LOGINKendi Sulistyo hanyalah seorang pelayan hotel biasa, sampai aroma Black Opium perpaduan kopi pekat dan vanila yang memabukkan—menjerat kewarasannya. Nyonya Mery, sang predator berwajah malaikat, menyeretnya ke dalam kamar 1202, bukan untuk sebuah pelayanan kamar biasa, melainkan untuk sebuah skandal berdarah yang mengubah hidupnya dalam satu malam. Saat jasad suami Mery ditemukan tak bernyawa dengan sisa racun di gelas anggur, Kendi menyadari satu hal : dia bukan kekasih, melainkan kambing hitam yang sudah dipersiapkan dengan rapi. Terjepit di antara ancaman algojo penjara dan pengkhianatan dingin Mery, Kendi terpaksa melarikan diri ke dinginnya kota Bandung demi satu rahasia yang lebih mematikan daripada pembunuhan itu sendiri—seorang "anak" yang identitasnya bisa menghancurkan dinasti keluarga Waluyo. Di bawah kabut Lembang yang mencekam, Kendi harus memilih : membalas dendam dengan peluru di tangan, atau kembali menyerah pada sentuhan sensual sang Nyonya yang ternyata menyimpan belati di balik punggungnya. Namun, saat sebuah kancing manset berdarah ditemukan di saku seragamnya, Kendi tersadar—permainan ini baru saja dimulai, dan nyawa orang tuanya adalah taruhan terakhir. Siapakah yang akan bertahan saat rahasia paling kelam terkuak di balik aroma vanila yang mematikan?
View MoreSuara derap sepatu lars yang menghantam matras latihan bergemuruh di ruang kebugaran markas bawah tanah. Udara terasa panas dan pengap, dipenuhi aroma keringat segar yang bercampur dengan bau karet matras yang pekat. Aku melompat, menghindari ayunan balok kayu, lalu melancarkan pukulan beruntun ke arah kantong tinju berat hingga rantai penyangganya berderit nyaring.Latihan fisik intensif ini adalah harga yang harus dibayar untuk mengembalikan otot-ototku yang sempat membeku selama berminggu-minggu di ruang ICU.Di sudut ruangan yang lain, Mery berkonsentrasi penuh di atas matras yoga berwarna biru gelap. Dengan napas teratur yang berhembus lembut, ia melatih keseimbangan kakinya, meregangkan otot-otot yang lama lumpuh, serta menenangkan batinnya melalui meditasi ringan. Suara gesekan kulit telapak kakinya dengan matras terdengar selaras dengan detak jantungnya.Setiap orang di markas ini memiliki cara sendiri untuk bersiap menghadapi badai berikutnya. Kenzo berdiri bersidekap di d
Jep... jep... jep...Suara desis tumpul yang memecah kesunyian malam itu bukan berasal dari alat medis, melainkan dari ujung laras pistol berperedam yang menyalak tiga kali berturut-turut. Cairan hitam di dalam jarum suntik yang tadinya dipegang oleh sosok berjubah hitam itu tumpah berantakan ke lantai linoleum putih, berpadu dengan cipratan darah segar begitu peluru menembus bahu kanannya.Sosok penyusup itu terpekik tertahan, menjatuhkan jarum suntik ke lantai sebelum tubuhnya terhuyung ke belakang dan tersungkur di samping ranjangku.Dari balik tirai kaca ICU yang terbuka, Dira berdiri tegak dengan napas memburu. Asap tipis masih mengepul dari moncong pistol Glock berperedam di tangan kanannya. Bau mesiu yang tajam langsung menguar, memotong aroma antiseptik ruangan. Wanita itu bergerak cepat, menendang pisau yang hendak ditarik si penyusup, lalu menindih punggung pria itu dengan lututnya sambil memborgol kedua tangannya ke belakang.Pintu kamar mendadak terbuka lebar. Kenzo berl
Di dalam kepekatan malam bawah sadar yang panjang, batinku terombang-ambing di antara batas kesadaran dan ketiadaan. Bau tanah basah sehabis hujan, aroma daun pinus yang menguap disengat matahari pagi, dan hembusan angin pegunungan yang sejuk tiba-tiba menyeruak tajam di indra penciumanku. Aku tidak lagi merasa sakit. Aku kembali menjadi anak remaja di perkampungan asri Cianjur, berlari kencang menyusuri jalan setapak berlumpur bersama Kenzo.Tawa kami berderai di antara rimbunnya belukar hutan bambu. Kami memegang senapan angin mainan, berpetualang menembus semak belukar demi mencari jejak burung liar, hingga sore harinya pelipis kami berdarah kecil akibat berbenturan saat berlatih jurus dasar Kundalini di halaman padepokan di bawah pengawasan Abah Usman yang memegang sebilah rotan. Suara benturan kaki di atas tanah liat, debu yang mengepul, dan rasa lelah yang membakar otot-otot remaja terasa begitu hidup.Lalu, ilusi itu mendadak patah. Dalam bayangan mimpi itu, aku terpeleset di
Suara lengkingan mesin monitor electrocardiogram menggema tajam, memecah kesunyian ruang ICU yang steril. Bunyi beep yang tadinya berirama teratur kini berubah menjadi satu nada panjang yang memekakkan telinga."Kendi !" seru Kenzo tertahan.Tanpa membuang waktu, Kenzo melompati batas kaca pengaman yang pintunya baru saja dibuka paksa. Langkah kakinya berderap cepat di atas lantai linoleum putih. Ia langsung menghampiri ranjang, mendapati tubuhku melengkung ke atas akibat kejang hebat, sementara cairan darah segar merembes keluar dari sudut bibir, mengotori masker oksigen transparan.Bau amis darah bercampur dengan aroma tajam cairan disinfektan mendadak memenuhi udara ruangan sempit itu."Dokter ! Suster ! Cepat kemari !" teriak Kenzo dengan suara bariton yang bergetar keras, tangannya mencengkeram pagar pengaman ranjang hingga buku-buku jarinya memutih.Dalam hitungan detik, tim medis berjas putih menerobos masuk. Suara sepatu bergesekan dengan lantai terdengar ricuh. Seorang dok
Dingin yang mematikan langsung menyergap setiap inci kulitku. Air laut yang asin menusuk luka tembak di bahu dan kakiku seperti ribuan jarum yang dipanaskan. Suara rentetan tembakan dari dermaga terdengar meredam di bawah permukaan, berubah menjadi bunyi “plung... plung…”yang aneh saat peluru-pel
Hening yang tercipta setelah ledakan itu terasa lebih memekakkan telinga daripada bunyi bom itu sendiri.Asap kelabu yang berbau belerang dan plastik terbakar merayap rendah di atas lantai gudang yang retak. Aku berdiri mematung, ponsel di tanganku masih terasa panas, sementara suara tawa pria di
Dunia tidak menjadi gelap. Dunia menjadi merah.Suara tembakan itu bukan dentuman, melainkan serangkaian letupan tajam yang merobek udara, seperti suara cambuk yang melecut tepat di samping telingaku.Aku tidak merasakan sakit, hanya dorongan kuat yang melempar tubuhku ke belakang.Punggungku mengh
Darah berdesir di pelipisku, seirama dengan detak jarum jam imajiner yang menghitung mundur sisa nyawaku.Di koridor penjara yang gelap, bau mesiu sisa tembakan peringatan dari kejauhan mulai bercampur dengan aroma amis dari dinding lembab.Pistol di tanganku terasa berat dan asing, namun tekstur p






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore