LOGINKendi Sulistyo hanyalah seorang pelayan hotel biasa, sampai aroma Black Opium perpaduan kopi pekat dan vanila yang memabukkan—menjerat kewarasannya. Nyonya Mery, sang predator berwajah malaikat, menyeretnya ke dalam kamar 1202, bukan untuk sebuah pelayanan kamar biasa, melainkan untuk sebuah skandal berdarah yang mengubah hidupnya dalam satu malam. Saat jasad suami Mery ditemukan tak bernyawa dengan sisa racun di gelas anggur, Kendi menyadari satu hal : dia bukan kekasih, melainkan kambing hitam yang sudah dipersiapkan dengan rapi. Terjepit di antara ancaman algojo penjara dan pengkhianatan dingin Mery, Kendi terpaksa melarikan diri ke dinginnya kota Bandung demi satu rahasia yang lebih mematikan daripada pembunuhan itu sendiri—seorang "anak" yang identitasnya bisa menghancurkan dinasti keluarga Waluyo. Di bawah kabut Lembang yang mencekam, Kendi harus memilih : membalas dendam dengan peluru di tangan, atau kembali menyerah pada sentuhan sensual sang Nyonya yang ternyata menyimpan belati di balik punggungnya. Namun, saat sebuah kancing manset berdarah ditemukan di saku seragamnya, Kendi tersadar—permainan ini baru saja dimulai, dan nyawa orang tuanya adalah taruhan terakhir. Siapakah yang akan bertahan saat rahasia paling kelam terkuak di balik aroma vanila yang mematikan?
View MoreDingin yang mematikan langsung menyergap setiap inci kulitku. Air laut yang asin menusuk luka tembak di bahu dan kakiku seperti ribuan jarum yang dipanaskan. Suara rentetan tembakan dari dermaga terdengar meredam di bawah permukaan, berubah menjadi bunyi “plung... plung…”yang aneh saat peluru-peluru itu menembus air di sekitarku.Aku tenggelam. Kegelapan air laut pelabuhan yang berminyak dan kotor menutup pandanganku.Paru-paruku mulai berontak, memohon oksigen, sementara rasa pahit dari plastik micro-SD yang kutelan masih tertinggal di pangkal lidah.Jangan mati di sini, Kendi.Aku menendang dengan kaki kananku yang tidak terluka, mencoba melawan daya tarik arus bawah yang kuat.Setiap gerakan membuat darah segar merembes keluar, menciptakan jejak merah yang samar di tengah air yang hitam. Di atas sana, cahaya lampu sorot kapal kargo yang membawa Ibunda dan Dira Andriani menyapu permukaan air seperti mata raksasa yang mencari mangsa.Aku muncul ke permukaan tepat di bawah bayangan
Hening yang tercipta setelah ledakan itu terasa lebih memekakkan telinga daripada bunyi bom itu sendiri.Asap kelabu yang berbau belerang dan plastik terbakar merayap rendah di atas lantai gudang yang retak. Aku berdiri mematung, ponsel di tanganku masih terasa panas, sementara suara tawa pria di seberang sana masih terngiang, mencabik-cabik sisa kewarasanku.Aku menatap pria di hadapanku—pria yang menyebut dirinya Bram. Matanya yang identik dengan mataku tidak menunjukkan penyesalan. Hanya ada ketenangan yang mengerikan, seperti permukaan sumur tua yang menyimpan ribuan bangkai di dasarnya."Putraku?" suaraku keluar seperti parutan logam, kasar dan penuh kebencian. "Pria yang telah menjual ibuku , tidak punya hak memanggil siapa pun dengan sebutan itu."Aku tidak menyerang dengan tinju. Itu tindakan amatir. Aku menarik napas dalam, membiarkan aroma solar dan debu pelabuhan memenuhi paru-paruku, menenangkan detak jantungku yang menggila.Di sini, di gudang pengap ini, aku dikepung
Dunia tidak menjadi gelap. Dunia menjadi merah.Suara tembakan itu bukan dentuman, melainkan serangkaian letupan tajam yang merobek udara, seperti suara cambuk yang melecut tepat di samping telingaku.Aku tidak merasakan sakit, hanya dorongan kuat yang melempar tubuhku ke belakang.Punggungku menghantam aspal parkiran yang kasar dan berminyak. Aroma bensin, karet terbakar, dan bau besi yang amis—darahku sendiri—langsung menyengat."Kendi !"Suara Mery terdengar jauh, tertutup oleh denging nyaring yang memenuhi kepalaku. Aku mencoba fokus. Pandanganku yang kabur tertuju pada bagasi Mercedes hitam yang masih terbuka. Di dalam sana, bukan orang tuaku yang kulihat dalam bentuk fisik, melainkan sebuah layar tablet yang menyala terang, menampilkan video live-streamOrang tuaku sedang duduk terikat di kursi kayu di ruang tamu rumah kami di Bandung. Di belakang mereka, seorang pria dengan setelan hitam memegang jerigen bensin, siap mengguyur segalanya. Pesan itu bukan tentang mayat, tapi
Darah berdesir di pelipisku, seirama dengan detak jarum jam imajiner yang menghitung mundur sisa nyawaku.Di koridor penjara yang gelap, bau mesiu sisa tembakan peringatan dari kejauhan mulai bercampur dengan aroma amis dari dinding lembab.Pistol di tanganku terasa berat dan asing, namun tekstur pegangannya yang kasar memberikan kepastian yang aneh.Aku tidak menunggu maut datang menjemput.Dengan gerakan yang sudah terlatih dari bertahun-tahun bertahan hidup di jalanan, aku merapat ke dinding sel yang dingin. Sepatu pantofelku sengaja kulepas ; aku butuh kesunyian. Lantai semen yang kasar menusuk telapak kakiku, memberikan sensasi dingin yang membuatku tetap waspada.Tap…Tap…Tap….Suara langkah kaki itu berat, bukan langkah petugas penjara yang biasanya santai. Ini adalah langkah pemburu. Aku bisa mendengar deru napas mereka yang tertahan di balik masker. Cahaya senter menyapu jeruji besi sel-sel di depanku, menciptakan bayangan jeruji yang memanjang seperti jari-jari raksasa yan






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.