LOGINTidak lama kemudian, setelah Hendra, muncul lagi dua senior perusahaan. Mereka juga sedang menyalahkan ketidakadilan perlakuan Roger. Dia memprioritaskan orang-orang yang menjilatnya, menyingkirkan senior, dan menyalahgunakan wewenang.Orang yang bijak juga bisa melihat bahwa Hendra dan yang lainnya datang dengan persiapan. Mereka ingin mempermalukan Roger di depan orang banyak.Roger menunggu sampai mereka menyelesaikan omongan mereka, baru melangkah maju. Dia tidak kelihatan panik. “Bagaimanapun ini adalah masalah internal perusahaan, tidak seharusnya dibahas di tempat seperti hari ini. Hanya saja, berhubung Paman Hendra merasa tidak puas, aku akan beri sebuah penjelasan kepada Paman Hendra di depan semua orang.”Roger meminta asistennya untuk membawakan setumpuk dokumen kemari, isinya adalah bukti, yang mana dibuka satu per satu.Semuanya adalah kesalahan dari orang-orang yang dipecat, diturunkan jabatan, atau dikurangi gajinya. Ada yang telah disuap oleh perusahaan lain untuk menju
Ranty ada acara jamuan makan malam hari ini. Salah satu orang yang sudah janjian itu tiba-tiba meneleponnya, “Ranty, aku kepikiran hari ini adalah hari ulang tahun ke-50 perusahaan Keluarga Manthana. Mereka mengirim undangan kepadaku. Aku hampir melupakannya. Aku ke sana sebentar, baru kumpul bareng kalian.”Ranty juga tidak mempermasalahkannya. Setelah mengakhiri panggilan, perhatiannya mulai fokus dalam acara ulang tahun ke-50 perusahaan Keluarga Manthana.Keluarga Manthana memiliki kerja sama dengan perusahaannya Theresia. Jika ada acara Keluarga Manthana, Theresia pasti akan ke sana. Anggota Keluarga Manthana itu ….Ranty memutar bola matanya, lalu menelepon Morgan, “Kak Morgan, apa kamu masih berada di Kota Jembara?”Morgan sedang mengendarai mobil, kemudian berkata dengan suara datar, “Masih, ada apa?”Ranty tersenyum ramah. “Kak Morgan, hari ini Keluarga Manthana mengadakan acara perayaan ulang tahun perusahaan yang ke-50. Tadinya aku mau temani Theresia ke sana, tapi aku sibuk
Dalam sekilas mata, Roger dapat melihat Theresia yang berada di belakang kerumunan. Dia tersenyum pada Theresia, lalu melanjutkan pidatonya. Dimulai dari riwayat Keluarga Manthana dalam merintis karier hingga perkembangan masa depan, semuanya dilontarkan dalam setengah jam.Setelah itu adalah pernyataan terima kasih dari segala pihak. Saat Roger menuruni pentas, wakil presdir dari perusahaan lanjut memberikan sepatah dua kata.Roger melewati kerumunan terus berjalan ke hadapan Theresia, kemudian berkata dengan tersenyum, “Kenapa baru datang?”“Nggak telat, kok. Waktunya pas-pasan.” Theresia tersenyum lembut. “Selamat!”“Selamat juga! Semalam anggota perusahaanmu lembur di hotel untuk mempersiapkan acara hari ini. Mereka sangat cermat dalam mengatur semuanya,” puji Roger.Theresia mengangguk. “Baguslah kalau kamu merasa puas!”Tahun ini adalah pertama kalinya Roger mengikuti acara ulang tahun perusahaan dengan status presdir, apalagi ulang tahun yang ke-50. Pusat perhatian semua orang j
Tatapan Hallie seketika berkilauan. “Apa … boleh seperti itu?”“Kenyataannya memang seperti itu. Kenapa tidak boleh?” Jovita malah merasa sangat antusias. “Setelah diumumkan, meskipun Roger tidak mengakuinya, dia juga mesti mengakuinya!”Hallie segera memikirkan kemungkinan dari hal itu. Dia takut masalah ini akan bocor. Jadi, dia berkata dengan ragu, “Tapi, sekarang aku nggak ingin Kakek tahu masalah ini.”Jovita membujuk, “Tenang saja. Selain karyawan perusahaan, acara ulang tahun perusahaan hanya dihadiri oleh pebisnis saja, tidak mungkin akan tersebar sampai ke telinga Tuan Aska.”Hallie kembali mengingatkan, “Saat perkenalkan aku, jangan ungkapkan aku itu berasal dari Keluarga Angsara. Kalau sampai masalah ini tersebar ke telinga Kakek, aku pasti akan celaka!”Jovita segera menyetujuinya. “Tidak masalah. Sementara ini, aku tidak akan mengungkapkan identitasmu. Saat ditanya orang lain, aku juga tidak akan mengatakannya.”Hallie berpikir sejenak, lalu mengiakannya. “Kalau begitu, se
Saat mendengar ucapan Ingga, Arvan kepikiran kondisi semalam dan dia juga merasa sangat khawatir. Setelah memutuskan panggilan, dia segera menghubungi Theresia.Setelah Theresia mengirim pesan kepada Ingga, dia kembali tidur. Suara dering ponsel mengacaukan pemikirannya. Dia mengulurkan tangannya untuk mengambil ponselnya, lalu mengangkatnya. “Tuan Arvan?”Arvan tertegun sejenak. Dia merasa sedikit canggung. “Maaf, sudah mengganggumu di pagi hari!”Theresia merasa mengantuk. Dia membalas dengan mata disipitkan. “Nggak apa-apa. Ada urusan apa?”Arvan bertanya dengan nada mengetes, “Nona Theresia, apa kamu baik-baik saja?”Theresia mengerti maksud Arvan. Nada bicaranya terdengar datar. “Nggak kenapa-napa. Kamu nggak usah khawatir!”“Baguslah kalau begitu!” Arvan merasa agak lega. “Kalau begitu, aku akhiri panggilan dulu.”“Sampai jumpa.”Theresia meletakkan ponselnya. Lengan yang merangkul pinggang Theresia semakin erat lagi. Dia memasukkan Theresia ke dalam pelukannya, lalu menempel era
Theresia terbengong. Dalam seketika, dia pun merespons, lalu berkata dengan nada datar, “Aku beri tahu Ibu, aku akan pulang malam ini.”Morgan mengeluarkan ponselnya. “Aku telepon Bibi Julia.”Mata indah Theresia sedikit terbuka. Dia segera berkata, “Sebenarnya saat meninggalkan Nine Street Mansion, aku sudah kirim pesan kepada Ibu. Sekarang sudah terlalu malam, aku tinggal satu malam di Apartemen Tribeca.”Morgan melirik Theresia sekilas. Setelah itu, dia memalingkan kepalanya memandang malam di luar mobil. Jelas sekali terlihat rasa menyindir di dalam tatapannya.Daun telinga Theresia seketika memerah. Dia diam-diam merasa kesal. Jika ingin membahas soal keteguhan hati, Theresia kalah telak daripada seseorang!Pintu vila dilengkapi teknologi pemindaian inframerah. Begitu mobil Morgan mendekat, pintu itu otomatis terbuka. Mobil Maybach hitam masuk ke halaman vila. Lampu-lampu taman pun menyala dalam seketika, seperti cahaya bulan yang hangat, tersembunyi samar di antara bayangan pepoh
Ranty tersenyum cerah. “Semangat!”Theresia pun tersenyum. “Terima kasih!”…Morgan mencari tempat yang lebih hening untuk mengangkat telepon. “Ada apa?”“Tuan Morgan!” Suara orang di ujung telepon terdengar serius. “Sudah terjadi sesuatu. Aku terpaksa beri tahu kamu!”Nada bicara Morgan terdengar s
Ibunya Gina, Anita, berkata dengan kaget, “Tasya malah bekerja paruh waktu di restoran steamboat? Apa nona besar lagi ingin merasakan penderitaan kehidupan rakyat jelata?”Tasya tersenyum. Nada bicaranya terdengar agak dingin. “Aku nggak merasa menderita. Aku cuma … suka makan steamboat saja.”Semua
Di dalam kamar.Sonia dan Jemmy sedang bermain catur. Sonia tidak pintar dalam bermain catur, dia selalu butuh arahan dari Jemmy. Sonia pun mendengar dengan sabar. Meskipun hanya bermain catur, dia merasa sangat menikmati dan memperolehi penghasilan ketika mendapat arahan dari sang kakek.Ponsel yan
Air mata berlinang di dalam mata Kelly. Dia sungguh merasa terharu, lalu berkata dengan terisak-isak, “Terima kasih. Terima kasih sudah mengatakan semua ini kepadaku hari ini”Saskia berkata dengan tersenyum, “Jadi, bagaimana pemikiranmu? Apa kamu bersedia untuk menikah dengan Jason?”Kelly berkata







