetar, ingin mengucap permohonan maaf yang tulus, namun kata-kata itu tersangkut di tenggorokan. Dengan gerakan kikuk, aku bergegas memunguti kertas-kertas di lantai, memasukkannya sembarangan ke dalam tas, lalu melesat keluar dari ruang dosen tanpa berani menoleh lagi.
Langkah kakiku berderap berat di koridor kampus. Tubuhku yang besar dan cenderung tambun seringkali membuat mahasiswa lain menyingkir, bukan karena hormat, melainkan karena aku menghalangi jalan mereka.
Orang-orang hanya memandangku sebagai mahasiswa abadi yang tak punya masa depan, pengisi ruang yang keberadaannya sama sekali tidak diinginkan.
Aku menghela napas panjang, mencoba membuang sesak yang menghimpit dada saat berjalan menuju area parkir. Matahari mulai condong ke barat, menyisakan semburat jingga yang muram di langit, sementara parkiran motor sudah mulai sepi.
Langkahku terhenti tepat di samping motor bebek bututku. Di atas jok hitam yang sudah mulai pecah-pecah itu, sebuah kotak hitam polos berbentuk persegi panjang tergeletak begitu saja. Warnanya yang senada dengan jok motor hampir membuatnya tidak terlihat jika aku tidak teliti.
Aku menoleh ke kiri dan ke kanan. Kosong. Hanya ada deretan motor yang tak bertuan di bawah bayang-bayang pohon besar. Siapa yang meninggalkan kotak sebagus ini di atas motorku?
Aku berdiri mematung sambil menoleh ke kiri dan kanan. Tampaknya tidak ada seorang pun yang datang mencari barang ini. Rasa penasaran mengalahkan rasa takutku. Aku menyimpan kotak itu dan memasukkannya ke dalam tas, lalu bergegas berangkat karena gerimis mulai turun.
Sepanjang perjalanan pulang ke kosan, pikiranku berputar. Ada rasa bersalah yang mengambil barang yang bukan milikku, tapi ada dorongan di bawah alam sadarku untuk membawa alat itu pulang.
Sesampainya di kamar kosan yang sempit, aku langsung mengunci pintu. Tas kulempar ke kasur, dan aku segera mengeluarkan kotak hitam tipis persegi itu.
Tidak sampai satu detik setelah aku meletakkan kotak itu di meja, tiba-tiba salah satu sisinya terbuka dan ternyata kotak ini berisi kacamata yang aneh. Bentuknya seperti kacamata klasik berbingkai emas, namun lensanya benar-benar hitam dan pekat.
Aku mengetuk dan mengamati lensa itu. Bentuknya hitam, tidak transparan seperti kacamata pada umumnya. Setelah melihat berbagai sisi dari kacamata itu, aku beranikan diri untuk mengenakannya.
Tiba-tiba, kegelapan total menyelimuti sesaat sebelum sebuah notifikasi berwarna merah menyala mulai berkedip-kedip di depan mataku.
Tulisan itu menggunakan bahasa Indonesia yang sangat formal.
Aku melepaskan kacamata itu, jantungku berdegup kencang. Ini bukan benda biasa. Ini seperti alat virtual yang canggih berbentuk kacamata. Lalu memakainya kembali.
Belum sempat aku mencerna kacamata milik siapa, sensasi aneh menjalar dari pangkal tengkorak ke seluruh tubuh. Rasanya seperti ditarik paksa melalui lubang sedotan yang sangat sempit. Pandanganku memutih selama tiga detik yang terasa seperti selamanya.
Saat mataku bisa fokus kembali, aku tidak lagi berada di kamar kosanku yang pengap. Aku berdiri di sebuah ruangan serba putih yang sangat luas tanpa ujung. Di depanku, berdiri seorang wanita yang kecantikannya membuat dosen cantiknya tadi pagi terlihat seperti orang biasa.
Wajahnya oriental dengan kulit seputih porselen. Rambut hitam pendeknya membingkai wajahnya dengan sempurna. Dia mengenakan pakaian ketat berwarna perak yang menonjolkan lekuk tubuhnya yang luar biasa—pinggang kecil dengan pinggul lebar dan dada yang sangat montok, hampir meledak dari balik kainnya.
Dia tersenyum padaku, "Terima kasih sudah menjadi pemilik kacamata pengendali. Silahkan menikmati... sepuas hati."
Dengkur kasar yang saling bersahutan memecah keheningan malam di ruangan kayu yang pengap itu. Kelima preman itu tumbang bergelimpangan di atas lantai papan kusam, tertidur pulas dengan sisa-sisa keringat dan kepuasan yang menguap dari tubuh kekar mereka.Di tengah-tengah lingkaran daging itu, Iis terkapar pasrah dengan tubuh polos yang dipenuhi bercak putih yang perlahan mengering. Aku mengusap daguku, menikmati pemandangan kacau itu dari dekat dengan kemampuan kacamata ini."Bangun, Iis. Cukup main-mainnya untuk malam ini."Sentuhan tidak kasat mata dari sistem monitor menepuk lembut pipinya yang merona merah. Iis tersentak kecil, kelopak matanya yang sayu terbuka perlahan, menatap hampa ke langit-langit langit ruangan."Tuan Bima... hhh... tubuhku rasanya remuk...""Cepat pakai pakaianmu sebelum binatang-binatang itu terbangun dan menggunakan seluruh lubang tubuhmu lagi sampai pagi."Iis mengangguk lemah. Dia menyeret tubuhnya yang gemetar, merangkak di antara kaki-kaki kokoh para
Pintu gerbong KRL terbuka dengan desisan hidrolik yang berat di Stasiun Manggarai. Arus penumpang yang tak sabar meluap keluar, namun Iis tetap bergeming di pelukan Jarwo. Tubuhnya lunglai, seolah tulangnya telah berubah menjadi bubur akibat rentetan klimaks yang menghantam sarafnya sepanjang perjalanan dari Bogor. Keringat membasahi pelipisnya, helai-helai rambut menempel di pipinya yang merona merah padam. "Ayo, Neng. Jangan manja di sini. Kita sudah sampai di rumah baru kamu." Jarwo menyeringai, lengannya yang kekar melingkari pinggang Iis dengan paksa. Dia praktis menyeret wanita itu keluar dari kereta. Jaket bomber hitam Iis tersingkap, memamerkan perut bawahnya yang putih dan sisa-sisa bercak basah di rok tipisnya yang kini berantakan. "Lemas... Mas Jarwo... tolong..." "Tahan sebentar. Teman-teman saya sudah lapar melihat kamu seperti ini." Empat anak buah Jarwo membuat barikade di sekeliling mereka, memasang wajah bengis yang membuat penumpang lain buru-buru menying
Kereta Commuter Line tujuan Jakarta Kota itu tersentak hebat saat meninggalkan peron Stasiun Bogor. Tubuh-tubuh manusia di dalamnya terayun mengikuti hukum inersia, saling bertumbukan tanpa permisi. Iis terlempar ke depan, dadanya yang hanya terbalut jaket bomber tipis menghantam dada bidang Jarwo yang sekeras papan kayu. Bau keringat masam dan tembakau murah dari kaus Jarwo menyengat indra penciumannya, namun sistem di dalam tubuh Iis mengubah rasa mual itu menjadi lonjakan adrenalin yang memabukkan. "Eits, hati-hati, Neng. Licin ya lantainya? Sini, Mas Jarwo pegangin biar nggak jatuh lagi." Jarwo tidak sekadar memegang. Lengan besarnya yang dipenuhi tato ular itu melingkar di pinggang Iis, menariknya begitu rapat hingga tak ada celah udara di antara mereka. Di belakang Iis, salah satu anak buah Jarwo yang berambut jabrik menempelkan tubuhnya dengan sengaja. Iis merasa terjepit di antara dua gunung daging yang panas. "Mas... sesak... tolong jangan terlalu rapat..." "Sesak itu e
"Sekarang, keluar. Jangan biarkan mereka menunggu pemandangan indah ini lebih lama lagi."Iis mengembuskan napas panjang yang gemetar, membuat jaket bomber hitamnya sedikit mengembang sebelum mengempis kembali di atas dadanya yang polos. Jemarinya yang dingin menarik gagang pintu bilik toilet dengan gerakan ragu, lalu dia melangkah keluar yang mulai ramai.Indikator virtual berwarna merah menyala berkedip tepat di atas kepalanya, angkanya tertancap di level maksimal. Gairahnya sudah mendidih, dipicu oleh kesadaran bahwa dia tidak mengenakan apa pun di balik kain tipis itu."Tuan... rasanya sangat dingin... dan terbuka... Aku merasa semua orang bisa melihat menembus pakaianku.""Itu karena kau memang sedang terbuka, Iis. Anggap saja ini panggungmu. Teruslah berjalan."Lantai stasiun Bogor yang kusam berderit di bawah sepatunya. Sore itu, udara terasa pengap oleh ribuan manusia yang berdesakan pulang ke arah Jakarta.Iis berjalan perlahan melewati gerbang tapping elektronik, mencoba tet
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.