LOGINKendi Sulistyo hanyalah seorang pelayan hotel biasa, sampai aroma Black Opium perpaduan kopi pekat dan vanila yang memabukkan—menjerat kewarasannya. Nyonya Mery, sang predator berwajah malaikat, menyeretnya ke dalam kamar 1202, bukan untuk sebuah pelayanan kamar biasa, melainkan untuk sebuah skandal berdarah yang mengubah hidupnya dalam satu malam. Saat jasad suami Mery ditemukan tak bernyawa dengan sisa racun di gelas anggur, Kendi menyadari satu hal : dia bukan kekasih, melainkan kambing hitam yang sudah dipersiapkan dengan rapi. Terjepit di antara ancaman algojo penjara dan pengkhianatan dingin Mery, Kendi terpaksa melarikan diri ke dinginnya kota Bandung demi satu rahasia yang lebih mematikan daripada pembunuhan itu sendiri—seorang "anak" yang identitasnya bisa menghancurkan dinasti keluarga Waluyo. Di bawah kabut Lembang yang mencekam, Kendi harus memilih : membalas dendam dengan peluru di tangan, atau kembali menyerah pada sentuhan sensual sang Nyonya yang ternyata menyimpan belati di balik punggungnya. Namun, saat sebuah kancing manset berdarah ditemukan di saku seragamnya, Kendi tersadar—permainan ini baru saja dimulai, dan nyawa orang tuanya adalah taruhan terakhir. Siapakah yang akan bertahan saat rahasia paling kelam terkuak di balik aroma vanila yang mematikan?
View MoreHitungan mundur di layar digital terus berdetak liar, menyisakan sepuluh detik terakhir saat udara di dalam ruangan berubah menjadi pekat oleh uap asam kimia berwarna hijau yang mendesis tajam di kulit.Paru-paruku terasa terbakar, dan pandanganku mulai kabur oleh gas beracun yang menyengat mata. Aku terjebak di sarang musuh, terkunci bersama tiruan biologis yang kini menyeringai dingin di lantai beton.Tepat saat detik terakhir hampir menyentuh angka nol, suara ledakan tumpul bergema dari dinding samping.BOM !Baja pelindung ruangan itu jebol dalam sekejap, diterjang oleh hantaman hidrolik bertekanan tinggi.Dari balik kepulan asap putih dan serpihan besi yang membara, sosok Kenzo muncul dengan setelan taktis lengkap dan masker oksigen yang menutupi separuh wajahnya.Tanpa banyak bicara, dia menyambar kerah belakang bajuku, menyeretku keluar dari ruangan maut itu sebelum api menyapu bersih segalanya."Masuk!" bentak Kenzo, melemparkanku ke dalam lambung kapal selam mini milik Jende
Jantungku berdegup kencang, menghantam tulang rusuk saat layar monitor holografik itu menampilkan senyuman sinis dari sosok wanita berambut panjang di pelabuhan lama.Punggungku mendadak dingin. Bagaimana mungkin? Mery baru saja menjalani operasi pelepasan chip di fasilitas medis bawah tanah ini, terbaring lemah dengan selang oksigen menempel di hidungnya.Namun, wanita di layar itu bergerak dengan presisi seorang pembunuh profesional, jauh dari kondisi fisik Mery yang rapuh."Itu bukan Mery yang asli," suara Jenderal Yudha memecah keheningan, nada bicaranya dingin dan penuh kalkulasi. "Itu adalah kloningan biologis generasi ketiga yang dikembangkan oleh The Eclipse. Mereka menggunakan sampel jaringan tubuh Mery saat dia berada di fasilitas bawah tanah Darius."Sebuah rasa penasaran yang aneh mendadak bergejolak di balik rasa terkejutku. Otakku berputar cepat, menyusun siasat di tengah situasi yang berbahaya ini. Jika The Eclipse bisa menciptakan tiruan biologis yang sempurna, apaka
Cahaya lampu bedah yang putih terang memantul di atas permukaan logam pisau bedah kecil yang dipegang Dira. Napas kami tertahan di ruang steril fasilitas bawah tanah milik Jenderal Yudha. Suara alat electrocardiogram berbunyi monoton—beep... beep... beep—menandakan detik-detik yang merayap lambat.Bau cairan disinfektan dan darah segar bercampur di udara, menusuk indra penciuman. Tangan Dira sedikit bergetar, namun ketenangannya sebagai hacker ulung terbawa hingga ke meja operasi. Dengan gerakan presisi tinggi, ujung pinsetnya menjepit serpihan chip silikon yang masih memercikan percikan api kecil dari tengkuk Mery.Clink.Benda kecil itu dijatuhkan ke dalam mangkuk baja, disusul helaan napas lega yang serempak dari seisi ruangan. Chip itu berhasil diangkat sebelum detonator internalnya sempat memicu pelepasan neurotoksin. Mery langsung dipindahkan ke ruang pemulihan khusus, terbaring damai dengan selang oksigen yang mengalirkan udara dingin ke hidungnya.Beberapa jam kemudian, k
Keheningan malam di markas The Eclipse pecah oleh suara jeritan logam yang beradu. Saat jarum-jarum perak itu hendak menembus pelipisnya, Mery tidak lagi bergerak sebagai boneka yang rusak. Sesuatu di dalam dirinya—sebuah ledakan emosi yang dirangsang oleh ingatan tentang Kendi yang mulai kembali—memberinya kekuatan yang tidak masuk akal.Dengan satu gerakan memutar, dia mencengkeram pergelangan tangan teknisi di sisi kirinya dan memuntirnya hingga terdengar bunyi snap yang mengerikan. Tanpa jeda, dia menghantamkan lututnya ke dada teknisi lainnya, mengirim pria itu terpental menabrak meja peralatan hingga perangkat re-programming itu hancur berkeping-keping.Percikan listrik memercik di ruangan, menerangi wajah Mery yang kini basah oleh keringat dan air mata.Darius Waluyo terbelalak. Wajahnya yang biasanya tenang kini memerah padam karena amarah. "Tangkap dia !" raungnya.Mery tidak menunggu. Dia melompat ke arah jendela yang terbuka lebar, membiarkan angin malam yang dingin meng
Dunia tidak menjadi gelap. Dunia menjadi merah.Suara tembakan itu bukan dentuman, melainkan serangkaian letupan tajam yang merobek udara, seperti suara cambuk yang melecut tepat di samping telingaku.Aku tidak merasakan sakit, hanya dorongan kuat yang melempar tubuhku ke belakang.Punggungku mengh
Darah berdesir di pelipisku, seirama dengan detak jarum jam imajiner yang menghitung mundur sisa nyawaku.Di koridor penjara yang gelap, bau mesiu sisa tembakan peringatan dari kejauhan mulai bercampur dengan aroma amis dari dinding lembab.Pistol di tanganku terasa berat dan asing, namun tekstur p
Lampu neon di langit-langit ruang interogasi berkedip dengan bunyi dengung yang menyebalkan, laksana lalat hijau yang berputar di atas bangkai. Cahayanya yang putih pucat menusuk mataku, membuat bayangan Siska Pratiwi yang berdiri di sudut ruangan tampak seperti siluet iblis yang sedang berpesta.
Lantai marmer lobi Grand Mahakam berkilat seperti cermin, memantulkan sosokku yang sedang berlutut. Bau kafein yang hangus menyerbu indra penciumanku, bercampur dengan aroma pembersih lantai kimiawi yang tajam. Di hadapanku, sepasang sepatu hak tinggi berwarna merah menyala berdiri dengan angkuh.
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore