Bermain Api Dengan Nyonya

Bermain Api Dengan Nyonya

last updateLast Updated : 2026-06-11
By:  R-One ChannelzUpdated just now
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
10
6 ratings. 6 reviews
85Chapters
1.1Kviews
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Kendi Sulistyo hanyalah seorang pelayan hotel biasa, sampai aroma Black Opium perpaduan kopi pekat dan vanila yang memabukkan—menjerat kewarasannya. Nyonya Mery, sang predator berwajah malaikat, menyeretnya ke dalam kamar 1202, bukan untuk sebuah pelayanan kamar biasa, melainkan untuk sebuah skandal berdarah yang mengubah hidupnya dalam satu malam. Saat jasad suami Mery ditemukan tak bernyawa dengan sisa racun di gelas anggur, Kendi menyadari satu hal : dia bukan kekasih, melainkan kambing hitam yang sudah dipersiapkan dengan rapi. Terjepit di antara ancaman algojo penjara dan pengkhianatan dingin Mery, Kendi terpaksa melarikan diri ke dinginnya kota Bandung demi satu rahasia yang lebih mematikan daripada pembunuhan itu sendiri—seorang "anak" yang identitasnya bisa menghancurkan dinasti keluarga Waluyo. Di bawah kabut Lembang yang mencekam, Kendi harus memilih : membalas dendam dengan peluru di tangan, atau kembali menyerah pada sentuhan sensual sang Nyonya yang ternyata menyimpan belati di balik punggungnya. Namun, saat sebuah kancing manset berdarah ditemukan di saku seragamnya, Kendi tersadar—permainan ini baru saja dimulai, dan nyawa orang tuanya adalah taruhan terakhir. Siapakah yang akan bertahan saat rahasia paling kelam terkuak di balik aroma vanila yang mematikan?

View More

Chapter 1

Bab 1 : Kamar 1202 Sang Predator & Mangsa

Lantai marmer lobi Grand Mahakam berkilat seperti cermin, memantulkan sosokku yang sedang berlutut.

Bau kafein yang hangus menyerbu indra penciumanku, bercampur dengan aroma pembersih lantai kimiawi yang tajam.

Di hadapanku, sepasang sepatu hak tinggi berwarna merah menyala berdiri dengan angkuh.

"Kau punya mata tidak, Kendi? Sepatu ini harganya lebih mahal dari gajimu setahun!"

Suara melengking Siska Pratiwi menusuk telingaku. Aku bisa merasakan tatapan tajamnya dari balik riasan wajah yang tebal dan sempurna.

Siska, manajer yang selalu ingin terlihat berkuasa, sengaja menjatuhkan cangkir kopinya tepat saat aku melintas.

Aku tidak menjawab. Aku justru menikmati momen ini. Dengan gerakan tenang, aku menyeka noda hitam di sepatunya menggunakan sapu tangan sutra milikku sendiri—bukan serbet hotel.

Aroma “woody” yang mahal dari tubuhku menguar, sengaja kubiarkan menyentuh indranya.

Aku mendongak sedikit, memberikan tatapan yang dalam dan tenang, jenis tatapan yang biasanya membuat wanita seperti Siska merasa tidak nyaman sekaligus penasaran.

"Sudah bersih, Bu Siska. Lain kali, perhatikan langkah Anda. Marmer ini sangat licin untuk orang yang terburu-buru mengejar jabatan," ucapku pelan, nyaris berbisik.

Aku berdiri tegak, memamerkan tinggi badanku yang mencapai 182 cm, membuat Siska harus mendongak untuk menatapku.

Wajah Siska memerah. Rahangnya mengeras. Dia membenci caraku menatapnya—seolah aku tahu dia baru saja menerima suap dari supplier pagi tadi. Sebelum dia sempat memaki lagi, pintu putar hotel berputar. Udara dingin dari luar menyeruak masuk, membawa aroma yang sangat berbeda.

Black Opium

Pekat, manis vanila yang gelap, dan sangat berbahaya. Aku tidak perlu menoleh untuk tahu siapa yang datang. Maryam, atau yang lebih dikenal sebagai Mery Waluyo, melangkah masuk.

Anggun dalam balutan gaun midi sutra berwarna krem yang tertutup rapat hingga leher, namun memeluk lekuk tubuhnya dengan sempurna.

Di jarinya, sebuah berlian besar berkilau, memantulkan cahaya lampu kristal lobi.

Siska seketika mengubah wajahnya.

Senyum palsu yang menjijikkan terkembang. "Nyonya Mery! Selamat datang kembali. Mari, saya antar ke—"

"Kendi saja," potong Mery. Suaranya lembut seperti beludru, namun memiliki daya tekan yang tak terlihat.

Dia menatapku. Matanya yang polos seolah meminta perlindungan, namun aku menangkap kilatan adrenalin di balik pupilnya.

"Bawa koperku ke kamar 1202. Sekarang."

Aku membungkuk sopan, mengabaikan Siska yang berdiri mematung dengan wajah terhina.

Saat aku mengambil koper perak milik Mery, beban berat di dalamnya membuat otot lenganku menegang. Ini bukan berisi baju. Ini terlalu solid.

Kami berjalan menuju lift. Langkah sepatu hak tingginya berirama di atas lantai sunyi koridor menuju lift pribadi. Begitu pintu lift tertutup, suasana mendadak berubah.

Ruang sempit itu dipenuhi aroma parfumnya yang memabukkan. Mery berdiri tepat di sampingku, tangannya yang halus menyentuh lengan seragamku.

"Aku tahu apa yang kau lakukan pada istri-istri bos di hotel ini, Kendi," bisiknya. Napasnya terasa hangat di dekat telingaku.

"Tapi kau harus tahu, suamiku bukan pria yang suka berbagi propertinya."

Aku menoleh perlahan, menyunggingkan senyum sinis yang selama ini kusembunyikan di balik seragam “bellboy”. "Anda memilih saya karena Anda ingin berbagi, atau karena Anda ingin saya mati, Nyonya ?"

Mery tertawa kecil, suara yang indah namun dingin. Lift berdenting di lantai 12. Pintu terbuka menyingkap koridor yang remang dan senyap.

Aku menyeret koper itu menuju kamar 1202. Jantungku berdenyut bukan karena takut, tapi karena sensasi perburuan ini.

Aku terobsesi menaklukkan wanita "suci" ini, menghancurkan reputasi yayasan sosialnya, dan melihatnya berlutut di kakiku.

Aku membuka pintu kamar dengan kartu akses. Ruangan itu luas, dengan jendela besar yang memperlihatkan kerlap-kerlip lampu Jakarta yang angkuh. Namun, bau di dalam ruangan ini salah. Ada bau logam yang tajam. Bau darah.

Di tengah ruangan, sebuah kursi besar menghadap ke jendela. Di sana, seorang pria duduk kaku. Bramantyo Waluyo.

Setelan jas “custom”-nya yang mahal kini ternoda cairan merah pekat yang masih menetes ke lantai karpet.

Matanya yang dingin kini terbuka lebar tanpa nyawa, rahang kokohnya terkulai lemas.

Aku terdiam, menghitung langkah mundur di kepalaku. Aku dijebak.

"Kenapa diam saja, Kendi?" suara Mery terdengar dari belakangku. Dia tidak lagi terdengar lembut. Suaranya datar dan kosong.

"Bram baru saja akan menanyakan siapa pria yang sering mengirimiku pesan gelap dari hotel ini. Aku memberitahunya itu kau."

Mery melangkah masuk, melewati mayat suaminya tanpa rasa takut sedikit pun. Dia meletakkan tas tangannya di atas meja, lalu berbalik menatapku dengan wajah yang tiba-tiba berubah drastis—matanya berair, bibirnya gemetar, dia tampak seperti korban yang hancur.

"Tolong!" teriaknya tiba-tiba dengan suara yang cukup keras untuk menembus pintu kamar.

"Tolong! Ada yang membunuh suamiku!"

Detik berikutnya, pintu kamar didobrak kasar dari luar. Siska Pratiwi berdiri di sana bersama dua petugas keamanan hotel dan seorang pria bertubuh tegap dengan wajah dingin.

Siska menatapku dengan seringai kemenangan yang tak bisa disembunyikan.

"Aku sudah bilang padamu, Kendi.

Pelayan ceroboh sepertimu selalu berakhir di tempat yang salah," desis Siska.

Pria tegap itu melangkah maju, mengeluarkan borgol dari balik saku jasnya.

Dia menatap mayat Bramantyo, lalu menatap pistol yang entah sejak kapan sudah berada di dalam koper perak yang kubawa tadi—koper yang kini terbuka di lantai.

"Kendi Sulistyo, Anda ditahan atas tuduhan pembunuhan berencana terhadap Bramantyo Waluyo," ucap pria itu tegas.

Aku menoleh ke arah Mery. Dia sedang tersedu-sedu di pelukan Siska, aktingnya sebagai istri yang berduka sangat sempurna.

Namun, di tengah tangisannya, dia sedikit melirikku. Sebuah senyuman kemenangan yang nyaris tak terlihat tersungging di sudut bibirnya.

Dia tidak hanya memilihku sebagai mainan. Dia menjadikanku algojo sekaligus tumbal untuk kebebasannya.

Saat tanganku diborgol, aku merasakan sesuatu yang aneh di saku seragamku.

Aku merogohnya dengan jari yang terikat, menemukan sebuah kartu kecil.

Di sana tertulis dengan tinta emas :

“Selamat datang di permainanku, Kendi. Aku harap egomu cukup besar untuk bertahan di penjara”

Tiba-tiba, suara ledakan kecil terdengar dari arah lobi bawah, diikuti dengan raungan sirene polisi yang mengepung hotel.

Siska mendekat ke telingaku, membisikkan sesuatu yang membuat darahku membeku.

"Bramantyo tidak benar-benar mati karena tembakan, Kendi. Dia mati karena racun yang kau beli dua hari lalu dari informan gelapmu.

Dan tebak siapa yang memegang rekaman transaksinya?"

Aku menatap Siska, lalu beralih ke Mery yang kini menatapku dengan tatapan "polos" yang mematikan.

Aku baru sadar, selama ini aku bukan pemburu. Aku adalah mangsa yang sengaja digemukkan untuk disembelih malam ini.

Tepat saat petugas menyeret aku keluar, lampu di seluruh lantai 12 mendadak padam total.

Dalam kegelapan itu, aku mendengar suara tarikan pelatuk senjata tepat di belakang kepalaku.

"Jangan bergerak, atau kita semua meledak," suara berat seorang pria asing berbisik di kegelapan.

Siapa lagi yang bermain dalam labirin ini?

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

reviewsMore

Rain (angg_rainy)
Rain (angg_rainy)
Aku udh bacaa bang salkenn ya smg lanjut trus sd tamatt
2026-06-03 15:36:50
1
1
Rain (angg_rainy)
Rain (angg_rainy)
Halooo kak semangatt lanjutkan bukunyaa ya kak
2026-06-03 15:35:55
1
1
Rain (angg_rainy)
Rain (angg_rainy)
Haloo banngg bacanya bkin agak menggebu ya ...‍...️ smgtt lanjut nya
2026-06-03 15:35:31
1
0
Rain (angg_rainy)
Rain (angg_rainy)
Haloo kak, baca ya bkin dag dig dug der daiya ya ...‍...️ smgt lanjutnya bang
2026-06-03 15:35:07
0
0
R-One Channelz
R-One Channelz
Epik lah pokoknya , dalam bahaya dan ketegangan yang setiap saat mengancam ,, karena pace nya cepat ,,, msh sempet mesra²an ( hehehe...) judulnya aja "bermain api dengan Nyonya"
2026-05-04 19:58:00
1
0
85 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status