Share

Bab 77

Author: ararasa
last update publish date: 2026-09-07 04:06:51

Agnes menggunakan kartu akses penthouse Daniel yang masih dimilikinya, naik ke lift dan langsung menuju lantai 15.

Ting!

Pintu lift terbuka lebar.

Lorong temaram yang dulu terasa asing dan mengintimidasi, kini memancarkan aura kehangatan yang amat dirindukannya. Setiap langkah kakinya di atas karpet tebal itu terasa mantap. Ia berjalan menyusuri lorong menuju pintu kayu solid penthouse Daniel, lalu menek

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Jatuh Cinta Pada Sentuhan Pertama   Bab 114

    H-3 Konferensi Pers.Waktu tak lagi terasa seperti deret angka di layar ponsel, melainkan bagai paku tak kasatmata yang dipalu perlahan ke dalam tengkoraknya setiap kali detik berganti. Kepanikan yang merayap diam-diam di pembuluh darahnya membuat napas Agnes terasa selalu memburu, seolah oksigen di udara Jakarta telah tersedot habis oleh pusaran skandal yang menantinya.Agnes melangkahkan kakinya yang terasa seberat timah memasuki lobi klinik. Aroma khas antiseptik dan pengharum ruangan beraroma lavender yang biasanya menenangkan, pagi ini justru membuat lambungnya bergejolak mual. Baru saja ujung sepatunya menyentuh batas meja resepsionis, rentetan pertanyaan sudah

  • Jatuh Cinta Pada Sentuhan Pertama   Bab 113

    H-4 konferensi pers.Waktu terasa melesat begitu cepat bagai anak panah yang meluncur dari busurnya, namun di saat yang sama merayap lambat menyiksa layaknya eksekusi mati yang tertunda.Agnes dan Daniel duduk bersisian di sebuah ruang meeting eksklusif di firma hukum tempat Monik bernaung. Hawa dingin dari pendingin ruangan menusuk pori-pori, berpadu dengan ketegangan pekat yang mengendap di sudut-sudut ruangan. Monik, dengan raut wajah profesional yang tak tertembus dan aura ketegasan yang memancar dari posturnya, menggeser selembar kertas baru melintasi meja kaca yang memantulkan pendar lampu neon putih. Kertas itu berisi rentetan daftar pertanyaan yang kemungkinan besar akan ditembakkan tanpa ampun oleh para pemburu berita saat konferensi pers nanti. Di mata Agnes, deretan kalimat itu tak ubahnya ranjau darat yang siap meledakkan sisa-sisa kewarasannya kapan saja.“Kita akan memulai simulasi tanya jawa

  • Jatuh Cinta Pada Sentuhan Pertama   Bab 112

    Beruntung ada Vivi, malam itu Agnes bisa tidur dengan lumayan nyenyak walau ada jutaan beban masalah yang menghimpit batinnya. Kehadiran sahabatnya bagai jangkar di tengah samudra kecemasan yang mengamuk. Karena hari Minggu, Vivi pun bisa menemani Agnes menikmati sarapan pagi di ruang makan *penthouse* yang megah namun dingin.“Sudah berapa lama kerja sama Mas Daniel?” tanya Vivi, mencoba mencairkan keheningan dengan obrolan ringan.“Sudah hampir sepuluh tahun, Mbak,” jawab Mbak Sisil yang terpaksa ikut bergabung di meja makan karena terus-menerus didesak oleh Vivi. Ada kecanggungan halus yang terpancar dari gesturnya, namun kehangatan suasana perlahan meluluhkan rasa sungkannya.Mbak Sisil menceritakan bahwa Daniel selalu menyuruhnya untuk makan bersama, “Tapi percuma. Saya kalau makan di sini, Mas Daniel makan di atas.”“Oh, gitu?” tanya Vivi kaget, alisnya terangkat menatap Sisil.“Mas Daniel itu pendiam. Jarang ngomong. Kalau ada kerj

  • Jatuh Cinta Pada Sentuhan Pertama   Bab 111

    Dunia di sekeliling Agnes terasa berputar terlalu cepat, memusnahkan ketenangan jiwa yang tadinya berusaha ia bangun.Agnes termenung di sofa, menatap lurus ke arah balkon yang terbuka lebar. Ruang tengah yang mewah itu mendadak terasa bak penjara tak kasatmata yang menyiksa batinnya. Angin malam yang dingin berembus kencang, menerpa kulitnya hingga meremang, namun ia sama sekali tidak memedulikannya. Dalam kepasrahan yang pekat, ia berharap angin itu bisa membawa semua masalahnya berlalu dan melenyapkan keputusasaan yang mengimpit rongga dadanya.Kalau ada orang yang menginginkan hidupnya penuh dengan masalah hanya agar tidak merasa bosan, Agnes akan mengutuk orang itu dalam hati. Sebab kini ia sadar betul, hidup tanpa masalah adalah sebuah rezeki serta kedamaian tak ternilai yang tidak didapatkan oleh semua orang.Dengan jemari yang dingin dan gemetar, ia mengambil ponselnya dari atas meja. Di layar yang menyala terang, tertera pesan dari Daniel yang men

  • Jatuh Cinta Pada Sentuhan Pertama   Bab 110

    Hening.Agnes menatap Rudi dan Sabina yang masih duduk di hadapannya. Ruang tengah yang luas itu terasa kosong dan mencekam, menyerap seluruh keberanian yang tersisa di dalam dadanya. Kehampaan yang amat pekat menyelimuti atmosfer penthouse, menghimpit napas Agnes hingga terasa sesak. Angin malam yang dingin menyelinap masuk dari sela-sela pintu balkon, meniupkan gorden putih yang melambai-lambai pelan seolah mengirimkan sinyal bisu agar Agnes tetap tegar berdiri di atas kakinya sendiri. Dalam gulita rasa cemas yang merayapi ulu hatinya, diam-diam jari Agnes yang gemetar menekan tombol rekaman suara di ponselnya, memancarkan setitik keteguhan untuk bertahan.“Aku diundang untuk datang di malam keberhasilannya dapat beasiswa LPDP. Bukan cuma aku, tapi juga teman-teman prianya,” lanjut Sabina yang kini raut wajahnya berubah drastis. Yang tadinya genit, manja, dan ceria, kini mendadak berubah menjadi redup, sedih, dan dipenuhi gelombang dendam yang membara.

  • Jatuh Cinta Pada Sentuhan Pertama   Bab 109

    Agnes memilih membisu, membiarkan Rudi terus menumpahkan narasi manipulasinya. Di dalam keheningan yang menyesakkan itu, dada Agnes bergemuruh hebat, dihantam oleh rasa tidak percaya akan betapa dinginnya nurani pria di hadapannya.“Waktu saya masih muda, memang saya terlalu banyak main,” Rudi melanjutkan ceritanya tanpa nada penyesalan sedikit pun. “Namanya juga anak muda,” lanjutnya seraya melirik Sabina dengan pendar kebanggaan yang semu.Sabina terkekeh, gestur yang terkesan amat dibuat-buat demi menyelaraskan diri dengan sang sutradara.Agnes memperhatikan gerak-gerik itu dengan pandangan tajam penuh selidik. Ia bisa melihat bagaimana sesekali Sabina merapikan kerah baju Rudi, sebuah perhatian kecil yang begitu janggal. Mana ada seorang wanita yang sudi melakukan hal seintim itu pada pria yang telah memperkosanya? batin Agnes, didera oleh kebingungan yang makin mengiris logikanya.“Dan pekerjaan saya menuntut un

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status