Share

Sebuah Pesan Asing

Penulis: NomNom69
last update Tanggal publikasi: 2026-05-19 12:00:50

​"Lho, Ned! Kok belum rapi? Katanya hari ini kamu mau antar adik iparmu pulang ke desa?" tanya Ratna dari arah dapur saat melihat Juned berjalan mendekat dengan santainya.

​"Nanti aja siangan aku berangkatnya, Na. Toh di sana juga enggak buru-buru banget, yang penting sampai sebelum malam," ucap Juned santai sambil membolak-balikkan cangkir kosong di genggamannya untuk memeriksa kebersihannya.

​Maudy yang sejak tadi berdiri di sisi lain meja dapur sambil memotong b
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Dimanja Nyonya Dan Nona Muda   Keputusan, Kesempatan, Dan Pertanyaan

    Juned mendengus kasar, buru-buru membalikkan layar ponselnya ke bawah agar cahayanya tidak menerangi kegelapan ruang tengah. "Ngapain sih dia pakai WA segala? Bikin ribet aja nanti kalau sampai ketahuan Ratna," gumam batin Juned dengan raut wajah yang mendadak menegang penuh kecemasan. Tanpa berpikir dua kali, jemarinya bergerak cepat membuka ruang obrolan, menekan lama pesan dari Lusiana, dan langsung menghapusnya secara permanen dari riwayat panggilan.Setelah memastikan jejak digital itu bersih, Juned menekan puntung rokoknya yang tersisa setengah ke dalam asbak kaca hingga baranya mati total. Bersamaan dengan itu, pintu kamar mandi terbuka dengan embusan uap air hangat yang tipis. Sinta melangkah keluar dengan rambut yang dibungkus handuk putih, berjalan santai menuju kamar tidurnya."Ned, ganti gih. Bersihin badan dulu, habis itu kita langsung siap-siap berangkat," seru Sinta setengah berteriak dari dalam kamar.Juned bangkit dari sofa, meregangkan otot lehernya yang kaku, lalu b

  • Dimanja Nyonya Dan Nona Muda   Malam Pelepasan Kepenatan

    Juned terkekeh pelan, rasa pening yang sempat ada di kepalanya perlahan hilang digantikan oleh pesona wanita di sampingnya. Ia menoleh, menatap lekat sepasang mata Sinta yang masih menguncinya dengan tatapan jenaka. "Ini jadinya kita mau berangkat apa mau kelonan dulu ini?" tanya Juned dengan nada bercanda, menyunggingkan senyum miring di sudut bibirnya.Sinta tidak langsung menjawab dengan kata-kata. Ia justru menggeser tubuhnya lebih rapat, lalu merebahkan kepalanya dengan santai di atas pundak kokoh Juned. Jemari tangannya yang lentik mulai bergerak aktif, mengusap-usap lengan kekar Juned dari balik kain kemeja santainya. "Berangkat mah bisa nanti-nanti dulu, Ned," ucap Sinta dengan nada suara yang sengaja diayun manja dan menggoda. "Kalau kamu butuh ngecas energi dulu... sini, kita ngecas dulu di kamar, yuk."Juned memalingkan wajahnya ke samping, menangkap aroma wangi sampo dari rambut Sinta yang mengusik penciumannya. Tangannya terangkat untuk mengelus pipi halus Sinta, membuat

  • Dimanja Nyonya Dan Nona Muda   Curhatan Kebimbangan

    Sinta menggeser posisi duduknya, memangkas jarak yang tersisa di antara mereka. Ia mengulurkan tangan, menyentuh lembut lengan Juned yang tampak menegang. "Gini, Ned," ucap Sinta dengan nada suara yang direndahkan, mencoba mengalirkan ketenangan. "Biasanya kalau hasil tes dari dokter itu, kemungkinan salahnya kecil banget. Validitas lab medis itu ketat."Juned tetap bergeming, matanya masih menatap lurus ke lantai marmer di bawah kaki mereka. Sinta menarik napas pendek sebelum melanjutkan analisisnya. "Dan setahuku, orang hamil itu baru keliatan hasilnya di testpack sekitar dua minggu setelah berhubungan badan. Nah, sebelum seminggu kemarin, kamu ada gak berhubungan lagi sama dia?"Pertanyaan Sinta membuat Juned terdiam. Kedua alisnya bertaut rapat saat ia mencoba memutar kembali memori beberapa minggu ke belakang. Ia mengetuk-ngetuk jemarinya di atas lutut, mengingat jadwal kerjanya yang padat."Kayanya sebelumnya gak ada deh, Sin," sahut Juned setelah keheningan yang cukup lama. "Ka

  • Dimanja Nyonya Dan Nona Muda   Kebingungan

    Juned melangkah lebar menyusuri lorong apartemen yang sunyi, mengabaikan letih yang mulai mendera persendiannya. Langkah kakinya berhenti tepat di depan pintu. Tangannya terangkat, mengetuk permukaan kayu jati itu dengan ritme tiga kali ketukan yang konstan.Hanya butuh waktu beberapa belas detik sampai gerendel pintu berbunyi klik. Sinta berdiri di ambang pintu dengan pakaian santai rumahan, rambutnya dikuncir kuda menyisakan beberapa anak rambut di pelipis. "Eh, Ned. Masuk, yuk," sambut Sinta sembari menggeser tubuhnya memberi ruang, lalu menutup kembali pintu begitu Juned melangkah masuk.Juned tidak langsung menyahut. Ia berjalan lunglai menuju ruang tengah dan langsung menjatuhkan bobot tubuhnya di atas sofa empuk abu-abu. Kepalanya disandarkan ke belakang, menatap langit-langit apartemen dengan pandangan kosong.Sinta mengikuti dari belakang, berdiri di dekat meja kaca sambil melipat kedua tangan di dada. "Gimana? Mau berangkat sekarang atau nanti?" tanya Sinta, melirik jam digi

  • Dimanja Nyonya Dan Nona Muda   Keraguan Tanpa Kecurigaan

    Pelayan restoran datang mengantarkan pesanan seafood mereka yang masih mengepulkan asap hangat. Juned langsung mengambilkan sepotong ikan bakar ke atas piring Desi, lalu mereka pun mulai makan bersama dengan lahap.Di sela-sela suapannya, Desi menaruh sendok sejenak dan menatap Juned. "Mas, kayaknya kalau kandungan aku udah masuk tiga bulan, aku mau langsung berhenti kerja aja deh, terus balik menetap di desa," bahas Desi mengenai rencana masa depannya.Juned mengunyah makanannya perlahan, lalu menatap istrinya dengan lembut. "Dari sekarang kalau kamu mau langsung berhenti kerja juga gak apa-apa kok, Des. Biar kamu bisa full santai dan istirahat di desa sampai anak kita lahir nanti," sahut Juned memberikan perhatian penuh.Desi tersenyum manja, merasa sangat disayangi oleh suaminya. "Tapi Desi masih mau kerja dua sampai tiga bulan lagi, gak apa-apa kan, Mas? Sayang juga kalau langsung berhenti sekarang," pinta Desi meminta persetujuan.Juned mengangguk pelan sembari menyuap kembali na

  • Dimanja Nyonya Dan Nona Muda   Apa Ada Yang Salah?

    Juned segera membuang jauh-jauh raut bingungnya, lalu memaksakan sebuah senyuman lebar demi menyelaraskan kebahagiaan di wajah istrinya. Ia tidak ingin merusak momen ini, apalagi sampai menimbulkan kecurigaan di benak Desi."Alhamdulillah... beneran positif, Des," ucap Juned dengan nada suara yang dibuat seceria mungkin, lalu merengkuh tubuh polos Desi ke dalam pelukannya.Desi menangis haru di ceruk leher Juned, mempererat dekapannya seolah takut semua ini hanya mimpi. "Iya, Mas... Alhamdulillah ya Allah... akhirnya yang kita tunggu-tunggu selama ini dikabulin juga," tutur Desi tiada hentinya bersyukur dengan suara yang senggukan karena bahagia.Desi kemudian melepaskan pelukannya sebentar, menatap wajah Juned dengan mata yang basah lalu kembali memeluk leher suaminya itu dengan sangat erat. "Desi seneng banget, Mas... seneng banget beneran," racau Desi lagi, menumpahkan segala rasa lega yang selama ini dipendamnya.Juned tidak menjawab lagi, ia hanya bisa terus mendekap erat tubuh D

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status