LOGINKendi Sulistyo hanyalah seorang pelayan hotel biasa, sampai aroma Black Opium perpaduan kopi pekat dan vanila yang memabukkan—menjerat kewarasannya. Nyonya Mery, sang predator berwajah malaikat, menyeretnya ke dalam kamar 1202, bukan untuk sebuah pelayanan kamar biasa, melainkan untuk sebuah skandal berdarah yang mengubah hidupnya dalam satu malam. Saat jasad suami Mery ditemukan tak bernyawa dengan sisa racun di gelas anggur, Kendi menyadari satu hal : dia bukan kekasih, melainkan kambing hitam yang sudah dipersiapkan dengan rapi. Terjepit di antara ancaman algojo penjara dan pengkhianatan dingin Mery, Kendi terpaksa melarikan diri ke dinginnya kota Bandung demi satu rahasia yang lebih mematikan daripada pembunuhan itu sendiri—seorang "anak" yang identitasnya bisa menghancurkan dinasti keluarga Waluyo. Di bawah kabut Lembang yang mencekam, Kendi harus memilih : membalas dendam dengan peluru di tangan, atau kembali menyerah pada sentuhan sensual sang Nyonya yang ternyata menyimpan belati di balik punggungnya. Namun, saat sebuah kancing manset berdarah ditemukan di saku seragamnya, Kendi tersadar—permainan ini baru saja dimulai, dan nyawa orang tuanya adalah taruhan terakhir. Siapakah yang akan bertahan saat rahasia paling kelam terkuak di balik aroma vanila yang mematikan?
View MorePilar cahaya putih dari satelit pemusnah berputar liar, mendesis panas dan membakar pasir pantai hingga mencair menjadi kaca pijar. Suhu udara melonjak drastis dalam hitungan detik, membuat kulit terasa melepuh dan bau ozon serta sulfur pekat memenuhi setiap jengkal ruang pernapasan.Di tengah kekacauan itu, Darius menyeringai lebar di balik kilau cahaya satelit, tangannya yang memegang pemicu darurat bergetar penuh amarah. "Jika aku mati di sini, kalian semua ikut terkubur di dalam abu pulau ini!" teriaknya histeris, bersiap menekan tombol eksekusi akhir.Kenzo, Davina, dan Jacky terlempar oleh gelombang panas satelit, berdarah-darah di balik batu karang. Aku mencoba melangkah maju, namun aliran Kundalini di tubuhku mendadak terkuras habis setelah hantaman besar sebelumnya. Kakiku terasa berat, terpaku di atas pasir yang membara.Tiba-tiba, sesosok bayangan melesat cepat melewati sisiku.Mery.Wanita itu berlari dengan sisa-sisa tenaga terakhirnya. Selimut tipis yang tadi membalut
Desau bilah rotor helikopter tempur The Eclipse menghantam gendang telinga dengan kekuatan brutal, menciptakan badai angin buatan yang menerbangkan butiran pasir hitam dan menghantam tubuh kami tanpa ampun.Bau bahan bakar avtur yang pekat bercampur dengan aroma garam laut yang asin, menyesakkan dada di setiap tarikan napas.Di tengah badai angin itu, sorotan lampu laser hijau dari bawah lambung helikopter mendarat tepat di dadaku, memancarkan titik bidik kematian yang dikunci oleh sistem penembak jitu otomatis."Kendi, awas!" teriak Kenzo di tengah deru angin, melompat menerjang dan mendorong tubuhku ke balik gundukan karang tajam sesaat sebelum rentetan peluru senapan mesin berat gatling gun dari helikopter memberondong tanah tempat kami berdiri tadi.BZZZ-TRRR-BOOM !Pasir pantai meledak hebat, menghamburkan serpihan batu karang dan debu panas yang menghujani punggung kami. Panas ledakan peluru kaliber besar itu bahkan terasa menyengat kulit. Di dekat kami, Davina dan Jacky berlin
Decitan mesin perahu yang melambat berpadu dengan deburan ombak kecil yang memecah karang. Bau amis air laut, aroma mesiu yang mengering di ujung laras senjata, dan bau keringat dingin bercampur menjadi satu di udara malam yang menusuk tulang.Di hadapan kami, garis pantai tersembunyi itu mendadak terang benderang. Tiga buah lampu sorot militer raksasa yang dipasang di atas truk taktis menyala serentak, menghujam tajam dan menyilaukan mata kami seketika.Silau. Aku menyipitkan mata, mengangkat tangan untuk menutupi wajah dari sorotan lampu yang menusuk retina.Di sepanjang bibir pantai berpasir hitam itu, puluhan anggota pasukan elite The Eclipse berpakaian serba hitam berdiri tegap. Laras senapan serbu mereka terarah lurus ke arah perahu kami tanpa celah.Dan di tengah-tengah barisan itu, berdiri sesosok pria dengan setelan jas gelap rapi namun berbalut rompi taktis berat. Lengan kanannya berlapis baja nirkarat mengilap yang memantulkan cahaya lampu sorot. Senyum tipis yang dingin
Bau garam laut dan sisa mesiu yang mengering di kulit berpadu dengan udara malam yang dingin menusuk tulang.Di tengah geladak perahu motor yang melaju membelah ombak gelap, cahaya lampu navigasi yang berpendar kemerahan menyoroti wajah-wajah kami yang tegang.Davina berdiri tegak di dekat konsol kemudi, jari-jarinya yang terbalut sarung tangan taktis menggenggam erat perangkat pelacak mikro berukuran koin yang masih berkedip merah lemah.Pantulan cahaya merah itu memancar di mata dinginnya, menatap tajam ke arah kami satu persatu."Tidak ada orang luar yang bisa menyelundupkan benda ini ke dalam tas darurat kita kecuali orang yang berada di dalam markas saat evakuasi," suara Davina memecah deru mesin perahu, terdengar tajam dan menusuk. "Dan tas ini... berada dalam pengawasan eksklusif sebelum kita naik ke perahu."Suasana di atas perahu mendadak membeku. Jacky, yang memegang kemudi, melirik sekilas lewat spion kecil, sementara Kenzo menyipitkan mata, tangannya secara perlahan berges
Dingin yang mematikan langsung menyergap setiap inci kulitku. Air laut yang asin menusuk luka tembak di bahu dan kakiku seperti ribuan jarum yang dipanaskan. Suara rentetan tembakan dari dermaga terdengar meredam di bawah permukaan, berubah menjadi bunyi “plung... plung…”yang aneh saat peluru-pel
Hening yang tercipta setelah ledakan itu terasa lebih memekakkan telinga daripada bunyi bom itu sendiri.Asap kelabu yang berbau belerang dan plastik terbakar merayap rendah di atas lantai gudang yang retak. Aku berdiri mematung, ponsel di tanganku masih terasa panas, sementara suara tawa pria di
Lampu neon di langit-langit ruang interogasi berkedip dengan bunyi dengung yang menyebalkan, laksana lalat hijau yang berputar di atas bangkai. Cahayanya yang putih pucat menusuk mataku, membuat bayangan Siska Pratiwi yang berdiri di sudut ruangan tampak seperti siluet iblis yang sedang berpesta.
Lantai marmer lobi Grand Mahakam berkilat seperti cermin, memantulkan sosokku yang sedang berlutut. Bau kafein yang hangus menyerbu indra penciumanku, bercampur dengan aroma pembersih lantai kimiawi yang tajam. Di hadapanku, sepasang sepatu hak tinggi berwarna merah menyala berdiri dengan angkuh.






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore