LOGINKendi Sulistyo hanyalah seorang pelayan hotel biasa, sampai aroma Black Opium perpaduan kopi pekat dan vanila yang memabukkan—menjerat kewarasannya. Nyonya Mery, sang predator berwajah malaikat, menyeretnya ke dalam kamar 1202, bukan untuk sebuah pelayanan kamar biasa, melainkan untuk sebuah skandal berdarah yang mengubah hidupnya dalam satu malam. Saat jasad suami Mery ditemukan tak bernyawa dengan sisa racun di gelas anggur, Kendi menyadari satu hal : dia bukan kekasih, melainkan kambing hitam yang sudah dipersiapkan dengan rapi. Terjepit di antara ancaman algojo penjara dan pengkhianatan dingin Mery, Kendi terpaksa melarikan diri ke dinginnya kota Bandung demi satu rahasia yang lebih mematikan daripada pembunuhan itu sendiri—seorang "anak" yang identitasnya bisa menghancurkan dinasti keluarga Waluyo. Di bawah kabut Lembang yang mencekam, Kendi harus memilih : membalas dendam dengan peluru di tangan, atau kembali menyerah pada sentuhan sensual sang Nyonya yang ternyata menyimpan belati di balik punggungnya. Namun, saat sebuah kancing manset berdarah ditemukan di saku seragamnya, Kendi tersadar—permainan ini baru saja dimulai, dan nyawa orang tuanya adalah taruhan terakhir. Siapakah yang akan bertahan saat rahasia paling kelam terkuak di balik aroma vanila yang mematikan?
View MoreKRAAAKK !Jalur retakan berbentuk jaring laba-laba merayap cepat di sepanjang dinding kaca tebal koridor bawah laut.Di luar sana, kegelapan Sektor Utara yang pekat bergolak hebat, ditekan oleh hantaman tubuh monster klon Alfa raksasa berwajah diriku yang terus menghantamkan tinju bajunya. Air laut sedingin es mulai menyembur keluar dari celah-celah mikro, membawa aroma asin garam dan ganggang busuk yang seketika merusak hangatnya uap nitrogen di dalam ruangan."Mery, merunduk!" raungku.Aku melompat, menyambar pinggang Mery Sumitro tepat saat satu hantaman masif dari luar menghancurkan panel kaca bagian atas. PYARRR ! Serpihan kristal tajam beterbangan laksana badai pisau, menggores punggung jaket kulitku hingga robek.Air laut yang membekukan saraf langsung menumpahi lantai beton, merendam sepatu taktis kami hingga setinggi mata kaki. Di sela kepanikan itu, aroma manis Black Opium dari ceruk leher Mery yang basah kuyup terasa kian benderang, menjadi satu-satunya kompas waras di
Uap dingin nitrogen yang mengalir dari lorong fasilitas bawah tanah menyapu dermaga tua, membawa aroma tajam amonia dan zat pengawet organik yang mencekik tenggorokan. Di bawah langit Sektor Utara yang kelabu, raga Mery Bramantyo—atau yang kini harus kuingat kembali sebagai Mery Sumitro—membeku seketika.Aroma manis Black Opium dari tubuh Mery yang hangat mendadak menguap, kalah oleh wewangian klasik lavender kering yang sangat pekat dari arah wanita bergaun sutra ungu di depan kami. Nyonya Merlin Sumitro."Ibu..." bisik Mery, suaranya bergetar halus, sebilah rasa perih yang terpendam belasan tahun mendadak retak di dalam bola matanya yang berkaca-kaca.Merlin Sumitro menghentikan langkahnya di atas beton dermaga yang basah. Jemari lentiknya yang dihiasi cincin berlian hitam mengetuk pipa rokok perak, mengembuskan asap tipis yang berbau tembakau mentol mahal. Wajah paruh bayanya yang masih kencang menatap Mery tanpa riak emosi, sedingin dinding baja laboratorium di belakangnya."Kau
KREEEAAAK !Suara besi kabin yang melesak ke dalam terdengar begitu memilukan di tengah deru mesin helikopter yang kian sekarat.Melalui kaca kokpit yang mulai retak seribu dan berembun oleh uap laut, aku bisa melihat dengan jelas sosok yang berdiri tegak menantang angin di atas sana. Pria itu bertubuh kekar, mengenakan celana taktis robek-robek tanpa atasan, membiarkan kulit dadanya yang sewarna perunggu diterpa gerimis dingin Sektor Utara.Tato angka 08 di lehernya berdenyut merah seiring otot-otot lengannya yang mengeras bagai beton, menahan laju putaran bilah baja baling-baling hanya dengan cengkeraman tangan kosong. Namun, yang membuat jantungku berdesir bukanlah kekuatan monster itu, melainkan rahang tegas dan struktur wajahnya."Jacky..." desis Kenzo asli di sampingku.Suara Kenzo mendadak tercekat, kehilangan bariton taktisnya. Sepasang mata Kenzo melebar, menatap nanar pada sosok di balik kaca. Itu Sersan Jacky. Mantan rekan satu tim Kenzo di unit elit komando militer, pri
Deru baling-baling helikopter taktis Jenderal Yudha bergetar parah, memotong pekatnya kabut kelabu di atas perairan Sektor Utara. Di dalam kabin yang pengap dan berbau tajam solar bocor, atmosfer terasa membeku. Udara dingin laut merembes masuk melalui celah pintu baja yang penyok, membawa aroma garam dan karat yang menusuk lubang hidung. Di sudut kabin, Kenzo asli duduk bersandar pada dinding kompartemen senjata. Sepasang mata hitamnya menatap kosong ke arah lantai besi yang bergetar. Jemari kekarnya yang dipenuhi kapalan latihan mendadak mencengkeram erat laras senapan taktis di pangkuannya. Buku-buku jarinya memutih, dan keringat dingin mulai membasahi dahi tegapnya, bukan karena takut pada puluhan drone The Eclipse yang mengejar di belakang, melainkan karena hantaman memori kelam yang mendadak bangkit dari dasar otaknya setelah mendengar nama organisasi itu. "Kenzo," panggilku, suaraku parau di sela bising mesin. Aku bisa merasakan ketegangan yang tidak biasa dari rag
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore